
"Oke, awas jika berbohong" ancam Lucas sambil mengangkat pisau menunjuk Revan & Liana, gadis itu sudah merasakan jantungnya berdetak kencang sedangkan Revan malah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka selesai sarapan dan Liana terus mengintil di belakang Revan membuat yang lain mereka kesal dan sedikit emosi karena sedari tadi 2 orang ini dekat dari pada bersama mereka.
"Aku akan pergi mengantar gadis ini kuliah" ucap Revan.
"Apa? Hey, harusnya aku, kau tak lupa kan perbincangan kita semalam? " Sinis Carlos.
"Ya tadinya, tapi sepertinya aku berubah pikiran" Revan mengusap pipi Liana.
"Gak! Aku yang mengantarkannya!" Kekeh Carlos.
Revan menatap datar kemudian beralih menatap Liana yang berdiri di sampingnya, gadis itu pun menatap dan menggeleng pelan memberi kode bahwa dia tak mau pergi bersama Carlos.
Revan pun mengangguk.
"Ya sudah, pergilah" ucap Revan membuat Liana membulatkan mata.
"Nah gitu dari tadi! Sayang, ayok..." Carlos mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Liana, tapi gadis itu malah mundur dan sedikit bersembunyi di belakang Revan.
Selain Carlos yang nya bingung namun para mafia yang lain pun lebih tak mengerti sedangkan Revan malah santai sambil menahan senyum.
"Apa yang kau lakukan? Kemari lah" suruh Carlos namun Liana malah menggelengkan kepalanya dan memegang baju belakang Revan.
Carlos menatap Revan yang sedang menatap arah lain, merasa sedang di tatap pria itu pun menatap Carlos dan menggidikan bahu nya.
"Apa saja yang kau katakan pada nya?" sinis Carlos ia curiga pada Revan siapa tau pria itu mengatakan tentang hal buruk pada nya dan yang lain sampai si gadis ketakutan.
"Aku tak mengatakan apapun" santai Revan, Carlos menatap sinis kemudian beralih menatap Liana.
"Kenapa kau sembunyi di belakang nya? Apa kau ingin dia yang mengantar mu?" Tanya Carlos berdecak pinggang dan dengan cepat Liana mengangguk kan kepalanya, tentu saja Carlos merasa geram bagaimana bisa gadis ini cepat menempel pada Revan?
__ADS_1
"Ya... Mau bagaimana lagi? Aku harus mengantar gadis ini dulu, kalau begitu kita pergi. Ayo, sayang" Revan menarik tangan Liana, mereka hanya bisa menatap datar apalagi Carlos yang menatap tajam.
"Cepat lah... Kita kerumah Ayah " giliran Liana yang menarik-narik tangan Revan, pria itu hanya bisa pasrah mengikuti nya.
"Bukannya kuliah dulu?"
"Buku pelajaran ku ada di rumah ayah, sekalian. Boleh kan?" Liana membalikan tubuh nya menghadap Revan, pria itu tersenyum tipis lalu mengusap kepala Liana.
"Kenapa tidak?" Dengan sangat senang Liana kembali menarik lengan kekar Revan, mereka masuk ke mobil mewah dengan Revan yang mengemudi.
***
Sesampainya di sebuah rumah dimana tempat sang Ayah & Liana tinggal, gadis itu dengan cepat-cepat melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobil, Revan yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah lari-lari" ucap Revan saat melihat gadisnya berlari seperti nya tak di dengar oleh Liana.
Liana membuka pintu rumah tanpa di ketuk dan mencari sang ayah hari ini adalah hari libur bagi ayahnya kerja, jadi sudah pasti ia ada di rumah. Liana melihat seorang pria paruh baya di sofa dengan posisi duduk di lantai menundukkan kepalanya.
Pria itu menoleh dan terkejut melihat putrinya datang dengan keadaan selamat, pria itu berdiri dari duduknya sambil mengusap wajahnya. Liana berlari menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat begitupun dengan ayah nya, keduanya saling melepas rindu, sedih dan bahagia hingga menangis bersama.
Sang ayah melepaskan pelukan dan mengecup wajah putrinya berkali-kali.
"Syukur lah putri Ayah selamat " tangis nya dengan senyuman.
"Liana rindu Ayah"
"Ayah lebih merindukan mu" keduanya kembali berpelukan.
Sang ayah berfikir mungkin ia tak akan pernah bisa menemui sang putrinya karena kesalahannya, tapi sekarang ia bisa memeluk putrinya setelah berpisah, sang ayah tak bisa tidur selalu memikirkan Liana sampai ia menyesal karena sudah berhutang pada mereka hingga mengakibatkan perpisahan antara ayah dan putri.
Setelah beberapa menit kemudian mereka melepas pelukan dan mengusap pipinya yang basah.
__ADS_1
"Ayah kira kita tak bisa bertemu "
"Tidak Ayah, Liana tak akan meninggalkan Ayah. Liana akan selalu ada buat Ayah" senyum Liana, sang ayah pun tersenyum.
"Apa yang terjadi? Apa kau kabur dari mereka?"
"Apakah Ayah suka aku di sana? " Kesal Liana.
"Bukan begitu sayang, Ayah khawatir jika kau kabur dari mereka malah nanti akan terjadi sesuatu pada mu" Khawatir ayahnya.
"Tenang Ayah, aku akan baik-baik saja kok. Lagian malah salah satu dari mereka izinin aku untuk datang menemui Ayah, dia juga yang mengantar ku kuliah"
"Benarkah?"
"Iya, dia ada di sini. Ehh..." Liana menoleh mencari Revan tapi kenapa tak ada? Seharusnya ia ikut masuk.
"Tunggu sebentar Ayah "
Liana pun mencari pria yang mengantarkannya, dan baru saja ingin keluar ia di kaget kan oleh seseorang yang berdiri sambil bersandar di dinding ternyata Revan, pria itu menatap Liana dan tersenyum tipis.
"Sudah?" Tanya Revan, Liana menggeleng kemudian menarik tangan pria tersebut membawanya menemui sang ayah.
"Ayah, dia yang mengizinkan ku untuk bisa menemui Ayah" senyum Liana, sang ayah menatap pria yang waktu itu menagih hutang tak di sangka saja putrinya seperti akrab dengan pria menyeramkan itu.
"Terimakasih sudah mengizinkan nya untuk menemui saya, Tuan"
"Tidak masalah, apapun untuk gadis ku" ucapan Revan membuat sang ayah tak mengerti, Liana tersenyum kaku.
"E–emm... Ayah, aku juga mau ambil buku pelajaran untuk kuliah " Liana mengalihkan pembicaraan
"Oh iya, ambil saja"
__ADS_1
Liana melirik Revan kemudian pergi meninggalkan keduanya.