Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 57


__ADS_3

"Revan, antar aku kuliah yah?" pinta Liana dengan wajah menggemaskan. Revan terkekeh kemudian mengusap rambut Liana.


"Bagaimana bisa aku menolak permintaan gadis ku? Tentu saja boleh,"


"Yes! Ayok!" tarik Liana.


Yang lain melirik sinis kenapa hanya Revan yang diemas kan? Kan pria nya bukan Revan saja!


"Ada syarat nya," Revan menarik tangan Liana kembali sehingga Liana terpundur.


"Apa?"


"K1ss," menunjuk b1bir nya.


Liana terdiam. Revan tersenyum mengangkat alis nya, gadis itu menatap b1bir tipis milik Revan. Yang lain masih menahan diri, juga ingin melihat reaksi Liana, apakah bakal ditolak?


Cup.


Jangan kan Revan, mereka juga terdiam melihat aksi yang di lakukan oleh Liana.


"Sudah? Ayo nanti aku telat!"


Revan tersadar lalu tersenyum salting, ia tidak menyangka bahwa gadis ini benar melakukan nya, padahal ia hanya bercanda.


"Baiklah, ayo!" Revan tersenyum semangat dan pergi bersama Liana.


Para mafia lain nya masih menatap tak percaya, hah? Kenapa selalu Revan yang mempunyai hari yang baik?


"Kenapa hanya Revan? Kenapa selalu Revan?! Kenapa cuma Revan?!!" kesal Carlos.


***


Liana melepaskan seat belt begitu sampai di kampus nya.


"Apa kau sungguh-sungguh tadi?" tanya Revan.


"Tadi mana?" tanya balik.


"Kau mencivm ku. Itu bukan secara terpaksa kan?"


"Itu kan syarat yang kau berikan,"


"Iya, tadi nya aku hanya bercanda karena aku tahu kau tak akan mau melakukan nya,"


"Ya mau bagaimana lagi? Udah terlanjur juga,"


"Enggak, maksud nya kamu beneran kan dengan apa yang kau lakukan tadi? Walaupun dengan syarat kau tidak kesal?"


"Tidak,"


Revan menatap lekat pada Liana, memang sih sebelum itu ia tidak melihat wajah kesal pada gadis ini lebih tepatnya malah bersemangat. Apa mungkin datang bulan nya sudah selesai? Bukan nya 1 hari lagi selesai? Juga apakah ia terlalu berharap bahwa Liana akan melakukan nya dengan penuh perasaan?


"Aku akan pergi dulu, nanti jangan lupa jemput aku yah kalau tidak juga tidak apa nanti aku mau ke rumah Ayah," kata Liana membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Ah, iya nanti aku temani kamu ke rumah Ayah mu. Semisal aku tak bisa, yang lain akan menggantikan nya,"


"Tidak apa. Aku pergi, dah ... hati-hati!" Liana melambaikan tangan sembari berlari kecil.


Revan tersenyum kemudian ia tancap gas meninggalkan tempat.


***


Saat ini, Arion, Edgar, Kenzo, Johnny dan Mark berada di tempat ruang pelacak. Banyak sekali teknologi futuristik canggih terpampang besar di setiap sudut ruangan.


Tak hanya komputer kecil, ada juga ukuran layar yang besar dan transparan melayang di atas meja. Mark, melakukan penelitian pada sebuah benda kecil yang di temukan 3 mafia ini.


Mereka menemukan sebuah foto dan kalung dengan bandul taring hewan, seperti nya itu taring harimau atau makhluk buas. Yang lain hanya menunggu hasil penelitian dari Mark dengan alat nya.


"Ya, dari informasi. Foto ini milik Arvin, saya dapat data nya juga ada kode batang di sini," Mark menyerahkan selembar kertas.


Arion langsung mengambil dan membaca hasil nya. Benar saja, di sana juga ada sebuah foto pria yang diduga musuh bebuyutan nya. Ia tersenyum tipis.


"Hasil satu nya?" tanya Edgar.


"Yang satu nya negatif, itu bukan milik Marvin atau Arvin, melainkan orang lain mungkin anak buah mereka," Mark.


"Tidak perlu, kita sudah mendapatkan semua nya. Kirim kan pada Ravin untuk mencari tahu kode batang ini," suruh Arion.


Kenzo mengambil kertas dari Arion kemudian memfoto nya untuk di kirim pada Ravin.


"Sudah,"


"Terima kasih, sudah bekerjasama!" ucap Arion.


"Lalu, orang yang akan kau cari?" tanya Jhonny pada Mark.


"Aku sudah menemukan nya, ternyata salah satu karyawan yang juga dulu nya kerja bersama di sana," senyum tipis Mark.


"Ahh ... ternyata dia lebih pintar juga,"


"Mau di batu?" tawar Arion.


"Tidak usah Tuan, saya bisa melakukan ini sendiri," tolak Mark.


"Kau yakin? Jika kau tak mendapat kan bukti yang kuat, polisi semakin memperberat hukuman mu," Johnny.


"Tidak, aku sudah mendapatkan semua nya. Aku juga mendapatkan rekaman cctv yang aku hubungan kan ke kamera perusahaan itu, jadi bukti lebih dari cukup,"


"Baiklah, namun kita tak ikut campur lagi jika kau ingin melakukan sendiri," Edgar.


"Tidak apa Tuan, saya tak akan melibatkan siapa pun karena ini masalah saya,"


"Baiklah. Johnny kau bantu dia sebagi saksi saja, masalah cara mengatasi nya biarkan dia lakukan semau nya," Arion.


"Oke!"


"Kita kembali, aku merindukan gadis itu," senyum tipis Arion kemudian pergi meninggalkan tempat, begitu pun dengan Edgar dan Kenzo.

__ADS_1


***


Liana membeli cemilan banyak untuk pulang nanti, itung-itung ia bisa mengemil di jalan. Juga nanti ia kan ingin ke rumah Kevin jadi sepertinya tidak perlu memberi kabar dia akan datang, jika di beri tahu pasti ayahnya akan sibuk memasak padahal niatnya cuma ingin mampir bukan numpang makan.


Setelah membeli banyak cemilan ia kembali ke kelas nya untuk belajar sambil mengemil.


Jam pulang pun tiba. Liana berjalan sembari memakan sosis di tangan nya, dan sekantung plastik berisi jajanan di tangan satu nya.


"Sosis nya enak, tau nya tadi beli banyak," gumam Liana menatap sosis saus tomat.


Ia sampai di depan gerbang sekolah dan duduk di kursi panjang di sana. Jika tidak ada jajan pasti ia kesal karena jemputan nya belum juga datang, ini sebenarnya pada sibuk ngapain aja sih mereka?


Saat sedang menikmati sosis tiba-tiba pandangan Liana mengarah pada sosok misterius di balik pohon. Mata Liana memicing dan melihat sekeliling, siapa tahu orang itu melihat ke arah lain atau pada orang lain. Tapi di sini hanya ada dia saja, atau jangan-jangan–


TIN!


Liana terkejut kala mendengar klakson mobil, ternyata Revan. Liana kembali melihat ke arah pohon tersebut namun sosok itu hilang, merinding sih tapi Liana langsung bergegas membuka mobil dan masuk ke dalam.


"Maaf nunggu lama, yah?"


"Lumayan,"


"Astaga, kau beli jajan banyak banget?" Revan menatap plastik berisi jajanan di pangkuan Liana.


"Hehehe pengen ngemil,"


"Kalau begitu kenapa gak bilang ke aku? Aku bisa membeli setoko jajan untuk mu,"


"Halah, udah jalan. Kita ke rumah Ayah kan?"


"Iya sayang,"


***


Sesampainya di rumah Kevin, keduanya keluar dari mobil dan mengetuk pintu rumah.


"Ayah! Ayah! Ini Liana!" suara keras nya.


Namun tak kunjung di buka, apakah Kevin tak di rumah?


"Apa masih kerja, yah?" gumam Liana.


Ia pun memutar knock pintu dan ternyata tak di kunci, Liana pun masuk bersama Revan. Di dalam rumah begitu sepi jadi benar Kevin pasti sedang kerja.


"Kebiasaan deh, pintu gak di kunci!"


"Mungkin saja sengaja biar kamu bisa masuk," Revan.


"Huh!" desus Liana.


Ia pun meletakan makanan di atas meja dan membuka tasnya untuk menulis surat. Setelah ia tulis, Liana melipat kertas tersebut dan di selipkan di bawah plastik.


"Udah, yuk pulang."

__ADS_1


"Ku kira kau beli banyak cemilan untuk mu.


__ADS_2