Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 46


__ADS_3

21:20 WIB.


Liana belum juga selesai mengerjakan tugas, meja belajar nya penuh dengan tumpukan buku serta banyak nya kertas-kertas berserakan di dekat wadah sampah yang sebagian tak masuk ke dalam nya.


Walaupun pusing melanda kepala namun Liana tetap tak menyerah, ia akan mengerjakan tugas yang lumayan itupun dicicil.


"Semangat Liana, demi Ayah!" gumam Liana menulis di buku dengan cepat.


Cklek!


Pintu terbuka nampaklah seorang pria masuk ke dalam kamar Liana, ternyata Felix.


"Baiklah, aku akan tidur tapi kau harus keluar," kata Liana tanpa menoleh, pikirnya ia tahu yang datang pasti si Elvano kalau bukan pasti Revan. Hanya mereka berdua yang sering datang ke kamar untuk mengingatkan tidur.


"Ini aku, Felix."


Seketika Liana terdiam tak bergerak yang tadi nya sedang menulis, mata Liana melirik lalu ia lanjutkan kembali menulis.


"Ada apa?" tanya Liana.


"Kau marah pada ku?" Felix berjalan mendekat.


"Tidak."


"Maafkan aku, soal tadi yang keterlaluan memperlakukan mu begitu saja," kini Felix berdiri tepat di samping Liana.


"Aku bilang tidak, tidak apa. Sekarang keluar lah setelah ini aku akan tidur," ucap Liana tanpa menoleh.


Felix menggigit bibir bawahnya ia juga bingung dengan cara apa agar Liana bisa bersikap seperti awal, jika melakukan nya dengan terkaman takut nya Liana semakin membenci nya. Baiklah, cara yang terbaik mungkin bersikap lembut atau semacam nya agar Liana bisa berbicara dengan baik dan tidak ketus.


"Sebagai permintaan maafku, kau mau apa? Aku akan memberikan apapun yang kamu mau," kata Felix.


"Jangan memancing ku dengan sebuah pilihan." fokus nya pada buku.


"Tidak apa, katakan saja aku akan memberikan yang kau mau,"


Liana terdiam sejenak lalu menghela nafas, ia memutar kursi nya menjadi menghadap Felix. Liana menatap datar.


"Aku ingin pergi dari sini."


Jujur rasa nya Felix ingin emosi namun ia harus menahan nya untuk tidak terpancing. Liana tersenyum miris.


"Tidak bisa kan? Sekarang pergi lah, jangan menggangguku!" Liana kembali menulis.


"Baiklah aku memang tak bisa mengabulkan permintaan mu yang ini, tapi aku hanya berniat untuk meminta maaf pada mu,"


"Memang Tuan pikir aku akan melakukan apa?"


"Sayang,"


"Huh, sudah lah aku mau tidur saja." Liana berdiri dari kursi dan merapihkan tumpukan buku.


Namun tiba-tiba Felix menarik tangan Liana ke dek4pan nya, gadis itu terdiam membulatkan mata. Felix memeluk tubuh Liana dengan sangat nyaman, memeluk Liana merasa seperti melepaskan beban dipikiran nya.

__ADS_1


"Membiarkan mu pergi sama saja menghilangkan setengah jiwa ku. Aku tidak tau cara meminta maaf dengan benar atau seperti orang lain jadi mungkin kau mengira aku tidak tulus dalam meminta maaf. Tapi, dari hati ku aku bener-bener bersalah. Maaf kan aku," gumam Felix.


Liana hanya diam tak berkutik memang tahu sih mereka kaku dalam berbicara apalagi masalah permintaan maaf. Mafia memang bukan manusia yang mempunyai hati, jadi mereka selalu merasa bahwa diri nya benar dan senang terhadap apa yang mereka lakukan.


Liana menghela nafas lalu mengusap punggung Felix secara tak sadar.


"Aku tau, aku tak tersinggung." kata Liana


"Kau memaafkan ku?"


"Tak ada yang perlu di maafkan, aku baik-baik saja,"


Felix melepas pelukan menatap lekat, apa yang di pikiran nya hingga menyakiti gadis lugu ini? Coba di perhatikan baik-baik! Liana, gadis yang masih beranjak dewasa lemah gini di perlakukan buruk? Felix merutuki kebodohan nya.


"Jangan meninggalkan ku," Felix memegang pipi Liana.


Liana menatap Felix lalu mengangguk kecil.


"Aku akan tinggal jika memang memperlakukan ku dengan baik,"


"Tentu, aku akan menjadikan mu ratu di rumah ini." senyum Felix. Liana tersenyum tipis.


Felix mendekat kan wajah nya dan berhasil meraup b1b1r Liana. Gadis itu menutup mata nya merasakan pij4tan lembut di b1b1r nya, ia juga membalas nya.


Semakin mereka saling membalas, semakin perdalam Felix melakukan nya. Tangan Felix memegang tengkuk leher Liana.


Bukan pertama kali Liana melakukan ini melainkan sudah berkali-kali ya, jadi sudah tak ada penolakan atau pemberontak kan. Liana menepuk d4da Felix untuk melepaskan karena ia sudah kehabisan nafas. Felix pun melepaskan p4utan nya baru lah Liana bisa bernafas.


Felix mengusap b1bir bawah Liana.


"Dengan siapa?" Tanya balik Liana. Felix ikut terdiam, ia baru ingat bahwa yang memiliki gadis ini tak hanya dia saja melainkan yang lain juga sama mencintai 1 gadis yang sama.


"Jika kau sanggup, aku, dan yang lain akan menikahi mu,"


Jarak kedua nya sangat dekat hanya 1 inci saja. Jangan kan menikah hubungan mereka begini saja sudah di bilang tidak lumrah. Wajar lah yah seorang mafia dengan seorang gadis, lah ini mafia nya lebih dari 3.


"Aku tidak yakin," lirih Liana


Felix mengerti, juga salah nya bertanya masalah ini di saat gadis ini tengah pusing dalam kuliah nya. Felix mengangguk mengerti lalu tersenyum.


"Tidur lah, ini sudah jam 10 tidak baik gadis seperti mu tidur larut-larut,"


"Hmm,"


Felix pun menggendong Liana membuat gadis itu terkejut.


"Tunggu, turun kan aku!"


"Iya ini aku turunkan kok," Felix berjalan ke kasur untuk meletakkan Liana di sana.


"Aku bisa jalan sendiri kok, lagian gak jauh dari tempat belajar!" kesal Liana.


"Gak apa, bahkan jika kamu mau aku akan memindahkan kamu di kamar ku,"

__ADS_1


"Tuan Felix!"


"Jangan memanggilku Tuan, aku ini pria mu dan kau gadis ku,"


"Jadi, apakah aku akan memanggil mu Kakak?" dengan ekspresi julid.


"Kenapa kau berfikir begitu?" heran Felix.


"Jika tak mau di panggil Tuan, lantas apa? Jika di panggil Kakak sangat tidak pantas, mau di panggil paman? Atau Om?"


"Aku ini bukan pria hidung belang, enak aja!" kesal Felix.


"Ya udah, di panggil Tuan aja,"


"Gak! Panggil aku sayang."


"What?!!"


"Sstt! Jangan berteriak, sampai mereka dengar bisa-bisa heboh nanti"


"Tunggu, Tuan ingin aku memanggil mu dengan sebutan sayang?"


"Tentu saja, kau harus memanggil ku dan yang lain dengan sebutan itu sama seperti aku memanggil mu, sayang." senyum Felix.


Liana menatap tak percaya, gak bisa di bayangkan ia memanggil mereka sayang? Oh my God!


"Jangan menatap ku begitu, sekarang tidur!" Felix menidurkan tubuh Liana karena sedari tadi masih berada di gendongan nya.


"Huh, matikan lampu nya jika kau keluar!" kata Liana menarik selimut.


"Aku akan pergi jika kau memanggilku Sayang," Felix duduk di pinggir kasur.


"Yang benar saja!" protes Liana.


"Benar,"


"Aku gak mau!"


"Baiklah, malam ini seperti nya kita tidur berdua,"


"Tidak!"


"Panggil aku sayang mulai sekarang!"


Jika tak di turuti pria ini tak akan kembali dan keluar dari kamar nya, Liana memalingkan pandangan dengan kesal.


"Baiklah! Puas?!"


"Puas? Kau saja tak memanggil ku sayang,"


Seperti nya perkataan Lucas tentang tamat kuliah menjadi mafia boleh juga, sangat berguna untuk membunuh pria menyebalkan seperti dia ini. Liana tersenyum paksa.


"Iya, sayang,"

__ADS_1


Felix tersenyum salting, idih mafia salting? Liana yang melihat itu menyungging b1bir julid melihat tingkah Felix yang benar-benar beda dari kata mafia, lebih tepatnya seperti pria yang digombali oleh wanita cantik.


"Gitu dong sayang, pertahan kan terus," mengedipkan matanya.


__ADS_2