GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Segitiga Bermuda


__ADS_3

Pria tampan yang mengenakan kacamata hitam serta setelan jas mahal terlihat sedang terburu-buru ke bandara. Ia tengah menghindari seseorang yang selalu membuntutinya. Clarinta--wanita gila--tidak kenal menyerah--berisik dan masih banyak lagi umpatan Alvaro untuknya kini tengah mengejarnya hingga ke bandara. Alvaro merasa risih juga lucu dengan wanita itu. Sudah empat tahun ini selalu saja mengejarnya seperti tidak memiliki pekerjaan lain.


Clarinta Wistara, anak pejabat negeri yang kerjanya terus membuntuti Alvaro. Pernah sekali Alvaro mengancam akan melaporkannya pada polisi sebagai penguntit dan mengganggu ketenangan serta keamanan dirinya. Dan apakah Clarinta langsung berhenti, tentu saja iya. Tetapi cuma berlangsung dua hari kemudian ia kembali mengejar Alvaro.


Alvaro kehabisan cara untuk mencegah wanita gila--yang sialnya hanya gila padanya, agar tidak mendekatinya. Alvaro merasa setiap kali ada di dekat Clarinta, harinya akan terasa berat dan akan ada banyak masalah. Tapi wanita itu tidak demikian. Ia mengatakan jika bersama Alvaro maka harinya akan terasa lebih menyenangkan.


"Mau apa lagi? Gue buru-buru!" sentak Alvaro yang akhirnya menghentikan langkahnya.


Bukkk...


Clarinta mengeluh dan memegangi dahinya yang sakit karena terbentur punggung Alvaro. Sedangkan Alvaro ingin rasanya tertawa tetapi ia urungkan karena tidak mau membuat Clarinta merasa menang sudah berhasil membuatnya tertawa.


"Ini punggung kenapa bisa disini sih? Nggak lihat gue mau lewat, ck." Clarinta protes sambil mengelus dahinya.


"Ada apa? gue nggak punya banyak waktu," ulang Alvaro.


"Eh, oh itu ... lu mau kemana?" tanya Clarinta cengar-cengir.


Alvaro menahan emosi, sudah ditahan dan hanya ditanya mau kemana. Rasanya Alvaro ingin membuang Clarinta ke kutub Utara atau membawanya naik pesawat lalu mendepaknya dan jatuh di segitiga Bermuda. Biar hilang saja sekalian agar tidak ada wanita gila sekaligus berisik di keseharian. Tapi apakah Alvaro tega melakukannya pada wanita cantik ini?


"Gue ada urusan pekerjaan. Gue buru-buru dan jangan ganggu!" tandas Alvaro.


"Ikut boleh?" cicit Clarinta. Ia tidak bisa jauh dan tidak bisa jika tidak melihat Alvaro sehari saja walau dari jauh. Keinginan hatinya agar terus menerus mengganggu Alvaro. Apakah ini hobi barunya?


Alvaro menoyor kepala Clarinta. Habis sudah kesabarannya. Dengan cepat Alvaro berjalan meninggalkan Clarinta yang hendak mengejarnya tetapi ia urungkan karena Alvaro kembali berbalik badan.


Dia pasti berubah pikiran dan bakalan ngajak gue.


"Nona Wistara, sebaiknya anda mencari pekerjaan daripada sibuk mengurusi urusan orang. Apakah anda kekurangan pekerjaan atau kegiatan sehingga setiap hari selalu kepo sama urusan orang lain? Jika anda ingin ikut, ayo. Tapi bersiaplah jatuh dari pesawat dan menghilang di segitiga Bermuda. Saya tidak main-main. Apakah tertarik untuk mencoba?"


Clarinta menelan salivanya dengan susah payah. Ia belum pernah melihat sisi lain Alvaro seperti ini. Apakah Alvaro sudah jengah dengan sikapnya. Tolong jangan! Clarinta masih ingin terus bersama Alvaro walaupun dianggap makhluk tak kasat mata. Mau bagaimana lagi, ia sudah tertawan pesona Alvaro Genta Prayoga yang ia ketahui selama empat tahun ini begitu setia pada seorang wanita.

__ADS_1


Wanita gila--jukukan Alvaro untuk Clarinta akhirnya hanya bisa menatap punggung Alvaro yang kian menjauh. Ia tersenyum lalu berbalik badan dan meninggalkan bandara.


"Kenapa gue selalu saja salah ngomong? Tadi gue 'kan ngejar Alvaro cuma buat nanya apa benar gue diterima kerja di kantornya? Eh gue malah ngomong yang aneh-aneh. Sial sekali sih," gerutunya.


Sedangkan pria tampan yang kini sudah berada di dalam pesawat itu tengah memikirkan wanita yang selalu membayangi hidupnya. Baru saja ingin menyusul tapi kembali takdir menunda keinginannya dan ia tidak bisa egois dengan mementingkan dirinya sendiri sedangkan nasib perusahaan kini ada di tangannya.


"Jika pun lu sudah menikah dan hidup bahagia, gue akan tetap maksa lu buat ngaku pernah cinta ke gue atau enggak. Jika ujung-ujungnya gue patah hati lagi, nggak masalah. Masih ada Clarinta yang siap jadi pendamping gue!"


Sepersekian detik kemudian Alvaro tertohok oleh ucapannya sendir. Ia mengibaskan tangannya dan menolak ucapannya barusan. Clarinta bukanlah tipe wanita idaman walaupun cantik dan dari kalangan atas. Ia tidak suka wanita berisik dan terkesan mengejar-ngejar dirinya. Alvaro lebih suka wanita irit bicara dan keadaannya Alvaro yang mengejar bukan dikejar.


"Oh ya ampun bahkan gue udah empat tahun pensiun jadi cassanova. Gila! Aina, lu emang hebat banget dalam membolak-balik dan menjungkirbalikkan hidup gue."


.


.


Suasana panti asuhan saat ini begitu ramai apalagi kedatangan nona kecil mereka yang tidak lain adalah Aluna yang selalu membuat kehebohan dengan tingkahnya yang menggemaskan dan tidak bisa diam. Ia terus membuat para kakak-kakak panti kerepotan dan siap menindas jika mereka tidak mau melakukan apa yang ia inginkan dan bahkan kadang kala bocah tiga tahun itu menjadi pembully kecil. Namun karena itu semua tingkahnya sangat menggemaskan.


Nurul membiarkan anaknya berbaur dengan saudara-saudara pantinya dan ia memilih menemui Bu Uswa dan menemani wanita paruh baya itu memasak.


Ia sebenarnya ragu-ragu ingin mengatakan niatnya, tetapi ia butuh masukan pendapat dari Bu Uswa. Bukan karena dia tidak mau berbagi dengan Bu Dianti yang notabene adalah ibu kandungnya, tetapi masalah ini dulunya Bu Uswa yang mendampinginya. Ia ingin wanita ini yang lebih dulu tahu masalahnya. Apakah Nurul egois?


"Bu ... em, ada yang mau Nurul bicarain," ucapnya ragu-ragu.


Bu Uswa yang baru saja selesai menggoreng tempe pun menoleh dan mengajak Nurul untuk duduk. Ia tahu jika sudah seperti ini pasti ada hal penting yang ingin Nurul sampaikan. Bukan sehari dua hari ia mengurus Nurul tetapi sudah puluhan tahun, jadi ia tahu jika anaknya ini ada masalah.


"Katakan Nak," ucap Bu Uswa lembut.


"Bu, waktu Nurul ke Jakarta di sana Aluna bertemu dengan ayahnya tanpa sengaja."


Bu Uswa tersentak, ia yakin waktu pertemuan itu akan hadir walaupun entah kapan dan akhirnya mereka bertemu juga.

__ADS_1


"Lalu?"


"Nurul nggak berani mendekat, Bu. Nurul biarin aja mereka bertemu dan Aluna serta ayahnya langsung akrab padahal mereka sama sekali tidak pernah bertemu. Hanya saja kata Aluna dia pernah bermimpi bertemu ayahnya itu. Bu ... apakah ini saatnya aku bertemu dengannya?"


Bu Uswa tergugu, tidak tahu harus menanggapi seperti apa cerita Nurul barusan. Ia teringat kembali empat tahun yang lalu dimana seseorang mencari Nurul dan ia justru menjauhkannya. Haruskah ia mengatakannya? Tapi ia khawatir jika nanti Nurul akan marah padanya.


Tapi jika Bu Uswa tidak memberitahu, seumur hidup mungkin ia akan berkubang dalam penyesalan karena sudah memisahkan wanita dari kekasihnya dan anak dari ayahnya. Jika saja dulu ia berani bercerita maka ia yakin Aluna saat ini tidak memanggil pamannya dengan sebutan ayah dan Nurul tidak akan dianggap sebagai wanita murahan dan rendahan oleh banyak orang.


Walaupun kekuasaan keluarga Emrick mampu membungkam mulut mereka, tetapi apakah itu akan bertahan lama? Dan Nurul, sampai kapan ia membiarkan anaknya itu patah hati. Bu Uswa tahu jelas kalau sampai saat ini Nurul masih begitu mengingat dan merindukan pria itu. Mungkin ini sudah saatnya mereka bertemu dan menyelesaikan masalah mereka.


Aluna memang tidak bernasab pada ayahnya karena lahir tanpa pernikahan, tetapi ia juga butuh sosok ayah dalam hidupnya. Apalagi zaman sekarang pembullyan sudah menjadi makanan sehari-hari. Ia tidak ingin cucunya mendapat trauma sejak dini. Cukup Nurul saja, Aluna jangan lagi.


"Nurul sebelumnya ibu mau minta maaf jika yang akan ibu katakan ini menyakitkan hatimu, tetapi inilah kebenarannya. Waktu itu ibu hanya ingin menjagamu karena kau pun takut pada saat itu. Sebenarnya, ada laki-laki yang mencarimu sampai menemukan rumah Dessy. Dia begitu mengkhawatirkanmu dan meninggalkan pesan agar kau menghubunginya tetapi ibu tidak memberitahukan padamu dan Dessy pun menyembunyikan info tentangmu. Mungkin dia adalah ayah dari Aluna."


Nurul terbelalak, ia berharap semoga lelaki itu adalah Alvaro. Berharap dalam hati jika perasannya benar dan Alvaro memang mencarinya.


"Siapa namanya, Bu?" tanya Nurul degdegan.


"Ibu tidak tahu tapi mungkin Dessy tahu. Coba kau hubungi dia sekarang," usul Bu Uswa.


Nurul langsung mengambil ponselnya dan dengan tidak sabar ia menelepon Dessy. Suara dari seberang saluran semakin membuat Nurul degdegan. Tanpa basa-basi Nurul langsung bertanya, "Dess kata ibu pernah ada lelaki yang mencari ku sampai ke rumahmu. Siapa Dess?"


Dessy yang saat ini sedang istirahat karena kehamilan keduanya pun mulai mengingat, "Iya sih. Tapi siapa ya namanya. Aku ingat dulu karena waktu itu ada dua orang. Yang satu aku tahu namanya itu Ikram karena ternyata mas Bian kerja di perusahaannya dan yang satu lagi eemmm ... Al-"


"Alvaro?"


"Ah ya, benar!"


Ya Tuhan ...


Nurul menangis dalam senyum dan tersenyum dalam tangis. Apakah boleh saat ini ia merasa bahagia karena ternyata Alvaro mencarinya selama ini?

__ADS_1


__ADS_2