
Frey meninggalkan gadis yang sedang merengek ingin dijadikan kekasih itu. Tadinya ia sempat khawatir Aluna akan marah akan tetapi kini yang terlihat justru istrinya itu tengah menahan tawanya. Ia menghela napas lega, setidaknya setelah ini tidak ada drama merajuk ala Aluna. Ia menatap istrinya itu kemudian ia tersenyum tipis dan berlalu menuju ke kelasnya.
Riani memutar arah, ia menatap Aluna yang tengah menatap punggung Frey. Bola mata Riani bergerak gelisah, ia kemudian menarik tangan Aluna untuk segera masuk ke kelas mereka. Riani bukanlah musuh Aluna begitupun sebaliknya. Riani justru sering menempel pada Aluna entah itu urusan Frey atau bukan. Mereka juga bukan sahabat atau teman yang sedekat itu karena baik keduanya tidak pernah curhat bersama terkecuali Riani yang selalu mencurahkan isi hatinya tentang Frey tanpa diminta.
Apa kabar jika gadis cantik itu tahu kalau Aluna dan Frey sudah menikah, entah apa yang akan ia lakukan setelahnya. Aluna tidak berani menerka-nerka, ia tahu Riani pasti akan syok dan pasti akan ada tindakan yang akan ia lakukan walaupun entah apa.
"Aluna, calon ipar gue, gimana sih caranya meruntuhkan hatinya Frey? Udah dua tahun lebih lho Luna, gue belum juga berhasil luluhkan hati dia. Kita udah mau lulus tapi gue masih ditahap review awal sama Frey. Huhh!" keluh Riani, seperti biasa gadis cantik itu tanpa malu mengungkapkan isi hatinya pada Aluna yang tentu saja didengar oleh anak-anak di dalam kelas.
Aluna meringis, sebenanrya ia kasihan pada Riani. Ia pernah ada di tahap ini waktu ia belum tahu jika Frey mencintainya. Rasanya sangat sesak di dada. Namun Aluna juga tidak mungkin menghibur dengan mengiming-imingi Frey sedangkan Frey sendiri adalah suaminya. Harusnya Aluna marah pada Riani yang sudah menyukai suaminya, akan tetapi Aluna juga paham jika Riani sudah lama menyukai Frey dan dia juga tidak tahu hubungan mereka sudah sampai di tahap sah agama dan negara.
"Gue nggak tahu harus ngomong apa sama lu," ucap Aluna dengan nada frustrasi. Ia menganggap Riani teman karena Riani tidak pernah berpura-pura, sikapnya selalu blak-blakan dan yang pasti anaknya sebenarnya asyik hanya saja Aluna tidak mungkin berbagi curhatan dengannya karena mereka menyukai orang yang sama.
Riani menghela napas kecewa, ia tahu Aluna pun tidak memiliki solusi. "Ya sudah, nanti gue sendiri deh yang mikir. Nanti lu kena hukuman lagi dari Frey," ucapnya kemudian ia mencebikkan bibirnya lalu beberapa saat kemudian ia menggigit bibir bawahnya dan kembali duduk di kursinya.
Cici masuk ke kelas dan mendapati Aluna sedang mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Di belakang Cici sudah ada guru mereka dan pelajaran pun langsung di mulai tanpa sempat Aluna dan Cici saling curhat-curhatan.
Jam pelajaran tersebut telah selesai dan Cici lansung mengajak Aluna ke kantin. Aluna bingung harus mengiyakan atau tidak karena ia harus meminta persetujuan Frey. Sebagai istri yang baik, Aluna juga harus memperhatikan pola makan suaminya. Ia tidak ingin makan seorang diri sedangkan ia tidak tahu apakah Frey akan bergabung ke kantin atau tidak.
"Lu duluan aja, gue mau ke toilet. Oh iya, tumben tadi lu datang terlambat, nggak biasanya," ujar Aluna.
Cici meringis, "Hehe ... sebenarnya gue tadi udah datang cepat cuma gue penasaran sama anak baru itu lho yang suka sama lu. Gue tadi ngikutin dia diam-diam dan kalau dilihat-lihat dia itu ganteng ya Luna. Hehe ...."
__ADS_1
Gadis cantik itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Aluna sendiri hanya mengangkat sudut bibirnya menanggapi ucapan Cici. Ia tahu Leon sangat tampan dan bisa dibandingkan dengan Frey akan tetapi hati Aluna tidak pada cowok itu. Ia kemudian bergegas menuju ke toilet seperti yang ia katakan pada Cici.
Baru saja Aluna keluar dari kelas, ia bertabrakan dengan Frey yang juga hendak menemuinya.
"Mana yang sakit sayang?" tanya Frey saat mendengar Aluna meringis.
Aluna terbelalak, Frey entah sengaja atau tidak tetapi Aluna mendengar jelas jika Frey memanggilnya dengan sebutan 'sayang' dan Aluna khawatir ada yang mendengar hal tersebut.
Aluna menggelengkan kepalanya, wajahnya yang membentur dada bidang Frey sama sekali tidak sakit, ia hanya kaget dan hanya sedikit butuh perhatian lebih dari sang suami. Frey langsung menangkup kedua pipi Aluna dan memperhatikan wajah cantik itu, ia mencoba mencari tahu mungkin saja ada memar. Frey memang lebay dan semenjak ia mengungkapkan cintanya, ia sudah tidak lagi menyembunyikan semua sikap lebay, posesif dan protektifnya terhadap Aluna.
"Frey," lirih Aluna yang pipinya sudah memerah karena perlakuan Frey tersebut.
"Ekhmmm ...."
"Hikkss ... kalian kok jadi saudara sweet banget sih. Huhuu ... sorry ya kalau gue merasa cemburu. Tapi lu dan Frey emang serasi, Aluna. Sayangnya kalian terlahir sebagai sepasang saudara. Eh tapi bagus dong, biar gue nggak saingan sama lu," celetuk Riani dengan memperlihatkan wajah mengenaskan.
Sumpah Aluna rasanya ingin mencubit pipi Riani. Wajahnya saat ini sangat menggemaskan. Riani memang sangat cantik, imut dan menggemaskan. Hanya saja ia tidak mengoptimalkan kerja otaknya hingga ia memiliki cela.
"Katanya lu mau ke toilet, kok masih disini?" tanya Cici.
"Oh ... Oh tadi gue emang mau ke toilet tapi nggak sengaja Frey nabrak gue. Eh gue sih yang nabrak dia karena gue yang buru-buru. Mana hidung gue sakit banget lagi, untung nggak berkurang tingginya," jawab Aluna.
__ADS_1
Frey mengangkat sebelah alisnya, tadi ia ingat betul jika Aluna mengatakan tidak ada yang sakit. Lalu setelah Cici yang bertanya ia justru mengatakan jika hidungnya sakit. Tanpa pikir panjang Frey langsung mengangkat tubuh Aluna ala bridal style hingga membuat ketiga siswi cantik itu terkejut dan Aluna memekik karena kaget.
"Freeyy!! Lu mau bawa gue kemana? Turunin gue Frey, malu dilihatin," rengek Aluna namun Frey seolah menulikan telinganya.
Sesampainya di UKS, Frey langsung membaringkan Aluna di atas tempat tidur. Ia meminta agar petugas UKS memeriksa keadaan Aluna.
Wajah Aluna memerah saat dokter tersebut mengatakan bahwa tidak ada yang bermasalah. Frey menjadi bingung dan setelah dokter itu pergi maka Aluna pun menceritakan kalau sebenarnya tadi ia hanya beralasan saja pada Cici dengan mengatakan hidungnya sakit.
"Luna, lain kali jangan kayak gitu. Gue panik banget tadi," ucap Frey kesal.
Aluna mengernyit, "Lu kok jadi lebay sih Frey?" tanya Aluna heran. Bukannya ia tidak suka dengan sikap perhatian Frey seperti ini, hanya saja ia merasa aneh dan belum terbiasa.
"Aluna, semua yang ada di diri lu itu adalah aset milik gue. Gue nggak mau mereka ada yang cacat atau tergores sedikitpun," jawab Frey.
Aluna lansung memalingkan wajahnya, ia tahu ucapan Frey itu benar hanya saja otaknya itu sudah traveling kemana-mana. Tangan Frey terulur mengusap rambut Aluna, ia tidak menyangka saja mereka sudah menjadi suami istri sedangkan saat ini mereka masih mengenakan seragam sekolah.
"Ya udah, kita ke kantin sekarang ya," ajak Frey.
Aluna mengangkat tangannya ke atas, "Gendong."
...****************...
__ADS_1
Haloo semua, maaf ya baru update bab. Beberapa hari yang lalu balitaku nggak sehat, jadi fokus ngurus dia 😅 semoga masih menunggu cerita Aluna dan Frey ya 😄😄