
Liana menatap sekeliling sembari memegang perutnya yang masih sedikit sakit, ia pun mengangguk menandakan semua sudah bersih.
"Lumayan," kata Liana.
"Bagus lah ...." lega Carlos mendudukkan diri nya di kursi.
"Terus, semua sampah nya di buang ke mana?" tanya Liana membuat mereka kembali mematung.
"Ya–ya, ke tempat sampah lah sayang, masa iya ke kamar mandi," Elvano tersenyum kaku.
"Yakin?" antusias tajam.
"Iya sayang ...." kompak mereka.
"Awas kalo bohong!" menandai mereka.
Jay terkekeh diam-diam, Arion yang melihat itu melirik tajam, merasa ditatap, Jay menoleh ke arah Arion yang menatap nya membunuh. Jay berdehem memalingkan wajahnya sambil tersenyum.
"Kalian pergi lah mandi dan suruh bibi untuk masak malam ini, sepertinya perut ku sakit lagi," lesu Liana.
"Aku akan mengantar mu ke kam–"
"Gak usah!!" ketus Liana.
Liana berbalik badan dan berjalan meninggalkan mereka.
"Jay! Kau ini punya solusi buat masalah ini gak sih?!!" Arion menggoyang-goyangkan tubuh Jay dengan geram.
"Solusi seperti apa?" Jay berkali-kali membenarkan kaca mata nya.
"Ya mana aku tau?! Bagaimana cara nya dia tidak sakit? Dan ... kau lihat sendiri kan tadi?!" Arion juga bingung cara menjelaskan nya.
"Itu sudah wajar bagi wanita pubertas,"
"Kau sama seperti dokter lain!! Wajar-wajar tapi jika begini dia akan kesakitan terus! Apa enggak ada obat buat menghilangkan sakit nya gitu?!!" geram Arion.
"Tuan, rasa sakit nya hanya akan 1 hari dan besok nya sudah tidak lagi bahkan malam nya dia sudah tidak merasa sakit lagi. Saat Haid seharus nya ia perbanyak minum air putih, atau air kelapa muda sebagai penangan rasa sakit. Efek yang di alami wanita ketika haid adalah emosi yang tidak stabil,"
"Apa?" Kenzo.
"Ya, mungkin kalian heran sikap nona Liana yang terus marah-marah itu karena sedang datang bulan,"
__ADS_1
"Apa hubungannya?!" tanya Edgar.
"Tentu saja ada, karena hormon estrogen nya meningkat, jadi perempuan akan sensitif terhadap apapun. Apalagi sampai di buat stress,"
Arion geram dengan Jay dan ingin rasanya menc4bik-c4bik tubuh saudara nya ini.
"Kenapa kau tak bilang dari tadi?!!" emosi yang di tahan Arion.
"Tidak ada yang tanya,"
"Kau itu dokter! Seharus nya kasih tau dari awal!"
"Aku akan memberi jawaban ketika ada yang bertanya,"
Benar-benar dokter satu ini agak berbeda dari dokter lain nya, begitu santai nya ia menjawab bahkan tak peduli saat ini dia berhadapan dengan maut.
Arion hendak memukul namun ia tahan karena juga percuma memukul jika Jay nya sendiri yang tidak kapok. Arion pun memilih pergi dan di ikuti oleh yang lain.
"Salah ku apa?" gumam Jay.
•••
Malam nya makan malam sudah siap, Liana mendatangi dapur dan semua makanan sudah siap.
"Boleh Non, oh ya itu ada air kelapa muda, tadi Tuan Kenzo membeli banyak sekali air kelapa muda untuk Non,"
Liana menoleh ke arah meja terdapat 3 wadah air dan airnya berwarna putih kekuningan bahkan ada isi kelapanya yaitu dugan.
"Astaga," gumam Liana, "Ya udah Bi, air hangat nya gak jadi, dan juga panggilkan yang lain untuk makan malam,"
"Baik Non," bibi itu pergi
Liana menuang air kelapa di gelas nya selagi menunggu ia bisa makan kelapa muda dahulu, jarang-jarang ia bisa minum air kelapa.
Lalu datang lah 8 pria dan duduk di masing-masing tempat.
"Bagaimana? Air kelapa nya manis gak?" tanya Kenzo.
Liana melirik tanpa menjawab, oke! Sekarang mereka tahu sikap Liana hari ini. Yang harus mereka lakukan adalah jangan membuat nya emosi dan streas. Jay tersenyum melihat itu, boleh gak sih tertawa langsung?
Mereka pun makan bersama tanpa berbicara lagian mau bicara apa jika Liana sedang keadaan mood yang buruk? Bahkan Liana makan saja dengan ekspresi datar jadi mereka tak berani berbicara pada gadis ini.
__ADS_1
Liana mengambil daging dan ingin memotong nya, namun daging nya sulit di potong. Carlos yang di sampingnya langsung buru-buru ambil alih untuk memotong kan daging milik Liana, jika di biarkan bisa-bisa Liana emosi lagi, dan melampiaskan nya pada mereka.
"Sini aku potong kan," Carlos memotong daging menjadi kecil-kecil setelah itu ia tusuk menggunakan garpu dan menyuapkan nya pada Liana.
Liana menerima suapan Carlos dan mengambil garpu di tangan pria itu lalu melanjutkan makan.
Yang lain bernafas lega akhirnya tidak ada pertempuran lagi.
“𝐵𝑎𝑟𝑢 𝑗𝑢𝑔𝑎 1 ℎ𝑎𝑟𝑖, 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖𝑚𝑎𝑛 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 1 𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢?” batin Jay terkekeh.
Tak lama kemudian 2 pelayan berjalan membawa alat pembersih membuat Liana terheran.
"Bibi, kalian bersih-bersih?" tanya Liana, seketika 8 mafia itu berhenti mengunyah.
"Ah iya, Non,"
Liana melirik 8 pria yang sedang mengunyah pelan.
"Memang belum selesai? Bukan nya udah di selesaikan oleh mereka?"
"Memang sudah bersih, namun di bagian toilet tersumbat karena banyak pecahan beling jadi maaf banget Non jika mengganggu makan kalian," maaf bibi itu.
Liana terdiam.
"Emm sayang, ehh soal itu ... jangan di pikirin gak baik loh apalagi saat kita makan," kata Lucas sembari mengambil 2 benda di saku nya untuk menutup telinga.
"Benar tuh, para pelayan itu tidak sopan sekali!" kesal Carlos.
Jay tau apa yang akan terjadi jadi ia memilih pergi dengan cara perlahan-lahan.
"Sebaiknya kita tidur saja, besok aku ada jadwal padat" kata Arion.
"Ah ya! Aku hampir lupa, besok aku akan menemui ... menemui Ravin, ah iya Ravin, sampai saat ini mereka tak memberi kabar," ucap Elvano berpura-pura memainkan ponsel dan melangkah pergi.
Mereka mencoba menghindari dengan cara sendiri-sendiri, takut sampai Liana kembali mengaum.
"Tunggu!" kata Liana membuat mereka mematung tak bergerak.
"Kalian pikir kalian mau kemana?!" tatap Liana tajam.
Mereka saling melirik kemudian tersenyum kaku.
__ADS_1
"KALIAN!!"
"IYA MAAF, SAYANG!!"