
✫✫✫
Seorang pria tampan berjalan memasuki rumah besar milik 8 Mafia, dia adalah Yohanes pemimpin anak buah 8 mafia. Kebetulan Yohanes bertemu dengan salah satu Tuan nya yaitu Arion, ia pun menghampiri pria yang sedang duduk memainkan ponsel.
Sebelum berbicara, Yohanes membungkuk kan badannya pada Arion.
"Tuan, saya datang ke sini ingin memberitahu tentang salah satu penyusup yang ditahan di bawah tanah, apa yang akan kita lakukan pada nya?" Yohanes.
"Oh ya, aku lupa soal dia. Aku akan ke sana"
"Baik, Tuan." Yohanes membungkuk, Arion bangkit memasukan benda pipih ke dalam saku celana metalik nya dan ia berpas-pasan dengan Kenzo.
"Kau mau kemana?" Tanya Kenzo sambil memegang secangkir minuman.
"Aku lupa dengan tahanan ku" Kemudian Arion pun pergi bersama Yohanes, Kenzo pun ikut menyusul.
****
Ruangan gelap hanya di terangi oleh api yang menyala pada tempat obor, jika memasuki tempat tersebut pasti di sambut oleh kobaran api kecil di setiap dinding yang terbuat semen tanpa di chat. Tempat ini adalah tempat Ruang bawah tanah dimana 8 mafia itu mengurung tahanan nya ntah itu musuh atau orang yang berani dengan mereka bisa di bilang jika tempat ini penyiksaan untuk orang-orang.
Seorang pria terduduk dengan kedua tangannya di rantai pada tiang di belakangnya, luka goresan hingga cambukan terlukis di sekujur tubuhnya. Pria itu menduduki kedua kakinya menunduk bukan karena takut bahkan ia saja belum menyadari kehadiran 2 mafia di hadapannya.
"Kita sudah menyiksanya berbagai cara namun dia tetap tak membuka mulut" ujar Yohanes menjelaskan, baru lah pria yang terduduk itu mengangkat kepalanya menatap 2 mafia di hadapannya.
"Dia sudah terbiasa dengan siksaan" timbal Kenzo menoleh kearah Arion, pria di samping Kenzo berjalan mendekati pria yang di anggap penyusup.
Arion berjongkok menyamakan tingginya dengan pria di hadapannya, lihatlah betapa beraninya pria malang itu walau keadaan memprihatinkan namun masih berani menatap Arion dengan tajam.
"Kau sama seperti Tuan mu, tak ada rasa takutnya" decih Arion.
"Jika kau tau kenapa masih menahan ku?" Sahut pria itu.
"Suka saja, melihat orang tersiksa. Tapi, katakan dimana Tuan muda mu sekarang?"
Pria itu terkekeh "Kau kan mafia terbesar, kau bisa melacaknya dengan teknologi yang canggih. Jangan bilang bahwa kau dan teman-teman mu yang lain tidak pandai dalam melacak?" ejek nya "oh atau... Kau tak mampu membeli benda itu?" Tawa puasnya.
"****! Beraninya dia...!" Yohanes hendak melangkah namun di hentikan oleh Arion dengan mengangkat tangannya, sebenarnya Arion juga emosi namun ia tahan.
"Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan, karena ini adalah hari terakhir mu bernafas" Arion.
"Ingatlah, semua perlakuan mu akan di balas oleh Tuan Arvin dan merampas apa yang seharusnya jadi miliknya. Mungkin bukan sekarang, namun suatu saat nanti dan kau... Yang akan menikmati kekalahan. Agar kau bisa di cap sebagai Mafia gadungan dan tak bisa melakukan apapun selain berlindung di pantat anak buah mu, pengecut! " Ungkap pria itu tanpa rasa takut.
Bugh~
Untuk terakhir kali Arion memukul wajah pria itu sampai beberapa biji giginya lepas dan berdarah.
"Siapkan lahar, dan gantung pria ini" perintah Arion datar pada Yohanes.
__ADS_1
"Baik Tuan" Yohanes pergi untuk meminta anak buahnya membantu melaksanakan perintah dari Tuannya, Arion & Kenzo duduk di sofa khusus mereka sambil menopang kaki menatap beberapa anak buahnya menyiapkan semuanya.
"Jika dia mati, kita tidak bisa mengetahui keberadaan nya" Kenzo
"Dan jika kau bertanya padanya tak akan di beritahu, membuang waktu!" Dingin Arion, Kenzo pun terdiam ada benarnya juga temannya. Anak buah musuhnya sangat lah sulit untuk di pahami sama seperti Tuan nya, mereka lebih setia pada Tuannya walaupun harus bertaruh nyawa. Ntah jurus apa yang di berikan pada anak buah mereka hingga begitu setianya pada Tuan nya.
Terlihat pria tadi di gantung di atas tong besi besar yang berisi lahar gunung yang bergejolak seperti proses gunung yang ingin meledak, pria itu juga percuma ingin melepaskan diri jika tali yang diikat di tangannya lepas sama saja ia jatuh di lahar panas di bawahnya.
"Aku salut pada anak buah Tuan mu, bisa setia walaupun keadaan anak buahnya sedang bahaya, lebih sayang Tuan nya dari pada diri nya" Kenzo menatap pria yang di gantung di atas.
"Itu karena Tuan Arvin lebih baik dari mafia mana pun, tapi dia lebih kejam dari kalian yang lemah! " Serkas pria itu.
"Jangan membuang waktu! Jatuh kan dia" perintah Arion.
"Baik Tuan. Potong tali nya!" Yohanes memberi perintah pada anak buah nya yang berdiri di samping gulungan tali di sudut ruangan.
Krak~
"AAAAAGHKKKKK!!!!"
Begitu tali di potong oleh pisau pria itu terjatuh tenggelam di lahar api yang panas, suara nya begitu keras menggema di ruangan. Arion melihat nya merasa sangat tidak puas jika bukan tangan nya sendiri namun ia tak mau mengotori tangan nya hanya waktu yang singkat dan cuma 1 korban, jika lebih dari 1 ia pasti akan melakukan penyayatan yang sadis.
****
Liana yang sedang berbaring di kasur sambil bersandar di kepala ranjang memainkan ponsel pun merasa ada suara gema di suatu tempat, ia pun langsung duduk menatap sekeliling.
Gadis itu melihat beberapa pelayan sedang menyiapkan makan malam.
"Bi, aku bantu yah?" Pinta Liana.
"Gak usah Non, Non duduk di sini saja" tolak nya.
"Tapi, aku juga mau bantu... Aku bosan" cemberut Liana membuat pelayan itu gemas namun ia tahan kala melihat seorang pria berjalan dari arah belakang Liana.
"Lain kali saja yah Non" pelayan itu pun pergi, Liana kesal biasanya jika sang ayah berada di dapur ia selalu membantunya namun bukan karena gabut hanya terkadang saja.
Liana membulatkan mata terkejut kala ada sesuatu yang melingkarkan tangan di perutnya, memeluk dari belakang. Ia menolehkan kepalanya melihat siapa yang memeluknya, Felix?
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Felix.
"A–aku..." Liana Berusaha melepaskan lingkaran tangan kekar Felix dari perutnya.
"Diam lah, aku ingin memeluk mu lebih lama" ucap Felix pelan, tapi Liana terus berusaha melepaskan diri dari pria berambut undercut ini, suara deep membuat Liana terkadang terpesona kadang juga mengerikan.
"Lepasin aku, aku mau makan aku lapar!" Kesal Liana mengusik kan tubuhnya.
Felix membalikkan tubuh Liana menjadi berhadapan di situ lah si gadis terdiam menatap wajah Felix. Wajah yang begitu sangat tampan, mata ramping tak lupa Freckles di wajah alaminya apalagi di tambah model gaya rambutnya, ouh lebih dari kata tampan.
__ADS_1
Felix tersenyum melihat Liana menatapnya tak berkedip.
"Kau baru mengagumi ketampanan ku?" Percaya dirinya, seketika Liana sadar dan mendorong dada Felix.
"Percaya diri sekali!" Dengus Liana kemudian menarik kursi dan duduk di depan meja makan yang sudah di siapkan, bahkan jenis-jenis makanan hari ini lebih banyak. Felix pun duduk di samping Liana, tak lama kemudian yang lain pun datang duduk posisi masing-masing.
"Wah, tumben sudah hadir di sini? Biasanya aku yang menunggu mu di sini" ucap Revan berada di sampingnya.
"Aku sudah lapar" menatap Revan, pria itu gemas kemudian mengecup bibir Liana.
"Apa-apaan sih!" Liana mengelap bibirnya menggunakan punggung tangannya.
"Aku hanya mencium mu, dan itu belum seberapa" menyeringai senyuman, Liana yang melihat itu bergidik ngeri.
Lalu 2 pria datang menghampiri meja makan dan itu adalah Arion & Kenzo, keduanya duduk di kursi kosong yang tersisa untuk mereka.
"Kalian dari mana?" Tanya Edgar.
"Dari ruang bawah tanah" Kenzo.
"Oh, pria itu?" Dan di angguki oleh Kenzo, mereka tau jika ingin memasuki ruang bawah tanah pasti habis melakukan penyiksaan pada seseorang. Mereka pun makan malam dengan tenang.
****
"Tuan, salah satu anak buah mu sudah di lenyapkan oleh mereka" ucap seorang pria berdiri di belakang Tuan nya yang sedang duduk santai di sofa tunggal sambil mengupas kulit buah.
"Dia tidak mengatakan apapun?"
"Tidak Tuan, justru karena tidak memberitahu tentang anda mereka malah menghabisi nya dengan memasukan nya ke lahar panas"
Pria yang menjadi Tuan nya tersenyum miring, ia menancapkan ujung pisau sebagai garpu untuk memakan buah tersebut.
"Tidak sia-sia aku melatih mereka, pengorbanannya... Wow amazing" kekehnya
"Lalu setelah ini bagaimana, Tuan?"
"Kau santai saja, saat ini mereka sedang bersantai juga karena mereka tidak mendapati kabar akan penyerangan untuk mereka" Smirk nya.
Arvin Putra Kingston, mafia terbesar di Asia banyak orang yang mengenalnya hanya sebagai pria pebisnis besar-besaran namun sebenarnya dia adalah seorang Mafia yang sama seperti 8 mafia yang kini tinggal bersama seorang gadis. Arvin dan 8 mafia itu saling bermusuhan karena keduanya saling mengimbangi pangkat. Sebenarnya gak hanya itu saja, Arvin ingin merebut kekayaan yang di miliki 8 mafia itu sebenarnya dia juga sangat kaya kok namun ntah karena apa tiba-tiba ia merasa tertarik untuk merebut semua yang di miliki 8 mafia itu.
Mereka tak pernah bertemu sebelumnya jika melakukan serangan pasti mengandalkan anak buahnya, sengaja saja Arvin tidak pernah menampakkan diri mungkin belum saatnya.
****
Liana terbangun karena hari ini libur kuliahnya mau libur atau tidak ia tetap bangun pagi, lagian ia hanya menumpang di sini masa iya harus enak-enak kan di limpahi harta. Liana membuka gorden dan pintu balkon berdiri di sana merasakan angin di pagi hari sangatlah sejuk dan menyegarkan, semasa tinggal bersama sang ayah ia tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Andai ayahnya di sini, pasti akan lebih menyenangkan.
Tak waktu lama ia berdiri, Liana memutuskan untuk mandi karena kamarnya tidak berantakan jadi gak apa lah.
__ADS_1