GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Lumayan


__ADS_3

Nurul menatap horor pada Alvaro yang kini tengah cengengesan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nurul. Ingin sekali ia menimpuk kepala Alvaro menggunakan tas tapi ia baru sadar kalau tadi ia tidak membawa tas dan kini ia semakin sadar bahwa ia keluar bersama Alvaro hanya mengenakan daster rumahan yang biasanya Nurul pakai ketika menjelang tidur. Tapi melihat wajah menggemaskan Alvaro–yang semakin tengil semakin tampan itu membuat Nurul mengurungkan niatnya. Ia justru terpana melihat Alvaro yang semakin hari semakin mempesona.


"Gue tahu gue ganteng, lu bebas kok kalau mau natap gue. Wajah ganteng gue ini cuma buat lu doang, sumpah!"


Nurul langsung membuang muka, ia mencebikkan bibirnya. Sikap Alvaro yang selalu percaya diri tinggi ini kadang bikin Nurul kesal. Tapi memang yang ia katakan itu benar, Alvaro memang sangat tampan.


"Lu juga cantik. Lu cantik gue ganteng, tengok aja hasil kolaborasi kita berdua, Aluna secantik itu, 'kan? Bunda sama papinya 'kan bibit unggul, iya nggak?"


Tolong, adakah yang bisa memberikan Nurul lakban, ia ingin menutup mulut pria yang tidak berhenti mengoceh ini. Nurul memutar bola matanya jengah, apalagi mendengar kata 'hasil kolaborasi ' itu. Nurul mendadak ingin menggeplak kepala Alvaro.


Apa sih yang ada di otak dia?


Melihat Nurul yang mulai kesal justru semakin menambah semangat Alvaro untuk menggodanya. Tak habis-habis celotehannya yang membuat Nurul sakit kepala dan berpikir semua kalimat-kalimat nyeleneh yang keluar dari mulut Alvaro itu datang dari mana? 


Tapi dibalik itu semua, Nurul justru merasa senang dengan kalimat-kalimat nyeleneh juga gombalan receh Alvaro itu. Ia lagi dan lagi kembali teringat masa-masa dimana Alvaro dulu selalu mennggombalinya seperti itu.


"Lu tahu nggak?"


"Enggak!"


"Ck!"


Nurul tidak bisa menyembunyikan senyumannya saat Alvaro berdecak.


Ya ampun ganteng banget sih pacar gue ini? Eh? Ih apaan sih nih otak! Dia bukan pacar gue tapi pria gila! 

__ADS_1


Alvaro merebahkan kepalanya di bahu Nurul, ia juga menggenggam tangan Nurul, ia menautkan jari-jari mereka lalu mengecup berkali-kali punggung tangan Nurul.


"Gue nggak tahu gimana jadinya kalau gue terlambat datang dan lu udah nikah sama Daniyal." 


Suara lirih Alvaro langsung kembali mendaratkan kaki Nurul di bumi. Sejak tadi bersama Alvaro, Nurul merasa seperti berada di atas awan tetapi begitu nama Axelle keluar dari mulut Alvaro, Nurul seolah dipaksa turun ke bumi.


Nurul lupa jika ada seseorang yang juga sedang menunggu cintanya. Orang yang baru kemarin ia berikan harapan dan kali ini ia hampir saja mematahkan harapan itu.


Jika saja … jika saja Nurul tidak termakan omongan Kriss waktu itu, ia tidak mungkin memberikan kesempatan untuk Axelle berharap padanya. Ia tidak mungkin menceritakan semuanya pada Axelle yang berujung ia dibuat terbawa perasaan dan meminta pria 99% sempurna itu untuk membantunya keluar dari kubangan masa lalu.


Pantas saja … pantas saja selama ini Nurul seperti tidak bisa melupakan Alvaro, ia seperti merasa terpaut dan terjerat dalam cinta masa lalunya. Ia baru tahu jawabannya adalah karena orang yang ia cintai juga sama sepertinya. Terjebak di ruang nostalgia dan berharap mereka akan kembali bersatu lagi.


Nurul bimbang, ia tahu hatinya memilih Alvaro, tapi bagaimana dengan Axelle? Pria itu sudah begitu baik dan sudah begitu cinta dan sayang padanya juga Aluna. Nurul tidak bisa mengabaikan pria itu. Tapi ia juga tidak mungkin maruk lagi rakus dengan menempatkan dua pria di kehidupannya.


Setelah kisah tragis yang menguras hati, pikiran dan air mata itu, Nurul mulai menyadari bahwa akan lebih baik ia bersama orang yang mencintainya daripada harus bersama dengan orang yang ia cintai tapi tidak cinta terhadapnya. Nurul berpikir cinta itu akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.


Witing tresno jalaran soko kulino.


Nurul sempat menjadi penganut pepatah Jawa tersebut dimana ia yakin cinta akan hadir karena terbiasa, terbiasa bersama Axelle. Sebelum akhirnya ia bertemu lagi dengan cinta masa lalunya. Pria yang ia kira tidak membalas cintanya itu justru ternyata adalah pria yang memiliki cinta lebih besar dari yang ia punya.


"Kenapa diam? Lu melamun? Jangan bilang lu lagi mikirin Daniyal?" terka Alvaro yang membuat Nurul tak sadar langsung menganggukkan kepalanya.


Alvaro menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Ia menoleh ke lain arah, mendadak dadanya terasa sesak.


Apa gue emang sudah terlambat? Kenapa rasanya sesakit ini? Dada gue sesak Aina! Apa hubungan lu sama Daniyal udah sejauh itu? Lalu apa artinya gue di hidup lu? Katanya lu cinta gue? Kok lu malah mikirin dia disaat lu lagi sama gue? Hahaha … kok sakit ya hati gue.

__ADS_1


Nurul yang menyadari ada yang aneh dengan sikap Alvaro langsung tersadar bahwa ia salah atau lebih tepatnya tidak memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan Alvaro tadi. Ia memang benar sedang melamunkan Axelle tapi dalam hal yang berbeda, bukan karena ia sedang merasa jatuh cinta pada pria itu.


"Ro, lu kenapa?" tanya Nurul.


Alvaro menoleh dan menatap wajah Nurul sambil memasang senyum manis yang begitu nampak jika senyuman itu dipaksakan.


"Gue nggak kenapa-napa. Pulang yuk," jawab Alvaro.


Alvaro berbalik badan hendak keluar dari mobil namun Nurul langsung menahannya. Ia menarik tangan Alvaro hingga pria itu kembali berbalik badan dan berhadapan dengan Nurul.


Satu hal yang tidak pernah Alvaro duga, dengan cepat Nurul mencium bibirnya dan bahkan Nurul mulai melumatanya walaupun Alvaro tahu ciuman Nurul ini sangat amatir karena Nurul tidak punya pengetahuan soal berciuman.


Mata Alvaro yang tadinya terbelalak kini perlahan menutup. Ia mulai membalas ciuman itu dengan lembut, mencoba menikmati rasa manis yang hadir dari pagutan bibir keduanya.


Tidak ada nafsu disana, Alvaro benar-benar menikmatinya begitupun dengan Nurul. Ciuman itu begitu lembut dan menghanyutkan. Baik Nurul dan Alvaro enggan membuka mata mereka. Keduanya sibuk menikmati bertukar saliva seolah dengan melakukan hal ini seluruh rasa cinta dan rindu keduanya bisa tersalurkan.


Merasa Nurul mulai kehabisan stok udara di paru-parunya, Alvaro melepaskan ciuman tersebut. Ia tersenyum seringai saat Nurul menatapnya dengan malu-malu. 


"Lumayan, walau masih amatir. Nanti gue bakalan ajarin lu cara berciuman yang paling bagus dijamin bikin lupa diri," celetuk Alvaro. Ia memang berniat menggoda Nurul dan terbukti Nurul langsung memalingkan wajahnya yang terasa panas.


Alvaro terkekeh melihat reaksi menggemaskan Nurul, dengan cepat ia membawa Nurul ke dalam pelukannya. "Gue mohon sama lu jangan memikirkan pria lain saat lagi sama gue. Gue cemburu," bisik Alvaro yang membuat Nurul tersentak.


Alvaro melepaskan pelukannya, ia kemudian dengan secepat kilat mencuri ciuman di pipi Nurul. "Nikah yuk, besok pagi gimana? Lu mau mahar apa?" 


Mata Nurul terbelalak, suasana romantis itu mendadak kacau dengan celetukan Alvaro yang selalu nyeleneh dan ABA–aneh bin ajaib.

__ADS_1


__ADS_2