
"Kenapa kalian tak memberitahu ku dari awal alasannya?!"
"Memang kenapa?"
"Tentu saja aku perlu tahu, jadi aku tidak repot-repot mengeluarkan seluruh tenaga ku untuk melawan kalian"
"Ah, ternyata kau punya keberanian juga"
"Tentu saja, walaupun kalian akan menggunakan senjata aku tidak peduli yang aku tau bahwa dengan keberadaan ku di sini bisa membayar hutang ayah ku! "
"Oh, kau menjual diri pada ku untuk melunasi hutang?"
"Ya–" seketika Liana terdiam menatap Revan.
Tunggu, apa? Menjual? Tidak, tidak, tidak ia tak akan melakukan hal itu hanya karena banyak hutang, tapi... Ayah? Bukan kah sama saja jika ia berada di sini dan hutang lunas seperti menjual diri sendiri? Dan jika sang ayah yang mereka bawa pun sama saja dan mana waktu itu ia meminta pada mereka untuk membawanya saja jangan ayahnya, taruhan nyawa dan harga diri adalah cara jalan satu-satunya untuk melunasi hutang.
Gadis itu menurunkan arahan matanya yang masih terdiam, ia baru saja memikirkan hal ini.
"Tidak usah di pikir kan, kau bukan sesuatu yang melunasi hutang. Kita terpaksa melakukan hal ini agar bisa mendapatkan mu jadi kau tidak menjual diri pada ku dan yang lain" Revan mencoba menjelaskan nya.
Liana menundukkan kepalanya menahan air mata bagaimana bisa ia tak memikirkan hal ini? Tapi ia cukup lega karena mereka tak melakukan diluar nalar dan tubuhnya masih utuh tanpa ada sentuhan, gak semua sih kecuali bibir.
"Bagaimana dengan ayah ku?" Lirih nya.
"Tenanglah, ayah mu baik-baik saja"
"Dari mana kau tau?" Lirik Liana.
__ADS_1
"Aku mengirim salah satu anak buah ku untuk mengawasi ayah mu, jika terjadi sesuatu aku akan menangani nya. Lagian sudah kewajiban ku untuk menjaga ayah mertua"
"Menjaga? Kau tau? Pria kejam itu mendorong Ayah hingga terjatuh! Apa itu kau bilang menjaga?!" Tunjuk Liana menaikan suaranya.
"Pria kejam? Siapa?"
"Pria yang menarik ku paksa memasuki mobil kalian dan pria yang membentak ku tadi saat makan siang!"
"Ah... Maksud mu Arion?"
"Aku tidak tau, yang jelas dia lah orang nya!"
"Ya dia memang sedikit kasar–"
"Sedikit kasar?! Lebih tepatnya kejam! Selain Ayah yang ia perlakuan kejam, namun dengan ku juga! Hanya karena aku tak menurutinya seenak jidatnya mengancam ku menggunakan senjatanya. Kau bilang itu sedikit kasar?!"
"Ya itu jelas saja dia marah karena kau tak menurutinya"
"Tenang lah dulu..." Menenangkan Liana.
"Bagaimana bisa tenang?! Dan boleh aku minta waktu pada mu untuk mengeluarkan unek-unek yang ada di otak ku ini?" Tegas Liana menekan-nekan kepalanya seperti menunjuk otaknya.
Dengan ragu Revan mengangguk ia juga tak menyangka bahwa gadis di hadapannya lebih seram dari yang ia bayangkan, ini bukan pura-pura loh ini serius.
"Aku tak peduli setelah mengatakan hal ini kau akan membunuh ku dengan senjata milik mu. Dan biar aku katakan bahwa aku membenci pria kejam itu, sangat kasar, tidak sopan dan seenak jidatnya (menepuk keras keningnya) memperlakukan orang layaknya hewan. Aku tau dia orang kaya bisa bebas melakukan hal apapun, namun jangan begini dong jangan memandang rendah orang yang berada di bawah peringkatnya. Dirumah orang saja tidak sopan apalagi rumah sendiri. Ya aku tau jika di rumah sendiri kita bisa melakukan hal apapun tapi jika ada tamu atau orang lain tetap jaga sopan santun dan tak kasar! Itu membuat orang yang ia kasari tidak nyaman dan bisa sampai membencinya! Tolong yah, buat kamu dan yang lainnya jangan bersikap seenaknya melakukan ini itu. Kau tau? Aku baru saja sembuh dari rasa trauma ku dulu di mana aku mendengar suara tembakan yang menembus gendang telinga ku! Jika saja aku mempunyai keberanian seperti kalian sudah pasti aku akan melawannya kembali! Tak peduli dia siapa, Raja, presiden, tentara, polisi, penjahat bahkan sampai mafia aku tak peduli!"
Seperti kalian tau Liana mengeluarkan pendaman kata yang harus ia keluarkan dari awal namun karena belum memiliki keberanian jadi di simpan saja.
__ADS_1
Bener deh, kali ini Revan merasakan ketakutan yang di ucapkan Liana dalam setiap kata apalagi tatapan si gadis ini bener-bener serius! Ya ampun.
"I–iya... Ba–baiklah nanti aku bicarakan pada yang lain, tapi... Tenangkan diri mu" kaku Revan, Liana pun menatap kearah lain dengan emosional meningkat.
Revan bingung akan melakukan apa "Emm... Gini deh, sekarang katakan apa mau?" Tanya Revan, Liana pun langsung melirik astaga gadis ini bisa menatap elang juga rupanya.
"E–ey santai tatapannya.."
"Begini kan cara pria kejam itu menatap?"
"I–iya, tapi tak segitunya... Bahkan kau lebih seram dari nya"
"Apa?!"
"Ma–maksud ku, iya seperti itu dia menatap mu atau saat lagi marah. Tapi, aku hanya ingin bertanya bagaimana caranya agar kau tak membenci nya dan diri ku?"
"Kamu nanya?! Sampai kapan pun aku akan membencinya dan tak menyukai nya bahkan mengagumi nya setetes pun, dia sudah menyakiti Ayah! Aku tak akan memaafkan orang jika dia menyakiti Ayah ku! " Tegas Liana.
"Jika dia meminta maaf pada Ayah mu, apa kau akan memaafkan nya?" Tanya Revan, Liana menoleh dan terdiam sejenak.
"Akan aku pertimbangan kan " Acuh nya mengalihkan pandangan, pria itu mengangguk.
"Boleh ku bercerita?" Revan, Liana mengangguk.
"Pria yang kau sebut kejam itu sebenarnya tidak seperti yang kau bayangkan, dia memang tegas dan kejam pada orang yang sudah membuatnya marah ia tak peduli jika itu anak kecil, remaja hingga lansia, jika sudah marah ia tak akan pikir panjang menghabisi nyawanya. Itu sebabnya kau harus menurut apa yang di katakan nya dan yang lain, selain pria yang kau sebut kejam itu ia juga mempunyai sifat yang belum kau ketahui bahkan diri ku. Dia pria manis kok pada orang yang bisa membuatnya nyaman, ia bersikap seperti itu karena kejadian dulu yang menimpa nya"
Yang awalnya Liana tak tertarik cerita yang menyangkut pria itu tiba-tiba saja ia ingin tau masalah yang menimpa pria kejam itu.
__ADS_1
"Kedua orang tuanya meninggal karena ada yang menghabisi nyawa mereka" Liana pun sedikit membulat matanya.
"Apa?"