
Flora menatap tak berkedip pada Nandi yang datang ke kantornya dan memintanya bertemu di depan kantor. Flora mengira Nandi datang dengan keadaan gawat karena tadi di telepon ia mengatakan bahwa Flora harus segera bersiap-siap karena ia akan datang menjemputnya. Namun sesampainya di depan kantor dimana flora menunggu kedatangan Nandi, Flora dibuat tercengang karena kekasihnya itu mengajaknya untuk segera pergi ke KUA.
Plakk ...
Flora menggeplak kepala Nandi, entah sudah kerasukan setan apa sehingga tiba-tiba kekasihnya itu datang dan mengajaknya mendaftarkan pernikahan di KUA. Secinta apapun Flora pada Nadi, tidak mungkin baginya langsung menikah secara tiba-tiba tanpa persiapan. Apalagi Ia hanya anak satu-satunya perempuan di keluarganya, mana mungkin Flora mau melewatkan pernikahan paling berkesan seumur hidupnya.
"Baby kita udah ketinggalan dan kita nggak segera nikah, kita bakalan jadi pasangan terlama yang nggak nikah-nikah dari para sahabat kita," ucap Nandi berusaha membujuk Flora.
Flora mengerutkan dahinya, ia tidak paham dengan maksud perkataan Nandi. Yang Flora tahu Ikram memang sudah menikah lebih dulu tetapi maksud dari Nandi tentang sahabat-sahabatnya itu, apakah mungkin Nandi menghitung Kriss juga.
"Ya setidaknya lu melamar gue lah, Nan. Gue nggak mungkin nikah dadakan sama lu sekalipun gue cinta mati sama lu. Gue juga mau menikah seperti yang lainnya. Pernikahan yang mewah, gaun pengantin yang indah, pokoknya semuanya deh yang bagus. Eh tunggu ... lu nggak lagi jatuh bangkrut 'kan sampai lu ngajakin gue nikah di KUA doang?" tuding Flora, matanya memicing mencari tahu apakah benar pikirannya barusan.
"Amit-amit baby! Gue masih kaya kok, masih ada di sepuluh besar pengusaha terkaya di negara Indonesia. Gue hanya nggak senang aja lihat Ikram dan Alvaro udah nikah sedangkan gue belum."
"Tunggu, apa lu bilang? Alvaro udah nikah? Sama siapa? Kok gue nggak tahu? cecar flora.
"Ya sama Nurul lah baby, emang siapa lagi calon istri yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya," jawab Nandi santai.
"What?" Flora memekik kuat, Ia tidak percaya dengan kabar yang baru saja ia terima karena Nurul menikah tanpa memberitahunya dan sama sekali tidak ada berita apapun tentang keluarga Prayoga yang mengadakan pernikahan. "Tapi kok bisa?" tanya Flora tidak percaya.
Nandi pun menceritakan tentang story Alvaro, tentang ia dan Ikram yang mendatangi Alvaro tadi di kantornya dan juga tentang kebenaran jika Alvaro memang sudah menikahi Nurul.
Flora pun bisa menarik kesimpulan mengapa kekasihnya ini mendadak ingin menikah secara sederhana saja di KUA, rupanya ia tidak ingin ketinggalan dua sahabatnya yang sudah berganti status menjadi seorang suami. Flora bukannya tidak ingin menikah, ia sangat ingin malah. Apalagi bersama Nandi, orang yang sudah ia cintai selama bertahun-tahun. Namun bukan secara mendadak seperti ini menikahnya. Orang tua Flora bisa saja mengamuk dan menuduhnya sudah terjadi kesalahan antara ia dan Nandi.
"Baiklah kita akan menikah, tapi nanti. Dan keputusan gue ini nggak bisa diganggu gugat karena gue nggak mau menikah sekadar menikah doang! Kita itu menikah seumur hidup sekali, kecuali kalau lu niat bikin gue nikah dua kali," ucap Flora menohok Nandi.
Nandi tidak bisa membantah lagi, ia memang selalu takluk pada Flora dan daripada ia membuat kekasihnya itu marah, lebih baik ia berhenti merengek soal pernikahan. Mereka juga pasti akan menikah dalam waktu dekat ini walaupun bukan saat ini.
.
__ADS_1
.
Setelah tinggal di rumah keluarga Prayoga, Nurul meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang pengacara di kantor papanya. Mau tidak mau Nurul harus melakukannya karena Ia memang sudah ditakdirkan untuk mengikuti suaminya dan kini Nurul bersama Aluna sedang menemani mertuanya di salah satu butik besar yang ia ketahui adalah milik seorang desainer ternama. Dan yang membuat Nurul semakin takjub, ternyata mertuanya itu adalah desainer tersebut.
Mertuanya mengatakan jika sebaiknya Nurul ikut bersamanya ke bukit daripada berdiam diri di rumah dan tidak melakukan apapun. Ia tahu Nurul adalah pekerja keras yang tidak bisa diam saja di rumah, sehingga ia mengajak Nurul untuk membantunya di butik walaupun hanya membantu menemaninya saja.
Aluna sendiri terkagum-kagum melihat banyaknya pakaian yang sangat indah di butik neneknya itu. Tak jauh berbeda dengan butik neneknya yang ada di Kalimantan. Ia begitu senang karena dua neneknya ini merupakan seorang perancang dan ia pun bercita-cita untuk menjadi desainer ternama seperti para neneknya.
Yani yang mendengar cita-cita cucunya itu menyambut dengan riang gembira. Ia kemudian mengajak Aluna ke dalam ruangannya dan mulai memperkenalkan desain. Nurul hanya bisa menepuk jidatnya melihat kelakuan nenek dari anaknya. Aluna yang masih berusia tiga tahun lebih nana mungkin bisa membuat desain secepat itu. Paling tidak ketika Aluna memasuki SD barulah diajarkan.
Tetapi mungkin karena semangatnya sang nenek apalagi Aluna memiliki cita-cita yang sama seperti dirinya, makanya ia langsung membawa Aluna dan memberikan beberapa alat untuk menggambar desain pakaian sesuai yang lalu menginginkan.
saat Aluna sedang sibuk mengekspresikan pemikirannya di atas kertas, Yani kemudian mendekati Nurul yang sedang memainkan ponselnya karena sejujurnya tidak ada kegiatan lain yang bisa Nurul lakukan selain bermain dengan ponselnya.
Yana yang bertujuan mengajak menantunya ke butik agar tidak bosan di rumah tapi justru di sini menantunya pun tidak melakukan apa-apa.
"Gimana Nurul, udah ada tanda-tanda belum?" tanya Yani ketika ia turut duduk bersama Nurul.
"Tanda-tanda hamil lah, apalagi," jawab Yani kemudian ia terkekeh pelan.
Nurul tercengang mendengar pertanyaannya mertuanya, yang benar saja ia ditanyakan tanda-tanda hamil sedangkan ia belum genap seminggu menikah dengan Alvaro dan mereka baru melakukan hubungan intim sehari setelah pernikahan. Mungkin saja Nurul hamil, tetapi belum tentu juga sudah ada tanda-tandanya saat ini, pikir Nurul.
"Nggak usah dijawab, Mami tadi cuma bercanda doang. Ya nggak mungkinlah Mami nanya ini, 'kan kalian belum ada seminggu menikah. Nikmati aja dulu dan yang pasti mami harap Nurul bisa selalu menyayangi Alvaro dengan kelakuannya yang aneh bin ajaib itu. Semoga kamu selalu bisa sabar ya menghadapi dia," ucap Yani, matanya berbinar penuh harapan kepada Nurul sehingga Nurul tidak tega untuk tidak menganggukan kepalanya.
"Mami nggak usah khawatir, setelah Nurul menikah dengan Alvaro maka kebahagiaan Alvaro adalah tanggung jawab Nurul," jawab Nurul sembari tersenyum manis, mertuanya pun membalasnya tanpa lama manisnya.
"Tapi ya, kalau menurut mami sebaiknya jangan dulu kalian memiliki momongan. Bukan karena mami nggak mau kamu hamil lagi, nami sih senang-senang aja. Hanya saja mami ingin memberi ruang kepada Aluna agar ia bisa lebih banyak mendapatkan kasih sayang dari papinya. 'Kan selama ini dia tidak begitu mendapatkan kasih sayang dari papinya, nanti kalau dia sudah punya adik lagi maka kasih sayang Alvaro akan terbagi lagi dan Aluna mungkin belum merasakan kepuasan disayang dan dimanja-meja oleh papinya."
Nurul langsung mengangguk setuju pada ucapan mertuanya ini. Sejujurnya Nurul pun berpikiran yang sama, ia ingin agar Aluna mendapatkan banyak waktu bersama papinya sebelum mereka mendapatkan rezeki anak lagi.
__ADS_1
"Tapi gimana mau nunda ya kalau Alvaro tiap malam gempur kamu. Iya 'kan?" goda Yani membuat pipi Nurul bersemy merah. Ia segera mengalihkan pandangannya agar tidak digoda lagi oleh mertuanya.
.
.
Pintu ruangan Ikram diketuk kemudian ia meminta seseorang yang berada di luar sana untuk segera masuk. Bibir Ikram tersenyum manis begitu tahu siapa yang datang.
"Selamat siang Mas sayang," sapa Tarq sambil menenteng makanan di tangannya.
Ikram pun memanggilnya kemudian ia menepuk-nepuk pahanya agar Tara duduk di atasnya. Tara masih malu diperlakukan seperti itu oleh Ikram padahal mereka sudah menikah hampir sebulan. Ia bahkan masih mengenakan seragam office girl-nya dan masih bekerja di bagian cleaning service walaupun ia sudah menjadi istri seorang Ikram Ben Elard.
Hal ini sudah pernah didiskusikan oleh mereka sekeluarga dan akhirnya mereka setuju untuk membiarkan Tara tetap menjadi cleaning service di kantor tersebut. Dengan alasan Tara yang bisa diterima oleh Ben dan Safira yaitu Tara tidak ingin dikira wanita yang sudah menjebak bosnya dan juga wanita yang melupakan pekerjaannya setelah dinikahi pria kaya. Tara ingin membuat dirinya menjadi wanita kuat dengan memulai dari bawah.
Tara juga ingin menunjukkan kepada keluarga suaminya jika ia adalah seorang pekerja keras yang tidak hanya menggunakan aji mumpung dipersunting oleh pria kaya seperti Ikram. Padahal Tara bisa ongkang-ongkang kaki di kantor ini, tetapi itu tidak ia lakukan karena sadar diri dengan kemampuannya.
Entah bagaimana reaksi para karyawan di kantor ini jika saja mereka tahu Tara adalah nyonya muda keluarga Elard.
"Ayang kenapa sih tidak jadi sekretaris atau asisten pribadiku saja, biar kita bisa berdekatan terus. Dan kamu nih nggak usah capek-capek membersihkan kantor ini, orang ini punya kamu!" omel Ikram yang hanya membuat Tara tertawa lirih.
"Ya bagus dong aku jadi cleaning service Mas, supaya aku bisa membersihkan kantor ini setiap hari. Aku sangat perhatian bukan?" ucap Tara membalas ucapan Ikram dengan candaan.
Selalu saja Tara akan berkata seperti itu. Tetapi tidak mengapa, Ikram sudah bersyukur karena istrinya selalu ada di kantor yang sama dengannya. Kapanpun Ia membutuhkan istrinya, ia bisa memanggilnya. Namun sayang ia belum bisa memanggil Tara untuk ninaninu di dalam ruangannya sebab ia masih menunggu Tara bertumbuh. Sejauh ini Ikram hanya bisa mencium istrinya sepuas hati atau memeluknya. Padahal jika ia mau Tara pasti akan bersedia. Hanya Tara pun juga tidak ingin mengatakannya sebab Ia merasa malu. Ia menunggu tindakan Ikram saja.
"Makan dulu Mas ,"ucap Tara ketika Ikram terus mencium wajahnya.
"Aku tidak lapar makanan. Aku lapar tubuhmu, kira-kira kau mau tidak aku ajak membuat baby?" tanya Ikram yang sekadar melempar godaan semata.
Pipi Tara memerah, Dia kemudian menggigit bibirnya menatap Ikram lekat. "Bukankah itu hakmu Mas? Kenapa tidak pernah memintanya dariku?" tanya Tara yang langsung membuat Ikram syok.
__ADS_1
"Benarkah aku bisa berbuka puasa denganmu?" tanya Ikram memastikan dan Tara mengangguk malu.
Sebuah seringai terbit bibir Ikram. "Baiklah, karena kau yang sudah membuka akses maka jangan salahkan aku jika hari ini kau tidak bisa berjalan sayang."