
Semua mata kini tertuju pada Alvaro yang berdiri dengan wajah datar menatap Danish. Danish yang sedang meledak-ledak itu terdiam lalu menatap tajam pada Alvaro. Ia heran mengapa pria ini mendadak menengahi pembicaraannya dengan Nurul.
Nurul jauh lebih kaget lagi, ia tidak menyangka Alvaro akan melakukan ini. Mengaku jika dirinya lah pria itu dan tanpa konfirmasi dulu padanya. Begitupun dengan Ikram, ia tidak menyangka Alvaro akan sampai nekat mengakui dirinya saat ini. Ia yakin benar kalau Alvaro saat ini tidak berpikir panjang dan hanya terpancing ucapan Danish saja.
Lalu kedua orang tua Nurul, mereka memang kaget tapi tidak begitu kaget karena keduanya sudah menduga jika Alvaro adalah pria masa lalu Nurul–ayah Aluna. Namun yang membuat mereka kaget adalah Alvaro yang langsung mengakui dirinya di hadapan Danish, mereka tahu perangai Danish apalagi ketika marah pada seseorang, ia pasti akan langsung melampiaskannya.
Hanya Aluna kecil yang masih sibuk dengan makanannya, ia tidak paham dengan perdebatan orang tua. Ia cuek saja, persis seperti papinya.
Danish menatap Alvaro dengan sebelah sudut alisnya terangkat. Ia bingung juga kaget, jelas ia tidak salah dengar tadi karena telinganya masih berfungsi dengan baik.
"Coba ulangi apa katamu tadi," pinta Danish dengan aura penuh penekanan.
Alvaro tersenyum miring sekilas, ia kemudian menatap Nurul yang sedang menggelengkan kepala padanya dengan begitu pelan. Nurul tidak ingin semuanya terungkap sekarang apalagi dalam suasana panas seperti ini. Danish pasti akan diluar kontrol dan Alvaro pasti akan habis ditangan sang kakak. Padahal Nurul inginnya Alvaro datang di saat yang tepat, disaat keluarganya sedang dalam keadaan santai, bukan suasana tegang seperti ini.
Pria tengil itu tersenyum manis ke arah Nurul, kepalanya mengangguk pelan, "Anda tidak salah dengar tuan Danish Ganendra Emrick. Akulah pria pecundang itu. Ya, akulah si bajingan, bangsat, pengecut, dan akulah ayah dari Aluna. Akulah kekasih Nurul itu dan akulah orang yang akan kau buat sekarat. Silahkan, aku tidak akan melawan sekalipun kau membuatku mendapat peringatan dari malaikat maut. Demi dia–" Alvaro menunjuk Nurul yang tengah menunduk–"Demi dia aku rela bahkan sebelah kakiku sudah harus berada di kuburan aku rela. Silahkan, silahkan serang aku. Buat aku sekarat jika memang itu jalan yang harus aku tempuh demi bisa bersama Aina. Gue rela!"
Semua mata kini tertuju pada Alvaro dengan terbelalak. Nurul mulai gelisah begitupun dengan Ikram. Sedangkan pak Deen ia cukup salut dengan keberanian Alvaro, tapi bukan berarti ia akan memudahkan langkah pria ini.
Danish tersenyum sinis, ia membuang muka lalu menghembuskan napas dengan kasar dan ….
Danish dengan gerakan cepat melompat dari seberang melewati meja makan dan kakinya mendarat tepat di ulu hati Alvaro yang kini sudah tersungkur dengan kursi yang terlempar ke dinding. Semuanya kaget yak terkecuali Aluna kecil yang langsung menangis saking kagetnya. Bu Dianti yang dekat dengan sang cucu itu langsung memeluknya dan membawanya menjauh.
"Dasar bajingan! Berani sekali kau masuk ke rumah ini dan berpura-pura seolah-olah kau tidak punya kesalahan disini dan dengan gampangnya kau masuk ke rumah ini. Kau tidak akan keluar dalam keadaan utuh!" pekik Danish yang kini dengan membabi buta menghajar Alvaro yang sama sekali tidak melawan serangannya.
Alvaro tidak menangkis, tidak mengelak. Ia membiarkan Danish menguasai dirinya dan kini bahkan bibir bagus Alvaro itu sudah pecah dengan darah segar mengalir dari sudutnya.
Sial! Wajah ganteng gue kayaknya hancur nih. Duh, bonyok banget nggak ya? Apa gue bakalan tetap ganteng setelah dihajar kakak ipar? Oh tapi gue emang ganteng sejak embrio, pasti kalau diobati juga bakalan balik ganteng lagi. Nggak bakal gue oplas. Ini udah ganteng asli, maksimal pokoknya. Duh … kok sakit muka gue! Aina masih mau nggak ya sama gue dengan muka bonyok ini? Anjirr gue harus menjaga muka gue ini. Aset nomor satu selain si boy.
__ADS_1
Alvaro hanya mengeluh dalam hati, ingin sekali rasanya membalas pukulan Danish bertubi-tubi tapi ia tahu posisinya salah dalam hal ini. Bahkan ia meringis kesakitan begitu tendangan Danish lagi-lagi mengenai perutnya yang baru saja terisi makanan.
Ikram sendiri berusaha melerai tetapi Alvaro menggeleng keras, ia tidak ingin dibantu dan Ikram hanya bisa mengepalkan tangannya.
"Dasar brengsek lu Ro! Lu pikir gue mau lihat lu mati di rumah ini?" pekik Ikram yang sudah geram dengan sikap Alvaro yang hanya diam dan pasrah dengan semua serangan Danish.
Pak Deen sendiri hanya bisa menyaksikan perkelahian itu. Ia bisa melihat Alvaro begitu sungguh-sungguh dengan perkataannya yang rela dibantai oleh Danish demi bisa bersama putrinya. Namun walau begitu ia juga khawatir karena Danish ini sangat ganas saat berkelahi. Dalam hati ia berdoa semoga Alvaro tidak akan mati di tangan Danish.
"Kak cukup kak, jangan. Dia bisa mati nanti. Alvaro lu kenapa diam aja sih? Lu mau mati? Lu mau ninggalin gue lagi?" pekik Nurul yang bagaikan oase di padang pasir. Walau tidak bisa melihat Nurul karena ia kini ditindih di lantai oleh Danish, ia tahu kalau saat ini Nurul tengah menangisinya. Suaranya itu terdengar jelas di telinga Alvaro.
Damn it! Kalau gue nggak menghindar dan gue sekarat terus gue mati, Daniyal bakalan menang dong? Ah, Aina benar juga. Masa gue mati-matian berjuang terus Daniyal yang dapat. Sorry kakak ipar tapi gue nggak mau mati sia-sia. Gue maunya menua sama adik lu, bukan mati ditangan lu.
Alvaro yang kini tergeletak di lantai dengan Danish yang duduk di atas tubuhnya sambil memegang kerah bajunya dan tangan itu tidak berhenti membenturkan pukulannya di wajah Alvaro langsung tersungkur begitu dengan gesitnya Alvaro membalik keadaan. Kini tubuh Danish yang tengah ditindih oleh Alvaro.
Alvaro tidak langsung menghajar Danish, ia bangkit dan meminta Danish untuk berdiri. Ia tidak suka berkelahi dengan Danish yang berbaring di lantai dan ia yang berada di atas.
Gue nggak suka pose ini, kecuali Aina yang baring di lantai.
"Ya harus dong," jawab Alvaro dengan mantap walaupun saat berkata seperti itu bibirnya terasa perih. Ia mengelap darah yang mulai kering di bibirnya itu. "Maaf ya kakak ipar, bukan maksud gue mau lawan lu gini. Tapi setelah gue pikir-pikir, kalau gue nggak nangkis serangan lu atau gue nggak nyerang balik, entar gue mati. Nah kalau gue mati berarti Nurul bakalan jadi janda sebelum gue nikahi. Dan pasti si bangsat Daniyal itu bakalan menang. Enak aja! Gue yang sekarat dia yang menikmati. So, mari kita berkelahi!"
Nurul tersedak ingusnya sendiri saat mendengar jawaban nyeleneh Alvaro. Ia mengakui bahwa Alvaro ini memang selalu saja diluar nalar. Entah saat ini Nurul harus menangis atau tertawa. Ia bingung tapi saat ini ia justru menangis sedih, sedih karena Alvaro yang tetap saja tengil dalam situasi apapun.
Ya Tuhan, kenapa gue bisa jatuh cinta pada cowok gila macam itu?
Ikram dan pak Deen sama-sama terkejut dengan jawaban Alvaro terlebih lagi pria itu masih terlihat kuat walau sudah dihajar habis-habisan oleh Danish. Ikram sendiri hanya bisa menggeleng, sahabatnya itu memang selalu diluar dugaan.
Pak Deen tersenyum, ia suka sifat Alvaro ini. Realistis!
__ADS_1
Awalnya pak Deen mengira Alvaro ini hanya seorang pujangga cinta yang rela mati demi membuktikan cintanya. Yang hanya bisa berkoar-koar tentang cintanya dan bodoh dalam mengambil sikap. Tapi setelah melihat Alvaro bangkit dan mendengar ucapannya barusan, pak Deen mendadak menjadi pengagum Alvaro garis keras.
Ini baru calon mantu gue! Fix, restuku bersamamu.
Danish maju dan mulai menyerang Alvaro. Beberapa kali tinju yang ia lepaskan di wajah Alvaro mampu di elak olehnya bahkan Alvaro justru membalik dengan ia yang menghajar wajah Danish dengan tinjunya berkali-kali. Tendangan Danish pun bisa ditepis olehnya bahkan Alvaro kini membalikkan serangan. Ia menangkap kaki Danish lalu memutarnya hingga tubuh Danish sedikit melayang dan berputar lalu terjatuh di lantai.
Danish bangkit, ia tersenyum sinis pada Alvaro. Kemudian ia maju lagi dan bersiap mencari celah untuk membalas serangan. Ia sempat melesatkan tinjunya di ulu hati Alvaro namun dengan cepat pria tengil itu membaca pergerakan hingga akhirnya ia menangkap kepalan tangan Danish dan memutarnya. Ia mengunci kedua tangan Danish ke belakang. Satu tangan Alvaro mengancing leher Danish.
"Kakak ipar, mending kita damai aja. Gue nggak enak mau mukul lu lagi, muka lu udah bonyok. Lu itu harusnya gue hormati. Kalau kita terus berkelahi dan muka lu makin ancur karena gue pukuli, gue jamin Clarinta nggak bakalan mau balikan sama lu. Muka lu ntar jadi jelek, dia pasti langsung kabur. Percaya deh!" bisik Alvaro yang membuat mata Danish membulat sempurna.
Alvaro meringis sakit saat kakinya diinjak oleh Danish. Dengan cepat Danish melepaskan diri dari kancingan Alvaro lalu menggeplak kepala pria tengil itu.
"Kenapa lu nggak bilang dari tadi. Sial muka ganteng gue bisa turun pamor di depan Clarinta," sungut Danish kemudian ia berjalan menuju ke sofa.
Alvaro meringis, ia baru tahu ada cowok se-PD dirinya dalam hal ketampanan. Namun dalam hati ia bersyukur karena kini perkelahiannya dengan Danish berhenti karena Clarinta. Alvaro yakin jika Danish secinta itu pada Clarinta–si wanita gila. Mungkin saja cinta Danish pada Clarinta seperti cintanya pada Nurul yang walaupun sudah bertahun-tahun tak bertemu ia justru makin cinta. Ia mengakui bahwa saat ini Danish–calon kakak iparnya memiliki nasib serupa dengannya.
Nurul, Ikram dan pak Deen mengernyit. Bingung karena pertandingan seru itu mendadak berhenti dan entah apa yang mereka bicarakan tadi hingga Danish mengakhir perkelahian mereka.
"Kenapa berhenti?" tanya ketiganya kompak. Mereka bertiga lalu saling menatap lalu membuang muka karena salah tingkah.
Alvaro kaget begitupun dengan Danish saat mendengar pernyataan aneh ketiganya. Tadi mereka disuruh berhenti dan saat berhenti justru ditanya kenapa berhenti. Benar-benar aneh, pikir keduanya.
Alvaro dan Danish saling bertatapan lalu sama-sama membuang muka dan berdecih.
"Aina, gue udah buktiin kalau gue itu cinta sama lu, jadi lu mau nggak nik–"
Bruukkk ….
__ADS_1
Alvaro jatuh pingsan di lantai dan semua menjadi panik dan mendekat ke arahnya.
"Cih! Baru gitu aja udah pingsan. Lemah!" cibir Danish kemudia ia mengeluh karena bibirnya pun terasa perih.