Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 47


__ADS_3

Felix tersenyum salting, idih mafia salting? Liana yang melihat itu menyungging b1bir julid melihat tingkah Felix yang benar-benar beda dari kata mafia, lebih tepatnya seperti pria yang digombali oleh wanita cantik.


"Gitu dong sayang, pertahan kan terus," mengedipkan matanya.


"Dih, sana pergi! Aku mau tidur!" Liana membalikan badan nya dan menutup seluruh tubuh nya menggunakan selimut.


Felix terkekeh lalu mengusap kepala Liana yang di tutup oleh selimut.


"Tidur yang nyenyak sayang," Felix berdiri dari duduk nya dan berjalan ke arah pintu. Felix berbalik dan tersenyum jahil.


"Ingat, besok pagi harus menyapa ku dengan sebutan ... Sayang." ketika menyebut Sayang Felix dengan suara deep.


Liana yang mendengar itu membulatkan mata di balik selimut.


Felix menekan tombol untuk mematikan lampu dan menutup pintu kamar. Baru lah Liana langsung membuka selimut dengan perasaan tak percaya dan kesal.


"Pria itu ..." gumam Liana melirik pintu kamar nya.


\*\*\*


Pagi nya Liana terbangun dan membersihkan diri, hari ini libur kuliah nya jadi mau bagaimana pun tetap bangun pagi dong. Selesai mandi ia memakai pakaian kasual simpel saja yang penting nyaman di pakai. Setelah sedikit berdandan Liana pun keluar dari kamar.


"Hari ini aku mau bermanja di rumah! Jangan ada yang ganggu!" kata Carlos tidur di sofa panjang.


"Memang semalam kau tidak tidur?" tanya Kenzo menuangkan segelas air.


"Gak!" ketus nya.


"Kalau mau tidur, di kamar sana!" Edgar melirik Carlos, tapi Carlos menghiraukan ucapan temannya.


"Sarapan sudah siap, panggil yang lain!" Elvano.


Lalu datang lah Liana dari arah tangga.

__ADS_1


"Selamat pagi putri ku yang cantik," sapa Lucas mengedipkan matanya sebelah, Liana menatap miris lebih tepatnya julid.


"Sejak kapan aku jadi anak mu?"


Perkataan Liana membuat yang lain tertawa, benar kan sifat mereka akan menurun pada Liana. Lucas memang pria julid jadi gak heran Liana tak kalah julid nya.


"Ah kau ini, salah ku mungkin karena menyebut putri bukan nya ratu ku,"


"Dan raja nya adalah Ayahku" sahut Liana.


Lucas mendatarkan tatapan nya, untuk kali ini dia kalah berdebat sebaik nya jangan di lanjut jika Liana dengan mode julid.


Lalu datang lah Felix, Arion dan Revan dari atas tangga.


"Ada apa ini?" tanya Felix.


"Bukan apa-apa," datar Lucas.


Felix menoleh menatap Liana, gadis itu juga menoleh oh astaga ia jadi ke ingat kejadian semalam. Duh moga aja Felix tak mengatakan hal-hal aneh, pikir Liana.


"Jangan pura-pura, sayang." bisik Felix.


"Iih! Diam! Aku malas dengan itu!" Liana menutup telinga nya dan pergi meninggalkan yang lain.


"Kenapa dengan nya?" tanya Revan. Tatapan mereka menuju ke arah Felix dengan datar.


"Apa? Aku tidak melakukan apa pun." polos Felix sampai membuat yang lain ingin membunuh nya.


...


Di meja makan Felix tak henti-hentinya menatap Liana dengan terus memberi kode, Liana memberikan lirik bombastic. Maksud nya kek, ih apaan sih nih cowok?


Felix terkekeh geli melihat Liana yang seperti risih di tatap nya, astaga gadis ini lumayan licik juga pikir Felix.

__ADS_1


"Sayang, apa jadwal mu hari ini?" tanya Edgar sembari memotong daging.


Liana melirik, apakah dia berbicara pada nya? Tapi, kalo dipikir lagi sih mana mungkin juga kata ‘Sayang’ adalah cara memanggil teman-temannya.


Edgar menoleh ke arah Liana yang tak menjawab pertanyaan nya.


"Sayang, kau mendengar ku?" tanya Edgar. Liana kembali melirik sambil menunjuk diri nya.


"Tuan berbicara pada ku?"


Pertanyaan yang terlontar membuat Edgar terdiam jadi selama ia memanggil ‘Sayang’ di kira nya manggil ke teman nya gitu? Walaupun mafia gila tapi bukan berarti gila dalam berhubungan. Edgar meletakkan peralatan makanan nya kemudian meneguk segelas air.


"Percaya gak kalo aku manggil sayang ke mereka?" Lino menatap Liana.


Gadis itu tersenyum kaku, ya gak mungkin lah.


"Bukan nya udah sering dan wajar aku manggil kamu sayang?"


"Ah bukan begitu,"


"Lalu?"


"Itu ...." gugup Liana sembari melirik Felix yang tersenyum.


Gara-gara pria itu Liana sampai tidak fokus hanya karena sebuah panggilan, juga mereka gak sekali dua kali memanggil dengan sebutan itu. Tapi karena semalam di mana ia juga harus menyebut kata itu pada mereka jadi kepikiran terus sampai tak menyimak lawan bicara nya.


"Ah itu mungkin ... emm karena ...." bingung jelasin.


Revan tersenyum melihat gadis di samping nya yang sedang mencari alasan, ia menyomot potongan daging milik nya menggunakan supit lalu disuap kan ke mulut Liana yang ingin bicara.


"Em?" Liana membulat kan mata menatap Revan dengan pipi mengembung.


"Simpan saja alasan mu, sekarang makan lah." kekeh Revan.

__ADS_1


Liana mengedipkan mata berkali-kali sembari mengunyah pelan. Mencari alasan dengan mendadak itu harus di lakukan oleh profesional.


__ADS_2