Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 38


__ADS_3

Dalam 1 minggu Liana sudah di perbolehkan pulang dan lukanya juga sudah tak separah waktu itu yang sering mengeluarkan darah, mereka pun kembali ke negara K dimana tempat rumah mereka.


Liana keluar dari mobil dengan di bantu oleh Kevin, jika di gendong takutnya luka nya tertekuk dan tergesek apalagi berat badan Liana sekarang naik karena makan tidur makan tidur selama sakit, jadi pasti nya ada lekukan perut.


Tapi Liana sudah tak merasa sakit, mereka nya aja yang lebay takut ia kenapa-kenapa.


"Ayah, aku sudah tak merasa sakit aku bisa jalan sendiri," Posisi Kevin itu memapah Liana berjalan.


"Yakin? Soalnya luka mu belum sembuh total," khawatir Kevin.


"Tenang aja, Liana baik-baik saja lagian sambil belajar jalan agar nanti Liana bisa sekolah," ucap Liana.


Ehh sekolah?


" YA AMPUN, AYAH! KULIAH KU BAGAIMANA?!" histeris Liana, ia baru ingat bahwa ia sudah lebih 1 minggu tidak masuk kuliah.


"Tenanglah, pikirkan luka mu dulu!" kesal Kevin.


"Bagaimana bisa tenang?! Ayah, nanti aku di scors dan nanti tidak lulus bagaimana?!" Liana masih dalam histeris.


"Aku sudah mengurus nya," datar Arion.


Liana menoleh, gak heran lagi Arion bersikap begini karena ada teman-temannya yang lain.


"Hah? Apa yang kau urus?" tanya Liana menyipitkan mata.


"Kita sudah mengirimkan surat dokter pada kepala sekolah bahwa diri mu sakit," sahut Revan.


"Benarkah?" ragu nya.


"Iya, memang awalnya kau di scors namun kita langsung meminta surat dokter tentang sakit mu," kata Revan.


"Apa keterangan nya aku sakit karena di tembak?" polos Liana.


"Iya lah! Di tembak oleh ku," senyum Elvano genit dan mendapat dorongan dari Edgar, Elvano tergeser ke samping sedikit kuat lalu menatap sinis ke arah Edgar.


"Apa-apaan sih?!" kesalnya, namun tak di tanggapi oleh Edgar.


"Sudahlah, ayo kau harus istirahat," kata Kevin. Liana mengangguk pelan dan menatap pria-pria itu sekilas lalu berjalan tertatih dengan ayahnya.


Untuk saat ini mereka sengaja membiarkan Liana tinggal bersama sang ayahnya, agar gadis itu merasa lega karena obat paling ampuh adalah keluarga.

__ADS_1


"Kita kembali!" Arion membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, lalu di ikuti oleh yang lain, mobil mereka bergerak meninggalkan rumah Kevin dan Liana.


\*\*\*


"Pelan-pelan," ucap Kevin, Liana duduk di kasurnya bersandar. Kevin menarik selimut menutupi sebagian tubuh putrinya dan merapihkan nya, Liana tersenyum melihat ayahnya yang peduli pada nya.


Liana memegang tangan Kevin, sang Ayah menoleh.


"Sudah, Ayah juga harus istirahat pasti sangat melelahkan saat di rumah sakit menjaga Liana terus serta dari perjalanan,"


"Ayah tak pernah merasa lelah menjaga mu, Ayah selalu melakukan apapun demi putri kesayangan Ayah." senyum Kevin mengusap kepala Liana.


"Tapi tetap saja, Liana juga gak mau sampai Ayah sakit karena menjaga ku 24 jam,"


"Gak apa sayang, Ayah sehat-sehat saja kok," senyum Kevin.


Liana tersenyum tipis, sangat beruntung mempunyai seorang Ayah seperti Kevin mungkin akan lebih beruntung lagi melihat sang Ibu yang mempunyai rasa sayang yang lebih dari sang Ayah. Sayangnya Liana tak bisa bahkan tak pernah melihat sosok Ibu yang melahirkan nya, hanya bisa melihat dari foto saja.


Liana menarik lembut tangan Kevin agar bisa duduk di depannya.


"Ayah tau? Liana sangat beruntung mempunyai seorang Ayah seperti Ayah, yang sangat sayang dan perhatian sama anaknya. Ibu pasti bangga banget punya suami seperti Ayah." senyum Liana.


"Ya, Ibu mu dan Ayah saling mencintai, tentu saja kita saling menghargai. Ayah bangga padanya dan Ibu bangga pada Ayah, walaupun Ibu tak bersama kita tapi dia selalu ada bersama kita. Ayah harap ini menjadikan mu gadis kuat."


"Tentu saja, Liana akan menjadi gadis kuat dan gak lemah," senyum Liana. Kevin terkekeh dan mengusap pipi putrinya.


"Emm Ayah, apakah Ibu dulu punya sikap cuek?" tanya Liana.


"Hmm ... ya, sedikit. Ibu mu selain cantik dan pantang menyerah, dia wanita yang sedikit cuek apalagi wajahnya yang badas. Banyak orang yang menganggap Ibu mu wanita judes karena wajahnya terlihat seperti ngajak berantem, mata tajam, hidung mancung, bibir tipis, wajah kecil, rambut panjang bergelombang serta cara berjalan saja seperti model." Kevin terkekeh kala mengingat kebiasaan istrinya. Liana mengangguk sambil membayangkan gambaran ibunya, walaupun samar.


"Liana tau kan wajahnya saat di foto?" tanya Kevin, Liana mengangguk cepat.


"Nah seperti itu. Tapi, saat di rumah Ibu mu sangat manja tak sesuai dengan wajahnya yang badas,"


"Benarkah?" Liana selalu bersemangat jika sang Ayah menceritakan ibunya.


"Iya! Apalagi saat dia mengandung mu, manjanya lebih dari anak kecil," kekeh Kevin.


"Aku tidak menyangka kalau Ibu seperti itu,"


"Yah, Ayah pun tak menyangka karena Ayah juga kira Ibu kamu wanita pendiam ternyata diam-diam menghanyutkan."

__ADS_1


Liana hanya bisa tersenyum melihat sang Ayah tertawa mengingat istrinya, pasti akan lebih senang lagi jika sang ibunya masih ada, ia pasti sering melihat keharmonisan antara keduanya. Sudah bisa di tebak bukan? Kevin dan Helena– nama Ibu nya adalah pasangan yang paling romantis, cuma dulunya Helena hanya cuek pada orang lain kecuali keluarganya atau orang-orang tertentu saja.


Kevin menatap sang putrinya lalu mengusap kepala Liana,


"Jangan banyak berfikir, kau harus tetap semangat dan belajar dengan giat. Kau boleh menirukan seseorang dalam kebaikannya jangan meniru keburukan nya."


Liana tersenyum lalu mengangguk paham.


"Oh ya, apakah Liana akan kembali pada... Emm pria-pria itu?" tanya Kevin. Liana terdiam, ingat sekarang dirinya sudah di miliki oleh 8 pria juga berkat mereka dirinya dan sang Ayah selamat.


"Iya, bagaimana pun mereka rela berkorban demi menyelamatkan kita,"


"Lebih tepatnya kamu, mereka menyelamatkan mu karena mereka memang mencintai mu," tentu saja ucapan Kevin membuat Liana kembali terdiam masalah cinta ia tidak tau harus berbuat apa? Membalas cinta mereka? Bahkan dirinya saja belum menaruh rasa suka pada salah satu dari mereka.


"Ayah, memang bisa mencintai orang lebih dari 1?" tanya Liana menatap sang Ayah.


"Tergantung diri mu, karena semua keputusan dan jalan menempuh hidup seharusnya kau bisa memilih. Ayah hanya bisa menasehati saja soal mengatur kehidupan mu Ayah tak bisa," senyum Kevin.


"Aku bingung Ayah, mereka itu mafia ... apakah aku akan terbiasa? Bahkan melihat senjata mereka saja sudah membuat ku ketakutan, bagaimana jika selain senjata namun sesuatu yang lebih mengerikan dari senjata? Seperti ... d4rah, a–atau cara mereka mem–memb*nuh?" gemetar Liana ia masih mengingat kejadian sewaktu ia di culik, mendengar dentuman, m4yat, temb4kkan, yang bahkan dirinya juga menjadi korban.


Kevin menunduk memegang tangan Liana, "Maafin Ayah, karena Ayah kau terseret masalah yang Ayah punya. Niat Ayah hanya ingin meminjam uang dan bisa menguliahkan mu, namun Ayah tak tau jika jadinya seperti ini. Jika Ayah tau seperti ini Ayah tak akan mau melakukan nya," Kevin merasa bersalah, Liana mengusap punggung tangan Kevin.


"Ayah, tidak masalah kok. Aku juga harus merasakan susah nya seperti Ayah, dan jika tau nya itu aku juga tak akan lanjutkan kuliah,"


"Jangan begitu, Ayah lakukan ini juga demi hidup mu jauh lebih enak dari Ayah. Ayah maunya setelah selesai kuliah kamu bisa mencari kerja sendiri, menghasilkan uang sendiri, menghabiskan nya sendiri dan intinya kamu senang dan puas sama kehidupan mu sendiri."


Liana menggelengkan kuat, "Bersama Ayah jauh lebih bahagia dari pada uang, walaupun aku nanti punya segalanya jika tak bersama Ayah aku merasa sedih dan tak bahagia. Cukup rumah kecil seperti ini namun bersama Ayah sudah bersyukur banget." memegang tangan Kevin.


Kevin hanya bisa tersenyum miris andai saja istrinya masih hidup ia akan lebih bangga dan mengatakan pada sang istri bahwa ia beruntung memiliki anak dari Helena. Ini lah mengapa Kevin tak rela melepaskan putrinya ketika bersama pria atau orang lain, takut nanti putrinya terluka di sengaja atau tidak, 'kan ia tak tau apa yang mereka lakukan di sana?


Kevin memeluk putrinya dan Liana pun membalas pelukan hangat dari sang Ayah, bagi Liana tak ada pelukan senyaman, sehangat dan kasih sayang selain Ayah.


"Istirahat lah, agar cepat sembuh," Kevin mengecup kening Liana.


"Hmm," pelukan pun lepas, Kevin membantu Liana tidur agar luka di perut Liana tak merasakan sakit atau mengeluarkan darah lagi kemudian merapihkan selimut.


"Ayah tinggal yah? Jika butuh sesuatu tinggal panggil aja, lagian Ayah sebentar kok untuk ke kamar setelah itu menjaga mu lagi di sini."


"Makasih Ayah,"


"Sama-sama." Kevin mengusap kening Liana lalu pergi dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2