
"Maaf Bu, tapi kartu namanya sudah Dessy buang. 'Kan waktu itu ibu pesan untuk tidak memberitahu mereka. Jadi Dessy tidak menyimpan lagi. Emangnya kenapa Bu? Ada masalah sama Nurul?"
Ucapan Dessy barusan membuat Bu Uswa kehilangan tenaganya. Hancur sudah harapannya untuk menyatukan Nurul dengan lelaki yang sudah menghamilinya dan ia ketahui kalau Nurul mempunyai cinta untuk lelaki itu.
Ini semua salah ibu. Maafin ibu Nurul.
"Enggak. Ibu pikir kamu menyimpannya. Ibu cuma ingin memastikan saja. Jangan sampai anak itu datang lagi. Jika dia datang langsung hubungi ibu," kilah Bu Uswa.
Setelah panggilannya berakhir, Bu Uswa masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di atas tempat tidur dan mulai menangis. Ia menyalahkan dirinya karena terlambat menyadari jika Nurul pastilah membutuhkan lelaki itu. Ia yang terlanjur egois tapi ia bisa apa.
Hari terus berganti dan kehidupan terus berjalan. Semakin bergantinya waktu semakin bertambah pula usia kandungan Nurul. Kini perutnya sudah semakin membuncit karena usia kandungannya sudah memasuki dua puluh delapan Minggu atau tujuh bulan.
Selama ini ia tidak pernah mengeluhkan apapun apalagi keluarga Emrick selalu mendukungnya. Danish selalu membantu Nurul untuk pergi ke dokter memeriksa kandungannya, Bu Dianti yang selalu memperhatikan asupan makanan Nurul serta pak Deen yang siap membantu mengurus kelahiran dan juga data diri anak Nurul ketika lahir nanti.
Danish menerima jika ia dikatakan sebagai ayah dari anak tersebut karena perasaannya mengatakan ia begitu menyayangi bayi di dalam perut Nurul. Ia selalu mengantar Nurul untuk periksa tetapi tidak berani masuk ke dalam ruangan karena dokter yang menangani Nurul adalah kenalannya. Tidak mungkin ia berbohong bernama Alvaro sedangkan dokter Aleesha tahu betul dia adalah seorang Danish Ganendra Emrick.
"Jangan terlalu lelah, nanti kamu dan bayimu kenapa-napa," tegur Bu Dianti saat Nurul tengah mengurus beberapa pakaian yang baru datang ke butik.
Nurul menghela napas, ia hanya mau membantu dan Bu Dianti selalu melarang ini dan itu padahal pekerjaannya memang seperti ini. Ia tidak ingin makan gaji buta dan membuat karyawan yang lainnya cemburu padanya.
"Hanya pekerjaan ini saja Bu," sahut Nurul malas berdebat.
Bu Dianti ingin kembali menegur namun Nurul sudah lebih dulu menggelengkan kepalanya. "Bu, jangan bedain Nurul dengan karyawan yang lain. Nurul nggak mau mereka cemburu dengan sikap ibu. Biarkan Nurul bekerja dan melakukan apa yang sudah seharusnya Nurul lakukan. Aku tidak ingin makan gaji buta, Bu. Aku juga harus mempersiapkan banyak kebutuhan calon bayiku. Jadi aku harus semangat kerja biar bisa dapat gaji dan bonus kalau ada," ucap Nurul menegaskan. Ia berbicara dengan penuh sopan santun agar Bu Dianti tidak tersinggung.
Mendengar keinginan Nurul tersebut, Bu Dianti hanya bisa tersenyum walau dalam hatinya ia ingin sekali memuji Nurul. Padahal dirinya sudah memberikan keringanan tetapi wanita hamil ini tidak mengambil kesempatan untuk bersenang-senang. Ia suka karyawan yang tidak memanfaatkan kedekatan atau hubungan kekerabatan dalam pekerjaan.
Bekerja ya kerja, urusan pertemanan atau kekerabatan akan dijalin di luar pekerjaan.
"Ya sudah, ibu mau masuk ke dalam ruangan dulu. Nanti jam makan siang kita makan bersama papanya Danish," ucap Bu Dianti.
__ADS_1
Nurul kembali menggeleng pelan, "Maaf Bu, Nurul sudah janji mau makan siang di panti hari ini. Maaf ya Bu," ucap Nurul.
Bu Dianti menghela napas, "Ya sudah. Besok saja. Kau juga sudah lama tidak mengunjungi mereka. Jangan lupakan mereka jika kelak kau sukses, Nak. Dan jangan lupakan ibumu ini jika setelah ini kau bekerja di kantor Deen Emrick," ucapnya dengan wajah sendu.
Nurul tidak tahu hendak terharu atau tertawa konyol. Memang benar setelah ia melahirkan dan mengambil ijazahnya di kampus nanti, maka ia akan bergabung di kantor pengacara milik Deen Emrick.
Padahal Nurul hanya pindah pada kantor suaminya tapi Bu Dianti berpesan agar tidak melupakannya. Sungguh lucu buat Nurul karena baik bekerja untuk Bu Dianti atau pak Deen, mereka akan terus bertemu karena Bu Dianti lebih sering berkunjung ke kantor pak Deen daripada mengurus butiknya.
"Pasti Bu. Nurul nggak akan lupain kalian semua. Apalagi ibu, Nurul jamin nggak bakalan lupa soalnya pasti bakalan ketemu terus tiap hari. Nanti juga kalau udah lahiran bakalan balik lagi ke panti," ujar Nurul yang mendapat balasan tawa dari Bu Dianti.
"Kau ini, bercandalah sedikit denganku. Pura-pura terharu pun tidak masalah," kekehnya.
Nurul ikut larut dalam candaan tersebut. Ia selalu suka melihat Bu Dianti tertawa. Hatinya terasa menghangat apalagi setiap kali Bu Dianti memberikannya perhatian kecil ataupun memeluknya, ia begitu nyaman dan tenang.
Nurul langsung memeluk Bu Dianti, ia kemudian menyuruh wanita paruh baya itu untuk bersiap karena sebentar lagi pasti pak Deen akan datang menjemput dan mereka seperti biasa akan makan siang bersama.
Setelah Bu Dianti pergi, Leli datang menghampiri Nurul yang sedang menggantung beberapa pakaian baru.
Hal biasa. Sudah jadi hal biasa bagi Nurul mendengar ucapan-ucapan penuh sindiran dari Leli rekan kerjanya. Dan apakah Bu Dianti tahu, maka jawabannya tidak karena Nurul tidak pernah memberitahu dan karyawan lain juga tidak mau ikut campur.
Leli merupakan karyawan yang sebaya dengan Nurul dan gadis itu cukup cantik juga ia sudah lama memendam rasa pada Danish hanya saja Danish tidak pernah melihatnya sedikitpun. Ia marah dan iri pada Nurul yang sedang membawa aib di perutnya justru yang mendapat perhatian dari keluarga Emrick.
Nurul tersenyum miring, "Kamu mau tahu aku pakai pelet apa?" tanya Nurul dengan raut wajah terlihat gembira.
"Tentu saja. Oh jadi benar kamu memakai pelet. Pantas saja mereka menyukaimu. Dasar wanita murahan," umpat Leli.
Nurul hanya terkekeh mendengarnya. Ia sudah berlatih menebalkan telinganya dan mengecat dinding hatinya dengan cat terbaik agar tidak bocor hanya karena mendengar ucapan yang menyakitkan hati. Ia sadar dirinya memang salah dalam keadaan ini, tapi ia juga tidak mau siapapun datang menghakimi dirinya yang mereka sama sekali tidak tahu bagaimana nasib Nurul dan bagaimana bisa ia sampai mengandung.
Melihat Nurul menertawakan dirinya membuat Leli semakin geram. Ia tidak suka pada Nurul yang selalu percaya diri padahal bukti nyata jika dirinya perempuan tidak benar sudah terpampang nyata.
__ADS_1
"Dasar tidak punya malu! Masih berani tertawa kamu ya," bentak Leli, ia hendak menampar Nurul namun dengan cepat Rini menangkap tangan Leli.
"Jangan main tangan. Urus urusanmu saja, jangan campuri hidup orang lain. Selama ini Nurul tidak pernah melawanmu atau melaporkanmu dan meminta kami untuk tidak melaporkan pada Bu Dianti. Tapi kalau kamu masih berani lagi, aku yang akan melapor," ancam Rini.
Rini menghempaskan tangan Leli dengan kasar. Wanita yang mempunyai satu orang anak itu memang sudah lama tidak suka pada Leli yang sikapnya semena-mena padahal mereka sama-sama karyawan biasa. Ia tidak pernah membela Nurul dan jarang berkomunikasi dengannya. Namun bukan ia tutup mata dengan perlakuan Leli selama ini. Ia juga bisa melihat Nurul selalu bisa mengatasinya, maka ia dan Pipit tidak mau ikut campur.
"Apaan sih kamu Rin. Kamu dengar sendiri 'kan kalau dia itu makai pelet. Apa kamu juga mau kena pelet sama dia?" hardik Leli.
"Oh halloo Leli, mana ada orang make pelet dia ngumbar-umbar ke orang lain. Kamu aja yang kelewat bodoh atau karena rasa iri kamu jadi kamu nggak bisa mikir. Kalau kamu mau aku juga punya ilmu santet. Aku pernah nyantet para netizen yang suka nyinyirin orang lain. Kamu mau mencobanya? Nggak akan sakit kok, paling langsung dijemput malaikat maut. Mau kamu?"
Leli membelalakkan matanya, ia bukan percaya dengan omongan Rini melainkan tak habis pikir wanita itu membela Nurul sampai segitunya. Leli menghentakkan kakinya kemudian ia berlalu dari hadapan Nurul dengan memberikan sebuah tatapan sengit pada Nurul.
Rini menatap Nurul yang terlihat tersenyum penuh arti padanya. Ia sangat suka perangai Rini. Membuatnya teringat akan Flora. Ah, Flora. Bagaimana kabar sahabatnya itu, ia tidak tahu karena Nurul menutup akses pada semua orang yang bisa berhubungan atau berada di sekitar Alvaro. Walaupun ia yakin Alvaro tidak mencarinya, tetapi Nurul hanya waspada.
"Lain kali kamu tampar aja mulut lemesnya itu," ucap Rini.
Nurul tersenyum, "Nggak usah Rin. Lagian nanti juga capek sendiri. Mending tanganku aku gunain buat nutup telinga aku. Aku cuma punya dua tangan yang nggak bisa membungkam mulut banyak orang. Tapi aku punya dua telinga yang bisa kututup dengan tanganku ini," ucap Nurul dan Rini langsung memberikan dua jempol untuk Nurul.
Tiba-tiba Nurul merasa perutnya sakit dan rasanya semakin bertambah. Peluh membasahi pelipisnya, bahkan keningnya berkerut karena menahan sakit. Rini yang berada di dekatnya langsung panik karena Nurul kini sudah terlihat pucat.
"Apa kau akan segera melahirkan? Ayo aku akan bawa ke rumah sakit," ucap Rini dalam kepanikan.
Nurul mengibaskan tangannya, "Nggak mungkin. Belum waktunya karena usia kandunganku baru tujuh bulan," ucap Nurul.
Nurul merasakan dingin di bagian paha hingga betisnya. Ia tidak berani menengok ketika Rini memekik kuat.
"Ya ampun Nurul, kamu pendarahan. Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Aku akan mengantarmu naik taksi," ajak Rini sambil menuntun Nurul berjalan perlahan. "Pipit cepat ke ruangan Bu Dianti dan katakan aku membawa Nurul ke rumah sakit," teriak Rini dan Pipit pun segera berlari.
Sampai di depan butik, kebetulan pak Emrick dan Danish baru saja sampai. Melihat Nurul yang kesakitan langsung membuat Danish sigap. Ia segera menggendong Nurul dan membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
"Pa, tolong menyusul nanti dan tolong bawa mama juga. Bisa jadi Nurul membutuhkan darah kalian. Cepat, Danissa sepertinya akan melahirkan," teriak Danish sebelum menutup pintu mobilnya.
"Danissa?"