
"Sayang, bagaimana kalau kita pergi nyusul bunda sama papi? Aku sebenarnya nggak mau mereka bertengkar, papi juga udah ngaku salah dan belum tentu juga si Jihan itu anak dari kedua papi kita, 'kan? Aku nggak mau kalau nanti papi dan bunda sampai pisah. Walau aku udah gede, udah nikah, tapi tetap aja aku nggak mau kedua orang tua kita pisah," ucap Aluna saat keduanya sudah berada di dalam kamar dan duduk di atas ranjang.
Frey mengusap rambut Aluna yang terurai panjang. Ia masih belum mengeluarkan suara karena saat ini ia merasa bahwa istirnya hanya perlu di dengar saja. Tadi juga Naufal terlihat murung, Frey tahu jika adiknya itu juga memikirkan hal yang sama dengan Aluna walaupun ia bersikap keras kepada papi mereka. Naufal dan Aluna hanya menunjukkan perasaan mereka, rasa tidak terima dengan kebohongan yang papinya lakukan apalagi jika terbukti benar Jihan adalah saudara mereka.
"Tapi aku heran deh, bunda itu 'kan orangnya pemaaf ya, kok papi enggak dimaafin sih? Kayaknya masalah mereka lebih kompleks dari yang aku kira," imbuh Aluna lagi kemudian ia menjatuhkan kepalanya di bahu Frey.
Satu kecupan Frey daratkan di dahi Aluna. Ia mengusap puncak kepala Aluna dengan penuh rasa sayang. "Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, sayang. Kita hanya harus berdoa agar mereka bisa menemukan jalan untuk saling memaafkan dan kembali bersama. Aku juga tidak rela papi sama bunda sampai pisah. Mereka adalah couple goals banget loh," ucap Frey yang diangguki oleh Aluna.
Aluna menjadi begitu sedih padahal tadi ia begitu bersemangat menyerang dan membuat papinya terbungkam. Namun setelah semua terjadi, bundanya pergi dan papinya menyusul, Aluna baru merasa menyesal. Seharusnya ia sebagai anak yang membuat orang tuanya bersatu dan saling berbicara dari hati ke hati, bukan justru jadi kompor meleduk yang membuat hubungan kedua orang tuanya yang tadinya hangat menjadi panas.
Tak ingin melihat istrinya itu bersedih, Frey pun mengajak Aluna untuk berbaring dan ia akan memeluk istrinya itu sampai tertidur. Walaupun malam baru saja datang, tapi Frey mencoba untuk membuat Aluna tertidur agar istrinya bisa lupa sejenak dengan masalah yang baru saja terjadi.
Awalnya Frey hanya memeluk Aluna dan mencium dahinya untuk mengantar tidur sang istri. Tetapi bukan Frey namanya yang ketika sudah menyentuh dan mencium Aluna tapi tidak menginginkan lebih. Aluna hanya bisa pasrah ketika suaminya yang berkata akan membuatnya tidur justru malah menidurinya.
Aluna tidak bisa menolak, ia menyukai setiap perlakuan Frey terhadapnya apalagi ketika Frey memimpin percintaan mereka. Frey terlihat sangat gagah dan tampan saat tengah menguasai tubuhnya. Rasanya semua beban yang ada di pundak Aluna menghilang begitu saja lewat sentuhan Frey yang sudah menjadi candunya.
Sementara itu, Naufal yang juga mencari pelampiasan akan masalah keluarga yang baru saja terjadi pun memilih untuk ikut balapan. Sudah lama sekali semenjak bundanya tahu ia mengikuti balapan Naufal tidak lagi menginjakkan kaki ke tempat ini. Rasanya di tempat ini Naufal bisa melupakan masalahnya sejenak dan ia bisa menenangkan pikirannya lewat hobinya yang bertaruh nyawa di atas aspal.
Gadis yang memegang bendera sebelum balapan dimulai itu nampak menatap Naufal dengan lekat. Merasa risih ditatap oleh gadis tersebut, Naufal pun mengalihkan pandangannya dan ia lebih memilih menatap lurus ke depan. Wajah gadis itu memang cantik tapi Gea jauh lebih cantik.
'Tch, mengapa justru membandingkan dengan gadis songong itu sih? Harusnya gue bandingin sama Ziya. Dasar otak, kebanyakan masalah jadinya blank!'
Naufal merutuki dirinya yang justru mengingat Gea bukannya Ziya yang ia cintai sejak masih kanak-kanak.
Balapan pun dimulai, Naufal seperti kesetanan melakukan motornya dan ketika ia sudah meninggalkan dua lawannya beberapa meter di belakangnya, Naufal pun melambatkan kecepatan motornya. Ia ingin menikmati malam ini sambil melepas segala beban pikirannya. Berharap setelah ia melepaskan beban ini hati dan juga pikirannya akan teras lega.
Motor di belakang Naufal semakin mendekat, ia pun kembali melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga akhirnya ia memenangkan balapannya.
Gadis yang tadi memegang bendera itu mendekati Naufal dan memberikan hadiah balapan tersebut. Ia memasang senyuman semanis mungkin di hadapan Naufal yang begitu kaku.
"Selamat ya. Oh ya, gue nggak pernah loh lihat lu balapan di sini. Anak baru ya?" tanya gadis itu berbasa-basi.
__ADS_1
Naufal hanya menatap sekilas kemudian ia hendak pergi tetapi tangannya dicegat oleh gadis itu.
"Jihan, nama gue Jihan tapi lu bisa mangg gue Jia," ucapnya seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Naufal.
Naufal menatap tangan yang terulur tersebut dengan malas. Kemudian ia meninggalkan Jihan sendiri di tempat itu. Jihan hanya bisa menatap pria tampan itu menjauh dari jarak pandangnya.
'Dia adalah salah satunya. Sangat tampan tapi sayang masuk dalam daftarku dan juga adikku. Keluarga itu memang tidak boleh bahagia di atas penderitaan gue dan ibu. Gue harus bisa berhasil membuat mereka hancur dan gue yang akan memenangkan semuanya dan merebut segalanya dari mereka.'
Tatapan Jihan kemudian melembut ketika dia didatangi oleh beberapa pembalap yang juga tadi ikut balapan namun sayang mereka kalah. Dia memperlihatkan wajah teduhnya dan juga keramahannya kepada para pria ini untuk bisa menggali informasi tentang Naufal.
"Apakah kalian mengenal cowok tadi yang memenangkan balapan? Gue baru lihat orangnya," tanya Jihan.
"Oh, dia Naufal. Dia memang sering balapan dengan kita-kita dan selalu keluar jadi juaranya. Hanya saja beberapa waktu ini dia memang sudah jarang ikutan dan kita juga tadi kaget begitu dia datang. Udah lama banget soalnya," jawab salah satu dari mereka.
Jihan mengangguk-anggukkan kepalanya, satu informasi tentang Naufal berhasil ia dapatkan. Selanjutnya ia akan mengumpulkan banyak informasi lagi dan akan menyerang anak termuda dari keluarga Prayoga. Setelah itu ia akan menyerang Aluna meskipun ia tak akan sangat sulit karena ada Frey yang menjaganya.
'Kata ibu, selagi gue mau berusaha gue pasti bisa mendapatkan apa yang gue inginkan. Jadi gue bakalan berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Menghancurkan rumah tangga orang tidak masalah. Gue harus egois, gue sama ibu sudah hidup dalam keadaan susah tanpa ayah di samping gue, jadi saatnya merebut apa yang harusnya gue punya sejak dulu. Sebab, sebelum ada mereka gue sudah ada lebih dulu, walaupun tidak diinginkan oleh ayah.'
Ia tahu Alvaro begitu perhatian dan penuh kasih sayang walaupun wajahnya terlihat begitu tegas dan dingin, tapi malam itu ketika ia memintanya untuk datang. Alvaro menemaninya bahkan mengesampingkan istrinya dan berpura-pura sedang bersama dengan teman-temannya hanya untuk menjaganya yang sebenarnya berpura-pura takut sendiri rumah.
'Nggak sia-sia gue nyuruh Mbak Yolan pulang kampung. Gue nggak punya sindrom pareidolia itu. Gue hanya mau ayah berada di dekat gue dan menjadi milikku seutuhnya. Mereka udah menikmati waktu bersama ayah gue bertahun-tahun, sekarang giliran gue karena gue adalah anak tertua dari tuan Alvaro Genta Prayoga.'
.....
Reyhan mengerang penuh kenikmatan setelah ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Walaupun ia kaget karena ternyata Jessica masih tersegel, tapi itu tidak menjadi masalah dan tidak ada rasa sesal yang tertinggal di dalam hatinya karena Jessica sendiri adalah wanita yang akan menjadi bibit pelakor dalam rumah tangga adiknya. Belum lagi tentang Jessica yang dulu pernah mengkhianatinya, rasanya Reyhan sangat puas setelah merusak wanita ini.
Reyhan pun turun dari tubuh Jessica yang kini dipenuhi tanda merah hasil kreasinya. Ia tidak peduli dengan tatapan membunuh Jessica, ia tersenyum mengejek pada wanita yang berhasil ia perawani itu.
"Setelah ini, jangan mimpi bisa merebut Frey dari Aluna. Kau sudah tidak memiliki apapun untuk dibanggakan," ucap Reyhan kemudian ia meninggalkan Jessica yang sedang terdiam.
Jessica meremas kuat selimut yang menutupi tubuhnya. Tidak ada air mata di sana karena tadi sebelum Reyhan berhasil mengungkunginya, ia sudah banyak menangis bahkan ia sama sekali tidak menikmati permainan ranjang tersebut karena Reyhan berlaku sangat kasar padanya bahkan Reyhan bisa dikatakan menyiksa dirinya.
__ADS_1
"Reyhann ...! Aku akan membunuhmu setelah ini. Aku membencimu!" teriak Jessica dengan penuh amarah.
Reyhan yang berada di dalam kamar mandi hanya menyeringai, ia benar-benar puas setelah berhasil menghancurkan hidup Jessica.
"Ini baru permulaan sayang, setelah ini bisnismu yang akan aku buat hancur lalu kau tidak akan memiliki pegangan dan akan kujadikan budak seumur hidup. Bersiaplah masuk ke dalam neraka duniamu, Jessica. Ini adalah akibat dari dulu kau menipuku, mengkhinatiku dan kau juga berniat menghancurkan rumah tangga adikku. Wanita iblis sepertimu memang pantas mendapatkannya," gumam Reyhan dengan tangan terkepal.
Reyhan menggosok dengan kuat tubuhnya, ia merasa jijik setelah menyetubuhi Jessica walaupun tadi ia menikmatinya. Lebih menikmati ketika ia menyiksa Jessica dengan hentakannya yang begitu kuat dan ia tidak peduli ketika Jessica kesakitan saat ia menerobos masuk.
Jessica merintih kesakitan ketika ia mencoba untuk turun dari tempat tidur. Tepat ketika ia jatuh di lantai, Reyhan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawahnya. Tetes-tetes air yang jatuh dari rambutnya dan mengalir di perutnya membuat pria itu terlihat tampan. Namun sayang, ia hanya melihat saja Jessica terjatuh tanpa berniat menolongnya.
"Jangan harap bisa pergi dari sini. Hidupmu mulai sekarang berada di tanganku Jessica. Kau pikir aku bodoh membiarkanmu pergi lalu kau akan datang pada Aluna dan Frey, jangan mimpi! Jika pun bukan adikku, kau pasti akan mencari mangsa lainnya. Dan kau pikir, siapa yang akan mau denganmu wanita tidak ... emm virgin lagi."
Ucapan Reyhan tersebut membuat Jessica geram dan sangat menohoknya. Seolah mendapat banyak kekuatan, ia bangkit dan menyerang Reyhan. Pria itu diam saja karena serangan Jessica tidak berarti apapun padanya. Jessica bahkan tidak peduli tubuhnya yang polos itu terpampang di hadapan Reyhan. Ia hanya ingin menghabisi pria ini, itu saja.
"Tenagamu tidak akan cukup kuat untuk membunuhku. Belajar bela diri dulu baru hadapi aku. Oh ya, sekarang sebaiknya kau beristirahat karena klien keduamu akan datang untuk melihatmu. Jangan membuatku kecewa dan kehilangan uang banyak karena performamu yang tidak memuaskan. Tadi aku sudah mengajarimu bagaimana bermain di ranjang, bukan?"
Jessica tersentak kaget. Ia paham apa maksud dari Reyhan tersebut. Jika saja Reyhan benar melakukan ini, Jessica lebih baik mati.
'Aku tidak menyangka masuk ke dalam kehidupan Frey akan membuatku jadi seperti ini. Aku menyesal, aku menyesal pernah punya niat buruk dan akhirnya niat itu berbalik padaku. Ya Tuhan ... tolong selamatkan aku. Aku tidak ingin menjadi wanita ja-lang. Aku janji akan berhenti mengusik kehidupan Frey. Kumohon Tuhan, selamatkan aku ....'
.....
Bughhhhh ....
Alvaro tersungkur begitu bogeman mentah Danish mendarat di wajah tampannya. Ia merasa deja vu dengan kejadian ini tetapi sekarang usainya sudah tidak muda lagi walaupun ia bisa menghadapi Danish. Kali ini ia datang dengan membawa kesalahannya lagi dan berharap Nurul akan kembali pulang bersamanya dan mau memaafkannya.
"Nurul akan tetap di sini sampai lu bisa nentuin pilihan. Dia mungkin anak lu, tapi lu harus ingat kalau lu juga punya istri dan anak lainnya. Keputusan ada di tangan Nurul, tapi kalau menurut kakak sebaiknya kamu tinggal di sini saja, Dek. Jangan mau dibujuk rayu sama pria buaya ini," ujar Danis dengan dada kembang-kempis setelah ia melampiaskan amarahnya.
"Aina, sayang, jangan dengarkan kata kakak ipar lucknut ini. Ayo sayang, pulang sama aku. Jika tidak pulang, biarkan aku nginap di sini sama kamu," pinta Alvaro dengan wajah mengiba.
"Ya sudah, menginap lah di sini. Kamar tamu kebetulan kosong," ucap Nurul kemudian ia melangkah masuk meninggalkan Alvaro dan keluarganya di ruang tamu.
__ADS_1
"Ayang ...," lirih Alvaro menatap penuh harap pada punggung Nurul yang semakin menjauh.