
Sebuah helikopter mendarat di latar gedung yang sangat luas terdengar suara tembakan menggelegar di setiap sisi, bahkan karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaan itu pun berhamburan menjauh dari sekelompok orang yang berpakaian serba hitam bahkan ada juga yang bersembunyi di dalam gedung paling atas.
Arion & yang lainnya sudah mempersiapkan diri dengan memegang senjata.
"Bagi tugas! Aku, Edgar & Lucas akan melawan mereka disini dan kalian pergi ke markas di sana sudah ada David dan anak buah nya!!" Tegas Arion, mereka mengangguk lalu berpencar dengan tangan terulur menembak musuhnya.
ππ°π³π³!
ππ°π³π³!
Suara tembakan itu tak pernah berhenti, tujuan Arion & 2 temannya itu ingin menemui Johnny & Ravin. Mafia itu gesit, menembak musuh tak pernah melesat tak tanggung-tanggung mereka menembak selalu bagian kepala.
Anak buah yang di kirim Yohanes pun ikut bergabung bahkan pemimpin nya juga begitu.
"Tuan! Kami akan mengurus ini semua!" Ujar Yohanes tiba-tiba datang ke arah Edgar.
"Baiklah!" Edgar dan yang lainnya pun pergi, tinggal lah Yohanes dan anak buahnya yang masih melawan musuh-musuh.
****
Kenzo, Felix & Carlos sampai di markas benar saja di luar banyak musuh yang menyerang untung saja ada David & anak buahnya yang bertahan agar tak ada yang memasuki markasnya.
"David!" Felix datang bergabung begitu pun Kenzo & Carlos.
"Syukurlah Tuan datang, musuh semakin bertambah dan peluru ku sudah mulai habis!" ucap pria berambut pendek.
"Kau isi saja, kita ambil alih!" David mengangguk kemudian berlari kebelakang, Felix & 2 temannya mulai mengeluarkan peluru dari pistol yang mereka pegang.
Keahlian mereka menembak tidak di ragukan lagi sudah tidak heran juga bahwa yang namanya Mafia sudah pasti ahli dalam bidang seperti ini apalagi pebisnis gelap. Seiring waktu berjalan para musuhnya selalu datang bertambah sedangkan anak buah mereka hanya tinggal ritusan jiwa, mereka tidak yakin bahwa anak buahnya akan bisa melawan dengan jumlah musuh banyak.
"Sepertinya kita terpaksa menggunakan senjata yang di markas!" Carlos. Karena suara tembakan dan situasi mereka berbicara dengan nada yang tinggi.
"Ambil saja! Tidak ada pilihan!" Setuju Kenzo yang masih fokus menembak, Carlos pun masuk ke dalam markas senjata dan mengambil 3 senjata bermerek AK dan SKS.
"Kenzo! Felix! Tangkap!" Carlos melempar senjata ke arah 2 pria yang masih menembak.
πππ’π¬
Keduanya menangkap senjata yang di lempar, baru lah mereka langsung menggunakan tanpa pikir panjang karena keadaan sudah mendesak.
ππππ!
ππππ!
ππππ!
Suara tembakan yang sangat nyaring dan besar dari pada tembakan sebelumnya, peluru itu bisa menembus 3 musuhnya sekaligus ini sangat membantu mereka mengalahkan nya.
ππ°π³π³!
"Aaghkk!" Ringis Felix
"Felix!!" Kenzo datang menghampiri Felix yang terkena tembakan.
"Felix! Kau baik-baik saja?!"
__ADS_1
"Aβaku baik-baik saja, hanya tergores peluru! " Felix menahan rasa sakit di bagian lengannya, terlihat darah bercucuran hingga tembus pada pakaian yang ketat di lengannya.
"Jangan pedulikan aku! Kita selesaikan ini!" Felix mengangkat senjatanya dengan satu tangan dan kembali menembak, walaupun Kenzo merasa khawatir namun tak ada pilihan ia juga harus mengalahkan musuhnya yang semakin bertambah.
***
Arion melihat seorang pria yang sedang sibuk menembak sambil bersembunyi di sebuah dinding pagar, ia pun datang menghampiri.
"Johnny!" Pria itu menoleh kemudian mengibaskan rambutnya yang panjang menutupi mata.
"Kau sedikit telat bung" ucap pria bernama Johnny. Namun Arion tak menggubris malah membatu menembak pada musuhnya yang tak henti-henti mengeluarkan suara dentuman keras.
"Di mana Ravin?!" Tanya Arion sambil menembak.
"Dia dan anak buahnya melawan di sisi lain! Sial, Peluru ku habis! Terlalu banyak mereka datang!" Johnny memukul-mukul pistolnya yang sudah kehabisan peluru.
"Ambil ini!" Arion melempar senjata api pada Johnny, pria itu pun menangkap nya.
"Wah, thank you!" Senyum Jhonny namun Arion menatap datar, bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini tersenyum gak heran sih karena pria ini selalu membuatnya kesal.
"Tapi tunggu! Kau datang sendiri?!" Karena suara yang berisik mereka sedikit berteriak dalam berbicara.
"Tidak, kita datang kecuali Revan & Vano!"
"Kenapa mereka tidak datang?"
"Mereka menjaga seseorang di rumah!"
"Uuuhhh, pasti seseorang yang sangat berharga tuh" goda Johnny di sela-sela Arion menembak.
"Fokus lah!!" Tegas Arion kemudian pergi maju meninggalkan Johnny yang masih berdiri di balik dinding, pria itu menggelengkan kepalanya.
***
Liana sedang tidur lelap malam ini dengan di tutup selimut tebal sebagian tubuhnya hanya menampakan kepala saja. Sedangkan di luaran sana para mafia itu sedang berjuang melawan musuh-musuh nya tanpa sepengetahuan si gadis ini, mereka emang sengaja menyembunyikan identitas mereka sebagai mafia mungkin suatu saat akan ada waktu nya memberitahu semua nya.
Sebuah pintu balkon terbuka seperti ada seseorang yang memasuki kamar, layaknya seperti maling mengendap-entap menyusup masuk ke dalam.
Benar saja, terlihat 3 pria berjalan mendekati sebuah kasur yang tengah di tiduri oleh Liana. Pria paling depan itu tersenyum miring.
"Perintahkan yang lain, hancurkan semua yang ada di sini termasuk 2 pria yang sedang berjaga di bawah. Mereka tidak akan bisa melawan dengan anak buah yang sedikit" perintah pria itu yang termasuk Tuan dari 2 pria di belakangnya.
"Baik Tuan!" Keduanya kembali pergi ke balkon, mereka emang sengaja tidak keluar dari pintu kamar ini agar mereka tidak curiga bahwa salah satu kamar sudah di datangi oleh musuhnya.
Pria itu berjalan semakin dekat ke arah ranjang, menatap gadis yang tengah lelap tidur.
"Bersiap lah sayang, kau akan tinggal di tempat seharusnya kau berada" menyeringai senyuman miring.
Ternyata pria itu adalah, Marvin Kingston adik dari Arvin yang kini sedang bertugas menyerang di AS. Sesuai perjanjian, jika kakaknya menyerang di tempat yang jauh ia kan ikut untuk mengambil gadis yang tinggal di sini. Bahkan Marvin juga membawa anak buah sendiri untuk melawan para 2 mafia yang tertinggal, agar bisa leluasa mengundur waktu mereka.
****
ππ³π’π―π¨!!!
Suara pecahan kaca jendela rumah pecah kala beberapa orang masuk ke dalam, Revan tersentak menolehkan kepalanya ke belakang secara ia duduk membelakangi jendela rumah. Revan berdiri, sialnya ia tak membawa pistolnya, ia meninggalkan nya di kamar.
__ADS_1
"Sial! Pintu rumah juga ada terpampang jelas di depan! Kenapa malah memecahkan kaca tanpa jendela, bodoh!" Uring Revan pada musuh-musuh nya yang berani menelusup. Jendela yang di maksud Revan adalah hanya sebuah kaca transparan besar namun tak ada pintu jendela yang bisa di buka, sekarang pecah berkeping-keping di lantai.
"Kalian merusak rumah ku!"
"Itu lah yang ingin kita lakukan!"
ππ°π³π³!
****
Liana terusik kala mendengar suara dentuman yang menggema, perlahan matanya terbuka.
"Tidur saja lagi sayang, ini masih malam" Marvin mengusap pipi Liana, gadis itu melenguh kemudian menoleh melihat seorang pria yang seperti berbeda dari salah satu 8 mafia itu. Gadis itu menyipitkan matanya kemudian tersadar, ia langsung terduduk sedikit menjauh dari pria yang tertidur di sampingnya dengan posisi miring apalagi lengannya yang menopang tubuh jadi ia sedikit tinggi.
"Siβsiapa kau?!" Gelagapan Liana menarik selimutnya menutupi tubuh, walaupun masih menggunakan pakaian namun berjaga-jaga saja jika pria ini melakukan sesuatu padanya.
"Tenang lah, aku tidak melakukan apapun. Kemari dan tidur lah, gadis cantik seperti mu tidak pantas bergadang di malam hari apalagi sekarang sudah jam 1" santainya menatap jam dinding di kamar Liana.
"Bagaimana kau bisa masuk?!" Masih was-was.
"Dari mana aku bisa masuk, itu tidak penting sekarang kembali berbaring di samping ku" tapi Liana menggeleng kuat.
"Tidak! Di mana Revan?! Revβ aahh! " Belum sempat Liana memanggil namun Marvin langsung menarik pergelangan tangan nya hingga gadis itu berguling di sampingnya.
Liana membulatkan mata melihat wajah pria di atasnya, pria itu tak menindih namun masih terbaring menyamping dengan siku menahan tubuhnya agar sedikit tinggi dari terbaring nya Liana. Gadis itu tersadar kemudian berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Marvin, pria itu masih tetap menatap dengan senyuman tipis.
"Lepasin aku! Aku tak mengenal mu!" Sentak Liana, namun Marvin tak menjawab membiarkan gadis ini memberontak dan berbicara semau nya.
"Lepasin aku! Lepas!!" Liana mendorong tubuh Marvin namun usahanya gagal, melihat otot-otot besar di bagian lengan pria ini saja membuatnya ragu untuk bisa lepas. Bahkan hanya 5 jari yang memegang tangannya saja ia tak bisa melepaskannya, tenaga pria ini sangat kuat tak seperti Revan ataupun yang lain. Tapi kalo Arion sih... Bisa di pertimbangkan.
Marvin malah terkekeh melihat gadis ini mendorong dadanya bahkan menendang perutnya, ia tak merasakan sakit malah lebih tepatnya geli. Gadis ini terlalu lemah bagi nya, mengangkat satu jarinya saja tidak kuat.
"Simpan saja tenaga mu, aku tidak mau saat menerkam mu kau lemah tak berdaya" kekehan Marvin, Liana terus berusaha bebas hingga gadis itu duduk dengan tangan yang masih di cengkram oleh Marvin. Pria itu hanya menikmati pukulan yang menurut Liana sudah keras di tangannya, padahal bagi Marvin hanya seperti sentilan kecil.
****
ππ°π³π³!
"Revan!" Elvino menghampiri Revan setelah menembakan peluru nya pada pria yang ingin menembak Revan.
"Ambil ini!" Elvino memberikan pistolnya lagi pada Revan.
"Kep*rat! Berani-beraninya kalian masuk kerumah ku!" Elvino menembak pada musuhnya hingga mereka berperang senjata di dalam rumah. Sedangkan para pelayan saat mengetahui mereka datang sudah masuk ke ruangan mereka yang di belakang, untuk menyelamatkan diri bersembunyi.
Rumah ini sekarang sudah berantakan akibat adanya peperangan peluru di dalam, bahkan tembakan yang di berikan oleh Revan & Elvano menewaskan beberapa anak buah musuhnya.
Sedangkan di sisi lain, dimana Liana masih memukuli lengan Marvin terhenti kala mendengar suara tembakan berkali-kali, mendengar itu tubuh Liana bergetar melihat pistol saja ia merasa trauma apalagi mendengar suara nya? Liana menutup telinganya rapat-rapat agar tak bisa mendengar suara dentuman, Marvin yang melihat itu berdecih.
"Ku kira kau terbiasa mendengar suara itu, karena tinggal di sini" ntah Liana mendengar ucapan Marvin atau tidak, kedua telinga nya tertutup rapat menundukkan kepalanya. Rasa ke takutan dan getaran membuatnya tidak bisa bergerak, seperti kaku.
Lagian ini memang rencana Marvin agar 2 mafia itu memberinya waktu bersama gadis milik mereka, juga... Marvin akan membawa Liana pergi dari sini bisa di bilang menculik.
Pria itu menarik tubuh Liana untuk kembali tertidur dan mencium b1bir si gadis, Liana membulatkan mata terdiam merasakan bahwa b1birnya menempel di benda kenyal milik pria ini. Kedua tangan Liana di pegang dengan satu tangan Marvin saja, tangan nya besar di banding Liana itu pun cengkraman nya masih sedikit longgar akibat tangan Liana terlalu kecil.
Marvin tak hanya menempelkan saja melainkan melahapnya dan *****4* dengan agresif, gadis itu kewalahan melawannya apalagi saat ini kedua tangannya seperti di ikat oleh tangan besar Marvin.
__ADS_1
"Emhh!! " Liana serasa ingin teriak namun mulutnya di bungkam oleh Marvin, selain telinganya sakit mendengar suara tembakan b1birnya juga di siksa dengan bungkaman pria ini.
Liana menggelengkan kepalanya untuk bisa lepas dari ciuman agresif Marvin, bukannya di lepas malah semakin menjadi membuat tenaga Liana perlahan menghilang dan melemas.