GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
152


__ADS_3

Pria itu terlihat tak gentar walaupun pun sudah diancam oleh Ben Elard. Ia tetap membungkam mulutnya karena ia sudah bersumpah lebih baik ia mati daripada harus membocorkan rahasia siapa dalang dibalik semuanya.


Tak habis akal, Ben pun mencoba cara-cara yang lain karena ia sudah paling ahli dalam membuat orang bisu menjadi bicara, khususnya bisu dalam memberikan keterangan kejahatan yang mereka coba tutupi.


"Baiklah kalau kau tidak ingin bicara, mungkin aku akan melakukan sesuatu yang bisa membuat mulut bisumu itu terbuka lebar dan berteriak lantang," ucap Ben menyeringai.


Pria itu terlihat ketakutan, tiba-tiba saja Ben mengeluarkan alat untuk menyetrum tubuh seseorang dari dalam saku jasnya.


Pria itu berteriak kesakitan begitu alat tersebut menyentuh tubuhnya, ia merasakan seperti tersengat hingga membuat seluruh tenaganya terkuras habis.


Ben melakukannya berulang kali hingga pria tersebut hampir pingsan namun ia kembali meminta anak buahnya untuk mengguyur air di kepala pria itu agar kesadarannya tetap terjaga.


"Mungkin bosmu lebih sangar tetapi kau jangan lupa masih ada pria lebih sadis lagi di dunia ini yaitu aku!" ucap Ben dengan wajahnya yang begitu menakutkan.


Alvaro, Ikram dan Nandi begitu merinding melihat cara Ben menyiksa orang. Apalagi ketika pria itu berteriak meminta anak buahnya untuk merontokkan semua gigi yang ada dalam mulut pria tawanan mereka itu.


"Apa gunanya gigi di mulutmu jika kau tidak bisa membuka mulutmu juga. Cepat rontokkan semua giginya, potong lidahnya, lalu jahit mulutnya!" teriak Ben.


Ikram tidak menyangka jika ia memiliki seorang ayah yang memang benar-benar menakutkan. Selama ini Ia hanya mendengar dari cerita-cerita orang saja, kali ini dia menyaksikan sendiri betapa sadisnya sang ayah dalam menumpas musuhnya. Ikram berpikir bagaimana jika sang ibu mengetahui sisi lain ayahnya yang seperti ini, mungkin ibunya akan pingsan atau mati mendadak.


Pria tersebut menggeleng, ia berusaha menutup rapat-rapat mulutnya namun kekuatan anak buah Ben yang memegang kepala dan juga memaksa untuk membuka mulutnya tidak bisa ia tandingi.


"Sekali lagi jawab atau mati?" tanya Ben Elard dengan suara yang membuat bulu kuduk merinding.


"Ruri Griffin, ya Ruri Griffin yang sudah menyuruh saya melakukan semua ini," jawabnya terburu-buru.


Ben tertawa sarkas, "Tidak usah menipu, aku sudah menahan Ruri Griffin di tanganku. Jadi kau jangan mencoba untuk mencari kambing hitam lain lagi. Atau kau akan mengatakan bahwa yang menyuruhmu adalah Genta Prayoga?" pancing Ben yang membuat Genta merasa kesal karena kali ini Ben mengumpan dengan menggunakan namanya.


Pria itu nampak terdiam dan berpikir keras. "Ya, sebenarnya bukan Ruri Griffin dan Kriss Griffin. Mereka hanya target kami dan yang menyuruh sebenarnya adalah Genta Prayoga. Orang itu sudah menyuruh saya untuk melakukannya," jawab pria itu yang membuat Genta memasang wajah berang namun sebisa mungkin ia tahan karena ia tahu ini adalah sebuah rencana Ben untuk bisa membuat pria ini mengaku.


"Oh ya? Apakah dia langsung yang memintamu untuk melakukannya? Lalu dimana pria itu?" tanya Ben lagi.


Pria itu menganggukkan kepala, "Dia sendiri yang meminta saya melakukannya. Saya bertemu dengannya beberapa kali dan saat ini Genta Prayoga sedang berada di luar negeri dan saya tidak tahu di negara bagian mana. Saya sudah mengatakan yang sejujurnya jadi lepaskan saya," ucap pria itu yang mengundang tawa Genta Prayoga.


Ben kemudian memukul kepala orang itu hingga mengeluarkan darah di pelipisnya. Genta pun kemudian maju sambil melipat tangannya di atas dada.


"Jadi aku yang sudah menyuruhmu?" tanya Genta dengan suara yang begitu datar dan dingin. Tatapannya menggelap, auranya terlihat begitu menakutkan.

__ADS_1


"Anda siapa?" tanya pria itu kebingungan.


"Siapa aku? Bukankah tadi kau dengan jelas mengatakan bahwa aku adalah orang yang sudah menyuruhmu. Lalu mengapa kau tidak mengenaliku? Bukankah kita sudah berkali-kali bertemu dan katamu aku sekarang sedang berada di luar negeri?"


Pria itu terdiam sambil memperhatikan wajah menakutkan Genta. Ia terkejut karena menyadari jika pria yang ia maksud Genta Prayoga adalah orang yang berdiri di depannya. Ia hanya ingat jika salah satu dari tiga orang yang mereka targetkan itu menemukannya, maka ia harus menyebutkan satu nama untuk menutupi siapa sebenarnya yang menyuruhnya. Dan ia memilih Genta Prayoga dan bodohnya ia, ia tidak sadar jika orang yang ia jadikan kambing hitam itu ada di hadapannya.


"Sekarang katakan sejujurnya atau kau mati!" ucap Genta memberi ancaman.


Baru saja pria itu akan membuka mulut, ponsel Alvaro berdering.


"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah aku sudah menempatkan banyak bodyguard?" pekik Alvaro membuat pria yang diikat di kursi itu tersenyum menyeringai.


"Ada apa?" tanya Genta khawatir.


"Mami dan Aina hampir saja diculik Pi," jawab Alvaro gusar.


Alvaro kemudian maju dan memukuli kepala pria itu hingga pinsang. Ia melampiaskan kekesalannya dan juga kemarahannya pada pria ini.


Alvaro kemudian bergegas pulang ke rumah, ia harus menemui istri dan maminya yang sudah diselamatkan oleh seseorang.


Melihat bahaya sudah mengancam keluarga Prayoga, Ben dan juga Ezio bergegas pulang dan Ben meminta agar anak buahnya menjaga ketat pria ini agar tidak sampai mati ataupun melarikan diri.


Jika saja orang itu sudah berhasil menyerang keluarga Prayoga, bukan tidak mungkin saat ini sasaran mereka adalah keluarga Elard dan juga Ragnala. Mereka harus bergegas pulang dan mengantisipasi semua kemungkinan yang akan terjadi.


.


.


Alvaro melangkah terburu-buru masuk ke dalam rumah, ia mendapati Nurul dan maminya sedang duduk di sofa kemudian Ia berlari menghambur memeluk istrinya yang terlihat masih menyimpan trauma.


Alvaro belum memperhatikan sekitar ruangan, ia hanya sibuk memeluk istrinya lalu menghujani kecupan di puncak kepalanya saking khawatirnya ia dengan keadaan Nurul.


Begitupun dengan Genta, dia langsung memeluk menghambur istrinya yang terlihat sudah lebih baik dari keadaan Nurul.


Genta memindai sekitar dan mendapati Evelyn dan juga Axelle yang sedang duduk di ruang tamu bersama Nurul dan istrinya.


"Eve, Daniay apakah kalian yang sudah menyelamatkan Yani dan juga Nurul?" tanya Genta.

__ADS_1


Mendengar dua nama yang sangat dikenali oleh Alvaro disebut oleh papinya, ia kemudian melepaskan pelukannya dari Nurul lalu ia menatap dua orang yang duduk di hadapan mereka.


"Jadi kalian yang sudah menyelamatkan Aina dan juga Mami?" tanya Alvaro merasa berhutang Budi.


Evelyn dan Axelle kompak mengangguk. Mereka pun menceritakan kejadian di mana tadi keduanya sedang berencana untuk jalan-jalan dan menikmati waktu berdua untuk saling mengenal, mereka tak sengaja melihat Yani dan Nurul yang dicegat di jalan.


Awalnya mereka mengira perampokan biasa sampai Evelyn mengenali sosok tantenya dan Axelle mengenali sosok Nurul yang diseret keluar dari mobil. Dengan cepat Axelle berlari dan menerjang orang-orang yang hendak membawa Nurul dan Yani pergi. Ia yang selalu di dampingi pengawal bayangan itu dengan cepat mendapat bantuan pasukan hingga memukul mundur lawan yang hendak menculik dua wanita itu.


Sedangkan bodyguard yang ditempatkan oleh Alvaro terlambat datang karena di jalan pun mereka sudah dicegat dan untung ada Axelle yang kebetulan berada di sekitar lokasi penculikan hingga ia bisa menyelamatkan Nurul dan Yani tepat waktu.


Alvaro mengucapkan terima kasih pada mantan rivalnya ini, walau bagaimanapun Axelle sudah menyelamatkan dua wanita yang ada di dalam hidup Alvaro.


Alvaro pun meminta Nurul untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Ia juga tidak ingin Nurul tahu jika tadi ia juga diserang seseorang dan sebelum Nurul memperhatikan wajah memarnya, Alvaro segera meminta Nurul untuk masuk ke dalam kamar saja.


Sedangkan Aluna, bocah tengil itu saat ini berada di kediaman Emrick karena kakek neneknya begitu merindukan kecerian dan keributan yang ia timbulkan di rumah mereka.


Setelah Nurul masuk, Alvaro pun meminta Evelyn untuk menemani Nurul di dalam kamar agar Nurul tidak sendirian dan terus memikirkan kejadian tadi. Evelyn yang mengerti maksud dari Alvaro pun menuruti keinginan adik sepupunya itu bergegas naik ke lantai dimana kamar Nurul dan Alvaro berada.


Di ruang tamu tinggal empat orang dengan Yani sendiri seorang wanita. Ia sudah biasa menghadapi permasalahan dan juga kejahatan-kejahatan yang terjadi di sekitar lingkungan keluarganya pun sudah tidak heran lagi ketika ada orang yang berusaha menculiknya ataupun menantunya.


"Itu muka kamu kenapa Varo? Kenapa memar-memar gitu?" tanya Yani.


Alvaro sontak memegang wajahnya, ia kemudian menceritakan kepada maminya tentang kejadian dimana ia menemukan Kriss hingga ia mendapatkan satu anak buah yang diduga mata-mata yang mengawasi apa saja yang dilakukan oleh Kriss.


Mendengar salah satu orang kepercayaannya mengalami musibah, Axelle pun mengepalkan tangannya. Walau bagaimanapun Kriss adalah orang yang sudah berjasa untuk membangun dan memajukan perusahaan yang diam-diam ia dirikan di luar kekuasaan milik keluarga Farezta.


Mereka pun membahas hal tersebut sehingga akhirnya Axelle menawarkan untuk memberikan bantuan agar bisa menangkap dalang sebenarnya dari masalah ini. Ia juga tidak ingin Kriss sampai kenapa-napa sebab Kriss adalah ujung tombak dari perusahaan yang sedang ia bangun dan ia usahakan akan menjadi perusahaan raksasa di negara ini.


Dengan senang hati Alvaro menerima bantuan Axellel. Mereka pun sepakat untuk membicarakan masalah ini ketika nanti keluarga besar mereka sudah berkumpul.


"Oh ya, apa sekarang kau sedang berusaha membodohi kakak sepupuku?" tanya Alvaro begitu di ruang tamu hanya ada mereka berdua karena Genta sudah membawa Yani ke dalam kamar.


Axelle yang paham dengan maksud ucapan Alvaro hanya bisa tersenyum miring. "Dia begitu sulit ditaklukkan," ucap Axelle sambil tersenyum tipis mengingat bagaimana sikap angkuh Evelyn padanya.


Alvaro menyipitkan matanya melihat Axelle yang tersenyum tipis dengan pipinya yang sedikit memerah.


Apa sepupu gue yang gila itu berhasil memikat hati mantan rival gue ini? Tapi yang gue tahu Daniyal ini tipe cewek yang dia suka itu kayak bini gue. Tapi kenapa dia bisa naksir sama Evelyn yang tingkahnya kayak cacing kepanasan dan juga jauh dari kata elegan?

__ADS_1


__ADS_2