
Saat ini mereka sedang berada di taman rumah duduk santai sedangkan Liana sibuk jalan sana-sini melihat sekitar.
"Kenapa sampai saat ini juga Ravin tak ada kabar tentang Kingston?" kesal Carlos.
"Melacak nya tidak semudah melacak orang lain, mungkin saat ini mereka tidak menggunakan alat komunikasi atau hal lain nya jadi tak bisa melacak sinyal nya," Kenzo.
"Ada benar nya juga sih," timbal Elvano.
"Aku penasaran dengan rencana nya kali ini, semenjak pasca penyerangan yang melibatkan Liana, mereka tak ada kabar," Revan.
"Tentu saja butuh waktu untuk mengumpulkan pasukan lagi, hahahaha!" tawa jahat Carlos.
"Mungkin, karena semua orang-orang mereka telah di kalahkan hanya tersisa beberapa saja," Felix.
"Seharusnya kau habisi saja dia, Arion." lirik Lucas.
"Jika saja Liana tak ada di sana, aku sudah menghabisi nya," datar Arion.
"Ya, Arvin menggunakan Liana untuk memanfaatkan situasi jadi kita kesulitan untuk membantu," Revan.
"Mereka benar-benar licik" Elvano.
"Tapi, di mana gadis itu?"
Baru lah mereka celingukan melihat sekeliling tempat mencari Liana. Dan mereka melihat seorang gadis tengah berjongkok membelakangi mereka dan jarak nya nya lumayan jauh.
"Apa yang sedang di lakukan nya?" tanya Edgar mengamati.
"Sayang! Apa yang sedang kau lakukan?!" teriak Kenzo.
Namun Liana tidak menoleh, mungkin tidak kedengaran. Tapi masa? Suara Kenzo lantang hingga sampai jalan pun terdengar walaupun rumah sebesar lapangan sepakbola.
"Sayang! Liana!" panggil Edgar, mungkin di panggil nama gadis itu akan menoleh.
Mereka semakin terheran kenapa gadis itu tak menoleh namun jika di perhatikan lagi, Liana berjongkok dengan kedua tangan seperti di lipat di perut.
Arion tak menunggu lama ia langsung bergegas mendekati Liana.
"Sayang, kau baik-baik saja?... astaga!!" terkejut Arion kala melihat Liana sedang meringis menahan sakit.
"Apa yang terjadi?!"
__ADS_1
"Perut ku sakit," lirih Liana.
Arion pun menggendong tubuh Liana dan bergegas masuk ke dalam rumah.
"Arion, ada apa?!" tanya Felix menghentikan langkah Arion.
"Panggil Jay, sekarang!!" gertak Arion setelah itu masuk ke dalam dan diikuti oleh yang lain.
•••
Arion meletakkan Liana di kasur. Begitu diletakan, tubuh Liana meringkuk memegang perut nya yang sedang ke sakitan.
"Tunggu sebentar ya sayang," lembut Arion kemudian berbalik menatap tajam ke arah yang lain.
"Sudah di telpon?!"
"Sudah Arion, kita tunggu dia datang," Kenzo.
Arion duduk di samping Liana dan mengusap perut Liana, ia juga tidak tahu apa yang terjadi juga cara mengatasi nya.
"Bagaimana bisa ini terjadi, hmm?" lembut Arion mengusap pipi Liana. Gadis itu tak bisa menjawab karena menahan sakit yang luar biasa di perut nya.
"Kenapa lama sekali?!" emosi Arion.
"Aku tak bisa mempercayakan semua dokter di sini!"
"Dan kau tega biarin dia kesakitan gitu?!!" emosi Edgar.
Arion menatap wajah Liana sembari diusap nya, ya gak tega lah cuma Arion lebih mempercayai orang yang sudah dikenal nya dari kecil. Dari dulu, Jay lah selalu bisa memberinya obat-obatan yang tidak mungkin menjadi mungkin hingga sekarang gelar Jay sangat tinggi dari kedokteran lain nya. Jay adalah andalan Arion.
Edgar tidak bisa menunggu ia pun terpaksa mengambil Liana dari pelukan Arion. Namun tiba-tiba Liana mendorongnya lengan Edgar membuat mereka terheran.
"Aku akan membawa mu ke rumah sakit ...." Edgar
Liana menggelengkan kepalanya.
"Kau harus di periksa!"
Lagi-lagi Liana menggeleng kuat.
"Apa karena makanan?"
__ADS_1
Perkataan Lucas membuat yang lain terdiam, jangan ditanyakan bagaimana reaksi Arion saat ini.
"KUMPULAN PARA PELAYAN!!" bentak Arion.
Liana memukul dada Arion jujur saja ia juga kaget mendengar teriakkan pria ini.
"Ah, maaf sayang," kata Arion memegang tangan Liana.
"Bukan ... karena ... makanan," Liana terbata-bata.
"Lalu?" Elvano.
"Aku ... sshhh," rasa sakit di perut nya kembali menyerang sampai Edgar tidak bisa menahan lebih lama lagi.
Dengan paksa ia mengangkat tubuh Liana dari Arion dan keluar dari kamar.
"EDGAR!" bentak Arion.
Edgar membuka pintu mobil dan memasukkan Liana ke dalam tak lupa ia pakaikan seat belt.
"Aku, tidak mau ke rumah sakit ... aku hanya–"
"Maaf sayang, untuk kali ini aku tak bisa mendengar kan perintah mu," Edgar menutup pintu mobil dan berjalan ke kursi mengemudi.
Arion dan yang lain keluar namun terlambat, Edgar sudah melajukan mobil meninggalkan halaman rumah.
"Aghk!" resah Arion, "Kalian tunggu saja di sini!!" sambung Arion.
Mereka hanya menurut saja jika temannya ini sudah tersulut emosi, dari pada nambah rumit dan menambah suasana panas, kan?
Arion masuk ke mobil nya untuk mengikuti ke mana Edgar akan membawa Liana pergi?
"Sekarang apa?" tanya Revan.
"Apa nya yang apa?! Aku akan memberi pelajaran pada pelayan-pelayan tidak becus itu!!" murka Felix masuk ke dalam dan di ikuti oleh Carlos . 2 pria ini selalu emosian seperti Arion.
•••
Edgar membawa Liana ke rumah sakit yang di mana tempat itu sangat mewah dan banyak di bilang fasilitas lengkap atau rumah sakit terbaik di kota ini. Edgar mengangkat tubuh Liana dan masuk ke dalam gedung rumah sakit tersebut.
Baru lah mobil Arion sampai setengah Edgar masuk beberapa menit yang lalu, dengan bergegas pula ia masuk ke dalam.
__ADS_1
"Tolong periksakan gadis saya!!!" sergap Edgar pada suster-suster di sana.