
Axelle menatap Nurul yang malam ini terlihat cantik walaupun dengan mengenakan pakaian seadanya, Nurul akan selalu cantik di mata pria ini. Ia membawa Nurul ke sebuah taman, di mana teman itu cukup ramai dengan keluarga yang membawa anak-anak mereka untuk bersantai. Nurul tidak mengajak serta Aluna, karena menurutnya Axelle akan berbicara hal yang penting dan ia tidak mau Aluna sampai membocorkan pembicaraan mereka ini kepada papinya, mengingat Aluna selalu terbuka kepada papinya apapun yang terjadi ia akan selalu melapor kepada pria tengil itu.
Ada rasa berat di hati Axelle untuk melupakan dan melepaskan wanita yang sudah ia lamar ini walau belum dijawab. Tanpa menunggu tiga bulan pun, ia tahu Nurul pasti akan menolaknya dan akan lebih memilih Alvaro–mengingat dia sendiri melihat betapa keduanya ini saling mencintai dan masih saling menginginkan satu sama lain terlepas dari persakitan yang keduanya rasakan selama empat tahun ini.
"Nurul, Aku ingin bertanya kepadamu, tolong jawab aku dengan dengan jujur," ucap Axelle sambil menatap kedua mata Nurul dengan lekat.
Akankah setelah ini kami masih bisa duduk dan saling menatap sedekat ini? Aku takut jika ini adalah yang terakhir untuk kami.
Nurul yang ditatap seperti itu oleh Axelle langsung menundukkan kepalanya, ia malu sekali karena tatapan Axelle dan sorot mata itu sarat akan cinta, pesakitan dan kesedihan yang mendalam. Nurul tahu, iy yang turut andil dalam membuat sorot mata itu menjadi se-sendu itu.
"Jangan menunduk Nurul, jangan membuat pipimu memerah karena aku akan terus jatuh cinta kepadamu jika kau terus melakukan hal seperti itu. Kau tahu tidak, aku sedang berusaha mengikhlaskan perasaanku terhadapmu karena aku tahu kau adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan," ucap Axelle diiringi senyuman getir.
Nurul mengangkat wajahnya, ia kemudian membalas tatapan Axelle. Ia tersenyum kaku dan dibalas Axelle dengan senyuman manis. Andai dan andai saja Nurul bertemu dengan Axelle lebih dulu sebelum ia mendaratkan hatinya kepada Alvaro, mungkin saja ia sudah menikah dengan pria ini tanpa pikir panjang lagi disamping sisi buruk Axelle yang selalu pemarah dan mendominasi itu, pria ini begitu penyayang dan Nurul menyesal karena datang terlambat dengan waktu yang salah yang mempertemukan mereka.
"Baiklah, aku akan mendengarkan. Katakanlah, apa yang ingin kau bicarakan denganku," ucap Nurul berusaha menguatkan hatinya agar tidak goyah di hadapan pria tampan ini.
Axelle tersenyum kecut, ia tidak sanggup untuk menanyakan hal ini tetapi mau tidak mau ia harus bertanya agar Ia mendapatkan jawaban.
"Apakah pernah ada aku di hatimu Nurul?"
Axelle menatap Nurul dengan lekat, ia ingin melihat kejujuran di mata itu. Walaupun akhirnya jawaban itu akan menyakitinya tetapi ia akan tetap siap.
Pertanyaan Axelle barusan membuat Nurul speechless. Ia benar-benar terkejut dengan pertanyaan Axelle, ia tidak siap untuk menjawab karena ia tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
"Kumohon jawablah, aku membutuhkan jawaban itu. Katakanlah dengan jujur Nurul, semua akan menjadi batu loncatan untukku melangkah ke depannya. Tolong jawab aku Nurul, pernahkah ada aku di hatimu?" pinta Axelle dengan memohon, wajahnya begitu memelas dan terlihat begitu rapuh.
Nurul menggigit bibirnya, rasanya air matanya ingin tumpah begitu melihat wajah Axelle. Dia bisa melihat mata Axelle berkaca-kaca saat menatapnya, dari situ Nurul mengambil kesimpulan bahwa pria ini benar-benar sudah jatuh cinta kepadanya.
Situasi yang tidak pernah Nurul bayangkan, dimana ketika ia hendak membuka hati untuk Axelle, ketika itu pula cinta masa lalunya yang masih menjebaknya di ruang nostalgia itu hadir kembali dan Nurul tidak kuasa untuk menolak kehadirannya karena rasa cinta itu memang masih ada dan masih sebesar itu.
"Axelle aku, aku …." Nurul tidak bisa melanjutkan perkataannya karena air matanya lebih dulu tumpah. Ia sungguh mengasihani diri Axelle dan dirinya, mengapa mereka bertemu di waktu yang salah.
"Mengapa menangis, hmm? Bukankah kau itu selalu tangguh. Jangan memperlihatkan air matamu itu jika kau tidak ingin aku sakit, Nurul," ucap Axelle dengan suara bergetar, jari-jarinya ia gunakan untuk menghapus air mata Nurul.
Bukannya diam Nurul malah semakin menangis hingga Axelle membawanya ke dalam dekapan. Axelle menengadahkan kepalanya, ia berusaha untuk menahan laju air mata yang hendak membobol bendungan pertahanannya.
Ya Tuhan, dengan memeluknya seperti ini saja aku sudah bersyukur. Setidaknya diakhir kisah kami ini aku mendapat sedikit kebahagiaan karena diberi kesempatan untuk mendekap wanita yang sudah menempati hatiku ini. Bisakah Tuhan membantuku untuk membalikkan hati wanita ini? Aku sangat mencintai dan menginginkannya.
Nurul tersenyum kecut, ia marah pada dirinya sendiri karena sudah membuat pria baik ini menitikkan air mata untuknya.
"Kenapa waktu kita selalu salah? Apakah ini yang dinamakan serendipity? But, It's not a serendipity! Ini bukan kebetulan yang menyenangkan yang tanpa sengaja kita bertemu tanpa kita rencanakan, Nurul. Perasaan ini real and I do love you. Tapi mungkin Tuhan hanya sedang membuat drama untuk kita bagai sebuah lelucon. Tapi perasaan aku ke kamu enggak sebercanda itu!" ucap Axelle seakan marah tetapi justru air mata itu menjelaskan jika pria ini sedang kesakitan.
"Sekarang aku ingin membalikkan kata-katamu. Aku nggak mau jadi pengecut karena membenci seseorang yang sudah pernah membuat aku cinta dan menyakitiku sedalam ini. Aku tahu aku yang masuk di antara kalian berdua, tapi perasaan ini bukan aku yang menginginkannya. Kenapa Tuhan menciptakan hati hanya untuk dibuat patah dan sakit seperti ini? Kenapa Dia membuat kita berdua bertemu dan hanya aku yang jatuh cinta? Apakah dunia sedang berusaha menjatuhkan dan membuatku jadi pecundang?"
Nurul semakin terisak mendengar keluh kesah Axelle, ia tahu ini tidak mudah bagi pria ini tetapi Nurul bisa apa jika garis takdir sudah seperti ini. Nurul berusaha untuk memahami seperti apa sakit yang Axelle rasakan. Ia adalah sumber sakit itu tetapi bukan dirinya yang bisa menjadi penawar karena Nurul sudah menjadi obat untuk hati orang lain.
"Bisakah kau menjawab pertanyaannya Nurul Aina Emrick? Apakah pernah ada aku dihatimu walau hanya sebagian kecil, walau hanya setitik saja, walau hanya sebentar lalu hilang begitu saja? Aku butuh jawabanmu Nurul. Kumohon jawablah," pinta Axelle dengan memelas.
__ADS_1
Nurul memalingkan wajahnya, ia mencoba menggali perasaannya sendiri untuk mencari setiap jawaban dari tanya yang Axelle berikan.
"Ya, pernah," jawab Nurul. "Pernah ada seorang Daniyal Axelle Farezta yang singgah di hati dan pikiranku walau hanya sebentar," jawab Nurul kemudian ia menundukkan kepalanya. Bagaimana lagi, ia tidak bisa berbohong karena dulu Axelle memang pernah ia masukkan ke dalam hati. Ketulusan dan kegigihan Axelle membuat Nurul sempat berpikir untuk melanjutkan hidup dengan pria ini sampai akhirnya Alvaro datang dan kembali membalikkan hatinya.
Axelle tersenyum sambil menyeka air matanya, ia kemudian menundukkan kepalanya. Ingin rasanya ia meminta kesediaan Nurul untuk memberinya waktu agar bisa meluluhkan hatinya tetapi ia sadar hal itu justru akan semakin menyakitinya karena ia tahu betul kasihnya ini tak sampai.
"Terima kasih untuk jawabanmu, setidaknya aku merasa lega karena kita pernah memiliki perasaan yang sama namun bukan di garis takdir yang sama. Aku akan selalu menjaga perasaan ini untukmu, mungkin saja suatu saat kita berjodoh. Aku tahu aku melakukan hal yang sia-sia karena hatimu telah dimiliki dia. Aku mengalah Nurul, lanjutkan hidupmu bersamanya, berbahagialah dan aku akan mendoakan kebahagiaanmu. Tapi jika dia menyakitimu, kau harus tahu jika ada aku yang akan selalu merentangkan tangan untuk menyambutmu," ucap Axelle yang langsung mendapatkan pelukan dari Nurul.
Keduanya menangis bersama, sambil memeluk dengan erat. Ingin keduanya menyalahkan waktu yang tidak tepat untuk mempertemukan mereka. Juga ingin marah karena takdir mereka justru tidak sejalan dan garis tangan tidak menggambarkan perjodohan untuk keduanya.
Walaupun pada akhirnya kita tidak bisa bersatu tapi aku lega, aku senang karena kita pernah punya perasaan yang sama.
"Maaf," lirih Nurul setelah mereka mengurai pelukannya.
"It's okay. Gue masih punya banyak waktu untuk berburu wanita. Gue tampan dan kaya, banyak yang berbaris teratur buat jadi kekasih gue. Santai aja, setidaknya dari lu gue belajar kalau gue harus lebih berani menyatakan cinta dan berjuang untuk cinta yang gue mau. Yuk balik," ucap Axelle berusaha bersikap santai padahal hatinya saat ini remuk, hancur berkeping-keping dan Axelle bahkan tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaan sakit yang ia rasakan saat ini.
Cupp …
Axelle mengecup lembut dahi Nurul hingga wanita beranak satu itu terkejut.
"Bonus untukku karena kau sudah berhasil membuat pria arogan, congkak, pemarah, dominan dan tampan ini menjatuhkan air mata begitu banyak," ucap Axelle kemudian ia berjalan lebih dulu meninggalkan Nurul karena ia harus menyembunyikan jika kini pipinya kembali basah akan air mata.
Tanpa mereka ketahui, di belakang ada seorang pria yang tengah mengepalkan kedua tangannya. Pria yang selalu berusaha tetapi kini kembali gagal dan gagal lagi.
__ADS_1