GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
180


__ADS_3

Mata Cici melotot ke arah Aluna, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Selama ini ia merasa menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa padahal sudah hampir enam tahun ia bersahabat dengan Aluna dan sering keluar masuk di rumah sahabatnya itu namun tidak tahu apapun juga tentang Frey dan Aluna.


"Na, lu nggak bercanda 'kan? Lu dan Frey ...."


Aluna tertawa, "Ya gue bercanda lah. Gue sama dia itu saudara. Dan tentang lu lihat gue sama Frey ciuman, itu karena Frey kesal sama gue. Gue juga nggak nyangka dia sampai nyium gue kayak tadi," cerita Aluna.


Gue nggak mau lagi ngaku-ngaku sebagai calon istrinya Frey sedangkan dia saja nggak pernah menganggap gue kayak gitu.


Cici tidak langsung percaya, ia lebih yakin pada cerita Aluna diawal. Ia terus mendesak sahabatnya itu untuk bercerita dengan terus menyanggah dan menekan setiap jawaban yang diberikan Aluna. Namun hasilnya tetap sama, Aluna menegaskan jika ia dan Frey sama sekali tidak memiliki hubungan apapun juga selain saudara.


"Luna, gue nggak percaya. Alasan lu nggak masuk akal. Kenapa coba lu berani ngatain Frey itu penyuka sesama jenis? Wajah ganteng gitu, ya kali!" ucap Cici tak percaya.


Aluna memang mengatakan jika ia mengejek Frey sebagai penyuka sesama jenis karena selama ini tidak pernah terlihat memiliki pacar dan juga menolak seorang Riani yang sangat cantik walaupun tidak pintar, sehingga Frey kesal dan langsung menciumnya.


"Sekarang lu mikir deh, kalau seandainya gue itu ada hubungan spesial sama Frey, kenapa coba gue masih suka ngejahilin cowok-cowok tampan? Kenapa gue sama Frey nggak terlihat kayak orang pacaran dan kenapa gue nggak pernah marah sama Riani yang selalu ngejar-ngejar Frey? Nah sekarang lu pikir aja sendiri, gue mau masuk ke perpustakaan," ucap Aluna bergegas meninggalkan Cici dengan harapan sahabatnya itu bisa percaya pada apa yang ia katakan.


Cici hanya bisa menatap punggung Aluna yang sudah menjauh dan berbelok masuk ke dalam perpustakaan. Ia masih berdiri sambil memikirkan perkataan Aluna dan akhirnya Cici membenarkan juga pernyataan Aluna karena memang ia sendiri menjadi saksi bagaimana Aluna dekat dengan beberapa pria dan jika memang Frey adalah kekasih Aluna, maka sudah pasti Frey akan marah.


Akan tetapi justru selama ini Frey sama sekali tidak mempedulikan dan hanya kadang membantu Aluna jika sedang kesulitan menghadapi para korbannya yang menggila dan itu bagi Cici lebih terlihat sebagai bentuk seorang saudara yang melindungi saudaranya.


"Mungkin gue emang terlalu berpikiran berlebihan. Gue sempat mengira Aluna dan Frey itu bukan saudara dan nantinya nikah kayak di novel-novel yang gue baca. Hadeeh ... mikir apa sih gue," ucap Cici kemudian ia bergegas menyusul Aluna ke perpustakaan.


Sesampainya Aluna di perpustakaan, ia melihat di bagian sudut ada Frey yang sudah serius membaca sedangkan di depannya ada Riani yang sangat serius menatap Frey sambil bertopang dagu. Kesal, tentu saja. Akan tetapi Aluna harus kembali sadar diri jika Frey sama sekali tidak menginginkan dirinya.

__ADS_1


Sabar Luna, semua akan indah pada waktunya. Akan selalu ada pelangi setelah hujan. Akan selalu ada obat dari setiap penyakit. Langit tidak selamanya gelap dan malam akan tetap berganti siang. Mungkin cinta gue ke Frey emang kayak malam dan siang yang nggak bakalan pernah bertemu. Gue harus sadar diri.


Setelah menenangkan hatinya, Aluna bergegas menuju ke rak buku dan mengambil buku yang akan ia gunakan sebagai referensi untuk mengerjakan tugas. Cici sudah datang menyusulnya dan keduanya sepakat untuk menyelesaikan tugas bersama.


Beberapa saat berlalu, bel istirahat pun berbunyi dan Aluna bersama Cici yang sudah menyelesaikan tugas mereka bergegas ke kantin begitupun dengan teman-teman sekelas mereka. Aluna sama sekali tidak melihat keberadaan Frey sedangkan Riani masih asyik menyalin tugas milik teman yang lainnya.


"Gue ke toilet dulu. Lu langsung ke kantin dan pesanin gue makanan," ucap Aluna dan Cici hanya memutar bola matanya jengah.


.


.


"Kyaa!!" Aluna memekik begitu seseorang membekap mulutnya saat ia keluar dari toilet dan membawanya ke belakang sekolah yang sepi dimana ada banyak pohon-pohon rindang yang membuat tempat itu terasa sejuk.


"Aluna, sakit tahu nggak! Kenapa tangan gue digigit?!"


"Frey!"


Aluna kembali kesal karena lagi dan lagi Frey membawanya seolah akan menculiknya. Ia sudah takut setengah mati akan tetapi ternyata justru orang yang membawanya adalah orang yang tidak ingin ia temui.


Gadis cantik itu mendengus, ia kemudian hendak pergi dan Frey justru menarik tangannya hingga Aluna tertarik dan menabrak dada bidang Frey. Aroma maskulin dari pria itu sesaat membius Aluna.


"Maaf," lirih Frey sambil memeluk Aluna.

__ADS_1


Maaf? Frey minta maaf? Tentang apa?


"Maaf atas semua sikap gue sama lu. Jadi sekarang lu udah nggak mau lagi lihat gue? Ya udah nggak apa-apa, asal lu tetap baik-baik aja. Gue nggak mau kalau lu sampai kenapa-napa. Kalau ada yang nyakitin lu, bilang sama gue. Lu itu berharga buat gue, Na. Gue tahu sikap gue udah keterlaluan dan lu berhak benci gue. Setelah ini gue bakalan pindah kelas biar hidup lu aman. Sorry Na, tapi lu harus tahu kalau gue tetap sayang kok sama lu. Lu saudara terbaik yang gue punya selain Naufal serta Zyan dan Ziya," ucap Frey panjang lebar.


Ingin sekali rasanya Aluna berteriak jika orang yang menyakiti dirinya adalah Frey sendiri. Namun semua ucapan Frey membuat hati Aluna hancur. Bagaimana tidak, Frey bahkan memilih pindah kelas daripada menegaskan status mereka yang sejak masa kanak-kanak mereka sudah tahu jika kelak mereka akan menjadi pasangan suami istri.


Hati Aluna sangat hancur, sekali lagi Frey menegaskan jika memang hubungan mereka itu tidak berarti apapun untuknya selain sebatas saudara saja. Mata Aluna memanas, air matanya hampir tumpah namun ia berusaha untuk tidak menangis. Ia harus terlihat kuat di mata Frey.


Aluna melepas pelukannya dan mendongak menatap Frey yang begitu tinggi.



"Bagus dong," ucap Aluna dengan bibir bergetar. "Dan sekali lagi Frey, lu hancurin hati gue. Gue benci sama lu! Gue benci!!" teriak Aluna kemudian ia berlari menjauhi Frey yang saat ini sedang menatap nanar kepergian Aluna.


Frey duduk di bawah pohon sambil menundukkan kepalanya. Ia saat ini sedang menyembunyikan wajahnya yang sedang basah oleh air mata. Sangat berat baginya mengambil keputusan untuk pindah kelas karena selama ini sejujurnya ia yang sudah mengatur kelas dimana ia akan selalu sekelas bersama Aluna.


Frey secinta itu pada Aluna sehingga ia tidak bisa jika tidak melihat wajah Aluna sejak kecil. Bahkan Frey bisa mengatakan jika cintanya lebih besar dibandingkan cinta milik Aluna. Gadis itu tidak tahu saja apa yang terjadi pada setiap pria yang membicarakannya dan juga berniat mengencaninya. Semua habis dihajar oleh Frey dan diberi peringatan keras olehnya.


"Sebaiknya memang sekarang kita menjauh dulu, Na. Gue harus cari tahu kebenarannya dan sebaiknya gue mengunjungi papi di penjara karena cuma dia yang bisa ngasih jawaban semua ini. Ahh ... kenapa Papi selama belasan tahun nggak pernah mau dijenguk sama gue sih?" gerutu Frey.


Memang benar, selama Kriss mendekam di penjara ia tidak pernah mengizinkan baik Ikram maupun Alvaro untuk membawa Frey menemuinya dengan alasan ia tidak ingin anaknya malu sebab memiliki seorang ayah narapidana.


Kriss juga mengatakan biarlah Frey dikenal sebagai anak Alvaro dan Nurul dibandingkan harus menjadi anaknya walaupun setiap saat Kriss terus saja merindukan anaknya itu. Alvaro selalu membawakan foto dan juga video keseharian Frey untuk mengobati rasa rindu Kriss pada sosok anak semata wayangnya tersebut.

__ADS_1


"Ucapan grandpa sungguh menggangguku. Diary mami tentang semua pesakitan yang ia rasakan selama ini serta cerita uncle itu bikin gue pusing. Semoga semuanya nggak benar dan hanya papi yang bisa jelasin semuanya. Gue cinta banget sama Aluna, tapi gue nggak bisa mengungkapkan cinta tersebut dengan beban hati gue seperti ini. Harus selesai dulu dan setelah semuanya terbukti, gue bisa ambil keputusan. Na, gue cinta sama lu Na. Gue cinta!"


__ADS_2