GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
102


__ADS_3

Sepanjang malam baik Alvaro maupun Ikram tidak bisa memejamkan kedua mata mereka. Pikiran terus tertuju pada Kriss yang entah sedang merencanakan apa atau sama sekali tidak merencanakan sesuatu. Sudah sejauh ini perbuatan Kriss pada mereka, sangat tidak mungkin bagi Ikram menerima jika Kriss tiba-tiba mengalah dan tidak lagi mengurusi apa yang selama ini menjadi ambisi mereka.


Ucapan Danish terus terngiang di telinga Ikram. Mungkin saja memang benar bahwa Kriss tahu keberadaan mereka dan sudah mempersiapkan rencana baru untuk kembali menyerang mereka. Ikram harus tetap mawas diri dan berjaga-jaga untuk kemungkinan yang akan terjadi.


Mendadak Ikram merasa ia benar-benar keturunan Ben Elard. Intuisinya mengatakan bahwa ia harus menyingkirkan siapapun yang mengganggu kebahagiaan keluarga serta orang-orang terdekatnya. Ternyata malam ini ia baru menyadari bahwa sikap bengis ayahnya itu semata-mata untuk melindungi mereka dan Ikram tahu memang ayahnya jauh lebih sadis, tapi seperti itulah caranya untuk memastikan orang-orang penting baginya tetap aman, nyaman dan tidak kekurangan apapun.


"Lebih baik lu tidur, besok pagi kita harus kembali ke Jakarta dan nanti kita akan membahas ini dengan seluruh keluarga kita. Gue tahu lu khawatir, gue pun sama. Apalagi gue punya anak kecil yang mungkin saja bisa jadi sasaran mereka saat tahu tentang siapa Aluna. Kita nggak bisa mikir ini sendirian doang. Besok kita kumpul dan bahas ini sama-sama. Mending lu tidur ya," ucap Alvaro yang mengerti dengan kegelisahan Ikram.


Ikram mengangguk pelan, ia yang sedang duduk di sofa dan Alvaro yang duduk di atas tempat tidur pun memutuskan untuk tidur. Walau hanya tersisa tiga jam sebelum matahari terbit, keduanya tetap berusaha memejamkan mata.


Kriss kalau memang lu masih punya niat busuk, gue nggak akan segan-segan lagi sama lu. Selama ini gue diam dan anggap ini wujud lu kesal sama gue karena Aina. Tapi kalau sampai lu nyentuh semua orang terdekat gue, habis lu sama gue. Gue diam hanya untuk menunggu kapan lu balik lagi kayak dulu, tapi kalau emang benar lu punya rencana buruk lainnya, siap-siap aja lu habis ditangan gue. Tunggu aja!


Di kamar berbeda tepatnya di lantai dua, Nurul pun sama tidak bisa tertidur. Ia sedang larut dalam cintanya terhadap Alvaro juga dalam kebingungannya terhadap Axelle. Dia dan Axelle memang tidak menjalin hubungan apapun tetapi ia sudah memberikan pria itu harapan. Harapan yang tidak mungkin langsung ia patahkan tapi juga tidak mungkin ia biarkan Axelle semakin berharap padanya sedangkan ia justru semakin hari semakin mencintai Alvaro.


Pertemuan mereka yang membahas tentang menjadi kekasih kontrak padahal kontrak itu tidak ada– tentang Axelle yang mengajaknya bermain hati– tentang ia yang meminta bantuan Axelle untuk melupakan Alvaro – dan tentang ia yang tahu bagaimana Axelle begitu mencintainya sedangkan ia juga tahu hatinya hanya milik Alvaro.


Situasi yang sangat tidak disukai Nurul dimana ia akan membuat salah satu dari mereka akan patah hati. Jika ia memilih Alvaro maka Axelle akan terluka. Jika ia memilih Axelle maka yang terluka bukan hanya Alvaro, anak dan dirinya sendiri pun akan jauh lebih terluka.


"Mungkin gue harus belajar menata hati gue sendiri daripada sibuk menjaga perasaan orang yang nggak ngehargain gue. Tapi ini konteksnya beda! Gue menata hati gue tapi gue nyakitin orang lain."


Nurul menghela napas, waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari dan ia belum bisa memejamkan matanya. Ia kembali teringat ajakan Alvaro untuk menikah sepanjang perjalanan mereka pulang tadi.


Andai saja tidak ada Axelle dalam hidupnya maka detik itu juga Nurul akan berkata iya.


"Axelle terlalu baik buat gue. Gue bahkan takut menjadi istri seorang Axelle, takut tidak mampu membalas atau mengimbangi semua kebaikannya ke gue. Lagi pula, kedua orang tua gue nggak mau gue bersatu dengan Axelle. Kekhawatiran mereka nyata adanya. Jika mereka saja tidak setuju maka bagaimana dengan keluarga Farezta. Apakah mereka akan menerima seorang wanita beranak satu tanpa menikah? Sungguh kemungkinan yang nggak mungkin."


Ponsel Nurul berdering, ia kaget karena pukul tiga dini hari ada yang menghubunginya. Nurul melihat nama pemanggil itu, ia sedikit syok karena pria ini sedang menari-nari di pikirannya lantas saat ini ia sedang menelponnya.


"Oh apakah aku mengganggumu?" tanya Axelle yang kaget juga karena Nurul menjawab teleponnya.

__ADS_1


"Sedikit," jawab Nurul berpura-pura ketus. "Ada apa? Merindukanku atau sedang iseng?"


Eh?


Nurul merutuki dirinya sendiri dengan berbicara seperti itu. Batinnya langsung menyalahkan Alvaro, sebab ia merasa sudah tertular sifat Alvaro saat ini.


Axelle terkekeh, "Aku memang lagi merindukanmu. Emm Nurul …."


"Ya?"


"Kalau besok aku datang ke rumahmu dan melamarmu, gimana?"


Pertanyaan Axelle membuat Nurul tersedak ludahnya sendiri. Bagaimana mungkin malam ini ia dilamar dua orang sekaligus.


"Mending kamu tidur, kayaknya kamu udah ngantuk makanya sekarang ngomongnya udah ngelantur," ucap Nurul, tentu saja ia tidak ingin menanggapi ucapan Axelle barusan.


Bukan apa Nurul, kehadiran Alvaro kembali ke kehidupanmu bikin aku cemas dan takut kamu akan kembali dengannya walau aku tahu 99% yakin malah kamu pasti akan balikan dengannya. Tapi salahkah aku berharap? Aku bahkan rela meninggalkan semuanya demi kamu.


Sebenarnya Axelle memang tidak bisa tidur, kehadiran Alvaro juga penentangan keluarganya terhadap hubungannya dengan Nurul yang membuat matanya enggan untuk terpejam.


Jika hanya menentang keluarganya, Axelle bisa. Tapi bersaing dengan Alvaro, ia sangsi. Nampak jelas dari sikap keduanya bahwa cinta mereka masih begitu besar dan tetap mekar walau sudah empat tahun terpisah. Axelle tidak bisa menampik tapi ia tetap menguatkan hati dan mendoktrin dirinya sendiri bahwa ia masih bisa berharap dan masih bisa berjuang.


Dengan membodohi dirinya sendiri, ia mengatakan bahwa ia pasti bisa merebut hati Nurul dari Alvaro tetapi jelas saja ia tahu bahwa itu adalah ketidakmungkinan yang akan selalu ia semogakan.


"Besok ya, aku akan datang. Nggak peduli kamu setuju atau enggak. Selamat tidur Nurul, aku cinta kamu," ucap Axelle, ia memang sengaja tidak ingin mendengar ucapan Nurul lagi, takut di tolak.


Nurul menatap layar ponselnya yang menggelap dengan perasaan dongkol.


.

__ADS_1


.


Suasana ruang makan terlihat begitu ramai dengan kedatangan Alvaro dan Ikram. Mereka sudah siap di ruang makan dan hanya tinggal menunggu kedatangan Nurul dan Aluna saja. Alvaro gugup, ia sebenarnya pagi ini berniat untuk mengatakan siapa sebenarnya diri namun ia menunggu sarapan selesai barulah ia akan jujur. Ia sudah membulatkan tekad, ia akan menceritakan semua dan bertanggungjawab dengan perbuatannya empat tahun yang lalu. Ia tidak bisa pergi sebelum memastikan hubungannya dengan Nurul. Ia tidak mau jika ia pergi dan Axelle malah datang menikungnya. Alvaro tidak mau!


"Selamat pagi kakek, nenek, ayah dan semuanya," sapa Aluna yang sudah cantik dengan rambut di kepang dua oleh Nurul.


Semuanya membalas sapaan Aluna dengan semangat. Alvaro yang kemarin tidak terima ketika Aluna memanggil Danish dengan sebutan ayah kini tidak lagi protes dan bisa menerima. Selama ini anaknya itu hanya mengenal satu pria yaitu Danish dan tidak masalah jika Aluna memanggilnya ayah karena Danish pun adalah pamannya. Hanya saja Alvaro juga ingin disapa oleh Aluna lebih khusus lagi, namun ia sadar sekarang bukan waktunya.


Nurul dan Aluna duduk di kursi yang ada di samping Danish dengan Nurul yang langsung berhadapan dengan Alvaro. Alvaro melempar senyum sedangkan Nurul justru menunduk dan tingkah keduanya itu tak luput dari mata tajam Deen Emrick.


"Nah ini dia, calon nyonya Farezta sudah datang," ledek Danish pada Nurul yang langsung membuat Nurul salah tingkah sedangkan Alvaro langsung gusar.


Danish terkekeh, "Gimana dek, lancar hubungannya sama Axelle. Gimana sama kerja sama kalian? Sukses?" Kembali Danish menambah pertanyaannya. Mati-matian ia menahan tawanya, ia juga senang melihat perubahan raut wajah Nurul yang kini terlihat kesal.


"Bagus ya, tertawa terus Kak. Senang banget ya nipu adiknya sendiri. Aku tuh merasa jadi orang paling dongkol sedunia atas perbuatan kalian berdua. Makasih ya," sindir Nurul, ia bahkan berbicara dengan penuh penekanan.


Danish tertawa keras, ia mengacak rambut Nurul merasa gemas. Nurul menepis tangan kakaknya kemudian mencebikkan bibirnya kesal. Danish tetap saja, ia terus tertawa.


Melihat interaksi manis keduanya membuat Bu Dianti tersenyum manis. Ia tidak paham dengan pembicaraan Nurul dan Danish tapi dari yang ia tangkap barusan, sepertinya Danish telah melakukan sesuatu hingga Nurul kesal seperti itu.


"Danish, Nurul, ini kita sedang sarapan lho. Nggak baik bercanda seperti itu. Tapi sebenarnya ada apa? Kenapa adikmu dibuat kesal begitu?" tanya Bu Dianti.


Nah 'kan gue sehati sama mamah mertua. Thanks udah wakilin aku bertanya mamah mertua.


"Tanyain aja sama kak Danish, ma," jawab Nurul ketus, ia masih kesal.


Danish yang disebut namanya langsung menatap Nurul dengan tatapan meledek, "Jadi sudah sejauh mana hubunganmu dengan tuan Axelle? Rumornya kalian akan melenggang ke pelaminan secepatnya. Apa itu benar?"


Uhuk …

__ADS_1


__ADS_2