Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 49


__ADS_3

Edgar membawa Liana ke rumah sakit yang di mana tempat itu sangat mewah dan banyak di bilang fasilitas lengkap atau rumah sakit terbaik di kota ini. Edgar mengangkat tubuh Liana dan masuk ke dalam gedung rumah sakit tersebut.


Baru lah mobil Arion sampai setengah Edgar masuk beberapa menit yang lalu, dengan bergegas pula ia masuk ke dalam.


"Tolong periksakan gadis saya!!!" sergap Edgar pada suster-suster di sana.


Mereka pun langsung bergegas mengambil brankar rumah sakit, Edgar meletakkan tubuh Liana di brankar tersebut dan di dorong oleh para suster.


"Edgar, aku–"


"Sstt! Aku tidak mau terjadi apa-apa pada mu," Edgar mengusap rambut Liana.


"Tapi–"


"EDGAR!" panggil Arion membuat Edgar menghentikan langkah dan berbalik.


"Kau tak bisa seenak nya melakukan ini!"


"Keselamatan nya lebih penting! Apa guna nya dokter dunia ini jika tak bisa menyembuhkan orang sakit!!" Edgar tidak kalah tajam.


Arion menatap Edgar yang ikut emosi, dari pada mengurus Arion, Edgar lebih baik pergi menyusul gadis nya yang di bawa oleh para suster tadi. Arion juga begitu, setelah diam sejenak ia berlari menyusul.


Begitu sampai di ruang pemeriksaan, para suster yang membawa Liana tadi berada di luar setelah memasukkan pasien ke dalam.


"Maaf Tuan, anda tidak bisa masuk karena pasien sedang di periksa oleh dokter," tahan suster pada 2 pria itu.


"Tapi saya ingin melihat nya!!" bentak Edgar.


"Mohon maaf Tuan, ini peraturan rumah sakit anda harus menunggu kabar dari dokter!"


Edgar ingin sekali mengeluarkan benda kesayangan yaitu pist0l namun di tahan oleh Arion, bukan waktunya untuk membuat keributan. Edgar berdecak kesal dan mengusap wajah nya gusar. Para suster itu pergi meninggalkan Arion dan Edgar.


Beberapa menit kemudian pintu terbuka nampaklah seorang pria berjas putih memakai masker biru menutup sebagian wajah nya.


"Bagaimana keadaan nya?!" tanya Edgar.

__ADS_1


"Anda tidak perlu khawatir, pasien tidak mempunyai penyakit apapun ...."


"Bagaimana tidak?!! Dia kesakitan!!" bentak Edgar.


"Tuan, pasien sakit perut bukan karena penyakit melainkan pasien sedang mengalami menstruasi,"


Barulah Edgar terdiam dan heran.


"Apa itu penyakit lain?"


Dokter itu terdiam beberapa detik.


"Bukan, menstruasi itu sudah biasa di alami oleh wanita, itu terjadi karena proses pelepasan dinding rahim di sertai darah, itu akan terjadi setiap bulan," jelas dokter.


"Jadi, itu bukan penyakit kan?" Arion memastikan.


"Bukan, semua wanita akan mengalami hal ini. Rasa sakit pasti juga dialami karena terjadi kontraksi otot rahim nya,"


"Bagaimana cara mengobati nya?!" tak sabar Edgar.


Edgar dan Arion merasa lega ternyata bukan karena keracunan atau penyakit lain nya, juga mana mereka tahu wanita bisa mengalami hal seperti ini? Ini akan menjadi pengalaman pertama mereka.


"Bisa pulangkan gadis saya?" datar Arion.


"Tentu saja, kalau begitu saya permisi." Dokter itu pergi meninggalkan 2 pria.


Tak menunggu lama Edgar dan Arion masuk ke dalam untuk melihat keadaan Liana. Terlihat seorang gadis terbaring memegang perutnya dengan mata tertutup.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Edgar.


Liana membuka mata, huh jika bukan karena perutnya sakit ia ingin sekali memarahi 2 pria yang keterlaluan ini padahal hanya sedang mengalami datang bukan gak perlu ke rumah sakit segala! Teriak Liana dibenak nya.


Edgar membantu Liana duduk, tiba-tiba Liana mendorong bahu Edgar sampai membuat Edgar terheran.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Dasar pria! Harus nya kau dengarkan aku dulu bicara!"


"Sayang aku tidak tahu, aku hanya panik takut terjadi sesuatu pada mu,"


"Emang susah yah dengerin aku ngomong sebentar?!"


"Itu–"


"Buat malu aja!!" marah Liana dan turun dari brankar.


Arion tidak bisa berbuat apa-apa beruntung nya ia tak menyetujui Edgar untuk dibawa ke rumah sakit, jika setuju bisa-bisa ia juga kena omel sama gadisnya ini.


"Hati-hati, nanti sakit lagi," Edgar mendekat untuk memapah Liana.


"Aku tidak lumpuh!" menepis tangan Edgar.


"Tapi perut mu masih sak–"


"Diam lah!"


Arion diam-diam terkekeh geli melihat pertengkaran 2 orang ini.


•••


Setelah sampai di rumah, Liana masih dalam keadaan marah bahkan jalan saja ia tidak mau di bantu oleh 2 pria menyebalkan itu. Sampai di dalam rumah terdengar suara ribut-ribut membuat Liana terhenti dan menoleh.


Astaga, rumah yang berantakan, banyak sekali pecahan piring, gelas hingga vas tercampur di lantai. Terdapat beberapa pria tengah berhadapan dengan banyak nya pelayan yang duduk di lantai sembari menunduk.


"Apa-apaan ini?!"


Yang lain menoleh ke arah 3 orang yang berdiri di belakang mereka.


"Liana!"


Felix datang menghampiri Liana yang terdiam menatap para pelayan-pelayan itu.

__ADS_1


__ADS_2