Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 24


__ADS_3

Liana duduk di sofa bersama para mafia kecuali Arion, tidak tau dimana mungkin masih di kamar nya. Mereka saling berkomunikasi dengan baik Liana juga sudah mulai terbiasa dengan mereka.


"Sayang, aku ingin memberikan mu sesuatu" Liana menoleh ke Carlos yang duduk di samping kiri nya.


"Apa?"


Kemudian pria itu mengeluarkan sebuah benda persegi kecil berwarna hitam yaitu kartu limit atau black card. Liana tidak tau benda apa itu tapi ia menerimanya.


"Apa ini KTP?" Ucapan polos Liana membuat mereka tertawa.


"Apa maksud mu KTP? Mana mungkin aku memberi mu KTP, itu kartu kredit milik mu. Apapun yang mau kamu beli kau bisa menggunakan itu"


"Ah gitu" malu Liana.


"Ya, dan ini" memberikan banyak lembaran uang, gadis itu ternganga menatap uang tersebut.


"Jika kau ingin membeli jajan atau uang saku kau bisa gunakan ini agar lebih mudah, tidak semua toko membayar dengan non tunai" santai Carlos.


Liana menatap Carlos tak percaya, untuk uang saku kuliah biasanya sang ayah hanya memberikan beberapa lembar saja.


"Ini terlalu banyak"


"Ambil lah, ini milik mu" Carlos menarik tangan Liana dan menyerahkan tumpukan uang nya.


"Tapi–" Carlos langsung menc1um b1bir Liana agar berhenti bicara.


"Teruskan saja menolak ku, sekali lagi kau membantah sekarang juga aku akan menerkam mu" ancam Carlos.


𝘎𝘭𝘦𝘬


Liana menelan ludahnya apalagi jarak wajah keduanya sangat dekat, pria itu tersenyum menjauhkan wajahnya.


"E–emm, lalu? Aku akan menaruh uang dan kartu ini di mana?"


"Terserah kamu, dompet bisa" sahut Elvano.


"Aku tak punya dompet"


"Kau tenang saja, aku akan meminta Yohan membelinya" Ia pun menelpon seseorang.


"Kau ke mall, belikan dompet wanita" suruh Elvano kemudian mematikan panggilan.


"Apa kalian tidak berlebihan?" Tanya Liana menatap black card.


"Tidak, lagian kau terima-terima aja" santai Lucas, Liana menatap sinis.


"Bagaimana kau bisa berbicara begitu?! Jika aku tak menerima bisa-bisa aku di terkam sama dia" melirik sinis ke arah Carlos, pria itu hanya tersenyum menggidikan bahu nya.


"Aku masih sayang dengan diri ku sendiri dan ingin hidup" kesal Liana.


"Sifat aslinya muncul" bisik Revan pada Felix di samping nya.


Beberapa menit kemudian seorang pria jangkung tampan datang membungkuk pada Tuan-tuan nya, dia adalah Yohanes.


"Tuan, saya sudah membeli benda yang anda pinta"


"Berikan pada gadis itu" datar Elvano, Yohanes kembali membungkuk dan memberikan paper bag kecil pada Liana. Gadis itu belum sadar karena masih menatap Yohanes, ya ampun kenapa dia tampan sekali?><


Carlos yang melihat itu merebut paper bag dari Yohanes dan menyandarkan Liana ke sandaran sofa sambil mendekatkan wajahnya, gadis itu terkejut. Tatapan tajam nya membuat Liana merinding.


"Ini, hadiah, mu!" Penuh tekanan ia tau bahwa Carlos sedang menahan emosi dan cemburu, dengan sedikit gemetar Liana mengambil paper bag yang di tangan Carlos lalu sedikit bergeser dari nya.


Yohanes yang melihat itu menggelengkan kepalanya kecil.


Liana membuka paper bag terlihat benda berwarna silver mengkilap dan bulatan mutiara di sisi garis, itu dompet. Liana memutar balikan dompet tersebut melihat setiap sisi nya, ya ampun dompet saja se mewah ini.


"Waw, cantik banget" gumam Liana kagum.


"Syukur lah kau menyukainya" Elvano.


"Tentu saja, apapun pemberian orang aku tetap terima"


"Tapi kau menyukai dompet itu kan? Bukan karena sebuah pemberian berharga?" Antusias Carlos.

__ADS_1


"Dompetnya emang bagus, cuma karena aku belum pernah pegang dompet jadi mau bagaimana pun tetap terima lagian ini hasil membeli bukan diberi" ucap santai Liana memasukan uang dan kartunya pada dompet.


"Terserah kau saja, by" ngalah Elvano


Liana berdiri dari duduknya.


"Aku mau ke kamar, makasih atas uang, kartu bahkan wadahnya" senyum Liana.


"Sama-sama Sayang, gunakan uang & Kartu untuk kesenangan mu" Carlos.


"Hmm..., Tapi, boleh kan jika aku membelikan juga untuk ayah? "


"Terserah kamu"


"Yes (gumamnya) makasih" Liana pun pergi dari sana meninggalkan mereka yang duduk menatap kepergian Liana.


"Bagus deh jika dia sudah terbiasa" Edgar


"Yah, cuma masih ada satu masalah" Lucas meneguk minuman


"Apa itu?" Revan


"Arion, dia masih sama saja tak ada perubahan bahkan bersama Liana"


"Ntah lah, pikirannya sudah melayang selalu membuat gadis itu semakin takut" Kenzo.


****


Setelah Liana sampai dari lantai atas menggunakan lift, ia membawa langkahnya untuk memasuki kamar. Masih belum percaya dengan semua ini, mereka memanjakan nya dengan kemewahan bahkan lihatlah sampai memberikan wadah uang & kartu non tunai mana jumlah nya 5 kali lipat dari ia jajan.


πΆπ‘˜π‘™π‘’π‘˜!


Liana terkejut kala seseorang keluar dari kamar secara tiba-tiba, bahkan pria itu pun ikut terkejut namun ia netral kan dan bersikap biasa saja. Liana menghela nafas kecil ternyata Arion, gadis itu membungkuk kan tubuhnya kecil hendak melangkah pergi namun suara berat menghentikan langkah Liana.


"Bisa kita bicara?" Jantung Liana berdetak kencang bukan karena baper atau salah tingkah namun malah ketakutan.


β€œπ‘‚β„Ž π‘Žπ‘ π‘‘π‘Žπ‘”π‘Ž, π‘Žπ‘π‘Ž π‘‘π‘–π‘Ž π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘”β„Žπ‘Žπ‘π‘–π‘ π‘– π‘˜π‘’? π‘Œπ‘Ž π‘‘π‘’β„Žπ‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘™π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘‘ π‘˜π‘Žπ‘› π‘Žπ‘˜π‘’, π‘Žπ‘˜π‘’ π‘šπ‘Žπ‘ π‘–β„Ž 𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘β€ batin Liana menutup matanya.


Arion dan Liana berada di kamar miliknya lebih tepat nya balkon. Sudah beberapa menit yang lalu keduanya masih diam-diam an, Arion berdiri menatap pepohonan sedangkan Liana berdiri menunduk di belakang Arion.


Arion menghela nafas berat.


"Maaf" singkat nya, Liana melirik tubuh tegap pria di hadapannya.


β€œπ΄π‘˜π‘’ π‘”π‘Žπ‘˜ π‘ π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘Žπ‘›?” batin Liana bimbang.


"Soal tadi, aku tak bermaksud membentak mu" kaku Arion, Liana mengangguk kan kepalanya kecil.


β€œπ½π‘–π‘˜π‘Ž π‘Žπ‘˜π‘’ π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘– π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘‘π‘Žβ„Ž π‘›π‘¦π‘Ž, π‘Žπ‘˜π‘’ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘Ÿπ‘œπ‘‘π‘’π‘ , π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘Žπ‘€π‘Žπ‘™ π‘π‘Ÿπ‘–π‘Ž 𝑖𝑛𝑖 π‘šπ‘’π‘›π‘¦π‘’π‘π‘Žπ‘™π‘˜π‘Žπ‘›β€


Merasa tak ada jawaban dari si gadis, Arion membalikkan badannya menatap Liana yang sedang diam dalam pikiran nya sendiri, bahkan dia tak menyadari bahwa Arion menatapnya.


β€œπ΄π‘π‘Ž π‘‘π‘–π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘Ÿπ‘Žβ„Ž?” batin Arion karena di diam kan, pria itu tidak tau bagaimana cara membujuk selama ia hidup tak pernah mempunyai hubungan dengan wanita lain bahkan pada teman nya saja tak pernah mengatakan kata β€˜MAAF’. Sepertinya ia harus sedikit belajar cara berbicara yang benar pada gadis di hadapannya, tapi ego dan ke gengsian membuatnya semakin bodo amat.


"Maaf"


Liana melirik kemudian mengangguk kecil "Ti–tidak apa, kalau begitu... Aku, pergi dulu "


Liana membungkuk dan meninggal kan pria bermata tajam, Arion hendak menghentikan namun ia terhenti niat, ntah apa yang membuat nya berhenti juga ia tidak tau akan bicara apa jika Liana di depan nya.


Arion mencengkeram kuat palang pagar balkon dengan tatapan tajam, ia merasa kesal sama diri sendiri tak bisa mengatakan yang lebih pada gadis itu. Tadinya ia berfikir untuk berbicara ke salah pahaman namun setelah gadis itu berada di hadapannya ntah kenapa kata yang akan di ucapkan nya seketika hilang selain kata β€˜maaf’.


****


Drrrtt drrrt~


Getaran ponsel milik Edgar membuat pria itu yang sedang nyaman-nyaman nya rebahan terganggu, ia meraih ponsel menatap siapa yang menelpon.


β€˜π‘…π΄π‘‰πΌπ‘β€™


Edgar menggeser ke samping menjawab panggilan.


"π»π‘Žπ‘™π‘™π‘œ, π‘‡π‘’π‘Žπ‘› πΈπ‘‘π‘”π‘Žπ‘Ÿ. π‘†π‘Žπ‘¦π‘Ž 𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛 π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘π‘Žπ‘Ÿπ‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘Žβ„Žπ‘€π‘Ž 𝑑𝑖 𝐴𝑆 π‘‘π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘‘ π‘π‘’π‘›π‘¦π‘–π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žπ‘›π‘” 𝑑𝑖 π‘ π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”"

__ADS_1


Ucapan si penelpon membuat Edgar langsung terduduk membulatkan mata.


"Apa?!"


β€πΌπ‘¦π‘Ž π‘‡π‘’π‘Žπ‘›, π‘ π‘Žπ‘Žπ‘‘ 𝑖𝑛𝑖 π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜π‘Ž π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘šπ‘’π‘™π‘Žπ‘˜π‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘›π‘¦π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› 𝑑𝑖 π‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘Žπ‘› π‘šπ‘–π‘™π‘–π‘˜ π½π‘œβ„Žπ‘›π‘›π‘¦, π‘‘π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘–π‘›π‘¦π‘Ž π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜ π‘π‘’π‘Žβ„Ž π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜π‘Ž 2 π‘˜π‘Žπ‘™π‘– π‘™π‘–π‘π‘Žπ‘‘ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘π‘’π‘›π‘¦π‘Žβ€


"Baiklah, tunggu aku di sana!" Edgar mematikan ponsel secara sepihak, pria itu keluar dari kamarnya untuk memberi tahu yang lain.


****


"APA?!!" Serempak yang lain.


"Aku akan mengirim anak buah. Dan yah, tak semua ikut, tetap berjaga di sini!" Titah Arion


"Baiklah, jadi siapa?" Tanya Elvano.


"Aku, Edgar, Kenzo, Lucas, Carlos dan Felix ke AS. kalian berdua, tetap di sini jaga Liana!" Arion dan yang lain pun pergi meninggalkan 2 pria yaitu Revan dan Elvano. Karena penyerangan ini pasti bakal berat apalagi pasukan musuhnya berjumlah 2 kali lipat, jadi tidak mungkin jika mereka hanya pergi 2/3 orang.


"Ini mendadak sekali" Revan .


"Kau benar, bagaimana bisa mereka datang dalam waktu yang tiba-tiba?" Elvano.


****


Arion & yang lainnya pergi ke balkon untuk menaiki helikopter, mana mungkin ke AS cuma naik mobil? Perjalanannya memakan banyak waktu bisa-bisa mereka datang saat semua sudah selesai menyerang.


"Edgar! Kau menghubungi Yohan?! " Tegas Arion.


"Sudah, Yohan membawa pasukan anak buahnya dan menyisakan beberapa di rumah ini" Edgar.


"Apa kau tak menghubungi David? Agar dia bisa membantu kita?" Tanya Carlos.


"Tentu saja, saat ini David dan Johnny juga bersama anak buah mereka dalam perjalanan. Sekarang cepat!"


Baling-baling helikopter berputar seperti hembusan angin yang menerpa pepohonan hingga debu-debu yang di lantai atap berterbangan, tubuh helikopter itu perlahan terangkat dan terbang menjauh dari rumah mewah. Penyerangan ini sangat lah mendesak dan tiba-tiba, tapi tetap saja mereka selalu siap kapan pun musuh menyerang.


**


Liana yang sedang membaca buku mendengar suara gemuruh helikopter yang begitu sangat dekat pun penasaran hingga berlari ke arah jendela dan membuka gorden. Matanya menangkap sebuah benda besar perlahan menjauh, benar saja itu helikopter jujur ia tak pernah melihat helikopter terbang dengan jarak sangat dekat. Ia selalu merasa kagum saat melihat helikopter terbang walau jaraknya jauh, tapi lihat lah ia bisa melihat nya dari dekat, hembusan angin pun terasa.


"Wah, aku belum pernah lihat helikopter dari dekat. Tapi ini sangat dekat serasa bahwa helikopter itu berada di atas atap rumah" kagum Liana tak henti-hentinya menatap benda melayang yang sudah menjauh seperti semut.


Cklek~


Sebuah pintu kamar terbuka pelakunya adalah seorang pria yaitu Revan, ia melihat seorang gadis berdiri di jendela.


"Kau sedang apa?" Tanya Revan membuat Liana terkejut dan menoleh ke belakang.


"A–ahh... Tidak kok, itu aku denger suara helikopter seperti deket banget jadi aku langsung lihat"


"Apa itu mengganggu mu?"


"Tidak, cuma aku suka saja" senyum tipis Liana menatap langit malam, Revan menghembuskan nafas lembut kemudian berjalan mendekat.


"Kau bisa melihatnya secara langsung"


"Benarkah?"


" Emm... Tapi mungkin besok, sekarang kau tidur saja ini sudah malam" Revan menarik lembut tangan Liana membawanya ke kasur.


"Besok kau kuliah, jadi aku tidak mau kau sakit atau lelah besok" merapihkan kasur sebelum Liana tidur, Liana tersenyum tipis menatap Revan yang mempunyai sifat perhatian dan keromantisan nya.


Liana pun meniduri tempat yang baru saja di rapihkan oleh Revan, pria itu juga membantu nya menyelimuti tubuh Liana.


Cup


Revan mencium kening Liana dan mengusap rambut Liana.


"Tidur yang nyenyak, sayang..." Suara lembutnya membuat jantung Liana berdetak kencang, ia merasa malu lalu mengalihkan pandangannya. Revan terkekeh melihat gadisnya salah tingkah.


"Aku tinggal yah?" Liana mengangguk, Revan pun pergi menutup pintu kamarnya.


"Duh... Memalukan sekali! Jantung kau ini menyebalkan!" Umpat Liana memegang dadanya yang masih terasa detak jantung nya.

__ADS_1


__ADS_2