
"JAY!! JAY!!" Teriak Carlos sambil menggendong Liana di lorong sebuah Rumah sakit.
Ini lah tempat khusus milik mereka. Rumah sakit ini milik saudara Arion, jadi dalam keadaan apapun mereka selalu ke sini untuk melakukan perawatan khusus. Juga rumah sakit ini sudah terkenal dari negara tersebut mana letaknya lumayan jauh dari rumah mereka, jadi jika para mafia itu membutuhkan sesuatu pasti pemilik rumah sakit ini akan di telpon mendatangi rumah mereka.
Lalu seorang pria tampan berkaca mata dan jas putih datang.
"Ada apβ"
"Aku ingin kau selamat kan gadis ini, cepat!! " bentak Carlos.
"Siapa gaβ"
"Jangan banyak tanya!! Cepatlah! Dan juga, Revan pun dia tertembak jadi kau harus menyelamatkan 2 orang ini!!" Carlos meletakan Liana di brankar dorong yang ada di sana.
Tak menunggu lama pria berjas putih itu mengarahkan tempat ruangan operasi dan memasukan 2 pasiennya.
Mafia menunggu diluar? Menunggu? Ya enggak lah, Carlos dan yang lain masuk kedalam untuk melihat pengoperasian kedua orang itu, ini sudah hal yang lumrah bagi mereka bahkan dokter yang bernama Jay itu sudah terbiasa juga.
Ruang operasi sangat luas jadi tak ada kata sempit di sana, Liana sudah di pasang banyak alat tubuhnya di tutup oleh kain berwarna biru hanya memperhatikan bagian perut yang terkena tembakan begitu pun dengan Revan. Pria itu pingsan saat berada di perjalanan mungkin karena sudah tak tahan menahan rasa sakit di perutnya juga darah yang banyak keluar. Di sana tak hanya Jay saja yang akan melakukan operasi namun di bantu oleh dokter-dokter dan perawat-perawat di sana yang khusus dalam bidang ini. Mereka membagi tugas, Jay mengoprasi Liana sedangkan dokter-dokter lainnya mengambil alih Revan.
Jay sudah siap dalam pengoperasian dan sudah memegang alat khusus.
"Pokoknya kau harus melakukan yang terbaik untuk keduanya, jika sampai melakukan kesalahan... Nyawa mu terdaftar di tangan ku!" ancam Felix menatap tajam.
"Aku akan melakukan yang terbaik." Jay.
(Moga jangan kek di Indosiar yah:v)
\*\*\*
Yang tadinya Marvin dan Kenzo berkelahi saat mendengar suara tembakan mereka menoleh secara bersamaan, melihat kearah 2 pria itu. Arion terdiam menatap Arvin yang menyipitkan matanya lalu terguling ke samping.
Ya, Arvin tertembak bagian punggungnya sampai Arvin memegang dadanya yang berdarah. Arion menatap kearah pria yang sedang berdiri menodong pistol kearah nya.
Edgar?
Pria itu menatap datar kearah Arion.
"Jika tidak begini, tak akan ada akhirnya" Edgar.
"ARVIN!!" teriak Marvin berlari kearah kakaknya yang tertembak, walaupun Arvin tak pingsan tapi ia membungkukkan badannya di tanah.
"Arvin!" Marvin memegang pundak kakaknya yang terbatuk sembari memegang dadanya. Walaupun ia tidak terlalu akur dengan kakaknya tapi jika melihat kakaknya begini ia merasa khawatir dan takut akan kehilangan nya, bagaimana pun juga Arvin kakak kandungnya yang dari kecil hingga sekarang selalu bersama.
Marvin memapah tubuh Arvin untuk berdiri kemudian menatap tajam ke arah Edgar.
"Lihat saja, aku akan melakukan hal yang sama pada kalian! Dan ini belum selesai!" tekan Marvin, kemudian ia membawa Arvin pergi untuk cepat-cepat di tangani.
"Sebenarnya aku kurang setuju dengan yang kau lakukan, tapi ini juga lebih baik" ujar Kenzo datang mendekat keduanya.
"Abaikan. Sekarang kita kembali untuk melihat keadaan Liana dan Revan" setelah mendengar ucapan Edgar, Arion seketika teringat akan hal itu, ia pun berdiri dari ia duduk ia tak memperdulikan luka-lukanya yang lumayan parah.
"Siapkan kendaraan yang ada untuk menuju Rumah Sakit Jay!" gertak Arion.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" Yohanes. Mereka pun langsung bergegas dan membawa sisa anak buah mereka.
\*\*\*
Namanya operasi itu pasti lama tapi tergantung juga operasi dalam hal apa, biasanya operasi pengangkatan peluru membutuhkan waktu 3 jam tapi kita tidak tau tergantung cara dokter menangani.
BRAK!!
Pintu terbuka kasar, para mafia itu menoleh kecuali dokter-dokter dan perawat yang fokus operasi pasien, lagian mereka juga tau siapa itu yang berani masuk ke ruang operasi pastinya salah satu dari mafia itu.
Arion, Kenzo & Edgar masuk ke dalam sedangkan Yohanes, Ravin & David di luar kan mana mungkin mereka masuk walaupun mereka orang kepercayaan Tuannya.
"Bagaimana?! Bagaimana keadaannya?!!" tanya Arion pada temannya.
"Kita tidak tau, dia sedang di operasi" datar Lucas.
Arion menatap kearah gerombolan perawat dan dokter di sana, ia berjalan mendekat dan melihat perut pasien yang sedang di belah bahkan memasukan benda-benda tajam ke dalamnya.
Ntah kenapa biasanya Arion sudah terbiasa melihat hal itu tapi kali ini ia merasa tidak kuat melihat nya, ya organ yang ia lihat milik Liana jadi pantas saja. Bahkan Arion pernah melakukan pembunuhan sadis dengan mengeluarkan organ milik musuhnya tapi, beda dengan hal ini.
Arion membalikkan badannya menutup mata menggunakan tangannya, frustasi sudah jelas.
Operasi ini membutuhkan waktu 4 jam tak seperti perkiraan, namun para mafia itu tak kenal lelah berdiri untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Sekarang pengangkatan peluru selesai di laksanakan, kini setelah di perban Liana dan Revan di pindahkan ke ruangan ICU.
Jay memasangkan alat-alat di lengan, jari hingga alat nabulizer, alat EKG atau Elektrokardiogram yaitu alat tes detak jantung semuanya terpasang. Melihat gadis itu lemah tak berdaya membuat para mafia itu pun seperti merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih sakit seperti yang di alami Liana.
Arion mengusap wajahnya gusar berjalan mundar-mandir lalu berdecak pinggang menatap saudaranya yang dari tadi memasang kantung air yang terhubung dalam lengan Liana.
"Bagaimana keadaannya?!"
"Menunggu?! Kapan dia sadar?!"
"Aku tak bisa memprediksi nya, itu semua tergantung pada pasien. Jika pasien seperti Revan sudah biasa terkena tembakan sedangkan gadis ini baru pertama kalinya merasakan peluru yang menancap di tubuhnya. Jadi kemungkinan besar, akan membutuhkan waktu yang lumayan lama dari Revan sadar" jelas Jay.
Arion mengusap kasar rambutnya lalu menatap Liana yang terbaring lemah dengan alat-alat medis.
"Biarkan dia istirahat, jangan membuatnya terusik dengan suara berisik. Aku permisi, jika terjadi sesuatu padanya panggil aku" lalu Jay pun pergi.
Dalam ruangan itu Liana dan Revan menjadi satu karena sengaja agar tak bolak balik melihat keadaan mereka berdua. Revan sudah biasa terkena tembakan jadi sadarnya tak akan lama, jika Liana kemungkinan besar seperti yang di katakan Jay.
Tidak tau kesalahan siapa, Arvin, Arion atau mafia lainnya sampai membuat Liana terkena sasaran. Yang jelas Arion merasakan tak tenang dan gelisah namun ia tampakkan dengan kekesalan dan emosi.
Kenzo berjalan mendekat ke tempat Revan dan melihat luka nya, lumayan parah bahkan perban itu sampai berwarna merah muda karena baru saja di jahit. Begitu pun perban milik Liana.
"Gimana b4jingan itu?" Lucas bertanya. Edgar melirik.
"Apa kalian menghabisi nya?" tanya lagi Lucas.
"Tidak" singkat Edgar. Semua pandangan kecuali Arion dan Kenzo mengarah ke sosok pria itu.
"Hah. Tidak? Lalu apa yang kalian lakukan saja di sana? Saling pandang memandang?" decih Lucas.
"Kita tak melawan dengan senjata"
__ADS_1
"Lalu?"
"Melawan nya tanpa senjata"
"Oke, sekarang? Apa b4jingan itu m4ti?"
"Entah" lagi-lagi Lucas menyipitkan matanya.
"Apa maksud dari jawaban mu? Kau tadi di sana kan?"
"Hmm, tapi aku tembak dia karena terpaksa"
Ketahui lah Lucas ingin sekali tertawa namun situasi begini tak mungkin ia lakukan, yang hanya bisa di lakukan adalah berdecih.
"Apa gunanya kalian beradu otot jika akhirnya pistol pun turun tangan? Mending jika b4jingan itu m4ti, lah kalo masih hidup? Kalian cuma buang-buang waktu dan tenaga" uring Lucas.
Jika di pikir emang benar sih, tapi bagaimana ini konsepnya?
"Tanyakan saja pada pria itu, jika bukan karena aku yang mengakhiri nya mungkin sampai sekarang mereka masih berguling di tanah" Edgar melirik Arion.
Arion tampaknya tak peduli akan ucapan teman-teman nya.
Rasanya Arion ingin teriak karena ocehan teman-temannya, ia tak ingin mengganggu Liana yang sedang terbaring lemah.
Cklek
"Maaf Tuan, ayah dari nona Liana menelpon" Yohanes datang sembari memegang benda pipih di tangannya, pandangan mereka teralih pada Yohanes.
Arion menghela nafas kasar lalu berjalan mendekat kearah Yohanes dan mengambil ponsel tersebut dan keluar dari ruangan.
\*\*\*
βπππ΄π π΄π πΌππ! π΄ππ·π΄ π΅ππΎπ΄π π»π΄πππ΄ ππΈππ΅π΄π»π΄ππ΄πΎπ΄π ππππ πΌ ππ΄ππ΄! ππ΄πππ πΌππΊπΌπ ππΈππ΅ππππ»πππ΄ π½ππΊπ΄! π½πΌπΎπ΄ π΅πΈπΊπΌππΌ πΎπΈππ΄ππ΄ ππππ πΌ ππ΄ππ΄ ππ΄ππΊ ππΈππ½π΄π·πΌ ππ΄π ππ»π΄π π»πππ΄ππΊ ππ΄ππ΄?! π½πΌπΎπ΄ πππ΄π πΌππΊπΌπ ππΈππ΅ππππ»πππ΄, πΏπ΄πΎππΎπ΄π ππ΄π½π΄ ππ΄π·π΄ ππ΄ππ΄ π½π΄ππΊπ΄π πΏπΌπ΅π΄ππΎπ΄π ππππ πΌ ππ΄ππ΄ π·π΄πΏπ΄π ππ πππ΄π πΎπΌππ΄! ππΈπΎπ΄π π΄ππΊ πΏπΌπ»π΄π π΄ππ΄ ππ΄ππΊ π΅π΄π π ππ΄π½π΄ πππ΄π πΏπ΄πΎππΎπ΄π? ππππ πΌ ππ΄ππ΄ ππ΄ππΊ ππΈπΎπ΄π π΄ππΊ ππΈπ π΅π΄π πΌππΊ ππ΄πΎ π΅πΈπ π·π΄ππ΄ π΄πΎπΌπ΅π΄π πππππ» π΄ππ·π΄!β suara lantang di ponsel yang di mana Kevin ayah Liana sedang marah.
Arion menutup matanya menggunakan tangan, ia juga merasa bersalah pada gadis itu tapi ia juga tidak tau apa yang harus dilakukan nya.
"Saβsaya minta maaf, sayaβ"
βπππ΄π π΄π πΌππ! π·πππ π‘πππ π ππ¦π ππππβπ’ππ’πππ ππππ ππππ’π π‘π’πππ πππ π π ππ‘πππβ ππππ¦πππ ππππ πππππππ ππ ππππ ππ’π‘ππ π ππ¦π π‘πππ‘πππππ. π·ππ π ππ¦π ππππ‘π ππππ ππ’ππ π’ππ‘π’π ππππ‘πππ’πππ π ππ¦π ππππππ ππ’π‘ππ π ππ¦π π πππππππ! π½πππ πππ π‘ππ ππ ππ§πππππ π’ππ‘π’π ππ’ππππ, πππππ’π‘ π ππ¦π. πππ¦π πππππ ππππππ’π ππ’π‘ππ π ππ¦π!!β
"Iya, saya akan menjemput anda"
Tut
Panggilan diakhiri oleh Kevin. Arion mengusap gusar wajahnya dan terduduk di kursi karidor rumah sakit. Ia merasa gelisah dan takut bukan karena ayah Liana melainkan keselamatan gadis itu, jika terjadi sesuatu yang negatif padanya? Mungkin ia akan merasa sangat bersalah karena lalai menjaganya, padahal mereka baru bertemu beberapa minggu yang lalu bahkan di bilang dekat saja belum namun sudah mendapat masalah begini.
Tidak mungkin kan jika gadis itu berada di sisinya, akan selalu membahayakan nyawanya?
Yang Arion mau, hidup bersama gadis itu layaknya seperti pasangan pada umumnya ya walaupun kurang wajar 8 dan 1. Tapi ia juga sudah mulai merasakan hal aneh setiap di dekat Liana seperti, gelisah, khawatir dan ketakutan bukannya itu tanda-tanda memiliki timbul rasa? Yaitu cinta?
Yang lainnya sudah mencintai Liana kenapa Arion tidak? Kan tidak mungkin.
Apapun alasannya, Arion mencintai Liana. Sangat, sangat. Tapi karena ke gengsian dan malu mengakui bahkan menunjukannya sangat sulit, ia masih belum bisa menerima kelembutan seperti yang lain.
__ADS_1
Tapi ia janji, setelah Liana sadar ia akan mengungkapkan nya dan belajar menghapus gengsi nya agar seperti yang lain bisa dekat dengan Liana.