GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Hatinya Milik Gue


__ADS_3

Pertanyaan Nurul langsung membuat kedua orang tuanya saling melirik. Bu Dianti sebenarnya tidak tega melarang Nurul berhubungan dengan Axelle, ia bahkan sangat senang dan pro akan keduanya. Tapi pemikiran sang suami juga tidak ada salahnya. Axelle bukan pria yang bisa dianggap sebelah mata, pri itu begitu hebat bahkan saking tidak ada celahnya sama sekali, putri mereka terlihat seperti setitik noda dalam kehidupan Axelle.


"Kenapa Ma? Kenapa Pa?" tanya Nurul penasaran. Bukan karena ia menuntut jawaban karena ia merasa kecewa, bukan. Bukan karena ia sedih karena tidak di restui, bukan. Ia hanya penasaran dengan alasan kedua orang tuanya mendadak kontra terhadap Axelle, si pria 99% sempurna itu.


Mendengar pertanyaan Nurul terulang kembali, Bu Dianti sebenarnya tidak tega. Ia merasa Nurul sudah jatuh cinta pada Axelle karena begitu mendesak meminta jawaban mereka tentang alasan mereka menentang hubungan itu. Hubungan yang sebenarnya tidak pernah ada.


Pak Deen berdehem pelan, sepertinya ia memang harus memberikan alasan pada anaknya yang juga sama sepertinya, seorang yang selalu mampu mengintimidasi dan tidak mau berhenti jika tidak mendapatkan yang ia harapkan.


"Sejauh ini, apa kau memang tidak memiliki rasa untuknya? Jawab Papa."


Nurul terdiam, ia memikirkannya. Mencoba menggali perasaannya dan mencoba berdiskusi dengan hatinya. Apakah benar ia punya atau tidak punya perasaan spesial terhadap Axelle.


Nurul menggeleng, "Aku belum punya perasaan seperti itu padanya Pa," jawab Nurul lirih.


Alvaro mengembangkan senyumannya. Ia terus menempelkan telinganya di balik pintu agar tidak kehilangan satu informasi tentang perasaan Nurul.


Ikram yang baru saja terbangun menatap heran pada sahabatnya yang terlihat aneh.


"Lu ngapain?" tanya Ikram dengan suara serak khas bangun tidur. Ia mengucek matanya lalu menutup mulutnya karena menguap. "Yakin gue, lu lupa minum obat!" imbuhnya sambil geleng-geleng kepala.


Ikram memang yang paling bisa beradu mulut dengan Alvaro. Hanya Ikram yang bisa membuat Alvaro kesal karena selalu bisa membuatnya terpojok. Hanya Ikram yang mampu membuat tuan muda Alvaro terdiam hanya dengan sindiran atau nyinyirannya.


Alvaro berdecak kesal, bagaimana mungkin Ikram berpikir ia gila. "Lu mending diam deh, gue lagi nguping tentang masa depan gue," ucap Alvaro.


Ikram memundurkan kepalanya karena merasa heran dengan jawaban Alvaro yang memang baginya aneh bin ajaib. Menguping masa depan di rumah orang, sungguh tidak pernah terlintas di pikiran Ikram.


"Bro, kayaknya lu kurang piknik. Mending lu mandi terus lu jalan-jalan di kota ini. Otak lu kayaknya udah geser deh," saran Ikram yang langsung mendapat acungan kepalan tangan dari Alvaro karena kesal.

__ADS_1


"Mending lu jangan berisik deh, ganggu aja!" sentak Alvaro, ia kemudian menempelkan kembali telinganya di pintu karena mendengar suara Bu Dianti. Sedangkan Ikram memilih untuk masuk ke kamar mandi.


Bodoh amat gue sama di gendeng Alvaro!


"Lalu, jika kau tidak memiliki perasaan spesial terhadap Axelle, maka siapa yang kau cintai Nak? Beri tahu kami, jangan selalu memendamnya sendirian. Kami ini orang tuamu, kami bisa merasakan apa yang kau rasakan dan kami tahu jika selama ini kau masih memikirkannya. Coba ceritakan pada kami Nak, kami hanya ingin kau berbagi bebanmu dan membuat dua orang tua ini berguna karena bisa mendengarkan keluh kesah anaknya," tutur Bu Dianti dengan suara lirih, ia sudah cukup selama ini melihat putrinya yang baru ia temukan selalu saja bersedih dalam keheningan.


Bu Dianti ingin agar Nurul jujur pada mereka, jujur tentang perasaannya. Walau mereka tidak bisa melakukan apapun untuk memutar waktu, tapi setidaknya mereka bisa membantu anaknya melewati masa sulitnya sendiri.


Seseorang tidak akan tahu keadaan kita dan isi hati kita tanpa kita mengatakannya. Bukankah dengan membagi duka, perasaan akan sedikit tenang.


Nurul langsung berpindah ke samping mamanya dan langsung memeluknya. Nurul menangis, ia merasa sudah menjadi anak yang jahat karena membiarkan kedua orang tuanya menerka-nerka apa yang ia rasakan sedangkan ia dengan pelitnya tidak mau berbagi bebannya.


"Aku minta maaf Ma, aku nggak bermaksud untuk menyembunyikannya dari kalian. Aku hanya sedang berusaha mendewasakan diri dan mencoba untuk membantu diriku sendiri agar lepas dari belenggu masa lalu. Aku minta maaf," isak Nurul dalam pelukan mamanya.


Bu Dianti mengusap punggung Nurul, ia mencoba menghibur dan menyalurkan kekuatan lewat usapan lembut penuh cinta untuk putrinya. Ia juga mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca. Begitupun Pak Deen, ia terharu melihat kedua wanita yang sangat ia sayangi di dunia ini.


"Tidak perlu meminta maaf sayang, semua memang hakmu, kami sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik," ucap Bu Dianti.


"Disini-" Nurul memegang dadanya -"Di dalam hati ini dari dulu sampai saat ini hanya ada dia, Ma, Pa. Aku nggak tahu bagaimana caranya mengeluarkannya dari dalam hatiku ini. Aku sudah mencobanya tapi rasanya begitu sulit hingga setiap kali aku mencoba aku selalu gagal dan selalu saja aku kembali mencintainya," ungkap Nurul dengan perasaan yang begitu sesak karena kembali mengingat cintanya yang tak kesampaian.


Alvaro menggeleng, air matanya tumpah begitu saja. Ternyata Nurul masih begitu mencintainya terlepas ia sudah bersama dengan Axelle. Bolehkah Alvaro merasa jumawa?


Lu boleh miliki raganya, tapi hatinya milik gue tuan Daniyal.


Bu Dianti seolah turut merasakan sesak yang dirasakan oleh Nurul. Ia langsung mengusap lembut bahu anaknya. "Apakah dia yang kau maksud adalah ayah Aluna?"


Degg ...

__ADS_1


Bukan jantung Nurul, melainkan jantung Alvaro yang tiba-tiba seolah berhenti berdetak. Pertanyaan ini adalah pertanyaan pamungkas yang ia sendiri menanti jawabannya.


Jadi namanya Aluna? Aluna-Aluna- ah, apakah Aluna itu singkatan dari Alvaro Nurul Aina? Mungkin saja!


Air mata Alvaro menetes lagi tapi kali ini air mata penuh haru dan bahagia. Ingin sekali ia keluar dari kamar itu dan langsung memeluk Nurul tapi ia sadar waktunya belum tepat. Ia tidak mungkin tiba-tiba muncul dan mengatakan cinta. Yang ada ia malah akan dipukuli oleh pak Deen dan Nurul akan membencinya.


Alvaro rela jika harus dipukuli hingga berdarah-darah atau hingga masuk ICU pun tak apa demi Nurul. Tapi kali ini bukan waktu yang tepat, ia akan menunggu beberapa saat lagi dan sebelumnya ia harus bicara empat mata dulu dengan Nurul. Ia harus menyelesaikan janjinya pada Clarinta. Ia harus mengembalikan hubungan Clarinta dan Danish agar kedepannya ia bisa bebas melenggang ke pelaminan bersama Nurul.


"Iya, Ma. Dia satu-satunya yang pernah ada dalam hati dan hidup Nurul. Cuma dia," jawab Nurul.


Alvaro tersenyum dalam tangis, ia yakin kata cuma dia itu merujuk pada dirinya. Karena ia tahu dirinya yang pertama untuk Nurul.


Apa ini artinya anak manis itu adalah anakku? Anakku bersama Nurul? Ya Tuhan ... how lucky I am.


"Jadi apakah misimu berhasil?" tanya sang papa yang langsung membuat Nurul mengernyitkan keningnya begitupun Bu Dianti yang terlihat bingung.


"Misi? Misi apa Pa?" tanya Nurul. Ia gugup sendiri apa jangan-jangan ini mengenai hubungan kontraknya bersama Axelle yang sudah diketahui sang papa.


Pak Deen tersenyum seringai, "Misimu ke Jakarta. Sudah berhasil bertemu?"


Nurul terbelalak kemudian ia memalingkan wajahnya karena pipinya begitu merah saat ini. Ia ketahuan.


"Papa tahu?" tanya Nurul lirih.


Pak Deen tertawa keras dan itu semakin membuat Nurul malu sedangkan Bu Dianti semakin bertambah bingung dan Alvaro pun bingung ke arah mana pembicaraan Nurul dan papanya saat ini.


"Kamu anak Papa, mana mungkin nggak tahu. Memangnya papa tidak bisa membaca gelagatmu, begitu menggebu-gebu ke Jakarta. Papa jelas tahu tujuanmu ikut Axelle ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan ayah Aluna. Jadi, misi berhasil setelah menggunakan kekuatan Axelle?" ledek papanya dan Nurul langsung berlari menghindar, ia sudah tidak sanggup lagi digoda oleh papanya.

__ADS_1


Bu Dianti terkekeh, ia akhirnya tahu apa yang dimaksud oleh suaminya. Sedangkan Alvaro, cowok tengil itu semakin merasa jumawa saja setelah tahu tujuan Nurul ke Jakarta hanya untuk mencarinya.


Oh ya ampun Aina, gue makin cinta sama lu. Gue lamar sekarang atau enggak ya? Halalin sekarang paling enggak gue masuk rumah sakit karena digebukin keluarga Emrick. Tapi kalau di lamar nanti gue bisa ditikung Axelle! Gimana dong para pembaca?


__ADS_2