Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 53


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 00:36.


Para mafia juga Jay belum tidur juga, saat ini mereka sedang berada di lantai atas lebih tepat nya Rooftop. Setelah makan tadi, mereka kembali membersihkan kekacauan yang mereka buat itupun suruhan Liana, jika bukan karena Liana mana mau mereka membersihkan toilet.


Minuman adalah teman mereka saat mengobrol, mau semabuk apa pun mereka, tapi tetap dalam kendali kecuali Jay yang tidak minum-minuman seperti yang lain. Apalagi dia dokter harus menjaga kesehatan dengan sangat baik.


"Aku dengar mereka kembali," tanya Jay.


"Hmm, juga berhasil menukar paket yang kita kirim ke negara N," Revan.


"Bagaimana bisa kecolongan? Tidak mungkin anak buah kalian bisa lalai?"


"Itu karena ada pengkhianat," Carlos.


"Pengkhianat?"


"Aku lagi malas menjelaskan! Tidak mungkin kau tak mengerti," lirik Carlos.


Bukan nya tidak mengerti, tapi Jay ingin tahu saja bagaimana bisa ada pengkhianat? Apakah ada mata-mata atau hal semacam nya yang disuruh dengan ancaman?


"Jika begitu, berarti di salah satu anak buah kalian juga ada mata-mata dong,"


"Itu dia. Aku kepikiran tentang hal itu, mereka berhasil mengambil orang-orang ku berarti mereka juga bisa menyimpan mata-mata disalah satu anak buah ku." Kenzo.


"Kalian sudah mengecek semua nya?"


"Mencurigai orang yang berkhianat itu mudah, namun mencari mata-mata yang susah. Jika dia mengangkat diri seseorang sebagai orang terpercaya, berati orang suruhan nya sudah handal dalam mengintai," Edgar.


"Apakah sudah mencoba melacak?"


"Sudah, kita memanggil Ravin dan David kala mendengar paket kita di tukar dan segera melacak keberadaan mereka," Felix.


"Jika mencari di tempat yang sama waktu di mana kalian berperang seperti nya tidak mungkin, Arvin dan Marvin juga sudah tak memiliki anak buah, namun bagaimana bisa mereka melakukan kerja sama dengan anak buah kalian?"


"Mereka bisa melakukan apa pun demi keuntungan sendiri, sebenarnya ini kesempatan kita untuk menyelesaikan semua nya. Namun karena kita tak bisa melacak keberadaan nya terpaksa menunggu kabar dari orang-orang ku," Arion.

__ADS_1


"Menurut ku juga begitu, kesempatan kalian sangat bagus karena Arvin masih mengumpulkan anak buah dan kalian bisa menggagalkan rencana mereka. Dan untuk Marvin ... apakah dia terlibat dalam masalah kalian?"


"Tentu saja! Karena dia juga gadis ku terluka! Aku benar-benar tak bisa mengampuni b4jing4n itu!!" geram Felix.


"Masuk akal sih," gumam Jay.


"Arion, apakah tidak ada cara lain selain menunggu kabar 2 suruhan itu? Sudah 1 hari mereka tak memberi kabar tentang keberadaan mereka." tanya Edgar.


"Aku belum bisa berfikir apa-apa, aku akan coba ... mungkin aku akan membutuhkan seseorang dalam hal ini," Arion mengeluarkan ponselnya.


"Siapa?" tanya Kenzo.


"Kalian akan tau nanti,"


•••


Pagi pun tiba. Sekarang perut Liana sudah membaik tidak merasa sakit lagi, perutnya bukan mood nya. Ia bergegas untuk membersihkan diri karena hari ini ia kuliah seperti biasa dan jadwal hari ini sangat padat. Ini lah mengapa banyak orang yang tidak menyukai hari senin atau hari awal.


Setelah siap semua ia keluar dari kamar untuk segera sarapan.


"Pagi sayang!" sapa Lucas tersenyum.


"Oh, pagi,"


"Kok lesu gitu? Ada apa? Apakah masih sakit?"


"Bukan apa-apa,"


Lucas mengangguk saja dari pada terus bertanya dan membuat Liana marah pagi-pagi kan gak enak didengar tetangga. Tetangga? Tetangga siapa?!


"Kita sarapan aja yang lain sudah menunggu," Lucas menggandeng tangan Liana, gadis itu hanya menurut syukurlah tak ada penolakan dari gadis ini.


"Pagi sayang!" sapa mereka tapi Jay tidak menyapa yah cuma tersenyum saja, apa kata mereka nanti jika ikut menyapa? Dari pada suara nya menonjol sendiri lebih baik tidak usah kan?


"Pagi," senyum tipis. Mereka merasa lega melihat senyuman tipis itu, lebih suka sih dari pada yang semalam sangat menakutkan.

__ADS_1


"Spesial untuk hari ini, kamu mau di antar sama siapa kuliah nya?" senyum Elvano.


"Terserah," singkat, padat dan memalukan.


Para pria itu saling lirik melirik jangan-jangan mood Liana kembali buruk lagi. Arion dan Edgar melirik datar ke arah Elvano.


"Ah baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu," kaku Elvano karena mendapat respon tadi dari Liana.


Mereka pun makan dengan tenang lagi tidak ada pembicaraan, biasanya mereka terbiasa dengan suasana seperti ini namun semenjak gadis ini datang bulan serasa sangat berbeda sekali. Banyak diam nya mau bicara takut salah kata yang akhirnya pada ribut, sudah cukup 1 hari kemarin menjadi pelajaran hingga selesai makan malam pun harus mendapat asupan omel dari Liana.


"Dokter Jay, apakah hari ini dokter kembali?" tanya Liana membuat mafia melirik Jay dengan datar.


Jay merasa dilirik satu meja menjadi aneh sendiri.


"Ah iya, siang nanti, karena jam keberangkatan pesawat saya diundur pagi tadi,"


"Begitu yah?."


Jay mengangguk kecil. Jay melirik yang lain dengan sinis tidak lupa masing-masing memegang garpu seperti ingin membvnuh, bukannya takut Jay malah terlihat santai dan melanjutkan makanan nya.


"Ini untuk Dokter," Liana memberikan sebuah kotak kecil berpita merah. Jay menatap kado tersebut.


"Apa ini?"


"Hanya kado biasa, semalam saya buat sambil mengerjakan tugas. Keingat bahwa hari ini Dokter akan pulang, jadi di terima yah?" senyum Liana.


Sebenarnya gak keberatan namun yang jadi masalah adalah pria-pria Liana ini, pastinya tidak terima.


"Jika Dokter gak terima saya kecewa loh, saya udah buat dari semalam," memasang wajah lesu.


"Gadis ku rela bergadang demi membuatkan mu hadiah," Felix senyum paksa namun tatapan nya membunuh.


"Dan kau tak mau menerima nya?" sinis Carlos menggenggam garpu.


"Tidak ada jalan untuk mu pulang," senyum misterius Revan.

__ADS_1


__ADS_2