Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 51


__ADS_3

Liana pernah melihat pria ini sebelumnya tapi di mana? Seperti tidak asing wajah nya. Pria itu tersenyum tipis.


"Selamat siang nona Liana,"


"Anda ....?"


"Saya Dokter Jay, adik Tuan Arion,"


Ah iya! Baru ingat, dia lah dokter yang mengobati luka temb4kan nya waktu itu!


"Ya ampun, maaf Dokter saya lupa jika Dokter adalah orang yang membantu luka saya waktu itu," bersalah Liana.


"Tidak apa kok," senyum nya.


"Mari masuk, Dokter."


Jay pun masuk ke dalam dan mendapati rumah yang sepi, tumben sekali biasa nya para mafia itu selalu berada di ruang tamu sini.


"Silahkan duduk, Dokter," kata Liana.


"Ah iya," Jay duduk sofa dan meletakkan tas hitam nya di lantai samping sofa.


"Di mana tuan Arion dan yang lain?"


"Ah itu ... emm, mereka sedang melakukan sesuatu tugas yang saya berikan hehehe," gugup Liana.


"Ah begitu,"


"Iya. Dokter ada sesuatu yang penting yah dengan mereka? Saya bisa panggilkan mereka,"


"Emm, sebenarnya saya disuruh datang karena mendapat panggilan dari mereka bahwa kau terluka,"


Seketika Liana terdiam.


"Apakah lukanya masih belum sembuh? Atau sesuatu terjadi pada mu?"


Jangan-jangan mereka menyuruh Jay datang jauh-jauh hanya karena ia menstruasi?! Pria itu benar-benar! Teriak Liana dalam benak. Liana tersenyum kaku.


"Dokter, emm sebenarnya ... soal itu ... ha–hanya terjadi kesalahpahaman saja," merasa tak enak, takut dan berhati-hati.


"Kesalahpahaman?"


Liana menghela nafas pelan-pelan, ia harus mengatakan yang sebenarnya, hingga Liana pun bercerita dari awal hingga akhir.


Setelah mendengar cerita Liana, bukannya marah Jay malah terkekeh geli ini baru pertama kali nya ia mendengar cerita seperti ini apalagi di perankan oleh para mafia itu. Ternyata saudaranya itu bisa melawak tanpa di sadari, jangankan Jay pasti mereka juga merasakan malu.

__ADS_1


"Itu sebabnya saya menyuruh mereka membersihkan kekacauan ini sebagai hukuman, dan saya juga minta maaf pada dokter udah datang jauh-jauh ternyata cuma masalah sepele," Liana menunduk merem4s rok nya, antara malu dan tidak enak.


"Tidak apa Nona Liana, wajar saja mereka panik karena mereka tak mau Nona kenapa-kenapa," kekeh Jay.


"Iya, namun mereka sedikit berlebihan, walaupun aku sakit tapi tak perlu memanggil Dokter, di sini juga banyak dokter dan rumah sakit,"


"Tidak apa kok nona, saya sama sekali tidak keberatan, saya selalu melakukan apapun demi pasien saya,"


"Wah, Dokter memang yang terbaik," kagum Liana.


"Bukan hal yang besar," senyum nya.


"Dokter sudah jauh-jauh datang, jadi menginap lah di sini bersama kita. Pasti jika kembali Dokter sangat lelah dan tak sempat istirahat, yah?"


"Hmm baiklah, kebetulan besok bukan hari sibuk saya di rumah sakit,"


"Bagus!" senang Liana


"Soal luka, apakah sudah sembuh?"


"Hmm! Berkat Dokter sekarang saya bisa berlari dan beraktivitas seperti biasa,"


"Kabar yang bagus," senyum Jay.


"Tidak perlu, nona istirahat saja jangan terlalu banyak gerak nanti perut nya sakit lagi. Kalau saya mau sesuatu bisa ambil sendiri," senyum Jay.


"Ah begitu, baiklah," senyum Liana.


"Saya akan menemui tuan Arion dan yang lain, tidak apa kan?"


"Silahkan Dokter, boleh banget dan saya minta tolong boleh gak Dokter?"


"Iya boleh, ada apa?"


"Nanti awasi mereka yah, sudah 4 jam saya tak mengecek mereka karena perut saya tadi sakit lagi," kata Liana memegang perutnya.


"Tenang saja nona, saya berada di pihak mu," Jay mengedipkan mata bukan genit melainkan mendukung perbuatan Liana.


Liana terkekeh. Jay pun pergi.


Jay berjalan menuju dapur dan ia melihat 8 pria tengah ribut sembari memegang alat pembersih. Ada juga yang cuma duduk tapi tetap memegang sapu, rasa nya Jay ingin tertawa namun ia tahan karena ia malas mendengar ocehan mereka.


"Selamat siang menjelang sore, Tuan-tuan," sapa Jay. Mereka menoleh.


"Jay? Sejak kapan kau datang?" datar Lucas. Lihat lah yang biasa nya Lucas menampilkan ekspresi menyebalkan setiap orang melihat nya sekarang menjadi kekesalan.

__ADS_1


"Tidak begitu lama,"


"Pintu dikunci dari dalam, bagaimana bisa kau masuk?"


"Nona Liana yang membuka," kata Jay.


"HAH?!!" Kompak mereka, Jay mengangkat alis nya heran.


"Dia ada di depan?!" Carlos.


"Iya, ada yang salah?" tanya Jay tanpa dosa.


"Kenapa kau tak bilang?!!"


Baru lah mereka langsung sibuk membersihkan ntah apa saja yang di sapu yang penting semua di bersihkan. Jay terkekeh pasti mereka sudah melihat marah nya wanita yang sedang menstruasi.


Beberapa menit kemudian mereka selesai membersihkan dan langsung duduk di kursi meja makan hanya sebagian tapi. Nafas mereka juga masih memburu, ternyata lebih lelah beres-beres dari pada tugas sebagai mafia.


"Kenapa kau lama sekali datang nya?!!" kesal Felix.


"Tentu saja lama, jarak kita sangat jauh bahkan jika di bandingkan dengan biasa, aku datang lebih cepat hari ini," Jay juga pernah di suruh datang ke sini karena salah satu dari mereka juga sakit dan itu membutuhkan waktu 5 jam.


"Seharusnya katakan masalah nya dahulu pada ku sebelum mempercepat ku datang ke sini, jadi aku bisa memberi solusi sebagai sementara waktu," Jay.


"Aku kira dia sakit karena luka di perut nya itu, karena selain itu apa lagi?!" kesal Arion.


"Sakit itu datang tiba-tiba tanpa mengirim pesan," senyum Jay.


"Lalu kenapa kau masih di sini?" sinis Arion.


"Ah ya, tadi nya aku ingin kembali namun nona Liana menyuruh ku untuk menginap,"


"Jangan beralasan!"


"Bisa tanyakan langsung pada nona Liana, masa iya kalian tega sudah menyuruh ku jauh-jauh ternyata cuma prank. Gak kasian?"


"Sama sekali tidak!"


"Huh,"


"Sudah bersih-bersih nya?!" terdengar suara ketus dari seseorang membuat mereka terkejut kecuali Jay.


"Ah sudah, sudah kok. Lihat, kinclong seperti semula kan?" senyum paksa Felix.


Liana menatap sekeliling sembari memegang perutnya yang masih sedikit sakit, ia pun mengangguk menandakan semua sudah bersih.

__ADS_1


__ADS_2