
Saat ini Liana sedang duduk di taman sambil memakan roti yang ia beli di kantin tak lupa minuman kalengnya yang ia taruh di kursi kayu samping nya, ia menatap orang-orang yang ada di lapangan berolah raga basket. Di sini Liana tak punya teman ia selalu sendiri tapi gadis itu tak pernah merasa kesepian menurut nya sudah terbiasa, cukup ada ponsel saja sudah merasa terhibur.
Setelah menghabiskan roti nya ia meminum kaleng untuk melegakan tenggorokan, tiba-tiba ia keingat di mana Revan meminjamkan ponsel padanya. Liana merogoh saku jas seragam nya untuk mengambil ponsel, sedikit berfikir menatap ponsel.
"Jika aku lihat-lihat ponselnya, dia marah tidak ya?" Terdiam, tapi tetap saja Liana penasaran dan tetap mengecek semua yang ada di dalam ponsel. Padahal privasi sebenarnya.
Liana membuka aplikasi galeri untung tak ada kata sandi, dan si sana tak terlalu banyak foto mungkin hanya puluhan foto saja, gadis itu tersenyum melihat salah satu foto di mana seorang pria berpose kaku di kamera bahkan senyum saja seperti antara Iya atau Tidak. Ternyata Revan, pria ini bisa gemas juga walau tampangnya yang sebenarnya sedikit seram namun beda sekali dengan di foto, rasanya seperti ada 2 orang kembar yang ia temui.
Walaupun begitu, Liana tetap berhati-hati walau sebaik apapun orang itu apalagi yang belum ia kenal tidak ada yang tau hal apa yang terjadi selanjutnya, kan?
"Ntah kenapa pria yang di foto ini bisa gemas? Beda sekali dengan yang aslinya, tapi gak terlalu sih menurut aku... Bahkan dia lebih baik dari pada pria kejam itu" kesal Liana saat menyebut ‘pria kejam’ pasti tau lah yah siapa yang di maksud Liana? Tentu saja Arion.
Kemudian Liana kembali swipe foto melihat-lihat yang lain dan ia menghentikan geseran jarinya kala melihat 2 pria sedang berfoto bersama-sama dan terlihat sama-sama kaku.
Tunggu, pria yang di samping Revan itu kan Arion?
Liana men-zoom foto ke bagian Arion, tatapan datar dan seramnya masih sama seperti yang asli tak ada bedanya membuat Liana sangat kesal setiap melihat wajah ini.
"Wajah mu sama saja menyebalkan, beruntung tak ada perubahan bisa-bisa aku juga memuji pria ini seperti Revan tadi. Menyebalkan! Menyebalkan! Menyebalkan! Dasar menyebalkan!!" Liana menekan-nekan foto bergambar Arion dan zoom in zoom out kan kesal.
Setelah selesai memaki-maki nya ia memutuskan untuk ke kelas saja lagian buat apa coba membicarakan nya dari belakang bahkan foto, rasanya belum puas memaki pada sebuah foto.
__ADS_1
***
Kenzo sedang berada di sebuah ruangan yang di penuhi layar seperti tempat pengintai namun dia di sana bukan untuk mengintai melainkan sedang mengutak-atik keyboard komputer, akhir-akhir ini mereka seperti merasakan hal aneh setelah kejadian penyerangan waktu itu mereka tak mendapat informasi lainnya dari musuh-musuhnya. Ini semacam di lema oleh musuh karena sudah tak ada kabar tentang mereka tak mungkin kan mereka menyerah begitu saja? Lebih curiga lagi mereka di kalah kan dengan sangat mudah, Kenzo berfikir pasti ini hanya sebuah alihan atau iseng-iseng aja.
Cklek~
Sebuah pintu di buka oleh 2 sesosok pria menghampiri Kenzo yang masih fokus pada komputer, ternyata 2 pria itu adalah Edgar & Lucas.
"Ada yang salah?" Edgar bertanya pada Kenzo keduanya berdiri di belakang pria bertubuh kekar itu menatap komputer.
"Ntahlah, aku merasa ada yang aneh" Kenzo bersandar di sandaran kursi seperti sofa.
"Aneh kenapa? Komputer nya rusak?" Tanya Lucas duduk di meja tempat komputer.
"Ayolah Kenzo ,harusnya kita merasa senang bahwa kita menang bukannya malah memikirkan mereka" santai Lucas membuat Kenzo merasa iba, tidak mungkin mereka cepat menyerah sejauh ini musuhnya tetap itu-itu saja dari dulu tanpa ada kata menyerah, selalu membuat kekacauan hingga ingin merebut kekayaan yang ia dan lain miliki.
"Jika mereka gak muncul, itu kan bagus itu berarti mereka udah capek karena setiap memberontak mereka selalu kalah, ingat mereka juga punya rasa lelah. Ya kan? Edgar?" Lucas menoleh ke arah Edgar, tapi pria itu sama seperti Kenzo seperti ragu untuk meyakini ucapan Lucas.
"Aku tidak tau, yang jelas tetap waspada" Ujar Edgar.
"Kau terlalu berlebihan" kekehan Lucas, Edgar melirik ke arah pria jangkung tengah duduk di meja kita tidak akan tau kan apa yang akan terjadi selanjutnya? Bisa jadi mereka menyerang besar-besaran secara tiba-tiba tanpa ada persiapan dari 8 mafia itu.
__ADS_1
"Terserah kau saja!" Edgar pun pergi meninggalkan ruangan, Lucas terkekeh.
"Dasar emosian, kau akan tetap di sini?" Tanya Lucas pada Kenzo, pria kekar itu mengangguk kecil tanpa menoleh bahkan melirik.
"Baiklah..." Dengan santai Lucas pun pergi.
****
4 pria sedang berada di ruangan bersantai, ruangan itu emang dikhususkan untuk mereka bersantai jika tak ada pekerjaan, mau mereka tidur, main ponsel, menonton tv hingga berenang juga bisa. Di situ kolam renangnya tidak terlalu besar cukup untuk mereka yang ingin saja.
Elvino, Felix, Revan dan Carlos, mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing ada yang tidur, bermain ponsel bahkan menonton tv dengan rebahan di kasur kecil seperti sofa tanpa sandaran.
Revan yang sedang asik memainkan ponsel tiba-tiba ia teringat sesuatu kala melihat angka jam di ponselnya.
"Astaga, aku lupa menyusul gadis itu" gumam nya berdiri dari rebahan nya.
"Kau mau kemana?" Tanya Elvino yang duduk di sofa pendek.
"Jemput Liana ku" Revan memasukan ponselnya, dia punya ponsel cadangan kala ponselnya hilang atau di pinjam, bukan hanya dia saja namun yang lainnya pun begitu dan di masing-masing ponsel memiliki fungsi yang berbeda.
"Setelah menemui gadis itu, cepat lah kembali!"
__ADS_1
"Why? Kau merindukanku?" Goda Revan.
"Sangat menjijikkan, aku merindukan gadis itu" sinis Elvino, Revan tertawa geli dan keluar dari ruangan itu.