
Wajah Frey langsung tegang begitu istrinya menanyakan siapa Jessica. Ia merutuki dirinya sendiri yang kecoplosan menyebut nama kliennya yang ia ketahui sempat curi-curi pandang padanya tadi. Tak seperti biasanya Frey akan langsung menjawab, kali ini ia terdiam entah harus menjawab dengan kata apa.
Hal ini membuat Aluna semakin penasaran dan juga memendam rasa kesal. Setelah sekian abad bersama, ini pertama kalinya Frey menyebutkan nama wanita lain di antara mereka. Siapa yang tidak akan kesal dan siapa yang tidak akan cemburu, jika suami yang selama ini ia percaya hanya menyebutkan satu nama saja yaitu dirinya, kini mendadak menyebutkan nama wanita lain dalam perbincangan mereka.
Karena tak ada jawaban dari Frey, Aluna pun merasa sedih. Perlahan tapi pasti Frey mendengar suara isak tangis dari istrinya tersebut. Ia lupa wanita hamil sangat sensitif dan pasti saat ini Aluna tengah bersedih karena dirinya yang menggantung ucapannya.
"Sayang hey, nggak seperti yang kamu pikirin kok. Jessica itu siapa sih, nggak ada, bukan siapa-siapa, hanya klien baru saja," ucap Frey kemudian ia membawa Aluna ke dalam pelukannya.
Semakin dipeluk erat oleh Frey semakin pula bertambah kencang tangis Aluna. Frey membujuk istrinya agar tidak semakin larut dalam tangis karena ia khawatir akan didengar oleh keluarga mereka yang sedang berkumpul di rumah ini, bisa-bisa ia akan menjadi sasaran amukan dari para Paman Aluna.
Tak ada isakan lagi dari Aluna, ia membiarkan air matanya jatuh tumpah dan mulai meredakan suara tangisnya. Bukan berarti ia berhenti menangis, hanya saja ia tidak mengeluarkan suara akan tetapi air matanya mengalir dengan deras.
Frey awalnya merasa lega karena Aluna berhenti menangis, namun justru kini istrinya itu melepaskan pelukan darinya dan berlari ke arah tempat tidur. Aluna langsung masuk ke dalam selimut tanpa peduli Frey yang saat ini tengah membujuknya dan memintanya untuk berbicara.
Frey mengepalkan tangannya, ia sangat marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol ucapannya. Tidak pernah sebelumnya Aluna sesedih ini selama hidup dengannya, mungkin pernah karena kata-katanya tetapi bukan karena wanita lain.
"Sayang nggak gitu. Aku sama sekali nggak ada hubungan apa-apa sama dia, murni sebagai rekan bisnis. Lagi pula dia itu tidak secantik dirimu dan yang pasti dia lebih tua dari kita. Jangan pernah merasa cemburu atau insecure dengan wanita manapun karena sejak kita bersama di masa kecil dulu, kamu sudah menggenggam hatiku," ucap Frey berusaha untuk membujuk Aluna, bukan bualan, itu memang perasaan Frey yang sesungguhnya.
__ADS_1
Aluna menghentikan deras air mata yang mengalir di pipinya. Ia kemudian membuka selimut dan menatap Frey. Hati Frey terasa hancur melihat wajah sembab sang istri.
"Aku percaya kamu, tapi aku nggak percaya wanita di luar sana kecuali Ziya sama Riani. Buktinya aja Cici sahabat aku, dia juga pengen nikung, 'kan? Kamu itu sangat tampan, Frey. Aku yang secantik ini aja insecure jika ada wanita lain di luar sana. Apalagi wanita itu lebih dewasa, kamu mungkin akan tertarik," ucap Aluna dengan suara yang terdengar lirih.
Memang benar, Aluna percaya Frey akan setia padanya. Tapi ia tidak yakin dengan wanita di luar sana yang mungkin saja sangat menginginkan suaminya ini. Tampan, mapan dan kaya raya, tidak ada cacatnya sama sekali. Selain itu Frey masih sangat muda dan otaknya sangat cerdas. Buktinya dia bisa membuka beberapa cabang kafe dalam waktu singkat dan langsung ramai pengunjung.
"Sayang nggak gitu. Aku pasti akan selalu menjaga hatiku buat kamu. Kita udah lama bersama dan cinta aku ke kamu itu makin hari makin bertumbuh, apalagi sebentar lagi kita bakalan punya anak, hasil dari cinta kita berdua. Nggak akan aku khianati kamu. Mungkin memang di luar sana ada banyak ujian dan godaan, tapi percayalah kalau aku hanya menginginkan nyonya Griffin saja seumur hidupku," ucap Frey dengan menatap mata Aluna lekat.
Aluna mengangkat kedua tangannya ke arah Frey, dengan cepat Frey menyambutnya karena ia paham istrinya itu saat ini ingin di peluk. Keduanya pun saling berpelukan erat dan entah siapa yang memulai lebih dulu, keduanya pun kini sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh keduanya.
Hanya ada suara-suara nyanyian pengantar tidur yang merdu di telinga keduanya tapi tidak di telinga orang yang baru saja akan mengetuk pintu kamar Aluna. Cowok remaja itu memundurkan langkahnya dan ia segera kembali ke ruang keluarga.
Ray menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, Mom," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
Evelyn memicingkan matanya. Anaknya itu tidak pandai berbohong karena hanya dirinya yang ahli dalam hal itu. Ray yang benar-benar menurunkan sifat Axelle itu membuat Evelyn gemas. Ia pun menyuruh anaknya untuk duduk bersama karena sudah waktunya makan malam.
"Bukannya kak Luna sedari tadi di kamar ya?" tanya Clarinta.
__ADS_1
Ray mengangkat wajahnya dan menatap aunty-nya tersebut. Tak ada jawaban yang diberikan oleh Ray sehingga Clarinta merasa kesal sebab keponakannya yang satu itu benar-benar menurunkan sifat menyebalkan kakaknya —Daniyal Axelle Farezta.
"Nggak usah ditanyain, dari gelagat Ray juga udah ketahuan kalau dua pasangan mesum itu lagi ehem ehem," ucap Naufal bagaikan bisa membaca pemikiran Ray.
Spontan saja semua menatap ke arah Naufal yang dengan santainya memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Lalu mereka menatap Ray dan yang ditatap jadi salah tingkah. Mau tidak mau Ray menganggukkan kepalanya.
Alvaro dan Nurul hanya bisa menghela napas dengan kelakuan anak mereka itu. Sedikit rasa geram karena Alvaro yakin sifat mesum Frey turun dari Kriss Griffin, ia tidak ingin anaknya itu terus disiksa kenikmatan oleh Frey.
Melihat gelagat Alvaro, Nurul segera menggenggam tangan suaminya itu. Alvaro pun menatap Nurul yang sedang menatapnya dengan penuh arti. Ia tahu istrinya itu sedang menahannya.
"Kamu yang memintanya, sayang. Aku selalu suka setiap kamu menahan langkahku karena itu artinya kita akan menghabiskan malam bersama dengan penuh cinta," bisik Alvaro namun suaranya masih bisa di dengar oleh Danish yang duduk di sampingnya.
"Ya ampun Dek, jangan bilang sampai setua ini dan akan segera punya cucu, tingkat kemesuman suamimu ini tidak berkurang," tegur Danish yang membuat Nurul tersedak ludahnya sendiri.
Alvaro menatap Danish kemudian ia tersenyum mengejek. "Iri bilang bos!"
Danish rasanya ingin melempar garpu yang ada di tangannya. Keduanya memang jarang akur tetapi tetap saling peduli dan melindungi satu sama lain.
__ADS_1
"Alvaro, Danish, sepertinya memang papa salah menikahkan kalian dulu. Harusnya bukan Nurul yang nikah sama Varo, tapi kamu!" tegur Deen Emrick hingga membuat dua pria yang selalu asyik berdebat itu terdiam sedangkan yang lainnya menahan tawa kecuali Clarinta yang sudah tertawa terbahak-bahak.
"Nah, papa benar sekali," ucapnya yang memang selalu kompak dengan kedua mertuanya dibandingkan Danish.