
Arion & yang lain nya sampai di kamar Liana, di mana 2 pria sedang duduk tak berdaya, mereka adalah Revan dan Elvano. Arion menghampiri keduanya dengan perasaan emosi, ia menarik baju Elvano hingga pria itu berdiri tanpa ke sadaran pikiran.
ππΆπ¨π©!
Arion mendaratkan pukulan keras di wajah pria tampan itu hingga tersungkur ke lantai, namun bukannya membalas Elvano justru terdiam membiarkan Arion memukuli nya karena ini juga kesalahan nya tidak menjaga gadis itu.
Arion kembali membangunkan Elvano dengan menarik kerah baju menatap tajam.
"BAGAIMANA BISA KALIAN LALAI MENJAGANYA!!" Bentak nya pada Elvano, jika Arion sudah marah begini mereka tak bisa berbuat apa-apa selain diam. Pria yang di hajar itu juga diam tak menatap Arion, tatapan yang tak pernah mereka lihat, selain terlihat melemas namun rasa bersalah juga hal yang paling terlihat.
ππΆπ¨π©!
Merasa tak tahan, Revan mendorong Arion menjauhkan dari Elvano. Ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Elvano.
"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Vano! Kita tidak tau jika pria itu masuk ke dalam kamar tanpa sepengetahuan kita!!..."
"APA KAU BARU MENGETAHUINYA SAAT LIANA MENGHILANG?!!!" Bentak Arion.
"Kita tidak tau!! Di bawah juga mereka menyerang, semua anak buah kita yang berjaga sudah di serang! Jadi kita fokus pada penyerangan tanpa mengetahui seorang pria yang sudah masuk ke dalam!!"
"ITU SAMA SAJA KAU SALAH BODOH!!"
ππΆπ¨π©!
Pukulan kembali melayang namun mengenai perut Revan sampai pria itu membungkuk memegang perutnya.
"AKU SUDAH MEMBAGI TUGAS UNTUK KALIAN! SAAT AKU DAN YANG LAIN KE AS KALIAN HANYA MENJAGANYA!! KAU TAU?! KITA KALAH DARI MEREKA!! SEKARANG... Mereka membawanya pergi!" Bentak Arion "Mereka mendapatkan semua yang kita punya... KALIAN BENAR-BENAR TIDAK BERGUNA!!" Arion ingin menghajar Revan kembali namun di tahan oleh Kenzo.
"Jangan menahan ku, Kenzo!" Arion melirik tajam dan menekan kata-katanya.
"Hentikan, Arion! Dengan kau ribut begini tak akan menghasilkan apapun!"
"Setidaknya aku memberinya pelajaran!!"
Kenzo tetap menahan Arion, Kenzo memberi kode pada yang lain untuk membantu Elvano karena hanya dia yang masih duduk di lantai. Lucas membantu Elvano berdiri memapahnya, tatapan tajam dari Arion melayang.
Dengan kasar Arion melepaskan diri dari Kenzo, mengusap gusar wajahnya kemudian menyandarkan kedua siku pada palang pagar balkon sambil meremas rambutnya. Malam ini adalah malam kesialan untuk mereka, keberuntungan yang biasanya memihak mereka kini berganti kesialan. Selain musuh itu mendapatkan sebagian milik mereka di AS kini gadis yang mereka sayang pun hilang di culiknya.
Mereka tidak masalah sebagian harta nya di ambil namun... Liana adalah harta paling berharga dari pada yang lain. Baru saja mengenalnya beberapa minggu lalu sekarang sudah di tinggal pergi, bahkan Arion saja belum sempat dekat dengan Liana.
"Yohan! Ikut aku!" Arion pergi meninggalkan tempat dan di susul oleh Yohanes setelah membungkuk saat Arion melewatinya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya lucas pada Elvano, wajah juga sudah di cap merah ke biruan di bagian pipi. Elvano menggelengkan kepalanya kecil memegang perutnya, pukulan Arion tak main-main sekali pukul bisa meretakkan tulang karena Elvano dan Revan masih di anggap teman jadi seluruh tenaga Arion tak di gunakan sepenuhnya.
***
__ADS_1
Arion dan Revan memasuki ruangan komputer, setiap sisi terdapat banyak layar seperti TV & komputer. Tempat ini di khususkan untuk melihat rekaman CCTV.
"Putar rekaman di kamar tadi!" Perintah Arion pada Yohanes, dengan gerakan gesit Yohanes mulai menggerakkan jarinya pada keyboard & mouse. Setelah mendapat rekaman terlihat jelas bahwa seorang pria memasuki kamar gadis yang tengah tertidur, bahkan di mana pria itu terbaring di samping nya hingga melakukan yang seharusnya tidak terjadi.
Arion melihat itu mengepalkan tangannya dan menajamkan tatapannya, ia saja tak pernah menyentuh gadis itu bahkan sekedar menciumnya saja tidak. Tapi pria lain sudah berani menyentuh hingga menciumnya.
"Marvin!" Gumam Arion dengan penuh tekanan hingga kepalanya ikut bergetar akibat rahangnya menggregas.
"Apa kau tak bisa melacak di mana keberadaan mereka?!"
"Tidak Tuan, semua akses internet di blokir oleh mereka agar kita tak bisa melakukan pencarian dan menemukan keberadaan" ucap Yohanes fokus pada layar komputer.
ππ³π’π¬!
Arion menggebrak meja tempat komputer untungnya layarnya tak jatuh akibat gebrakan keras, ia menekan keningnya menahan emosi jangan sampai kan layar-layar di sini pecah dan rusak akibat pelampiasan nya?
"Tuan, saya yakin nona Liana akan mencari cara untuk memberi kabar ntah itu dari pesan, ataupun semacam telpon " ucap Yohanes berusaha menenangkan amarah Arion, ia tau watak Tuan nya bahkan 7 Tuan nya yang lain.
"Jika emang dia membawa ponselnya, jika tidak?!"
"Jika tidak, dia akan mengabari dengan cara lain. Dia bukan gadis pendiam namun sangat aktif dalam tingkah nya"
"Dari mana kau tau?!" Melirik sinis, sejauh ini ia juga belum pasti melihat sifat Liana selain penakut.
"Itu sudah terlihat jelas Tuan, dia hanya penakut saat berada di dekat kalian karena... Maaf saya berbicara seperti ini namun, nona Liana takut karena Tuan pernah melakukan kasar pada nya. Semua wanita pun akan takut jika di perlakukan seperti itu" jelas Yohanes tak menatap Arion namun ia tau bahwa dirinya di lirik sinis.
"Aku tak mau tau, bagaimana pun kau harus menemukan gadis itu. Kau kerahkan anak buah mu untuk mencarinya, dan aku tak mau mendengar alasan apapun! Jika sampai tak menemukannya, aku akan membunuh kalian!" Tegas Arion.
"Baik Tuan, saya usahakan!" kemudian Arion pun pergi.
***
Marvin menarik paksa Liana masuk ke dalam rumah yang sama besarnya seperti milik Revan & yang lain, bedanya rumah ini berwarna kuning emas jika di malam hari terlihat lebih berkilau.
"Lepasin aku!! Aku mau pulang!!" Liana tak henti-hentinya memberontak bahkan saat di helikopter pun ia tetap tak bisa diam.
"Diam lah, jika kau tak diam aku kurung di kandang singa peliharaan ku!" Ancam Marvin
"Tapi aku mau pulang!..." Tangis Liana pecah.
"Kau akan ku kembalikan pada mereka, namun setelah mencicipi tubuh mu dan memisahkan organ tubuh mu" senyum Marvin, Liana membulatkan mata kemudian menggeleng kuat.
"Aku tidak mau, aku mau pulang! Lepasin aku..." Tangis Liana semakin menjadi namun Marvin tak memperdulikan ia tetap menarik paksa Liana.
Setelah sampai di sebuah pintu, Marvin membuka pintu dan masuk menarik Liana.
__ADS_1
"Aku mohon lepasin aku... Aaww!" Marvin langsung membanting Liana di kasur dengan senyuman miring.
"Apa yang kau lakukan?!" Liana membulatkan mata, rasa takut melihat senyuman Marvin seperti menginginkan sesuatu.
"Tadi nya aku ingin melakukan sesuatu pada mu, tapi kayaknya tidak sekarang. Karena ada sesuatu yang belum aku selesaikan..." Senyum nya, Marvin pun mendekat membuat Liana memundurkan diri dari kasur.
Pria itu merangkak ke kasur tepat di hadapan Liana, gadis itu menahan getaran tubuh sambil menunduk ternyata pria ini lebih seram dari Arion walaupun wajahnya manis namun perlakuan nya sangat... Yah gitu lah terhadap wanita.
Tangan kekar Marvin menyentuh dagu dari gadis bermata bulat itu, Marvin akui bahwa gadis kecil ini membuatnya tertarik juga dari sekian banyak nya wanita yang berparas dewasa dan berpakaian seksi namun tak ada satupun yang membuatnya tertarik selain kenafsuan. Tapi lihat lah, gadis kecil dan berpakaian tertutup membuatnya semakin terguncang.
"Pantas saja para mafia itu menahan mu, ternyata kau memang mempunyai daya tarik tersendiri tanpa di buat-buat" senyum Marvin.
Setelah itu Marvin pun pergi meninggalkan Liana yang tengah terdiam menunduk, ia menangis sesenggukan. Liana lebih suka di tempat rumah sebelumnya dari pada di sini, padahal sama saja cuma hawa nya di sini lebih suram dan menyeramkan.
Awalnya tadi pertama melihat Marvin ia sedikit tertegun karena wajah nya yang sangat berbanding terbalik dengan tubuhnya yang kekar, senyuman, mata, hidung, rahang tegas nya membuat Liana merasa bertemu dengan pria tampan di dunia. Tapi setelah melihat perlakuan pria itu padanya membuat pikiran tentang Marvin berubah, ternyata hanya wajahnya saja yang manis namun sifatnya pahit.
Arvin memasuki kediamannya dengan pria di belakangnya yang mengikutinya. Ia melepas jas nya dan ia letakan di lengannya sambil melonggarkan dasinya.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Marvin menghampiri sang kakak.
"Membosankan" desah nya
"Eoh? Kenapa begitu?"
"Peperangan ini tak seperti yang ku harapkan, begitu singkat sekali waktunya. Mengecewakan"
"Seperti dugaan ku, benar-benar lemah" decih Marvin.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan mu?" Tanya Arvin menatap adik nya.
"Tentu saja sukses, aku berhasil mendapatkan sesuai yang aku rencanakan" senyum Marvin kemenangan.
"Selamat untuk mu, jadi? Kau letakan di mana wanita itu?"
" Emm maaf, dia masih perawan. Gadis itu berada di kamar ku"
"Tcih, kau langsung to the point?" Decih Arvin.
"Tidak, emm... Hanya ingin bermain-main saja" kekehan Marvin, Arvin menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin lihat gadis yang kau bawa" Arvin melangkah pergi namun di tahan oleh Marvin.
"Oh tidak, kau tak bisa melakukan ini. Ini bukan termasuk rencana mu, dan gadis itu adalah kemauan ku"
"Ck, aku bukan diri mu yang suka merebut apa yang aku miliki" remeh Arvin lalu pergi, Marvin mengangguk-anggukan kepalanya lalu menyusul Arvin.
__ADS_1
Ya seperti yang kalian tau, bahwa Marvin selalu merebut apa yang di sayangi oleh kakaknya, apalagi menyangkut wanita. Sempat Arvin mempunyai wanitanya namun selalu di rebut oleh adiknya yang serakah, di tambah setiap wanita yang ia punya malah lebih tertarik pada visual adik nya. Buat Arvin tak masalah mau wanita itu tertarik dengan adiknya atau lebih tergoda ya bodo amat, Arvin menyebut nya pada Marvin bahwa adiknya sudah memungut bekas nya.
Waw, Savage.