
"Lu benar akan melakukan ini? Apa ini tidak berbahaya? tanya Lexi.
Jihan tersenyum sinis. "Tentu gue bakalan melakuin apapun yang bisa bikin gue mendapatkan hak gue di keluarga Prayoga. Gue ini keturunannya, masa iya selama ini gue hidup luntang-lantung nggak jelas sementara mereka hidup enak. Gue ingin menyingkirkan semua anak-anak Ayah gue di rumah itu serta istrinya, setelah itu gue yang berkuasa di sana. Gue ini yang tertua," ucap Jihan penuh percaya diri kepada sahabatnya Lexi.
Lexi yang melihat seringai di bibir Jihan mendadak bergidik ngeri. Ia dulunya mengenal gadis ini sebagai anak yang begitu polos dan lemah lembut. Tetapi beberapa waktu kemudian gadis ini telah berubah menjadi seseorang yang memiliki pikiran jahat, ia bahkan menyayangkan sikap dan perubahan Jihan saat ini padahal ua sangat mencintai sosok Jihan yang dulu— penyayang dengan lembut.
'Semoga lu nggak salah ambil jalan Jihan. Gue hanya berharap lu hentikan kegilaan ini. Mereka itu keluarga berkuasa, lu nggak bakalan selamat kalau sudah berurusan dengan mereka,' gumam Lexi dalam hati.
Jihan sendiri sudah memiliki rencana untuk membuat anak-istri Alvaro bercerai berai. Ia akan membuat Naufal dan Nurul pergi dari kediaman Prayoga dan ia yang akan menggantikan posisi mereka. Aluna tentu akan bersama Frey dan ancaman terbesar Jihan hanyalah Naufal saja.
Sementara itu Alvaro dan Nurul yang sudah menghabiskan siang mereka di kamar hotel kini tengah menyiapkan acara makan malam untuk keluarga kecil mereka. Keduanya sama-sama belum memberitahu jika mereka sudah pulang ke Jakarta dan biarkan ini menjadi surprise untuk ketiga anak mereka.
Untuk kali ini Alvaro terlihat sangat antusias. Luar biasa kenikmatan yang ia dapatkan hari ini, ia mendapatkan maaf dari istrinya, mendapatkan kenyataan bahwa ia bukan ayah kandung dari Jihan, dan kemudian ia pun mendapatkan bonus plus-plus dari sang istri. Nikmat mana lagi yang Alvaro dustakan.
"Yang, kira-kira nanti anak-anak mau nggak sih maafin aku?" tanya Alvaro saat keduanya sibuk mengurus acara makan malam mereka. waktu kini sudah semakin sore baik Alvaro maupun Nurul sama-sama belum memberikan kabar kepada anak mereka tentang rencana ini, padahal seharusnya mereka sudah siap-siap untuk datang.
"Tidak perlu menjelaskan masalah yang lalu, juga katakan saja jika Jihan itu bukan anakmu. Dan tidak perlu mengungkit siapa ibu Jihan dan apa yang sudah terjadi pada masa lalu. Mereka akan semakin terluka jika tahu hal itu. Kamu tahu sendiri ketiga anak kita itu sangat pro kepadaku, kamu akan lewat jika mereka tahu kamu sudah membuatku sakit hati," ucap Nurul dan Alvaro hanya mengiyakan saja karena memang benar jika ketiga anak mereka itu lebih membela Nurul.
Sementara itu di rumah Frey, Aluna dan Naufal mendapatkan pesan dari bundanya untuk datang ke hotel dimana mereka berada. Sengaja Nurul yang mengirim pesan karena jika itu Alvaro, mungkin mereka akan mengabaikannya.
"Kak, dapat pesan juga dari bunda?" tanya Naufal ketika mereka bertiga sedang duduk bersama di ruang nonton.
Aluna dan Frey sama-sama menjawab dengan anggukan. "Bunda kayaknya lagi pingin bicara sama kita. Kakak mendadak jadi panik, bagaimanapun kakak nggak rela kalau bunda sama papi sampai pisah. Semua karena si Jihan itu!" gerutu Aluna.
'Eh Jihan? Sepertinya semalam gue kenalan deh sama yang namanya Jihan,' gumam Naufal dalam hati.
Frey mengusap lembut punggung Aluna agar istrinya itu tidak marah-marah, sangat tidak baik untuk kesehatannya dan janinnya karena Aluna pasti akan merasa tertekan jika memikirkan banyak hal-hal yang buruk dan bersifat negatif.
"Jangan dipikirkan dulu, mungkin Bunda ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Dan mengenai makan malam, mungkin Bunda kangen sama kita dan ingin makan malam bersama di tempat yang spesial. Kita datang aja dan sebaiknya sekarang kita bersiap-siap karena sebentar lagi waktunya," ucap Frey dan kemudian mereka bertiga pun bergegas ke kamar untuk berganti pakaian.
Hampir satu jam kemudian kini mereka sudah sampai di hotel sesuai arahan dari bundanya. Mereka pergi ke arah rooftop dimana bundanya mengadakan acara makan malam spesial untuk mereka tanpa mengundang kedua orang tua Alvaro. Sebab, mereka tidak mengetahui masalah ini.
__ADS_1
"Apa iya Bunda se-so sweet ini?" tanya Naufal ketika ketiganya masuk ke dalam lift.
"Entahlah, tapi feeling gue kok kayaknya ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin dibicarakan sama Bunda. Atau mungkin di sana ada Papi, bisa jadi sih," ujar Frey dan Aluna serta Naufal pun memikirkan hal yang sama.
Setibanya mereka di rooftop, ketiganya dibuat tercengang melihat bagaimana dekorasi makan malam mereka yang begitu indah. Ada spot untuk berfoto-foto dan itu disiapkan sejak siang tadi oleh orang-orang yang dibayar Alvaro. Bekerja cepat dan hasilnya pun sangat memuaskan.
Di sana tidak ada bundanya maupun papinya, hanya ada mereka bertiga dan dua pelayan yang menyambut mereka. Ketiganya pun langsung diminta untuk duduk dan mereka bisa menghitung di sana ada kursi sebanyak 5 buah. Mereka menduga itu artinya mereka berlima bersama Papi.
Dari arah pintu tadi dimana mereka datang, nampak pasangan yang sangat serasi berjalan ke arah mereka dengan penampilan yang begitu mengagumkan— sederhana tetapi sangat indah dipandang mata. Apalagi tangan keduanya yang saling bergandengan serta senyuman lebar yang terukir di bibir mereka, tentu saja itu menandakan mereka memang benar-benar couple goals dan sepertinya masalah mereka sudah berakhir.
"Wah ternyata anak-anak jauh lebih antusias dibandingkan kita yang membuat acara makan malam ini. Kita terlambat sayang," ucap Alvaro kemudian ia menarikan kursi dan mempersilahkan Nurul untuk duduk, lalu ia duduk di samping Nurul.
"Oh, sudah baikan rupanya," ucap Naufal dengan begitu ketuk sehingga membuat Alvaro merasa tertohok.
'Sial! Untung anak gue. Apa begini dulu yang dirasain Mami-Papi waktu gue senakal itu dan suka banget membuat mereka kewalahan menghadapi sikap gue? Ah ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya dan ternyata karma kehidupan itu memang ada.'
Nurul pun mengambil alih suasana. Ia sangat merindukan ketiga anaknya ini, terlebih lagi cucu yang berada di dalam kandungan Aluna. Ia juga yang akan menjelaskan kepada ketiga anaknya ini dan memberi mereka pengertian terhadap apa yang terjadi di masa lalu.
"Kabar baiknya Bunda dan Papi sudah memutuskan untuk menyelesaikan masalah kami. Dan pada akhirnya kami memilih untuk kembali melanjutkan hubungan pernikahan kami. Dan selanjutnya kabar yang kalian nanti-nantikan, gadis itu bukan anak Papi kalian dan juga bukan anak papi Kriss. mungkin pada saat itu papi hanya dijebak untuk bertanggung jawab pada sesuatu yang bukan miliknya."
"Papi kalian itu pada masa mudanya sangat nakal. Dia sering membuat kesalahan, ada begitu banyak hal yang membuat papi kalian itu dicap menjadi seorang pemuda brengsek dan bajingan. Bunda mengakui semuanya karena Bunda merasakan hal itu dari masa lalu. Tetapi kembali lagi, kalian harus mau memaafkan papi karena anak itu bukanlah miliknya. Tidak ada anak ketiga, hanya ada kalian berdua dan satu menantu bunda yang paling Bunda disayangi. Oh ya, nanti akan menyusul Gea, bukan begitu Naufal?"
Nurul tidak lagi mampu menjabarkan satu persatu kalimat untuk membuat anak-anak mereka mengerti tentang seperti apa sosok Alvaro pada masa mudanya. Nurul sudah terlanjur menangis karena teringat seperti apa bejatnya Alvaro pada masa lalu tetapi ia jatuh cinta dengan sangat kepada pria ini.
Dengan cepat Alvaro meraih tubuh Nurul dan memeluknya ia tahu begitu berat bagi Nurul mengingat masa lalu kelam mereka.
"Sudah sayang, tidak perlu diingat kembali hal yang membuatmu sakit hati. Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku. Aku terlalu banyak mengucap kata maaf padamu, tetapi percayalah aku menyesali semuanya pada masa itu," ucap Alvaro sambil menghujani puncak kepala Nurul dengan ciuman, berharap istrinya itu akan merasa lebih tenang.
Melihat kedua orang tuanya yang begitu saling menyayangi serta mendengar kabar bahwa Jihan bukanlah bagian dari keluarga mereka membuat ketiga anak-anak mereka itu merasa begitu senang. Frey lebih dulu berdiri kemudian ia turut memeluk dari belakang kedua orang tuanya, diikuti Aluna dan Naufal. Mereka terlihat begitu bahagia, keluarga kecil yang sangat bahagia.
"Kami sudah memaafkan Papi dan kami sangat merasa lega karena mengetahui Jihan itu bukan anak papi juga papi Kriss. Semoga kedepannya tidak akan ada lagi masalah yang menghampiri keluarga kita," ucap Frey begitu terharu.
__ADS_1
Aluna yang terlalu sensitif pun menangis paling kencang, ia sangat bahagia melihat kedua orang tuanya selalu saling mencintai hingga di usia mereka saat ini. Perasaan lega juga dimana Jihan bukan bagian dari mereka dan itu artinya tidak akan ada anak ketiga yang masuk ke dalam kehidupan mereka.
'Setelah ini tolong Papi jangan lagi ada rahasia-rahasia. Bunda begitu baik dan berlapang dada menerima semua kesalahan papi. Apa papi mau hal ini terjadi pada Aluna? Bagaimana jika suatu saat nanti Frey melakukan kesalahan seperti Papi, apa papi bisa terima?" tanya Aluna sambil sesenggukan.
Alvaro menggeleng kuat. "Tidak Nak, Papi tidak ingin hal ini terjadi padamu, maafkan Papi maaf, untuk kesalahan yang sudah berbuat kedepannya tapi tidak akan lagi menyembunyikan apapun dari kalian. Terima kasih karena sudah menjadi bagian dari hidup Papi. Papi sangat mencintai dan menyayangi kalian."
Setelah acara berpelukan yang mengharu biru itu serta melegakan perasaan mereka semua, Nurul pun meminta mereka untuk menyantap makan malam yang hampir dingin, selanjutnya mereka akan berbincang-bincang lalu berfoto-foto sebagai momen keluarga yang akan mereka abadikan nanti.
Malam ini bintang bersinar begitu terang, menemani rembulan yang cahayanya seakan malu-malu bersembunyi di balik awan. Ribuan bintang itu turut menyinari hingga ke hati keluarga kecil Alvaro Genta Prayoga, malam ini memang mereka benar-benar diberkahi makan malam yang berlangsung dengan hikmat dan penuh dengan obrolan serta canda tawa yang membuat perasaan mereka semakin bahagia dan bersukacita.
Belum lagi mereka berfoto-foto untuk mengabadikan momen malam ini lalu kelimanya kembali duduk di tempat semula.
"Lalu Bunda, bagaimana dengan anak itu? Akan seperti apa papi menjelaskan padanya sedangkan dia saat ini sudah dibuat percaya kalau papiku ini adalah miliknya. Aku sungguh tidak rela berbagi," tanya Aluna kemudian ia mengambil posisi di samping papinya dan memeluk papinya dengan erat.
Dulu Aluna pernah tidak memiliki Papi sehingga lalu sempat merasa seperti apa yang dirasakan oleh gadis itu tapi setelah tahu dia bukan milik Papi hati Aluna pun turut merasa lega serius deh Aluna tidak rela berbagai Papi dengan orang lain yang bukan dari rahim mami bukan berarti Aluna tidak mau berbagi Papi dengan Frey, suami tampan itu pengecualian karena dia adalah kesayangan kita semua.
Aluna kembali dilanda emosional ya benar-benar tidak sanggup jika harus melihat orang lain memanggil orang tuanya dengan sebutan Papi cukup dia Noval dan fresh saja serta anak-anak dari ayah Danish dan juga bibi Alee.
Alvaro memeluk erat tubuh Aluna Ia juga kembali dilanda emosional bagaimana ketika dulu ia tidak mengetahui tentang keberadaan Aluna di dunia ini ia hanya mengalami sindromnya mengalami morning secret yang begitu luar biasa menyiksa akan tetapi ia sama sekali tidak tahu kehadiran Aluna di dunia ini bersama wanita yang ia cintai.
Untuk masalah Jihan biar Papi dan Bunda yang akan menyelesaikannya kalian harus tahu kalian bertiga adalah anak-anak kebanggaan Papi dan Bunda tidak akan ada yang lainnya yang dimasukkan ke dalam rumah ini kecuali calon menantu papi, iya 'kan Naufal?"
Naufal mendengung kesal, lagi dan lagi nama gadis yang sudah membuatnya tertohok itu disebutkan di meja makan. Jika ia hitung-hitung, sudah dua kali nama itu terdengar di telinganya malam ini — pertama bundanya yang menyebutkannya kemudian papinya. Ia benar-benar merasa gadis itu akan menjadi ancaman kehidupannya nanti karena kedua orang tuanya sudah memilihkan Gea untuk dijodohkan dengannya.
"Bunda ... tapi aku ini masih SMP lho, belum waktunya untuk memikirkan perjodohan!" ucap Naufal sedikit kesal.
Keempat orang yang ada di sekitar Naufal itu tertawa gemas. Naufal terlihat begitu kesal karena sejujurnya ia masih menginginkan Ziya.
Entah apa maksud dari papinya dan kakak iparnya yang waktu itu mengatakan bahwa cintanya tersebut bertepuk sebelah tangan dan dia tidak mencintainya. Sedangkan selama ini setiap kali ia mengajak Ziya untuk jalan-jalan, pasti dia selalu menurut saja dan mereka terlihat begitu dekat. Naufal bisa merasakan jika dia juga menyukainya lalu apa yang salah dengan itu? Lagi pula dia juga adalah anak dari Paman Ikram, mana mungkin kedua orang tuanya tidak menyetujui perasaannya ini.
"Menikah dulu, jatuh cintanya nanti," ucap Frey kemudian ia memeluk Aluna karena ia pun merasakan hal yang sama pada Aluna.
__ADS_1
Awalnya ketika mereka masih kanak-kanak, Aluna begitu cerewet dan ia kurang menyukainya walaupun ada sisi lain yang membuat Frey mutertarik pada bocah 3 tahun itu. Aluna yang selalu mampu menghiburnya di saat ia tengah sendirian sambil memikirkan kedua orang tuanya yang sudah tidak lagi berada di sisinya.