
"Ternyata kau tak sebod0h yang ku kira. Apa kau tahu alasan ku menculik mu?" senyum Marvin.
Liana tak merespon, juga ia tidak tahu tujuan nya apa dan masalah nya apa? Lagian ia tidak merasa bahwa ia punya masalah dengan mereka, berhubungan saja tidak.
"Melemahkan mereka ...." pelan Marvin.
Liana belum mengerti maksud Marvin, melemah kan mereka? Mereka siapa?
"Mereka dibutakan oleh cinta, sehingga mereka lupa posisi mereka saat ini. Namun ada baiknya juga kau hadir dihidup mereka, jadi dengan mudah mengalahkan mereka dengan cara mengambil kelemahan mereka,"
"Apa maksud mu?!"
Marvin berdecih, "Kau itu kelemahan mereka, jadi sudah wajar bukan musuh mencari titik lemah dari lawan nya? Mereka sangat bod0h, hanya karena gadis seperti mu mereka rela masuk ke dalam sumur yang dalam,"
Liana merapatkan bibir nya menahan emosi, pria ini sudah gila tidak pantas di sebut mafia lebih pantas nya mantan anggota rumah sakit jiwa.
"Apa kau sadar? Kita bertemu kedua kali nya. Aku tidak akan melepaskan mu sebelum tujuan ku dan kakak ku tercapai, yaitu menghancurkan 8 pria bod0h mu itu,"
"Selagi menunggu bagaimana menurut mu, malam ini kita bersenang-senang?" sambung Marvin sembari senyum smirk.
"Jangan macam-macam!" dengan nada tinggi.
"Aku hanya minta 1 macam saja, aku akan melepaskan tali mu jika kau ingin bersenang-senang dengan ku,"
__ADS_1
"Aku lebih baik diikat dari pada harus bersama mu!" tekan Liana.
"Ahh, aku kecewa. Kau wanita pertama yang menolak ku ...." cemberut nya.
Benar, pria ini sudah gila.
Marvin menatap Liana dengan penuh arti.
"Sebaiknya kau pergi saja! Aku tidak sudi melihat mu!" sinis Liana.
"Jangan munafik, Liana. Mereka saja sudah menyentuh mu beberapa kali, lalu kenapa aku tidak?"
"Mereka berbeda dengan mu! Juga selama ini kau yang lebih keterlaluan dari mereka!"
"JANGAN BERCANDA!!" teriak Liana. Marvin tertawa.
"Baiklah, aku mengerti juga malam ini aku ada tugas, jadi ... besok pagi tunggu aku," Marvin mengusap b1bir Liana.
"Jauhkan tangan kotor mu!!"
Marvin terkekeh lalu berdiri dari menatap Liana dan tersenyum miring.
"Kau ditahan untuk dimanfaatkan situasi mereka. Saat ini, mereka sedang sibuk mencari mu. Setelah mereka tak berdaya, kau ingin tahu apa yang akan aku dan kakak ku lakukan?"
__ADS_1
Liana tak menatap Marvin, tapi tetap saja mendengar setiap ucapan pria ini.
"Meleny4pkan nya," menyeringai senyuman.
Setelah itu Marvin keluar dari kamar tak lupa mengunci nya dari luar.
"Aku harap mereka baik-baik saja," gumam Liana.
***
Pagi nya.
Liana terbangun, sudah 2 kali ia tidur dengan keadaan diikat hingga ia tidak pernah tidur dengan nyenyak. Setiap malam nya ia selalu terbangun untuk mengubah posisi mencari tempat nyaman, pastinya lelah dan sakit jika harus tidur dengan posisi yang tidak nyaman.
"Untuk apa kau bangun jika keadaan mu seperti ini terus?" gumam Liana.
"Ini menyakitkan ...."
"Ayah, tolong aku ... aku mau pulang. Hiks~" tangis nya.
Pintu kamar terbuka, Marvin kembali datang dengan senyuman dib1bir nya. Apakah pria ini tidak lelah menunjukkan senyuman mengerikan itu? Liana melirik sinis pada sepatu milik Marvin.
"Pagi, Liana. Kau tidur nyenyak?" berjongkok di hadapan Liana.
__ADS_1
"Aku rasa tidak, lihat lah kantung mata mu mengurangi kecantikan.