Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 50


__ADS_3

Felix datang menghampiri Liana yang terdiam menatap para pelayan-pelayan itu.


"Apa kau baik-baik saja? Katakan apa yang terjadi?" khawatir Felix memegang tangan Liana.


"Akan aku katakan semua nya setelah menjelaskan ini semua!" ucap Liana.


"Aku memberi pelajaran untuk para pelayan karena memasak tidak becus hingga membuat mu sakit,"


Liana membulatkan mata terkejut.


"APA?!!"


"Iya, makanya kita kumpulkan mereka. Mereka harus meminta maaf pada mu!" Felix melirik tajam kearah pelayan-pelayan itu.


Bukan itu maksud nya, astaga dasar pria-pria mafia!


"Kau yang memecahkan benda-benda ini semua?" tanya Liana


"Ya, aku terbawa emosi,"


"Oh terbawa emosi yah?" senyum Liana dan di angguki oleh Felix tanpa keraguan. Arion dan Edgar saling melirik perasaan mereka tidak enak.


"Bersih kan sekarang!" titah Liana mengubah ekspresi menjadi sinis.


"Apa?" gumam Felix.


"Bersihkan kekacauan mu yang sudah membuat rumah berantakan!"


"Sayang, kok aku–"


"Biar aku katakan pada kalian! Aku sakit perut bukan karena masakan mereka! Tapi aku sedang mengalami menstruasi!!" marah Liana.


Felix terdiam, dan yang lain saling melirik satu sama lain.


"Aku begini sudah biasa setiap bulan! Pokok nya aku tidak mau tau, kau dan kalian bereskan rumah ini seperti semua sekarang juga tanpa bantuan para pelayan!!" tunjuk Liana.


"Tapi sayang–"


"Kau membantah ku?!!" Liana mengangkat dagu menatap sinis pada Felix sampai pria itu tidak bisa berkata-kata.


Liana berjalan berhati-hati agar tak kena pecahan beling.


"Sayang hati–"


"Diam di situ!!" tunjuk Liana pada Felix.


Liana berjalan ke arah para pelayan yang duduk di lantai sembari menunduk.

__ADS_1


"Bibi, kalian bangun lah," lembut Liana


Para pelayan itu berdiri dari duduk nya namun masih keadaan menunduk, Liana merasa sangat bersalah pada mereka yang pasti sudah di bentak, dimarah habis-habisan oleh pria-pria ini.


"Bibi, aku minta maaf pada kalian. Aku tidak bermaksud membuat kalian dalam masalah ini," Liana membungkuk pada para pelayan.


Sikap Liana membuat para mafia itu terkejut, untuk apa meminta maaf dengan merendahkan diri? Itu keterlaluan.


"Tidak apa Non, tidak apa kok. Kami baik-baik saja," senyum salah satu nya.


"Tetap saja aku minta maaf Bi, masalah ini biar aku yang selesai kan ... dengan mereka!" melirik tajam ke arah pria-pria mafia itu.


Gluk


Mereka menelan ludah nya sendiri-sendiri. Liana kembali tersenyum ke arah pelayan-pelayan itu.


"Kalian sebaiknya istirahat saja, sebagai gantinya hari ini kalian tidak usah repot-repot membersihkan rumah. Biar mereka saja yang mengganti pekerjaan kalian"


Tentu sana mafia itu terkejut.


"Apa?!" Carlos


Liana melirik "Kau keberatan?! Setelah membuat masalah ini?!"


"Tapi itu berlebihan ...."


"Itu karena kita tidak tahu–"


"Seharusnya kalian tadi dengerin apa yang aku katakan tadi!!" emosi Liana sedang tidak stabil ditambah efek ia datang bulan.


"Sekarang diam! Bibi, kalian bisa kembali istirahat saja biar aku yang selesaikan semua nya," lembut Liana pada para pelayan.


"Tapi non–"


"Jangan membantah ku Bibi, saat ini aku sedang tidak bisa mengontrol emosi ku!" Liana mengalihkan pandangan.


Para pelayan itu terpaksa mundur membungkuk juga mereka tetap tak bisa membantah tuan mereka, mau mafia atau gadis nya mereka harus patuh!


"Sayang–"


"Kalian bisa panggil aku itu setelah semua nya beres! Sekarang bersihkan kekacauan yang kalian buat sendiri!"


"Aku tidak ikut-ikut, jadi aku akan–"


"Kau akan ke mana?" Liana menghadang Lucas yang hendak pergi dan tatapan datar.


"Sayang, aku tidak ikut menghukum pelayan–"

__ADS_1


"Jadi?"


"Jadi, aku tidak termasuk membersihkan,"


"Siapa yang bilang?" datar Liana


Lucas menaikan satu alisnya "Ya ... aku ...."


"8 pria di sini bersihkan semua nya, tanpa terkecuali! Jika tidak di bersihkan ...." menggantung kata-kata nya.


"Jangan temui aku,"


"TIDAK!"


•••


4 Jam kemudian, Liana tengah mengistirahatkan diri di sofa sedangkan 8 mafia itu masih membersihkan rumah itu pun 4 jam belum juga bersih masih banyak pecahan beling. Membuang sampah, menyapu, mengepel, dan lain-lain nya bahkan mereka tidak tahu dari mana mereka mulai.


"Huuh! Gara-gara kau kita di suruh beres-beres!" protes Carlos pada Felix.


Felix membanting sapu lantai yang di pegang nya, "Apa maksud mu?!"


"Jika saja kau tak sampai memecah kan benda-benda, ending nya gak bakal seperti ini!"


"Apa kabar kau yang sampai memukul pelayan-pelayan itu?!"


"Setidak nya Liana tidak tau itu," santai Carlos.


"Aku yang akan memberi tahu,"


"Hey?!"


"Apa? Biar kau dapat hukuman setimpal lagi!"


"Jangan macam-macam kau, Felix!"


"Hah, takut kan?" smirk Felix.


Carlos menggertakan gigi nya kesal.


"Mau salah siapa saja bakal semua yang kena!! sekarang cepat selesai!" tegas Kenzo.


Ting~ Tong~


Liana membuka mata kala mendengar suara bel rumah, ia pun perlahan menurunkan kaki nya yang di selonjorkan di sofa takut nya ia merasa sakit lagi kan gak mengenakan.


Liana membuka pintu, ternyata ....

__ADS_1


__ADS_2