Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 37


__ADS_3

Di dalam ruangan hanya hening Liana masih tak habis pikir bagaimana bisa mereka mengobati luka dengan keadaan nya seperti ini, seharusnya mereka pergi atau keluar dahulu jika dokter melakukan nya sih gak masalah, karena dokter sudah biasa melihat darah atau pun hal lain yang termasuk luka.


Liana berusaha menyingkirkan pikiran itu untuk melupakan nya, ia berdehem pelan lalu melirik ke arah Carlos yang memainkan ponsel nya.


β€œπΎπ‘’π‘›π‘Žπ‘π‘Ž π΄π‘¦π‘Žβ„Ž π‘™π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘‘? π·π‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘›π‘Žπ‘π‘Ž π‘π‘œπ‘π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘‘ π‘‘π‘–π‘π‘Ž-π‘‘π‘–π‘π‘Ž π‘™π‘Žπ‘π‘Žπ‘Ÿ, π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž π‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘π‘Žπ‘›π‘”π‘”π‘’π‘›π‘” π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜π‘Ž ” batin Liana mengumpat.


Liana melirik semua pria mafia itu. Mafia? Liana sudah tau siapa mereka semenjak ia di tahan oleh musuh mereka, mana ada jika tak ada hubungannya dengan mereka? Musuhnya aja mafia apalagi mereka, pastinya sama saja bukan?


Ia tiba-tiba teringat pada seseorang yang menyelamatkan nya yaitu Arion, tapi di ruangan ini tak ada Arion kemana pria itu? Semenjak Liana tersadar Arion pergi begitu saja dan tak kembali, bahkan yang lain pun masih di sini tak pernah keluar. Bagaimana pun Arion sudah menolongnya jadi mau tidak mau harus berterima kasih, juga pada mereka.


"Makasih," ucap Liana, mereka menoleh menatap Liana yang duduk bersandar sambil memainkan jarinya.


"Buat?" Liana.


"Semuanya, sudah menyelamatkan ku dari musuh kalian, mungkin."


Carlos berdecih.


"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah jadi tugas kami" Revan.


"Tetap saja, jika kalian tak datang tepat waktu. Mungkin aku sudah di sentuh oleh mereka juga." seketika ucapan Liana membuat mereka terkejut.


"Apa?!" Ucap mereka bersamaan, Liana ikut tersentak menatap mereka.


"Apa maksud mu di sentuh?!" Lucas meninggikan suara nya.


Liana terdiam terlihat sekali cara mereka menatap serius bahkan ada juga yang tajam.


"Liana jawab! Apa mereka menyentuh mu?!" Carlos menekan.


Liana mengangguk kecil dan menunduk.


Braak!


"S1alan!!" Kenzo meninju meja untungnya tak pecah hanya retakan saja karena meja itu pendek terbuat dari kayu tebal. Bahkan Liana pun sedikit terkejut mendengar suara keras dari meja yang di pukul oleh Kenzo.


Cklek.


"Ada apa?!" Kevin datang sambil membawa 2 plastik berisi makanan dan buah-buahan. Pandangan Liana mengarah ke pria itu.


"Ayah"


Kevin menghampiri putrinya dan menatap para pria mafia itu yang terlihat emosi. Kemudian menatap putrinya memberi kode ada apa, namun Liana menggeleng.


"Aku lapar." Liana mengalihkan pembicaraan.


"Oh ini. Maaf Ayah lama, soalnya Ayah gak tau daerah sini jadi terpaksa sedikit berkeliling mencari makanan." Kevin meletakan 2 plastik di meja samping brankar Liana.


"Ayah beli bubur ayam, sama buah-buahan hanya ini yang Ayah temukan."


"Gak apa kok, aku mau." senyum Liana.


"Nih, Ayah suapin yah?"


Liana mengangguk senang, Kevin pun menyuapi nya dengan senang hati. Hati Kevin selalu bahagia jika melihat senyuman manis dari putrinya, rasa sayang seorang Ayah pada seorang putri nya tak bisa di hitung atau di beli menggunakan uang, rasa sayang tanpa batas.


"Emm, Ayah..." panggil Liana Kevin menatap putrinya.


"Ada apa?"


"Hmmm...."


Kevin menaikan alisnya siapa tau putrinya menginginkan sesuatu.


"Ada apa? Kau ingin sesuatu?"


"Bukan. Emm, di–dimana Arion?" ragu Liana ketika menanyakan pria itu.

__ADS_1


Para mafia itu yang tadinya sedang menahan emosi karena cerita Liana seketika menoleh, tumben? Biasanya Liana selalu takut pada pria itu bahkan tak menyukainya karena sikap tegasnya.


"Kau ingin bertemu dengan nya?" Tanya Kevin.


Liana mengangguk "aku ingin ngomong sama dia sebentar"


"Hmm. Kebetulan, dari tadi dia tunggu di luar"


"Dari tadi?" terkejut Liana.


"Hmm, semenjak Liana sadar dia keluar dari ruangan dan duduk di kursi tunggu"


"Kenapa?"


"Ayah tidak tau."


Ya ampun pantas saja, kirain Arion kembali atau pergi ternyata sedari tadi pria itu lebih baik menunggu di luar.


"Ayah, boleh aku bertemu dengannya?"


"Tentu saja, jika kau ingin bertemu dengan nya. Ayah panggilkan dia dulu" Kevin meletakan wadah bubur di meja. "Oh, ini makan lah dulu."


"Udah kok, Liana kenyang."


"Ya udah nih minum." Kevin membuka tutup botol dan memberikan pada Liana.


"Makasih, Ayah." senyum Liana.


"Iya, bentar yah" Liana mengangguk dan Kevin pun pergi memanggilkan Arion.


Lalu Kevin dan Arion pun datang, Liana menatap Arion yang tak mau menatapnya bahkan sikap dan tatapan nya tak berubah, masih dalam datar.


Liana menatap Arion ntah kenapa Liana seakan tau keinginan Arion, Liana meminta Kevin untuk meninggalkan dirinya bersama Arion saja pria tegas ini pasti tak akan berbicara padanya jika dalam keadaan ramai.


"Elah, bicara tinggal bicara pakek berdua." kesal Elvano lalu pergi dan di ikuti oleh yang lain.


"Maaf, Ayah." gumam Liana.


Arion duduk di kursi dekat dengan Liana membuat gadis itu gugup dan terjadi keheningan beberapa saat.


"Emm... Makasih-atas-semuanya." ucap Liana gugup tak berani menatap Arion yang tatapannya selain tajam.


Arion menoleh menatap Liana seketika tatapan tajamnya berubah menjadi biasa setelah menghela nafas.


"Hanya itu?" tanya Arion, membuat Liana mendongak menatap Arion akhirnya mata mereka bertemu.


"Eh, i–iya. Jika bukan karena mu, aku mungkin tak akan selamat dari sana." menunduk.


"Jika bukan karena Ayah mu, kita juga tak akan pernah menemukan mu." Arion. Tentu saja tak lupa, karena ayahnya juga lah ia selamat berkat bantuan dari mereka juga.


Liana tersenyum datar dan mengangguk "Iya."


"Masih sakit?" lembut Arion membuat Liana terdiam, ternyata pria ini bisa berbicara lembut?


Liana menggeleng "Tidak,"


"Baguslah." Arion senyum tipis. Liana sempat tercengang melihat senyuman Arion walaupun tipis, ternyata wajah Arion lebih berseri saat tersenyum dari pada datar suram.


Liana mengangguk dan tak sengaja melihat luka goresan di pipi Arion.


"Pipi mu, terluka?" tanya Liana seakan tak merasa takut lagi dengan Arion. Pria itu memegang luka pipinya yang sewaktu itu tergores karena anak buah musuhnya.


"Hmm, tidak sakit kok."


"Tapi, luka nya merah dan sedikit parah." Liana terlihat khawatir bahkan tanpa sadar Liana menyentuh pipinya Arion.


"Hanya sedikit." senyum Arion.

__ADS_1


Tatapan mereka bertemu saling memandang dengan posisi Liana memegang pipi Arion, ternyata jika di lihat lagi Arion tampan juga dengan tatapan seperti ini di banding sebelumnya. Jika ada teman-temannya sikap dan tatapannya berubah, kemungkinan Arion tak mau menunjukkan sikap lembutnya pada teman-temannya karena malu.


"Aku lebih suka melihat mu begini," gumam Liana tapi Arion tidak tuli, ia mendengar gumaman Liana. Ia tersenyum dan mendekatkan diri di wajah Liana.


"Jika aku begini, kau mau jadi milik ku?" ucap Arion.


Blush


Pipi Liana memerah kenapa pria ini tiba-tiba mengucapkan hal itu sih? Arion mendekat saja jantung nya sudah berdebar apalagi sampai berucap begitu, kan tambah jedar-jeder.


Liana mengalihkan pandangan kala tersadar, Arion tersenyum melihat tingkah Liana yang bisa di bilang salting.


"Bagaimana? Akan aku lakukan untuk mu jika kau milik ku." Arion.


Ternyata sama saja yah, kirain Arion orangnya paling berbeda dari yang lain, nyatanya sama buaya nya.


"Kau sama saja seperti yang lain," ujar Liana menatap Arion.


"Apa maksud mu?"


"Ku kira kau berbeda dari yang lain karena sifat & sikap mu yang cuek dan tegas, ternyata sama saja."


"Siapa yang bilang?"


"Ya emang, ku kira kau bersikap tegas karena tak menyukai ku. Berkali-kali kau terus memarahi ku,"


Arion terdiam sejenak kemudian menunduk dan tersenyum ia ingat betul bagaimana waktu itu ia pernah membentak gadis ini sampai takut dan hampir menangis.


"Maaf. Aku tak bermaksud membentak mu waktu itu, aku hanya khawatir saat kau ingin terjatuh dari tangga latar rumah. Tadinya aku ingin menasehati tapi malah kelepasan" jedanya. "Aku terlalu malu menunjukan sisi lembut ku, dan itu sangat sulit bagi ku. Ego dan gengsi ku terlalu besar jadi sangat kaku berbicara pada orang-orang. Aku hanya ingin mereka–"


"Melihat mu tegas?" potong Liana, Arion menatap Liana dan mengangguk.


"Ya, aku ingin mereka menganggap ku sebagai pria tegas agar saat dalam situasi apapun mereka melakukan nya dengan baik sesuai perintah ku."


"Mereka juga bisa membandingkan situasi serius dan bercanda, jadi kau tak perlu menjadi orang yang terpandang ataupun di takuti." sahut Liana, Arion tersenyum simpul.


"Lagian mereka juga sudah tau sifat mu, kenapa masih harus menjadi orang yang kau inginkan? Mereka sudah menganggap dan mengakui bahwa kau sangat menakutkan dan tegas, namun sifat mu lah yang tidak bisa menyesuaikan situasi. Saat situasi serius maklum kau menakutkan, namun di saat santai kau tetap tak bisa merubah sifat seperti yang lain. Itu yang membuat ku berfikir bahwa kau sangat berbeda dari yang lain." sambung Liana.


Arion terdiam mendengarkan tuturan gadis di hadapannya, sepertinya Arion baru sadar bahwa dirinya tak pernah memikirkan hal itu baginya situasi mencengkeram atau tidak sama saja. Mood nya selalu buruk dan tak tenang itu yang membuatnya pria kasar, tegas dan seram. Bahkan pada Liana sendiri.


Liana tersenyum tipis, jujur gadis itu lebih suka melihat wajah sendu nya saat berfikir.


"Aku juga tak mungkin bisa lepas dari kalian jika sudah begini, aku akan bersama kalian jika kau bisa mengubah sifat mu."ucap Liana secara tiba-tiba, Arion menoleh menatap Liana.


Astaga, apa yang aku katakan? Pikir Liana .Akibat terlalu menghayati wajah Arion jadi seakan mulut berbicara sendiri tanpa sadar. Liana memalingkan pandangan berharap Arion menolaknya.


"Benarkah? Oke akan ku lakukan, asal kau memang menyetujui bahwa kau milik ku." Setuju Arion.


Liana meneguk ludahnya kasar mendengar kesepakatan Arion, mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur, juga emang bener perkataannya tadi Liana tak bisa lepas dari mereka lagian ini sangat menguntungkan bagi keduanya.


Arion terkekeh melihat wajah Liana yang seperti tak percaya ucapannya, Arion mencubit pelan pipi Liana.


"Aku baru sadar bahwa kau sangat menggemaskan." senyum Arion.


Liana tersadar dan malah mengalihkan wajahnya ke samping, malu banget jika sampai Arion tau kalau dirinya sedang menahan salting apalagi melihat senyuman dari pria kejam ini.


"Maaf soal luka mu, gara-gara diri ku kau kena sasaran." ucap Arion melihat perban di perut Liana, sekarang gadis itu tak malu lagi memakai tank top lagian masih di tutup setengah badan dan perutnya juga tertutup oleh perban jadi masih aman.


"Tidak apa-apa." senyum tipis Liana


"Masih sakit?"


"Enggak kok, lebih baik."


"Baguslah." Arion mengecup punggung tangan Liana, gadis itu sempat terdiam beberapa detik kemudian tersenyum.


"Panggil yang lain suruh masuk jika kita sudah berbicara." Liana.

__ADS_1


"Beberapa menit lagi, aku ingin berdua dengan mu sebentar."


Arion menatap punggung tangan Liana dan memainkan menggunakan jarinya. Ternyata pria kejam ini bisa manja juga, terpaksa deh keduanya saling mengobrol candaan walaupun Arion masih terlihat kaku namun Arion juga belajar untuk membiasakan saat bersama Liana, agar gadis ini bisa nyaman dengannya.


__ADS_2