
"Kok bisa ada dia di sini?"
Pertanyaan Frey yang baru saja sampai di ambang pintu langsung mengalihkan atensi mereka. Dengan cepat Jihan berlindung di balik punggung Lexi, ia takut akan Frey yang terlihat sangat mengerikan saat menatapnya.
'Oh jadi ini yang namanya Frey? Sepantaran gue kok dia terlihat lebih menakutkan ya?'
Lexi bergumam dalam hati melihat Frey yang berjalan ke arah mereka. Pertama-tama Frey mencium punggung tangan Nurul kemudian Alvaro lalu ia beralih memeluk dan mencium Aluna serta mengusap perutnya.
"Sayang ih kenapa ketus begitu?" tegur Aluna namun Frey tidak peduli, ia tetap saja menatap Jihan seolah ia ingin memangsanya.
Jihan ketakutan dan Lexi hanya bisa menyembunyikannya di balik punggung. Lexi akui aura mengintimidasi Frey sangat kuat, bahkan ia sendiri yang tidak memiliki masalah pun merasa terseret di dalamnya.
"Apa dia baru saja datang mengadu?" tanya Frey menatap ke arah bundanya.
"Mengadu?" tanya Nurul, Alvaro dan Aluna bersamaan.
Frey mengangkat kedua bahunya. "Tadi aku datang ke tempatnya dan mengancamnya untuk aku jadikan pajangan di rumah lokalisasi kalau sampai di macam-macam!" jawab Frey dengan santainya.
Alvaro tersedak ludahnya sendiri, Nurul melotot tak percaya, sedangkan Aluna menatap takjub pada sosok suami yang baginya sangat keren. Frey selalu terbaik di mata Aluna dan semoga selamanya akan terus begitu.
'Menantu gue emang ter the best lah. Gerakan cepat dan selalu membuat lawan takut. Ah andai saja dia tidak punya warisan yang begitu banyak, sudah gue suruh gantiin di perusahaan untuk sementara nungguin Naufal. Pasti mulutnya badas banget dan lawan akan ketakutan hanya dengan sekali lirikan Frey. Ck! Pilihan gue emang nggak salah!'
Nurul berdeham mencoba untuk menetralkan perasaannya. Ia sangat terkejut dengan Frey yang ia ketahui sebagai anak yang sangat baik dan juga selalu melindungi Aluna ternyata punya sisi kejam juga. Namun dalam hati Nurul juga merasa senang karena Frey selalu menempatkan dirinya di garis terdepan untuk melindungi keluarganya. Aluna akan selalu aman bersamanya.
"Jihan lu ngomong deh sama dia," bisik Lexi yang juga sama terkejutnya ketika Frey dengan gamblangnya mengatakan akan menjadikan Jihan pajangan di rumah lokalisasi.
Dengan takut-takut Jihan mengangkat wajahnya. Ia mencoba untuk santai, toh dia tidak datang untuk niat jahat melainkan untuk mendapatkan kebaikan dari keluarga ini. Jihan tidak seberani dan senekat itu hingga akan membuat Frey murka padanya.
"Frey lu jangan salah paham dulu, gue datang dengan niat baik dan gue nggak mau cari ribut. Gue cuma mau minta maaf sama semuanya, gue akui gue salah karena gue terobsesi sama tuan Alvaro. Gue akui itu semua. Sampai akhirnya lu datang dan membanting ekspektasi gue. Dan ketika Lexi mengatakan perasaannya terhadap gue, kembali gue sadar kalau semua yang gue lakuin itu semata-mata hanya sebuah obsesi belaka. Gue sadar, gue yang salah. Tapi ... gue hanya membutuhkan kasih sayang Frey. Lu nggak tahu gimana rasanya jadi gue yang nggak punya orang tua—"
"Gue tahu bahkan gue lebih tahu! Sejak usia gue tiga tahun nyokap gue meninggal, bokap gue masuk penjara. Gue nggak punya siapa-siapa selain keluarga ini yang membesarkan gue. Lu nggak tahu gimana rasanya hidup tanpa keluarga kandung lu di sisi lu belasan tahun. Lu jangan merasa seolah-olah lu yang paling mengenaskan di sini. Masih banyak yang hidupnya jauh lebih menyesakkan dada. Lu lihat bunda gue, dia bahkan puluhan tahun tidak merasakan kasih sayang orang tua dan hanya tinggal di panti. Jadi lu nggak usah jadi sok sad girl!"
Tidak ada kata yang mampu Jihan sampaikan selain air mata yang mewakili perasaannya. Frey memang benar, bukan hanya dirinya yang paling mengenaskan di muka bumi ini. Hidup Frey bahkan lebih pilu begitupun dengan Nurul. Dan Jihan, ia menyadari bahwa dirinya terlalu berlebihan menanggapi ini semua. Masih ada banyak yang lebih susah hidupnya dan ia lupa bersyukur dengan pemberian Tuhan walaupun bukan lewat orang tua kandungnya.
Aluna mengelus punggung Frey. Ia tahu suaminya itu saat ini menjadi sangat emosional ketika seseorang mengunakan alasan orang tua sebagai sumber kejahatan yang mereka lakukan.
"Buktinya, gue sama bunda nggak semenyedihkan lu. Lu hanya nggak mau natap ke arah yang lebih luas lagi. Lu itu sebenarnya beruntung Jihan. Lu dikasih kesempatan untuk memiliki orang tua angkat sebaik mereka tapi lu justru memiliki rencana busuk di dalamnya. Lu waras, 'kan?"
Frey lebih banyak berbicara kali ini. Ia ingin Jihan benar-benar sadar akan kesalahannya. Hidup memang tidak semudah dan se-instan mie instan. Ada banyak hal yang harus dilalui entah itu pahit atau manis, semuanya tetap akan dijalani.
Jihan semakin merasa tertohok dengan ucapan Frey. Ia menangis sejadi-jadinya mengingat bagaimana ia sempat menjadi orang yang jahat hanya karena rasa obsesinya terhadap Alvaro. Lexi benar, ia berubah total begitu mendapatkan kasih sayang dari Alvaro. Dia menjadi serakah dan hilang sudah sifat Jihan yang dulunya merupakan gadis yang lemah lembut kesayangan Lexi.
"Iya Frey iya, lu benar dan gue salah dalam hal ini. Gue minta maaf dan thanks karena lu datang ke rumah gue dan lu bikin gue sadar kalau gue sudah salah mengambil langkah. Sekali lagi terima kasih Frey. Gue nggak bohong dan gue benar-benar menyesal untuk itu semua. Mendapatkan keluarga utuh, mendapatkan cinta gue, semua sudah sangat cukup untuk gue," ucap Jihan sambil menangis tersedu-sedu. Lexi pun membawanya ke dalam pelukan.
Frey menghela napas, ia berharap Jihan memang benar-benar akan berubah dan menjadi lebih baik lagi.
"Hiksss ..."
Semua atensi tertuju pada Aluna yang kini justru tengah menangis juga tersedu-sedu. Entah apa yang membuatnya bersedih, atau mungkin karena terbawa suasana.
"Sayang hei, kenapa kamu menangis?" tanya Frey menjadi panik sebab Aluna tidak mau berhenti menangis.
"Aku nggak tahu, aku nggak suka aja lihat kamu marahin Jihan. Rasanya aku pingin cekik kamu, hikss ..."
__ADS_1
Frey menelan salivanya dengan susah payah. Menolak akan membuat Aluna tidak mendapatkan keinginannya tapi jika membiarkan keinginan Aluna tersebut, ia yang akan tersiksa.
Aluna kemudian berjalan ke arah Jihan. Ia memperhatikan wajahnya dan rasanya Aluna begitu sedih. "Muka lu ini, kalau diperhatiin mirip dia," lirih Aluna.
Semua tercengang mendengar ucapan Aluna termasuk Jihan sendiri. Mereka harap-harap cemas menanti apa yang akan dikatakan oleh Aluna lagi. Apalagi sekarang Aluna sudah duduk bersama Jihan dan ia meminta Jihan untuk mengelus perutnya.
"Muka lu mirip dia." Lagi, Aluna mengucapkan kata yang sama.
"Mi-mirip siapa?" tanya Jihan merasa gugup.
Aluna tersenyum dan ia menikmati saat Jihan mengelus perutnya dan Jihan pun merasa senang karena diberi kesempatan untuk dekat dengannya.
"Mirip calon menantu gue!"
Beberapa hari pun berlalu, Jihan semakin menunjukkan tanda-tanda bahwa ia memang benar-benar berubah. Ia juga jarang datang ke rumah Prayoga dan hanya sesekali saja bertemu jika diajak untuk kumpul bersama. Jihan tetap pada kehidupan sebelumnya hanya saja ia selalu bahagia karena Nurul sering menanyakan kabarnya dan kadang pun diajak untuk berbelanja bersama dengan Aluna.
Ditambah lagi kehadiran Lexi yang kini bukan lagi sebagai sahabat melainkan sebagai kekasih. Hidup Jihan semakin berwarna dan Alvaro pun menyarankan mereka untuk mengikat hubungan mereka dan keluarga Lexi sangat setuju. Siapa yang tidak akan setuju jika akan berbesanan dengan keluarga Prayoga. Mereka pasti akan turut merasakan dampak baiknya.
Hidup Jihan menjadi lebih baik lagi, tapi kisah ini bukan tentang Jihan. Kisah ini bermula dari Alvaro dan Aina hingga Frey dan Aluna. Pasangan yang berbeda generasi itu semakin memperlihatkan kemesraan dan keharmonisan mereka.
Seperti saat ini, Frey sedang memanjakan Aluna. Istrinya itu sedang meminta untuk dituruti keinginannya dimana Frey menggendongnya kesana-kemari di dalam rumah. Keinginan yang aneh tetapi Frey sangat menikmati setiap momen.
Bahkan Naufal sampai jengah melihat bagaimana manjanya Aluna dan berlebihannya Frey. Ia berbisik dalam hati kalau ia tidak akan menjadi budak cinta apalagi untuk gadis bernama Gea Mazeen itu.
Saat mereka sedang asyik menikmati drama tv di sore hari, Alvaro datang dengan tergesa-gesa. Ia mendapatkan kabar dari asisten rumah tangga yang menjaga Jihan kalau Jihan mengalami kecelakaan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit.
Mereka pun bergegas menuju ke rumah sakit dimana Jihan di rawat. Kecelakaan tersebut karena Jihan untuk bersama Lita dan Puput dimana Lita yang mengendarai mobil dan terjadi kecelakaan lalu lintas.
"Pasien yang bernama Jihan mengalami pendarahan sebab ia terlempar dari dalam mobil dan sekarang ia membutuhkan donor darah. Kebetulan golongan darahnya sangat langka dan kami tidak memiliki persediaan darah," ucap dokter tersebut hingga membuat mereka semakin panik.
"Kalau boleh tahu golongan darah Jihan apanya Dok?" tanya Frey.
"AB Rhesus negatif," jawab dokter tersebut.
Frey menarik napas dalam-dalam kemudian ia menghembuskannya dengan sedikit kasar. Ia memikirkan cara bagaimana bisa mendapatkan donor darah tersebut dan Frey tidak sanggup melihat wajah bunda yang sangat gemas.
"Aku akan membawakan pendonornya segera," ucap Frey kemudian ia mengecup dahi Aluna dan berlari pergi.
Sampai di tempat yang Frey tuju, ia tidak lagi berbasa-basi dan meminta orang yang bisa menolong Jihan datang. Tidak butuh waktu lama Frey datang bersama si pendonor. Semua dibuat terkejut saat Frey datang dengan menyeret seseorang yang sangat mereka kenal.
"Tuan Cakrawala Shan," lirih Alvaro.
"Tuan, seperti yang sudah saya katakan, di dalam ada anak Anda yang membutuhkan donor darah. Tolong dia dan Anda bisa menebus kesalahan Anda pada masa lalu," ucap Frey dengan begitu tegas dan tuan Cakrawala langsung bergegas masuk ke ruang UGD tempat dimana Jihan berada.
Alvaro menatap Frey dan meminta penjelasannya. Bagaimana bisa tuan Cakrawala Shan yang dibawa Frey untuk memberikan donor darah pada Jihan.
"Ceritanya panjang Pi," ucap Frey kemudian mereka duduk bersama di kursi tunggu. Di sana juga sudah ada Lexi yang datang dengan terburu-buru ketika mendapat kabar kalau Jihan kecelakaan bersama dua temannya.
Flashback on ...
Hari itu ketika Aluna mengatakan bahwa Jihan begitu mirip dengan Leon, Frey tidak tinggal diam begitu saja, ia tertarik untuk menyelidiki asal usul Jihan dan mengaitkannya dengan Tuan Cakrawala karena memang ketika ia memperhatikan Jihan ketika sedang diam, dia bisa melihat gambaran sosok Leon dalam diri Jihan.
Frey pun mulai membuat janji temu bersama dengan Tuan Cakrawala Shan melalui Leon. Ia sengaja mencari topik yang membuat tuan Cakrawala akhirnya membuka suara.
__ADS_1
"Aluna merasa Jihan begitu mirip dengan Leon, Paman. Tahu 'kan bahwa baru-baru ini keluarga kami mengangkat seorang putri yang bernama Jihan di mana dia sudah tidak memiliki kedua orang tuanya dan ketika kami sedang duduk bersama, Aluna memperhatikannya dan wajahnya terlihat begitu mirip dengan Leon. Apakah Paman tidak pernah kehilangan seorang putri?" tanya Frey berusaha memancing Tuan Cakrawala untuk bicara.
Frey menatap wajah Tuan Cakrawala yang terlihat kaget. Frey merasa pria paruh baya ini menyimpan sebuah rahasia besar dari sorot matanya, ia bahkan sesekali memalingkan wajahnya tak sanggup menatap Frey.
"Saya tidak tahu tentang itu dan saya tidak pernah memiliki seorang putri. Anak saya hanya Lein saja, anak saya satu-satunya karena saya tidak sempat memiliki anak kedua ketika istri saya meninggal. Dan Leon pun merupakan anak pertama," jawab tuan Cakrawala Shan.
Frey mengangguk-anggukkan kepalanya, namun feeling-nya begitu kuat jika tuan Cakra belum berkata sejujurnya.
"Oh mungkin hanya perkiraan kami saja. Mohon maaf ya Paman, kami hanya merasa sangat kasihan padanya. Ia ditipu oleh mendiang ibunya dengan mengatakan ayahnya adalah papi Alvaro. Hahh ... ternyata sampai akhir hayatnya pun nyonya Irana itu tetap melakukan kebohongan. Entah apa tujuannya," ucap Frey dengan sebuah maksud terselubung.
"Tunggu sebentar, siapa tadi nama ibunya?" tanya tuan Cakra begitu terkejut.
"Irana. Apa Paman mengenalnya?" tanya Frey harap-harap cemas, ia sangat berharap pria ini adalah orang yang ia cari.
Tuan Cakra mengangguk. Awalnya ia merasa begitu ragu namun rasa penasarannya pun tidak bisa ia singkirkan. Ia penasaran dengan gadis yang bernama Jihan dan jika benar itu adalah anaknya mungkin ia bisa mempertimbangkan untuk membawanya pulang karena Leon pun tidak memiliki seorang saudari.
"Apakah kamu ingin mendengar sebuah cerita Frey?" tanya Tuan Cakrawala dan Frey pun mengangguk. Frey sangat menantikan Tuan Cakrawala menceritakan hal yang mungkin berhubungan dengan Jihan dan masa lalunya.
Malam itu para pebisnis sedang melakukan acara makan-makan sebab mereka berhasil memenangkan tender yang bernilai fantastis. Beberapa di antara mereka masih belum memiliki pasangan sehingga ketika acara formal mereka berakhir, yang tertinggal di sana hanya yang masih belum menikah dan mereka mengundang beberapa gadis-gadis untuk menemani mereka malam itu.
Salah satu dari mereka mengusulkan untuk pergi ke sebuah klub malam dan di sanalah pertemuan itu terjadi ketika tuan Cakrawala bertemu dengan seorang gadis yang sedang meratapi hidupnya, dengan beberapa botol minuman beralkohol yang telah kosong di hadapannya.
Tuan Cakra diam memperhatikannya. Ia melihat gadis yang seusia dengannya itu tengah meracau tak karuan. Dia pun tertarik untuk mendekatinya karena ia sendiri di sana yang tidak memiliki pasangan, sebab Ibu Leon kala itu yang masih menjadi kekasihnya—belum menikah sedang berada di luar kota untuk menyelesaikan pendidikannya.
"Hai nona, sepertinya masalahmu begitu banyak," sapa tuan Cakrawala kala itu.
"Siapa kau? Tidak perlu mengikut campur urusanku. Entah masalahku banyak atau sedikit, itu bukan urusanmu," ucap gadis itu, ia kemudian kembali meminum minumannya.
Tuan Cakrawala hanya menatap gadis itu tanpa bersuara. Kembali gadis itu meracau tak karuan, sepertinya ia baru saja mengalami patah hati karena kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, dan itu ia ketahui dari ucapan-ucapan gadis itu yang mengumpati kedua orang tuanya.
"Berhentilah minum dan tenangkanlah dirimu. Ada banyak masalah tapi tidak dengan alkohol untuk mengatasinya. Kamu akan merasakan ketenangan sesaat tapi ketika kamu bangun, tubuhmu akan terasa sakit dan kepalamu akan terasa pusing. Belum lagi jika ada seseorang yang memanfaatkanmu di sini. Sebagai orang yang sedikit peduli padamu karena kita seusia, maka aku mengingatkanmu tentang hal ini. Di tempat ini ada banyak pria yang otaknya geser. Melihat cewek secantik dirimu yang sedang mabuk, mungkin saja mereka mengambil kesempatan dan keuntungan darimu," ucap Tuan Cakra mencoba untuk membuat gadis itu berhenti minum.
"Bukan urusanmu! Kamu bukan siapa-siapaku dan—"
Hueekk ...
Mata tuan Cakra melotot begitu ia melihat pakaiannya ditumpahi muntahan dari gadis yang baru saja ia nasihati. Ingin marah tapi gadis ini sedang mabuk, percuma saja.
"Gue nggak sengaja. Maaf ya," ucapnya kemudian ia tertawa dan sepertinya pengaruh alkohol sudah mulai bereaksi di tubuhnya.
Tuhan Cakrawala hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Ia kemudian menyeret gadis itu untuk bertanggung jawab pada pakaiannya dan memintanya untuk segera membersihkannya. Karena dalam pengaruh alkohol, gadis itu menurut saja, ia bahkan tidak tahu dibawa ke mana.
Di dalam mobil gadis itu terus saja mengumpat, ia meracau tidak jelas, sesekali tertawa, sesekali berteriak dan sesekali pula menangis. Entah tuan Cakrawala harus melakukan apa terhadapnya. Ia pun memutuskan untuk menepikan mobilnya, ia ingin berbicara dengan gadis ini dan mungkin saja ia bisa tahu di mana alamatnya agar ia bisa mengantarkannya segera.
"Nama lu siapa? Biar gue antar ke rumah lu. Jangan lupa sebutin alamat lu juga," ucap Tuan Cakrawala yang sudah tidak sanggup membawa gadis itu pulang bersamanya.
"Nama gue ... Irana. Ya, Irana. Nama gue Irana," ucapnya berulang kali.
"Nama yang cantik, tapi akan lebih baik jika lu pulang ya. Gue antar dan beritahu alamat lu dimana."
Lama tuan Cakrawala menunggu tapi tidak ada sahutan. Yang ada Irana tiba-tiba saja menyerangnya dan mengecup bibirnya. ********** dengan rakus dan tuan Cakra tidak bisa lagi menghindar. Permainan Irana membuatnya terbuai dan lupa jika ia sudah memiliki seorang kekasih hingga akhirnya mereka melakukan hubungan terlarang itu di sebuah hotel.
Pagi harinya keduanya pun tersadar dan Irana terkejut ketika ia terbangun bersama seorang pria di hotel yang tidak ia kenali. Tanpa menunggu pria itu bangun, Irana pun segera pergi dan sejak hari itu mereka tidak pernah bertemu lagi.
__ADS_1