GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Gue yang ngatur endingnya


__ADS_3

Suasana pesta ulang tahun Cici sangat meriah. Orang tuanya memang tidak sekaya keluarga Prayoga akan tetapi merupakan pengusaha sukses juga dengan bidang yang berbeda. Tak tanggung-tanggung Cici bahkan mengundang salah satu grup band terkenal di negara ini untuk mengisi acara ulang tahunnya, sebagai pembuktian bahwa ia sebenarnya mampu dan tak kalah saing dari Aluna.


Permohonan maaf yang hanya untuk menjebak saja agar Aluna bersedia datang ke acara ini. Setidaknya sebelum ia keluar negeri untuk waktu yang lama, ia bisa membalaskan sakit hatinya pada Aluna dan Frey. Ingin rasanya ia membalas pada Riani juga akan tetapi Riani bukanlah prioritasnya. Pasangan pengantin remaja itu lah yang harus merasakan ledakan dari sakit hatinya selama ini.


Acara belum dimulai, mereka masih saling menyapa satu sama lain namun tamu sudah begitu banyak. Entah dari kolega orang tua Cici, keluarganya, teman-teman dari dalam maupun luar sekolah, dan masih banyak lagi. Cici tentu saja masih menunggu kehadiran sahabatnya yang ia yakini pasti akan datang.


Sebenarnya saat ini Aluna dan Frey sudah berada di depan rumah Cici. Mereka masih berada di dalam mobil karena sedari tadi Frey tidak berhenti mencium bibir Aluna karena istrinya itu terlihat sangat cantik. Aluna harus kembali memakai lipstiknya karena perbuatan Frey yang membuat lipstik itu terus saja terhapus.


"Punya suami kaya tapi beliin lipstik istrinya nggak bisa! Lain kali kalau suka nyosor kayak gini ya beliin lipstik yang nggak akan kehapus sekalipun kamu nyium aku sampai pagi," ujar ketus Aluna setelah ia memperbaiki dandanannya.


Frey terkekeh, sangat senang baginya membuat Aluna kesal dan juga sangat tidak lengkap jika tidak menyentuh istrinya itu.


"Ya udah, ayo kita turun dan ingat, harus selalu disampingku," ucap Frey, ia kemudian mengajak Aluna untuk keluar.


Aluna bukanlah wanita manja yang harus dibukakan pintu oleh Frey selagi tangannya masih berfungsi dengan baik. Ia juga tidak ingin melihat Frey kesusahan yang harus berputar arah lagi hanya untuk melakukan hal sepele yang walaupun sambil menutup matanya Aluna bisa melakukannya.


Kedatangan Aluna dan Frey bertepatan dengan host yang mengatakan bahwa acara utama akan segera dimulai. Aluna bersama Frey bergandengan masuk dan memberi ucapan selamat kepada Cici, tak lupa hadiah yang sudah mereka siapkan tadi sore.


"Gue kira kalian nggak bakalan datang," ucap Cici yang terlihat kegirangan.


"Gue pasti datang, kok," ucap Aluna sembari tersenyum manis.


Cici membatin melihat penampilan Aluna yang lebih cantik darinya bahkan ia pangling saat melihat wajah Aluna yang didandani senatural ini. Ia iri, tentu saja. Bagaimana bisa ia menyaingi Aluna sedangkan dirinya adalah pemeran antagonisnya?


"Thanks Frey, gue kira lu juga nggak bakalan datang," ucap Cici yang kini sudah beralih menatap Frey sambil tersenyum manis. Ia berharap senyumannya mengandung kadar gula yang bisa membuat Frey tergila-gila.


"Gue pasti datang, istri gue disini dan nggak bakalan gue biarin datang sendirian," ucap Frey sarkas yang langsung mematahkan ekspektasi Cici. "Lagi pula gue harus melindungi Aluna dari rubah yang berniat jahat padanya," imbuh Frey dengan suara lirih namun terdapat tekanan yang membuat Cici merasa terintimidasi.

__ADS_1


Tak sempat Cici bersuara, Frey sudah menarik tangan Aluna. Ia mengajak istrinya itu untuk duduk. Sebenarnya ia ingin sekali membawa Aluna untuk pulang. Mereka sudah bertemu dan sudah memberi selamat, tidak ada hal lain lagi yang harus dilakukan.


Acara tiup lilin dan potong kue telah berlalu, para tamu undangan sedang menikmati hidangan, game dan juga nyanyian dari band favorite sebagian dari mereka tersebut.


Cici berjalan ke arah Frey dan meminta waktu untuk berbicara sebentar. Frey sendiri langsung menolak namun karena Cici memaksa, akhirnya mau tidak mau Frey menurut juga karena Aluna sudah mengizinkannya.


Cici membawa Frey ke arah samping rumahnya, tak jauh dari tempat dilangsungkannya acara tersebut. Sesekali Frey melirik ke arah dimana Aluna sedang duduk dan istrinya itu sedang asyik bermain ponsel. Riani sendiri tidak kelihatan batang hidungnya.


"Frey, gu-gue cinta sama lu. Gue tahu gue salah karena jatuh cinta sama suami orang, tapi ini adalah perasaan yang nggak bisa gue kontrol, Frey. Gue juga tahu lu nggak bakalan bisa balas perasaan gue. Tapi seenggaknya gue bisa diberi kesempatan buat ungkapin perasaan ini, Frey. Udah lama tahu nggak gue nyimpan rasa ini buat lu. Tapi ... tapi ternyata lu udah dimiliki Aluna ...."


Frey menaikkan satu alisnya menatap Cici yang saat ini sedang menyeka air matanya. Rasa iba itu tentu saja tidak ada karena ia tidak tertarik, tidak tergugah dan juga tidak akan luluh dengan semua ucapan Cici barusan.


"Udah?"


Pertanyaan singkat-padat-jelas dari Frey sekaan menyambar hati Cici. Frey bagian tidak memberikan ia jawaban yang sedikit bisa mengobati patah hatinya. Pria ini justru semakin menambah kehancuran pada kepingan hatinya yang sudah patah sejak lama.


Frey berlalu meninggalkan Cici, ia tidak peduli dengan hati yang patah itu juga tidak peduli dengan tatapan penuh derai air mata dan kesakitan dari Cici. Lebih baik ia bersikap tegas daripada melembut yang nantinya hanya akan menjadi ekspektasi belaka untuk gadis itu.


Tangan Cici terkepal, ia kemudian menyalakan ponselnya dan menghubungi seseorang untuk menanyakan pekerjaan yang sudah ia tugaskan sebelumnya.


Sementara itu, Aluna yang sedang duduk sendirian sambil berbalas pesan dengan Riani yang tidak datang itu pun merasa bosan. Ia menunggu Frey yang baru saja pergi tetapi rasanya sudah seabad saja.


"Minumannya ..." Seorang pelayan datang membawakan nampan air minum. Disana ada jus, soft drink dan juga air mineral.


Aluna pun mengambil gelas berisi air mineral dan meneguknya hingga habis. Ia cukup haus dan menunggu Frey membuatnya seolah dehidrasi.


Dari kejauhan, seseorang yang sudah menyuguhkan air minum tersebut dan diberikannya kepada pelayan kini tengah tersenyum manis.

__ADS_1


"Dari ketiga minuman itu, semuanya bahkan mengandung obat tidur. Bersiaplah Aluna," ucap Keenan sambil tersenyum seringai.


Keenan kemudian mengambil air minum yang sedang dibawa oleh pelayan yang lainnya karena ia sudah tidak sabar ingin segera melalui malam ini bersama Aluna. Ia mendekati Aluna karena tahu saat ini Frey bersama Cici. Ia akan mulai menjalankan aksinya.


Aluna yang sudah meminum air tersebut merasakan pusing. Ia bahkan gagal mengenali Keenan yang membawanya berjalan dengan memapahnya naik ke lantai atas.


"Frey kita mau kemana?" tanya Aluna sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Ke kamar Cici, lu lagi nggak enak badan. Tadi gue minta izin buat bawa lu kesini," jawab Keenan.


Aluna merasa ada yang aneh, suara Frey agak berbeda namun ia tidak memusingkannya karena karena perasaannya sedang aneh. Tak lama kemudian langkah seseorang mendekat dan ia tersenyum puas melihat Keenan berhasil membawa Aluna.


Baru saja keduanya hendak membuka pintu kamar, listrik mendadak padam. Cici turun untuk menanyakan apa yang membuat listriknya menjadi padam sedangkan ia meminta agar Keenan menunggu dulu di depan pintu karena ia masih memegang kunci kamar tersebut.


Dan dari belakang Cici, seseorang membekap mulutnya dan mengunci pergelangan tangannya hingga akhirnya sebuah cairan dari jarum suntik berhasil masuk ke aliran darahnya. Cici tidak bisa berbuat apa-apa begitu tubuhnya dibawa kembali naik. Ia merasakan pusing dan lemas sehingga untuk memberontak pun ia tidak bisa.


Saat Cici tiba di samping Keenan, orang yang memapahnya memberikan kunci kepada Keenan yang sudah ia ambil dari saku tas kecil yang dikenakan oleh Cici.


"Aluna, lu diam aja disini. Gue mau buka pintu kamar dulu," ucap Keenan dengan tidak sabaran. Ia kemudian mengambil ponselnya untuk mengaktifkan flash untuk mencari pintu tersebut.


Pintunya terbuka namun ia sudah tidak menemukan Aluna melainkan hanya ada Cici yang sedang memegangi kepalanya. Keenan hendak pergi namun seseorang mendadak menyerangnya dan tak lupa sebuah cairan dari jarum suntik kembali mengalir di darahnya.


Orang tersebut kemudian membawa Keenan masuk dan juga Cici ke dalam kamar tersebut. Listrik kembali dihidupkan dan Frey segera membawa Aluna pergi.


"Kalian boleh pergi. Jebakan itu pasti akan memakan pembuatnya sendiri. Biarkan saja dan nanti biar saya yang akan membuat ledakannya," ucap Frey kepada dua bodyguardnya tersebut. Ia kemudian memapah Aluna untuk turun sambil menunggu rencananya ia jalankan.


Kalian boleh merencana, tapi gue yang ngatur endingnya.

__ADS_1


__ADS_2