Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia

Gadis Cantik Jadi Rebutan Para Mafia
Bab 30


__ADS_3

Selain kehilangan benda yang kita sayang, namun orang yang kita cintai lebih membuat kita merasa kehilangan sebagian hidup. Jika benda hilang pasti rasanya bosan sedangkan seseorang rasanya begitu hampa, suram, sedih, rindu dan lain sebagainya.


Itulah yang di rasakan para 8 mafia ini, seharusnya mereka mafia yang di takuti oleh semua orang dan mempunyai sifat kejam. Tapi lihat lah, mereka seperti bunga berduri yang layu tanpa di siram air. Kehilangan sang gadis dalam waktu 2 hari belum ia temukan, tidak bisa di bayangkan jika sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.


Tapi mereka tetap tidak menyerah mencari informasi mengenai penculikan gadisnya, gadis itu sangat berharga bagi mereka. Dia membuat mafia itu mempunyai pandangan yang berbeda, selain pandangan namun perasaan pun berubah. Dia adalah gadis satu-satunya yang bisa mengguncang hati, jantung, mata hingga pikiran mereka. Gadis itu selalu meracuni pikiran sampai sekarang mereka tak henti-hentinya mencari tanpa istirahat sejenak.


Lucas & Edgar kini sedang menumpangi mobil, bahkan lengan Edgar bagian kanan nya belum sembuh akibat tembakan waktu itu. Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berhenti secara mendadak.


"Kenapa kau hentikan mobil nya?!" Edgar


"Aku tidak tau..." Lucas yang mengemudi pun tidak tau letak permasalahan mobil nya, kemudian melihat ke arah KM mobil dan di sana terdapat simbol bensin yang berada di KM nya berwarna merah.


"Habis bensin!" Kesal Lucas memukul setir mobil dan bersandar di kursi sandaran nya.


"Seharian berkeliling sampai kehabisan bensin" gumam Lucas menatap lurus ke depan dengan pikiran kosong, Edgar menghela nafas memposisikan diri seperti Lucas.


"Sialan! Mereka membawa Liana kemana sebenarnya? Satu kota sudah kita putari namun tak ada tanda-tanda dari mereka" Edgar.


"Aku tidak tau" Lesu Lucas "atau mungkin saja mereka membawa nya keluar kota?" Menoleh ke arah Edgar.


"Antara Iya dan Tidak" sesal Edgar.


Hening


Tiba-tiba Lucas ke ingat sesuatu.


"Kau ingat tempat dimana kita pernah berhasil melacak sebuah rumah?"


"Semua yang kita lacak sudah pasti berhasil, salah satu tempat yang kau maksud yang mana?" Datar Edgar melirik Lucas.


"Kota F!" Sergap Lucas, Edgar menoleh.


"Kau ingat? Waktu pertama kita menyerang Arvin, kita berhasil melacak kediamannya. Mungkin saja dia masih tinggal di sana"


"Kau bodoh? Setelah kita menyerang nya, tidak mungkin dia akan tetap tinggal di sana. Rumah nya sudah kita serang hingga hancur, yang benar saja jika dia masih menempati tumpukan batu" umpat Edgar.


"Siapa tau kan, dia memang pindah... Mungkin. Namun jika dia pindah berada di dekat kota F? Kita tidak tau, siapa tau aja dia bertetangga dengan kota F?" Lucas meyakinkan, Edgar terdiam ntah itu ia memikirkan ucapan temannya atau pun yang lain.


"Mungkin saja dia ada di tempat kota J, M atau V. Itu adalah bagian tempat yang belum kita kunjungi"


"Ntahlah, antara Mungkin & Tidak mungkin"


"Ck aishh kau ini, gak ada salahnya kita cari" kesal Lucas karena jawaban Edgar selalu membuatnya di ragukan.


"Baiklah-baiklah, kita kembali tunggu apa lagi?!"


"KITA KEHABISAN BENSIN, EDGAR JANUARTHA!!"


\*\*\*


"Sialan kau Arvin!" Teriak Arion membanting ponselnya, tak peduli benda mahal ponsel nya hancur lagian ia bisa membeli sepaket ponsel keluaran baru cuma yang ia khawatir kan adalah seorang gadis yang di culik oleh musuhnya.


Buat apa coba dia menculik gadis tak bersalah itu? Bisa-bisanya mereka memanfaatkan kesibukan nya yang menyerang anak buah Arvin dan mengerahkan saudaranya untuk menculik gadis nya yang ia tinggal?


Sumpah ini masalah baru pertama kalinya di buat pusing hanya dengan kehilangan seorang gadis dari pada benda mahalnya.


Cowok kekar yaitu Kenzo datang mendekat yang dari tadi hanya bisa diam, sebenarnya ia juga emosi tapi ia tahan.


"Gak ada gunanya kalo cuma diam, aku akan menyiapkan helikopter dan mencari nya" ucap Kenzo menepuk pundak Arion "lagian David, Ravin & Johnny sedang melacak dan mencari informasi tentang keberadaan si sialan itu" sambungnya.

__ADS_1


"Tidak berguna! Semuanya tidak berguna!! Aku akan mencari sendiri!" Saat Arion hendak pergi namun langsung di tahan oleh Kenzo.


"Kau pun tak berguna jika mencari sendiri! Harusnya dalam situasi kek gini kita bekerja sama gak sendiri-sendiri!"


Arion menepis kasar menatap tajam kearah Kenzo.


"Aku gak peduli, yang aku mau si sialan itu mengembalikan hak yang sudah milik ku!" Tegas Arion, kalian bayangkan saja walaupun dalam situasi tenang Arion selalu bersikap tegas dan mudah emosi apalagi situasi mencengkeram seperti ini, sudah jelas rasanya tubuh Arion di penuhi asap yang menguap. Dia tak bisa berfikir dengan jernih, yang ia mau gadis itu di temukan dengan keadaan utuh dan tak lecet sedikit pun.


Ntah kenapa Arion merasa sangat takut dan khawatir tentang keadaan gadis itu.


"Aku yakin, gadis itu akan baik-baik saja"


Arion & Kenzo menoleh kearah ambang pintu di mana seorang pria blonde dengan tatapan datar, dia adalah Felix. Pria itu berjalan santai kearah 2 temannya yang sedang berdebat hebat sedari tadi, bersikap gegabah tak akan bisa membuat nya bisa kembali.


"Dia bukan gadis yang bodoh seperti yang kau pikir, mungkin dia kelihatan lugu tapi otaknya masih bekerja dengan baik"


"Apa, maksud, mu?" Ucap Arion penuh tekanan.


"Kau kurang memahaminya, seharusnya di saat dia masih di sini bersikaplah baik jangan bersikap keras. Yang ada gadis itu yang lebih memahami mu dari pada dirimu memahaminya" jelas Felix dengan nada meremehkan. Felix, kau cari mati?


Arion sudah mengepalkan kedua tangannya seperti sudah siap memukul musuhnya.


"Sebentar lagi gadis itu pasti memberikan informasi..." tebak Felix.


"****! Aku tak ada waktu untuk mendengar omong kosong mu, menyingkir lah!" Arion menyenggol bahu Felix kasar dan pergi dengan tergesa-gesa.


Felix melihat itu terkekeh, Kenzo berjalan mendekat kearah Felix.


"Apa maksud ucapan mu?" Tanya Kenzo, Felix menoleh lalu tersenyum tipis.


"Aku lebih memahaminya, aku yakin dia akan memberikan informasi, soal kapannya aku tidak tau"


\*\*\*


Setelah tenang ia membuka pintu besar itu.


"Anda mau kemana?"


Liana terkejut kala melihat 2 pria tangguh berseragam serta kaca mata hitam, astaga di dalam rumah saja pakai kaca mata mana hitam lagi.


Liana gelagapan menatap 2 pria kekar itu, dan meneguk ludah nya kasar. Mau alasan apa ini?


"A–aku. Aku haus" ntah alasan itu langsung terlontar dari mulutnya begitu saja.


"Saya ambilkan"


"Eh tunggu!" Cegah Liana kala pria itu gw dak pergi, pria itu menoleh membuat Liana kembali gelagapan.


β€œπ‘€π‘Žπ‘šπ‘π‘’π‘ , π‘šπ‘Žπ‘’ π‘Žπ‘™π‘Žπ‘ π‘Žπ‘› π‘Žπ‘π‘Ž π‘™π‘Žπ‘”π‘– 𝑖𝑛𝑖? 𝐼𝑛𝑖 π‘šπ‘’π‘™π‘’π‘‘ π‘”π‘Žπ‘˜ π‘π‘–π‘ π‘Ž 𝑑𝑖 π‘˜π‘œπ‘›π‘‘π‘Ÿπ‘œπ‘™β€ batin Liana.


"Boleh aku ikut? Aku ingin mengenal rumah tuan kalian"


Aneh-aneh aja.


"Tidak! Anda tetap di sini, saya akan mengambil minuman" tegas pria itu, mereka takut jika gadis yang di perintahkan tuannya akan mudah kabur setelah mengetahui tempat-tempat di rumah ini.


"Aku mohon, aku bersumpah untuk tidak kabur kok. Aku lapar juga, aku ingin masak sesuatu untuk diri ku sendiri dan tidak terbiasa makan masakan orang lain bahkan chef" mohon nya menyatukan kedua tangannya dengan pupil eyes. Bohong, nyatanya kebanyakan ayahnya yang selalu memasakkan untuk nya.


Dan di pikir 2 penjaga ini 8 mafia itu? Yang akan luluh dengan keimutan nya?

__ADS_1


"Maaf, kami hanya menjalankan perintah dari tuan kami!"


"Aku mohon, aku sangat lapar, serius. Aku ingin masak sendiri, kalian boleh jagain aku masak kok" senyum Liana.


2 penjaga itu saling memandang berharap saja di izinkan, bahkan Liana sudah berkali-kali berdoa bahwa mereka mengizinkannya.


"Baiklah, tapi anda dalam pengawasan kami! "


"Tentu, tentu" Liana mengangguk senang.


Salah satu penjaga berjalan mendahului sedangkan 1 nya lagi berjalan di belakang mengawasi Liana siapa tau gadis ini bisa saja mencoba kabur.


Sesampainya di tempat memasak, benar deh ini rumah gedenya minta ampun Liana saja capek mana harus melewati beberapa tangga dan lift, sungguh rumit sekali. Jika di bandingkan Liana lebih suka rumah 8 mafia itu karena jalannya cuma 1 saja, yaitu melewati lift ntah itu mau naik atau turun.


"Silahkan"


Liana mengangguk lalu berjalan mendekati ke arah pelayan di sana.


"Permisi" ucap Liana, pelayan itu menoleh.


"Iya? Non?"


"Aku lapar, aku ingin masak sendiri apa boleh?"


"Kalo begitu, biar kami saja"


"Tidak tidak tidak... Aku ingin masak sendiri, karena sebelumnya aku tak pernah makan masakan orang lain selain keluarga" senyum tipis.


"Oh, ya silahkan pakai saja bahan-bahan nya. Dan sayuran atau daging ada di pendingin"


"Terimakasih" Liana membungkuk, dan pelayanan itu pergi dengan membawa alat pembersih meja.


Sebenarnya tujuan Liana ke sini bukan untuk makan atau memasak, namun mencari sesuatu yang bisa menghubungi seseorang yaitu ponsel. Ia nekat harus mencari ponsel yang tertinggal, ntah itu milik pelayan-pelayan sini atau para penjaga yang penting PONSEL!


Ia melirik 2 penjaga itu yang sedang menatapnya, kemudian ia harus fokus pada aktingnya, ia berpura-pura sibuk seperti orang masak. Berjalan sana sini dan sekalian mencari ponsel pelayan yang bertugas di dapur.


Saat ia mencuci sayuran di wastafel ia tak sengaja melihat benda pipih di samping rak bumbu masakan, pas banget! Liana celingukan ternyata tak ada pelayanan di sini namun ya ada 2 penjaga yang berdiri tak jauh dari nya, gadis itu berpura-pura mencuci sayuran.


"Aku perlu wadah" Liana berbalik.


"Em, kalian bisa tolong ambilkan wadah itu gak? Dan juga pisau,


aku akan memotongnya di sini sekalian sambil di cuci" perintah Liana pada 2 penjaga itu, 2 pria itu berbalik dan mengambilkan yang di perintahkan Liana.


Kesempatan!


Dengan gesit Liana meraih ponsel yang ada di dekat bumbu itu dan memasukkan nya ke dalam baju, ia tak memakai pakaian yang ada sakunya jadi terpaksa dalam baju. Salah satu pria penjaga itu berjalan mendekat dan memberikan 2 benda yang di perintahkan Liana


"Terimakasih" menerimanya.


"Aww" ringis Liana memegang perutnya.


"Ada apa?"


"Perut ku sakit, sepertinya mulas lagi. Akhir-akhir ini aku sering gangguan pencernaan, apa boleh aku ke kamar mandi?" Pinta Liana dengan ekspresi yang di buat-buat.


"Baiklah, tapi kami tetap mengawasi anda"


"Terserah! Sekarang cepat, tunjukkan toiletnya!"

__ADS_1


__ADS_2