GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Berbuat Baik


__ADS_3

Leon melajukan motornya ketika ia melihat mobil Frey memasuki halaman rumah keluarga Prayoga. Ia hanya ingin memastikan kalau Aluna sampai di rumahnya dengan selamat. Dan ia juga baru menyadari saat ini yang ia lakukan bagaikan seorang penguntit, rasanya misi balas dendam kini berubah menjadi misi menaklukkan hati targetnya. Leon sadar, perilakunya sudah tidak wajar dan Keenan pasti akan sangat marah.


Sepanjang jalan Leon terus saja memikirkan ada apa dengan dirinya dan ada apa dengan hatinya. Sejauh ini ia selalu berhasil membuat gadis-gadis jatuh dan bertekuk lutut padanya. Selama ini ia pun merupaka seorang pemain yang handal. Bukan hal sulit baginya untuk mendapatkan gadis yang ia inginkan, tapi Aluna ... gadis itu bahkan tidak meliriknya sama sekali.


Rasa heran dan bingung menyelimuti pikiran Leon. Kata Keenan, Aluna merupakan gadis yang ramah dan bahkan mudah bergaul. Mudah di rayu dan mudah mematahkan hati orang. Namun yang terjadi di lapangan justru Aluna begitu cuek dan terkesan menjaga jarak dengan para pria kecuali Frey.


"Ah ya Frey, gue harus menyelidikinya. Dia dan Aluna punya sesuatu yang nggak biasa. Gue semakin yakin kalau sebenanrya Aluna adalah tunangan Frey itu. Tapi ... kalau mereka adalah tunangan, mengapa begitu banyak foto Frey di rumah itu dan juga bersama keluarga bahkan sejak kecil? Ini bikin gue pusing!"


Leon membelokkan motornya masuk ke dalam halaman rumahnya yang megah dan tak kalah mewahnya dengan milik keluarga Prayoga. Hanya saja Leon yang suka balapan lebih memilih naik motor dibandingkan membawa mobil sendiri.


Aluna Aluna Aluna. You drive me crazy, girl!


"Leon!"


Cowok tampan yang hendak naik ke anak tangga itu menghentikan langkahnya ketika mendengar suara papanya memanggil. Ia berdecak lalu berbalik badan dan rupanya papanya tidak sendiri karena disana ada paman dan bibinya yang tidak lain adalah orang tua Keenan. Leon tersenyum, ia berlari kecil ke arah bibinya yang merupakan adik dari mendiang mamanya.


"Bibi Khansa!" pekik halus Leon, ia langsung masuk ke dalam pelukan bibinya tersebut, ibu kedua yang selama ini selalu memberikannya perhatian dan membantunya bertumbuh kembang.


"Leon, kau sudah sangat besar sekarang dan semakin tampan. Dua tahun bibi tidak kembali dan sekarang kau sudah semakin tumbuh. Oh lihatlah, kau bahkan lebih tinggi dari papamu," ucap bibi Khansa, ia mengusap lembut rambut Leon, ia selalu saja sendu saat melihat wajah anak semata wayang mendiang kakaknya.


Leon terkekeh, ia kemudian memeluk pamannya yang semakin hari semakin mirip dengan Keenan. Ah salah, Keenan yang semakin hari semakin mirip dengan pamannya.


"Paman dan bibi tumben pulang. Biasanya Keenan yang akan berlibur ke tempat kalian," ucap Leon ketika ia sudah duduk bersama ketiga orang dewasa tersebut. Ia kemudian melepaskan tasnya dan memangkunya.


"Besok anak nakal itu akan berulang tahun. Mana bisa kami melewatkannya. Dia pasti akan menuntut banyak hal," ucap paman Tian.

__ADS_1


Leon menepuk jidatnya, ia hampir saja melupakan hal tersebut beserta rencana yang sudah ia susun matang di hari ulang tahun Keenan. Ia yakin rencananya akan berhasil dan ia tidak ragu lagi sebab ia memiliki dua kunci yang bisa membantunya menyukseskan misinya.


Setelah ini, gue bakalan jamin dia nggak bakalan berani berpaling dari gue. Ah sial! Jatuh cinta apa sebodoh ini sih?


Leon berpamitan untuk kembali ke kamarnya, ia juga menunggu kedatangan Keenan karena ia yakin sebentar lagi sepupunya itu akan segera datang. Ia bergegas berganti pakaian dan rebahan di tempat tidurnya lalu mengambil ponselnya.


"Mendadak gue kangen sama Aluna. Gue chat aja kali ya? Lagi pula gue punya nomor ponselnya dari Cici. Gue mau pdkt dan Keenan nggak boleh tahu. Kalau dia curiga ya gue tinggal bilang ini adalah bagian dari misi dan menjelaskan kalau gue lagi mendalami peran!"


Leon mulai mengetik kata demi kata akan tetapi ia justru kembali menghapusnya. Ia bingung harus memulai dengan kata apa untuk menyapa Aluna. Beberapa kali mengetik namun kembali ia hapus, merasa kesal dan frustrasi pada diri sendiri, Leon pun berteriak kesal.


Untung saja kamar Leon kedap suara sehingga tidak akan ada yang tahu dengan ia yang sedang kesal karena kehabisan kata-kata untuk menyapa! Leon hanya ingin menyapa dan ia bahkan tidak bisa menemukan kata yang tepat padahal cukup ketik saja 'Hai Aluna' dan semua selesai.


"Keenan memang benar kalau pesona Aluna bikin lumpuh logika. Dan sekarang gue termasuk salah satunya. Gue pikir dia yang bakalan takluk tapi ternyata sebaliknya. Dalam hitungan hari gue udah main hati. Sial!"


.


.


"F-Frey, lu ngapain disini?" tanya Aluna gugup.


Frey tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekat ke arah Aluna sedangkan gadis itu ketakutan dan refleks memundurkan langkahnya hingga ia membentur pintu kamar mandi.


Pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat itu membuat Aluna terdorong ke belakang dan hampir saja jatuh terpeleset jika Frey tidak sigap menangkap tubuh Aluna.


Karena kaget, Aluna refleks menarik leher Frey hingga bibir pria itu menyentuh bibirnya dan Aluna kembali memekik saat handuknya justru melorot dan jatuh ke lantai.

__ADS_1


Jakun Frey naik turun melihat pemandangan di hadapannya dimana Aluna begitu polos tanpa sehelai benangpun melekat di tubuhnya saat ini. Kulit yang putih mulus membuat jantung Frey seolah baru saja lari maraton dan keduanya kini sama-sama terdiam.


Beberapa detik kemudian Aluna tersadar dan ia langsung mendorong tubuh Frey lalu ia memunguti handuknya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


"Frey, lu keluar. Dasar cowok mesum, cabul! Keluar nggak lu, dan jangan ingat-ingat tentang apa yang lu lihat barusan," teriak Aluna dari dalam kamar mandi.


Frey tersentak halus mendengar ucapan terakhir Aluna karena sejak tadi bayangan tubuh Aluna yang begitu polos tidak mau pergi dari pikiran Frey. Mendadak ia merasa panas dingin.


"Tapi, itu bukan sebuah dosa karena dia istri sah gue. Dan nggak ada yang salah kalau gue bahkan mau berbuat lebih sama Aluna. Itu hak gue," gumam Frey.


"Iya gue pergi. Cepat ganti baju dan gue tunggu lu di kamar gue. Jangan lama-lama!" ucap Frey menyeringai.


Cowok tampan itu kemudian melangkah keluar sambil berusaha menghilangkan pikiran mesumnya terhadap Aluna. Walau bagaimanapun ia adalah seorang pria normal yang gairahnya akan terpancing saat melihat tubuh indah seperti itu dan apalagi itu adalah milik istrinya, sesuatu yang halal baginya tentu saja.


Ponsel Frey berdering dan ia melihat itu adalah panggilan dari kafe yang rencananya hari ini akan ia datangi bersama Aluna. Ia berdecak kesal, lalu ia menjawabnya dengan segera.


"Maaf Pak, hari ini jadwal saya sedang banyak dan kata paman Ikram saya harus mementingkan tugas sekolah dulu," ucap Frey dan setelah mendengar sahutan dari sana ia segera mematikan panggilannya.


Frey menatap pintu kamarnya dimana Aluna baru saja membukanya. Ia seolah kesulitan menelan salivanya saat melihat Aluna berjalan namun justru yang terbayang adalah saat ia menatap seluruh tubuh Aluna tanpa penutup.


"Ada apa Frey?" tanya Aluna malu-malu.


Frey menepuk kasur di sampingnya isyarat meminta istrinya itu duduk di sampingnya. Aluna pun menurut saja karena ia tahu tidak baik membantah suaminya. Namun begitu keduanya sudah duduk bersama, baik Frey maupun Aluna sama-sama terdiam.


Tidak tenang dengan keheningan tersebut serta hasrat yang membawa, Frey pun menggenggam tangan Aluna. "Lu mau nggak berbuat baik sama gue sebagai suami dan istri?" tanya Frey dengan suara beratnya.

__ADS_1


Jantung Aluna seolah berhenti berdetak. Ia tidak paham dengan maksud Frey namun sorot mata suaminya itu sudah menjelaskan segalanya. Pipi Aluna bersemu merah dan matanya melotot sempurna saat kini kepala Frey terlihat menunduk lalu menyamping dan perlahan Frey mendekatkan bibirnya ke bibir Aluna.


__ADS_2