Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 28


__ADS_3

Arvin membuka pintu kamar yang di mana terdapat seorang gadis duduk di atas kasur dengan kaki di tekuk, lengan melingkar di atas lutut dan kepala menunduk. Terdengar juga suara isakan kecil dari gadis itu, yah benar saja gadis ini masih kecil di mata Arvin bahkan masih melanjutkan pendidikan.


Rambut panjang sedikit bergelombang menutupi wajah dan lengannya. Arvin berjalan santai mendekat sedangkan Marvin berdiam diri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya, tak mau saja jika kakaknya sampai melakukan hal di luar batas sebelum dirinya.


Kasur empuk itu bergerak membuat gadis itu mengangkat kepalanya dan menoleh kecil ke samping, Arvin melihat wajah gadis di hadapannya membuat nya tertegun. Mata bulat kemerahan, poni tipis yang basah karena keringat dan air mata, pipi gelembung, hidung mancung dan bibir merah muda. Sesuai dengan sebutan gadis kecil, apalagi tubuhnya yang tak tinggi sekitaran 165 cm.


Liana menurunkan pandangannya dari Arvin dan melirik ke arah pria yang di ambang pintu menatapnya.


"Sepertinya kau gadis masih berpendidikan? Kenapa kau bisa tinggal di kediaman mafia itu?" Tanya Arvin, namun Liana tak menjawab malah bergeser menjauh dari Arvin.


Pria itu berdecih melihat sikap Liana yang sok menjauhi nya, padahal setiap wanita yang ia dekati sudah langsung terpikat hingga mengajaknya bersetubuh bahkan hanya sekedar melewati nya pun sudah membuat wanita menempeli nya.


"Kau emang gadis bodoh" gumam Arvin, kemudian ia berdiri dari duduknya dan meninggalkan kamar.


Marvin tersenyum.


"Aku akan kembali, duduk tenang di sini, awas bertingkah" Marvin pun menutup pintu kamar.


Liana kembali menangis, ia baru mengetahui bahwa selain 2 pria tadi adalah mafia namun pria yang sebelumnya tinggal bersama juga mafia. Ia merasa tak percaya dengan takdir ini, bagaimana bisa ia di pertemukan oleh para mafia hingga hidupnya di kelilingi mafia-mafia kejam yang suka membunuh selain itu mereka juga bekerja di bisnis gelap dan kotor.


Musuh adalah motto hidup mereka, kepuasan adalah kegiatan mereka memenuhi nafsu. Bagaimana Liana mengetahui tentang mafia? Ia juga sering mendengar sedikit tentang dunia mafia. Selain di kenal kejam dan tak punya hati, mafia adalah seseorang yang selalu terlibat dari tindakan kriminal dan kejahatan.


Mereka selalu merugikan masyarakat dengan banyak jenis cara yang mereka perbuat, biasanya kegiatan mereka itu berjudi, penipuan, perdagangan narkoba dan lain sebagainya.


Tapi... Apakah ada? Cerita mafia yang menahan seorang gadis di kediamannya?


****

__ADS_1


Arion dan yang lainnya dalam keadaan tidak baik-baik saja, semenjak paska kehilangan seorang gadis yang mereka cintai malah di bawa pergi oleh musuhnya. Semua anak buah nya dan 4 asisten kepercayaan mereka pun sudah di kerahkan mencari keseluruhan penjuru dalam kota hingga luar. Namun hasilnya... Tidak ada.


Sama sekali tak ada tanda-tanda dari keberadaan gadis kecil itu, bahkan keberadaan musuhnya pun tidak ada jejak sedikit pun. Para mafia itu menjadi frustasi semalam hingga tidak tidur, mereka tidak tidur berarti bawahannya juga tidak boleh menutup matanya bahkan hanya sekedar duduk saja. Harus mencari, mencari dan terus mencari hingga ketemu apa yang mereka cari dan cemaskan.


Apalagi Arion, watak kerasnya semakin meningkat dan semakin menyeramkan. Dalam keseriusan ini tak ada satupun dari yang lain bertanya bahkan hanya sekedar menatap ataupun lirikan. Mereka diam saja? Tentu saja tidak, mereka juga mencari keluar hingga tak kembali semalaman. Mereka khawatir jika gadisnya di perlakukan kasar, mereka tau siapa itu Arvin dan Marvin. Kakak beradik itu kasusnya sudah tersebar luas di karenakan, mereka manis dalam berbicara namun setan dalam tindakan


Mereka memang suka bermain dengan wanita, setelah puas mereka membunuhnya. Mereka tidak mau mendengar dari mulut wanita itu bahwa dirinya ‘𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘯𝘺𝘢’. Itu kata-kata yang menusuk telinganya, sangat tidak suka mendengar kata tersebut. Tidak bisa di bayangkan bahwa wanita itu akan bernasib sama dengan gadis yang di cintai nya, jika sampai itu terjadi mereka tak akan mengampuni 2 pria bersaudara itu.


"Kau sudah menemukan tanda-tanda dari gadis milik Arion & yang lain?" Tanya Johnny pada Yohanes yang keduanya sedang berada di ruangan pengintai.


"Belum, aku tak mendapatkan informasi mengenai mereka"


"Padahal aku mengagumi mu karena sejauh ini kau tak pernah gagal mencari informasi tentang orang lain, tapi kali ini... Wahh mengecewakan" remeh Johnny dan mendapatkan lirikan datar.


"Orang yang aku lacak ini bukan orang seperti mu, mereka lebih berhati-hati tidak seperti kau yang ceroboh" celutuk Yohanes.


"Kebakaran?" Ucapan Yohanes membuat Johnny langsung terdiam beberapa saat.


"Hey! Itu bukanlah kesalahan ku, lagian hanya 1 cabang saja yang memicu kebakaran dan itu akibat ulah para pegawai yang tidak bertanggung jawab" ucap Johnny yang tetap angkuh.


"Jika bukan kau yang menyuruh pegawai abal-abalan mu untuk mengelas, semua kebakaran itu tak akan terjadi"


"Hey, what does your mean? Mereka yang salah karena salah mengelas di mana aku perintahkan, I'm not wrong! "


"Jadi? Apa kau menyalahkan hot work nya? Kau benar-benar pebisnis yang payah" Sinis Yohanes kemudian memfokuskan diri ke komputer, rasanya Johnny ingin menggetak kepala Yohanes karena setiap ia berdebat dengan pria ini selalu skakmat apalagi membahas kecerobohan nya. Itu kan hanya kecelakaan kecil, baginya tidak masalah lagian perusahaan cabangnya masih banyak.


****

__ADS_1


Marvin memasuki kamar dan melihat seorang gadis tertidur dengan posisi duduk bersandar di dinding dan sedikit menunduk, mata sembab, rambut yang tidak teratur, pipi kering karena bekas air mata.


"Walaupun kau berbeda dari wanita lain, tapi kau lebih merepotkan" ucap Marvin menatap Liana, ia mengangkat tubuh Liana dan membaringkannya.


Marvin menatap wajah kecil Liana, tadinya ia ingin menerkam namun setelah melihat wajah nya tenang membuatnya terhenti. Biasanya jika sudah ada niatan untuk melakukan hal itu tak ada yang bisa menghentikan nya, bahkan jika itu di teriaki oleh kakaknya. Yang intinya, jika belum puas tidak akan berhenti.


Ia merasa kesal sendiri karena tiba-tiba niatnya terhenti.


"Baiklah, kau bisa lolos kali ini. Lihat saja besok pagi, aku akan memberi mu pelajaran" kesal nya.


***


Pagi pun tiba.


Liana tak bisa tidur nyenyak, karena tempat ini kan sangat berbeda dari kamarnya saat di tempat Revan waktu itu. Ia terusik kala merasakan berat di pinggangnya, ia membalikan badan walau sepenuh nyawanya belum terkumpul.


"Ssshhh" desah Marvin terbangun kala merasakan suatu gesekan di kepemilikan nya, ia membuka matanya melihat seorang gadis masih tertidur mana jaraknya dekat lagi. Pria itu menundukkan kepalanya melihat kebawah, ternyata lutut Liana menempel di kedua paha nya sampai menyenggol juniornya.


"Aaghk... Kau ingin bermain rupanya!" Kesal Marvin kemudian membuka selimutnya kasar, ia membalikan tubuh Liana menjadi terlentang dan menindihnya.


Liana merasa tidak nyaman dan merasa ada sesuatu yang yang menekan tubuhnya, perlahan ia membuka kan matanya. Matanya menangkap seseorang pria di atasnya, gadis itu membulatkan mata kemudian mengusik kan tubuhnya.


"A–apa yang kau lakukan?! Menyingkir!" Kedua tangan Liana mendorong dada Marvin, tapi itu tak berhasil ingat bahwa kekuatan Marvin tak sebanding tubuh nya bahkan pria mana pun, apalagi tenaga.


"Kau harus tanggung jawab gadis kecil"


"A–apa?! Aku tak menghamili mu! Lepasin!"

__ADS_1


__ADS_2