
Axelle langsung pasrah begitu Alvaro melihatnya dan memanggilnya untuk duduk bersama. Tidak masalah baginya jika ia menghadapi Nurul dan Alvaro tetapi di sana ada Evelyn, perempuan yang baru saja membuatnya kesal juga geram.
Nurul yang melihat wajah muram Axelle menjadi tidak enak hati. Padahal pria itu sudah melamarnya secara pribadi dan meminta waktu untuk jawabannya. Nurul bukannya ingin mempermainkan hati Axelle, tetapi pria itu sendiri yang ingin maju walaupun ia tahu Nurul hanya cinta Alvaro. Bukan salah Nurul jika Axelle berujung patah hati karena sejak awal Nurul sudah mengatakan bahwa ia dari dulu dan sampai kini masih terjebak di ruang nostalgia.
Axelle pun duduk di samping Alvaro. Ia berhadapan langsung dengan Evelyn yang sedang memangku Aluna. Dalam hati ia mencibir Evelyn karena bertingkah terlalu berlebihan pada Aluna tapi jika Axelle perhatikan lagi Evelyn ini begitu memperhatikan Aluna. Kedua orang tuanya bahkan tidak mendapat kesempatan untuk menyuapi balita itu.
"Kalian dari tadi disini? Alvaro, kamu datang lagi ke kota ini?" tanya Axelle membuka pembicaraan.
"Ya, lu lihat 'kan gue ada disini jadi gue ada disini dong. And for your information, gue datang sama keluarga besar gue buat lamar Aina," ucap Alvaro menohok Axelle.
Bibir Alvaro menyunggingkan senyuman saat melihat wajah terkejut Axelle.
Udah gue bilang lu bakalan patah hati eh lu nggak dengar gue juga. Patah hati 'kan lu, sukuuurr!
Axelle menatap Nurul yang menunduk sedangkan Evelyn yang mendengar ucapan tersebut langsung syok. Ia menatap Nurul dan Alvaro bergantian lalu ia kembali menatap Aluna. Otaknya yang cerdas itu langsung menangkap maksud dari Alvaro.
"Wait bro, lu belum nikah? Atau lu mau nikah lagi?" tanya Evelyn dan pertanyaannya itu langsung membuat wajah Nurul memerah malu.
Alvaro langsung menoyor kepala kakak sepupunya ini. Ia tidak suka saat seseorang membuat Nurul malu seperti itu. Ini sama saja dengan mengungkit aib dan luka lama mereka. Evelyn yang tanggap dengan sikap Alvaro barusan langsung menutup mulutnya.
Wajah tertunduk Nurul membuat Alvaro meradang, harusnya ia tidak perlu berkata demikian kepada Axelle. Niat hati ingin membuat Axelle panas namun yang ada ia justru membuat Nurul malu. Ia mengepalkan tangannya saat melihat wajah Nurul yang merah padam begitu ia menunduk untuk menatap wajah si Ayang.
"Ayang, lu marah sama gue? Atau lu sakit? Ada yang salah? Lu butuh sesuatu? Lu ngomong dong Yang," cecar Alvaro panik.
Nurul tersenyum kecut, "Nggak kok, gue biasa aja," jawab Nurul singkat namun tatapan matanya tidak bisa berbohong dan Alvaro kini merasa frustrasi.
Percakapan dua orang itu tentu tidak lepas dari pandangan mata Axelle dan Evelyn. Keduanya merasa sedang berada di tengah-tengah pasangan suami istri yang sedang bertengkar. Evelyn yang merasa salah bicara walaupun ia sebenarnya tidak salah karena hanya bertanya apa yang ia dengar dari mulut adik sepupunya ini langsung menyibukkan diri dengan Aluna.
Tak sengaja tatapan mata Evelyn bertemu dengan tatapan mata Axelle dan ia langsung memelototkan matanya menatap garang kepada Axelle sedangkan pria itu hanya menatap datar padanya saja. Axelle lebih fokus pada Alvaro yang kini diam-diam ia tertawakan dalam hati.
__ADS_1
Nah nah, makanya kalau punya mulut itu dijaga. Sekarang Nurul ngambek 'kan? Sukuurrr.
Cukup lama mereka terdiam dalam kecanggungan. Alvaro yang tidak bisa diam terus memikirkan cara agar mereka kembali mengobrol santai dan tidak hanya mendengar suara dentingan alat makan Nurul yang kini memilih makan daripada bicara.
"Kalian berdua nggak mesan makanan? Atau mau gue pesanin?" tanya Alvaro yang langsung ditolak oleh keduanya hampir bersamaan.
Evelyn dan Axelle saling menatap lalu keduanya membuang muka bersamaan.
Alvaro hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O kemudian ia ikut makan bersama Nurul. Axelle sibuk dengan ponselnya dan Evelyn terus saja menyuapi Aluna hingga makanannya habis. Sesekali Axelle mencuri pandang pada Evelyn namun wanita itu seolah tahu jika ia sedang diperhatikan dan Axelle buru-buru menatap ponselnya ketika Evelyn mengangkat wajahnya.
Aneh! Gue ngerasa seperti ada yang merhatiin.
Evelyn memiringkan bibirnya kemudian ia kembali pada Aluna. Baginya bocah itu sangat cantik dan ia juga tidak sabar untuk segera memiliki anak setelah menikah. Entah sampai kapan ia berjuang untuk meluluhkan hati pria di hadapannya ini. Evelyn berharap itu tidak akan lama.
Makanan Alvaro dan Nurul sudah habis, begitupun dengan Aluna yang kini sudah sibuk dengan ponsel aunty Evelyn yang sedang mengajak Aluna menonton entah apa. Alvaro dan Nurul hanya bisa menatap wanita cantik itu mendominasi anaknya.
"Kak, lu kok bisa disini? Emang lu nggak ngajar di kampus lagi? Lu 'kan ngajar di universitas di Jakarta," tanya Alvaro.
Evelyn mendesah panjang, "Gue ada kerjaan sedikit disini. Ada kampus yang minta gue buat ngisi kelas sebulan ini. Terus gue juga ada misi datang ke kota ini. Lu tahu, masa papi sama mami jodohin gue sama pria arogan, pemarah dan nggak laku. Gue yang secantik ini dijodohkan, nggak banget deh! Mana calonnya gitu, pingin gue hempas aja ke gurun Sahara. Udah jomblo akut nggak laku-laku, eh sombongnya minta ampun. Pingin gue kasih kopi campur sianida aja," jawab Evelyn dengan mendramatisir ceritanya. Sesekali ia melirik ke arah Axelle yang jelas kini wajahnya terlihat masam dan juga kesal.
Ucapan menohok Evelyn membuat Axelle geram. Ingin rasanya ia membalas ucapan wanita itu yang dengan sengaja menjelek-jelekkan dirinya tepat di depan wajahnya sendiri. Menyatakan ia jomblo akut dan tidak laku sedangkan banyak wanita yang berbaris teratur untuk menjadi kekasihnya. Ia saja yang belum siap membina hubungan dan begitu ia siap justru malah salah mendaratkan hati dan pilihan.
Alvaro tergelak mendengar cerita kakak sepupunya itu. Walaupun mereka cuma beda satu tahun tetapi Evelyn selalu ingin dipanggil kakak. Ia tidak menyangka saja kakaknya yang cantik dan cerdas ini bisa dijodohkan.
"Kak, siapa pria sial yang mau dijodohkan dengan wanita seperti dirimu ini? Sungguh malang nasib pria itu," tanya Alvaro yang langsung digeplak kepalanya oleh Evelyn.
Kini giliran Nurul yang tergelak. Kakak dan adik ini sama saja dan ia ingin menyuarakan bahwa ia juga merasa bernasib malang karena dicintai oleh Alvaro walaupun yang lebih miris adalah ketika Nurul menemukan bahwa dirinya pun sangat mencintai Alvaro si pria tengil, pemaksa dan aneh bin ajaib.
Sedangkan Axelle berteriak dalam hati, "Aku, aku pria sial yang akan dijodohkan dengan perempuan se-cerewet dan se-PD dia. Aku yang akan mengalami nasib sial itu seandainya menikah dengannya. Tapi jelas aku akan menolak. Menikah dengan perempuan dari keturunan Prayoga sepetinya akan membuat hari-hariku menjadi tidak aman karena mereka memiliki lidah yang tidak bisa dikontrol bicaranya, menyebalkan dan membuat pusing kepala. Semoga kita tidak berjodoh Evelyn dan semoga grandma tidak memaksaku lagi.
__ADS_1
"Ya sudah kalau nggak mau sama pria seperti itu, ini di samping gue ada cowok tampan, tajir melintir dan juga butuh calon pendamping," ucap Alvaro seraya menatap Axelle dengan menaikturunkan alisnya.
"Ogah!" ucap Axelle dan Evelyn bersamaan.
Keduanya saling memandang sengit kemudian memalingkan wajah mereka.
Alvaro dan Nurul tergelak, keduanya langsung menolak tanpa tedeng aling-aling.
"Aku juga seperti pernah mengenal sosok seperti yang kak Evelyn ceritain. Ada klienku dulu, orangnya sombong, arogan, congkak, mendominasi dan pemarah. Tidak mau disalahkan dan tidak mau meminta maaf tetapi akan memaksa seseorang untuk meminta maaf jika salah. Mending jangan deh Kak, takutnya kakak cepat tua karena menghadapi orang seperti itu. Aku saja yang cuma membantunya beberapa saat sudah dibuat makan hati. Jangan dijadiin jodoh kecuali kak Evelyn sendiri mau," ucap Nurul, ia kemudian menatap Axelle yang ia yakini sedang menatapnya.
Dan benar saja, Axelle menatap dengan mata membesar kepada Nurul sedangkan yang ditatap hanya menaikturunkan sebelah alisnya. Tak lupa senyuman mengejek diberikan Nurul hingga Axelle benar-benar kesal hari ini.
Wanita yang dijodohkan dengannya sudah membuatnya kesal diawal dan kini wanita yang ia cintai turun menyiramkan bensin. Benar-benar hari yang menyebalkan untuk Axelle.
Namun dalam hati Axelle merasa senang karena Nurul masih mengingat tentang dirinya. Axelle tersenyum tipis, berharap Tuhan akan membolak-balikkan hati Nurul nanti. Masih ada waktu kurang dari tiga bulan untuk kepastiannya dan walaupun keluarga besar Alvaro sudah melamar Nurul, selagi janur kuning belum melengkung Axelle berharap ia masih bisa menikung.
Kalau aku nggak bisa juga sama kamu setidaknya aku bahagia karena pernah jatuh cinta sama wanita setangguh kamu Nurul Aina Emrick.
"Emang ada klien yang kayak gitu Yang?" tanya Alvaro yang sedari tadi dicuek oleh Nurul.
Nurul mengangguk, "Ada," jawab Nurul singkat padat dan jelas.
Alvaro berdecak, "Kayaknya kita harus pulang nih, si Ayang udah mode ngambek susah dibujuk. Lagian kita udah melewatkan waktu janjian di rumah kamu. Bisa-bisa gue nggak dapat restu dari calon papah mertua. Apalagi di calon kakak ipar lucknut itu, dia 'kan paling kontra sama gue. Pulang yuk," ajak Alvaro.
Nah 'kan, dia baru sadar sekarang kalau dia itu udah bikin kesalahan. Ya Tuhan, mengapa Engkau menciptakan hati ini hanya untuk mencintai pria seperti Alvaro Genta Prayoga ini?
...****************...
Terima kasih sudah membaca 😊😊😊
__ADS_1
Kalau sempat mampir ya ke karyaku yang judulnya CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
Terima kasih semua 🤗🤗🤗