GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Masih Terluka


__ADS_3

Suasana malam yang gelap namun langit dihiasi oleh bulan dan bintang-bintang membuat malam ini terlihat begitu indah apalagi dipandang dari alam terbuka tanpa satupun penghalang.


Senyuman gadis yang tidak lagi gadis ini terlihat tulus namun matanya kembali mengeluarkan cairan bening. Ia pandangi bintang dengan senyuman getir sambil sesekali menghela napas. Ingin bersuara namun ia tidak memiliki teman untuk berbicara. Hanya bisa mendengar suara mesin dan ombak yang entah kapan kapal yang ia tumpangi akan berlabuh di pelabuhan.


Duduk di dek kapal sendirian untuk menghindari ketahuan kembali menangis cukup membuat wanita itu mendapatkan ketenangan namun juga kembali mengingat lukanya. Tepatnya luka yang belum lama ia dapatkan dan sialnya ombak sudah membawanya sejauh ini namun hati dan pikirannya masih berada disana. Ia salah jika berpikir lukanya akan segera sembuh. Nyatanya luka itu masih menganga dan ia tidak tahu bagaimana cara mengobatinya.


Konon katanya waktu akan sembuhkan. Ia berharap waktu akan membantunya sembuh dari lara hati dan luka yang ia rasakan.


"Ini, ambil ini."


Nurul kaget melihat sapu tangan tengah menggantung di depannya kemudian ia mendongak dan mendapati seorang pria tengah menatap datar padanya.


Ragu-ragu Nurul mengambil sapu tangan tersebut kemudian ia gunakan untuk menghapus jejak air matanya.


"Terima kasih. Seharusnya Anda tidak perlu tetapi saya mengucapkan terima kasih sekali lagi," ucap Nurul.


Pria itu duduk di samping Nurul. Masih dengan tatapan datarnya mengarah ke lautan. Ia tidak menatap Nurul padahal ia tahu Nurul tengah menatapnya dengan penuh tanya.


"Dua malam ini saya perhatikan kamu terus berada di sini sambil menangis. Saya tidak ingin mencampuri urusanmu tetapi saya hanya bisa mengatakan segala masalah pasti akan ada penyelesaian. Jangan menangisi sesuatu tetapi menjadi kuatlah karena suatu masalah. Hidup tidak pernah lepas dari masalah. Bukankah masalah yang kita hadapi turut menjadikan kita pribadi yang lebih dewasa? Saya bukan menggurui tetap hanya berbagi saja denganmu. Jika kamu mendengarkan saya, itu bagus dan jika kamu tidak peduli ya saya pun tidak rugi."


Nurul sedikit terkesiap dengan ucapan pria tersebut. Pria asing yang sedang berbicara di sampingnya mengetahui jika dua malam ini ia datang ke dek kapal hanya untuk menangis. Menangisi kehidupannya yang malang serta menangisi kenapa hatinya begitu merindu akan Alvaro. Jelas-jelas pria itu sudah menorehkan luka di hati dan hidupnya tapi pada kenyataannya hati yang luka itu tetap merindukannya.


"Terima kasih. Saya akan mendengarkan ucapan Anda. Semua yang Anda katakan tidaklah salah. Saya hanya terlalu cengeng tapi saya tahu menangis bukanlah jalan keluar dari masalah," ucap Nurul kemudian ia kembali menoleh ke depan.


"Saya Danish," ucapnya memperkenalkan diri tanpa diminta.


Nurul tersenyum, "Saya Nurul," balasnya.


"Oke Nurul ya, salam kenal. Kamu darimana dan mau kemana?" tanya Danish mulai mengakrabkan diri.


"Saya dari Jakarta dan entah akan kemana," jawab Nurul apa adanya karena memang semenjak naik ke kepal hingga dua hari dua malam ini ia tidak mau menanyakan kemana Bu Uswa membawa mereka, ia yakin kemanapun itu pastilah tempat yang aman.


Danish mengangkat sebelah sudut alisnya.


"Bagaimana mungkin tidak tahu alamat tujuan. Aneh!" gumam Danish tapi jelas terdengar di telinga Nurul.

__ADS_1


"Ya begitulah. Saya hanya tahu kalau ibu membawa kami tentu ke tempat yang aman dan nyaman," jawab Nurul apa adanya. "Kamu sendiri, kamu mau kemana?" tanya Nurul.


"Kutai. Saya tinggal disana dan kemarin ada urusan pekerjaan di Sukabumi. Harusnya saya naik pesawat namun saya juga merupakan pribadi yang ingin bebas merasakan sensasi naik kapal laut. Jadi saya kabur dan berakhir disini, hehehe."


Cukup untuk membuat Nurul terkekeh, tawa renyah pria yang baru berkenalan dengannya ini membuat Nurul ikut tertawa.


"Dasar aneh!" gumam Nurul sambil tersenyum simpul.


Dari perawakannya Nurul melihat pria ini sangat tampan dan tingginya kira-kira 180 cm. Nurul menaksir jika usianya sekitar 27-28 tahun. Dilihat dari bawah sinar bulan sungguh pria ini sangat mempesona. Mendadak Nurul mengingat Alvaro dan membandingkan keduanya. Matanya tidak buta jika Danish jauh lebih tampan dari Alvaro tapi hatinya menyuarakan jika Alvaro diatas segala-galanya.


"Danish?"


"Ya."


"Apa aku bisa minta tolong padamu?" tanya Nurul sedikit ragu.


"Katakan."


"Apakah kau bisa membantuku mendapatkan pekerjaan nanti di tempat baru?" tanya Nurul.


Danish diam nampak berpikir.


Benar juga.


Nurul merutuki dirinya yang tidak tahu kemana dirinya akan pergi tapi sudah bertanya mengenai pekerjaan.


"Besok aku akan memberitahukannya padamu. Tenang saja, aku lulusan sarjana Hukum walaupun aku belum sempat wisuda dan mengambil ijazahku," ucap Nurul.


"Wah, bibit pengacara rupanya. Tapi kamu tahu 'kan kalau ijazah itu sangat dibutuhkan? Kenapa belum diambil?" tanya Danish.


"Kemarin aku harusnya ikut wisuda tapi karena waktu kami untuk tinggal di panti sudah berakhir maka ibu membawa aku dan adik-adik pergi hari itu juga. Aku rencananya akan ikut wisuda susulan beberapa bulan lagi. Tapi untuk ke sana aku butuh biaya makanya aku harus mencari kerja," jawab Nurul.


Oh, dia dari panti asuhan?


"Kau tenang saja, aku pasti akan membantumu. Mendapatkan pekerjaan juga mendapatkan ijazah," ucap Danish menjanjikan.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Nurul lega.


Keduanya pun larut dalam kebisuan sambil menikmati hembusan angin malam di lautan lepas ini. Hingga beberapa menit kemudian Danish meminta Nurul untuk masuk ke kamarnya karena udara semakin dingin dan itu tidak baik baginya.


"Besok aku akan memberitahukanmu. Tunggu aku di tempat ini ya," ucap Nurul sebelum ia meninggalkan Danish dan pria itu menganggukkan kepalanya.


Tinggallah Danish dengan tatapan menerawang ke depan. Ia diam namun tidak dengan pikirannya. Entah apa yang tengah ia pikirkan namun pria itu kembali nampak tenang.


"Gue nggak tahu perasaan macam apa ini. Gue kemarin lihat dia nangis kenapa gue juga ikutan nangis? Seakan-akan gue turut merasakan kesedihannya. Melihatnya tersenyum dan tertawa seperti tadi pun gue merasa ikut dalam tawanya. Gue merasa nyaman tapi nyamannya berbeda. Entah perasaan macam apa ini. Nggak mungkin juga gue jatuh cinta sama dia. Pokoknya ini lain deh, susah dijelaskan," monolog Danish. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil sesekali bergumam tak jelas.


.


.


Sesuai yang disepakati semalam, hari ini sebelum kapal berlabuh keduanya bertemu di tempat semalam. Nurul sudah mendapatkan informasi dimana ia akan tinggal dan ia sudah tidak sabar untuk memberitahukannya kepada Danish. Namun hingga beberapa jam ia menunggu pria itu tak kunjung datang dan Nurul dibuat cukup kecewa. Harapannya pun pupus begitu saja. Baru saja ia ingin bangkit nyatanya orang yang menasihati kemarin justru membalikkan kata-katanya sendiri.


Nurul diam di dalam kamarnya dan melihat Bu Uswa dan adik-adik tengah mengobrol. Sesekali mereka tertawa dan itu membuat Nurul tersenyum.


Ini keluargaku yang sebenarnya. Dan aku yang tertua dari adik-adik tidak pantas meratapi nasib seperti ini. Aku harus jadi penguat mereka. Jika aku lemah maka mereka juga. Aku berjanji akan membahagiakan kalian. Kalian prioritas utamaku setelah kita sampai nanti. Mungkin pekerjaan dan rejeki bukan lewat bantuan Danish. Tapi aku yakin, Tuhan maha adil dan tidak akan membiarkan hamba-Nya terus menderita. Semangat Nurul, semangat!


Kapal berbunyi dan menandakan bahwa sebentar lagi ia akan berlabuh di dermaga. Semakin berdebar-debar pula jantung Nurul karena mulai saat ini langkahnya berbeda dan kehidupan baru menunggunya. Tidak ada satupun yang dikenal dan lingkungan barunya seperti apa, Nurul belum tahu. Ia khawatir mereka tidak ada diterima dengan baik dan bagaimana dengan nasib sekolah adik-adiknya nanti.


Berbagai pikiran dan spekulasi membuat Nurul gugup sendiri. Bu Uswa menepuk pundaknya pelan dan memberikan Nurul sebuah senyuman. Senyuman hangat yang membuat segala ketakutan dan kecemasan Nurul hilang.


Kapal sudah bersandar dan para penumpang mulai berhamburan untuk keluar dan menginjak daratan. Nurul membantu membimbing adik-adiknya serta membawa barang-barang mereka yang menang hanya sedikit. Beruntung adik-adiknya lebih banyak laki-laki jadi walaupun masih kecil, mereka cukup bisa diandalkan untuk membawa barang.


Saat hendak turun, seseorang menepuk bahu Nurul dan ia menoleh. Merasa asing dengan orang tersebut Nurul hendak bertanya namun pria itu lebih dulu menjawab pertanyaan Nurul tanpa bertanya.


"Pak Danish meminta maaf karena tidak bisa menemui Anda tadi. Ia menitipkan kartu namanya untuk Anda," ucapnya.


Nurul menerima kartu nama tersebut tanpa membacanya.


"Terima kasih. Oh ya, Danish dimana?" tanya Nurul celingak-celinguk.


"Dia sudah turun lebih cepat karena harus dilarikan ke rumah sakit. Dia mungkin hanya demam biasa, saya permisi."

__ADS_1


Nurul merutuki dirinya yang sempat berpikiran buruk kepada Danish padahal pria itu sedang sakit. Nurul menyimpan kartu nama itu ke dalam tasnya. Ia bersama adik-adiknya mulai menuruni tangga dan akhirnya berhasil mendaratkan kakinya dengan selamat.


Selamat tinggal Alvaro, selamat tinggal kenangan dan selamat datang lembaran baru.


__ADS_2