
Dengan perasaan kesal Axelle melajukan mobilnya menuju ke arah rumah keluarga Emrick. Ia berhenti tepat di seberang, ia hanya bisa memantau tanpa bisa menemui Nurul. Ia tidak mungkin datang dan mengatakan kalau mereka tidak di restui oleh keluarganya.
Baru saja ia bahagia karena Nurul mau membuka hati untuknya, hal tak terduga harus ia terima dan itu berasal dari keluarganya sendiri. Nurul pasti akan langsung menjauh jika ia tahu hubungan mereka tidak mendapatkan restu.
Axelle mencengkram erat setir mobilnya. Hatinya benar-benar sakit saat ini, entah bagaimana ia akan mengahadapi Nurul dengan kenyataan ini. Nurul pasti akan kembali terluka. Axelle tidak mau Nurul kembali terluka dan itu karenanya. Axelle tidak sanggup.
"Aku sudah menjanjikan kekuatan dan kebahagiaan padanya. Aku harus menepatinya. Lagi pula, aku sudah memiliki bisnis lain di luar lingkup bisnis Farezta. Tidak masalah bagiku meninggalkan semuanya karena aku tidak akan jatuh miskin dan masih bisa membiayai seluruh kebutuhan Nurul dan keluarga kami nanti. Aku yakin dengan wanita seperti Nurul yang berdiri di sampingku kelak, semua akan baik-baik saja," gumam Axelle.
Kaca mobil Axelle yang terbuka membuatnya saling bertatapan dengan penumpang di mobil yang baru saja keluar dari halaman rumah keluarga Emrick karena kaca mobil itu juga terbuka.
"Bukankah itu Alvaro Genta Prayoga?" sentak Axelle. "Bagaimana bisa dia sepagi ini sudah berada di rumah Emrick? Kemarin kami sama-sama masih di Jakarta out of the blue dia sudah disini," gumam Axelle tak habis pikir.
Entah mengapa melihat Alvaro seperti melihat saingannya dalam memperebutkan hati Nurul. Padahal ia sendiri tahu kalau Alvaro dan Nurul baru berkenalan. Tapi sorot mata itu, tidak bisa Axelle sepelekan. Ia merasa ada sesuatu antara Nurul dan Alvaro yang ia tidak ketahui.
"Entah hanya perasaan atau memang ini fakta bahwa mereka memiliki something yang nggak bisa aku ketahui. Tatapan mereka nggak bisa bohong dan kalau diperhatikan lagi, Aluna itu begitu mirip dengan Bu Yani istri tuan Genta. Jangan-jangan ...."
Axelle merasa tertohok dengan asumsinya sendiri, mendadak ia ketakutan jika memang yang ia pikirkan itu benar. Ia bisa melihat tekad yang kuat dari Alvaro apalagi tatapannya pada Nurul benar-benar mendamba sama seperti kala ia menatap Nurul.
"Jika Alvaro sudah disini itu artinya dia sedang berjuang untuk mendapatkan Nurul lagi. Nggak, nggak boleh. Gue udah sejauh ini dan gue nggak mau kalah!"
Axelle melajukan mobilnya ke arah berbeda, ia harus pulang dan ia tentunya pulang ke apartemennya bukan ke rumah utama. Axelle harus menyegarkan pikiran juga menyusun rencana demi rencana agar bisa tetap mempertahankan posisinya.
Berbeda dengan Alvaro yang juga tadi sempat melihat Axelle yang sedang memantau rumah Nurul, ia justru melebarkan senyumnya. Fakta bahwa Nurul masih begitu mencintainya membuat ia jumawa. Ia yakin jika berusaha lebih keras lagi maka Nurul akan luluh padanya.
"Lu jangan mimpi buat miliki Nurul karena Aina itu cuma untuk Alvaro!" gumamnya.
.
.
Ikram dan Danish baru saja selesai membahas pekerjaan mereka dan menyusun rencana untuk menyerang balik Kriss Griffin. Danish sebenarnya harus menyusun rencana ekstra karena ia yang lebih dulu harus berhadapan dengan Kriss dan menolak kerja sama ini.
Danish pun sudah mewanti-wanti Ikram agar jangan sampai pertemuan mereka ini terendus oleh Kriss Griffin. Biar dirinya yang akan membuka pembicaraan lebih dulu dengan Kriss sebab mereka sudah pernah bertemu dan merencanakan kerja sama dan tinggal menunggu kesepakatan saja.
Dengan kata lain, Danish meminta Ikram berpura-pura tidak tahu tentang rencana Kriss untuk menjatuhkan mereka. Untuk bagian awal, biar Danish yang mengerjakannya. Ikram tentu sepakat, bukan karena ia ingin mengambil kesempatan memanfaatkan kinerja Danish, ia sadar bahwa pekerjaannya akan sangat banyak dan jika ditambah masalah Kriss, ia mungkin akan depresi sendiri.
__ADS_1
"Ya udah, gue mau masuk dulu. Gue bahkan belum mandi, hehehehe." Danish tertawa, ia kemudian melenggang menaiki tangga dan berpapasan dengan Nurul yang terlihat baru selesai mandi. "Kamu baru mandi Dek?" tanya Danish.
Nurul mengangguk, "Iya Kak. Tadi waktu sampai langsung tidur jadi gini deh baru mandi. Kakak kapan sampai?" tanya Nurul kembali.
"Tadi pagi, kakak masuk ya," pamit Danish.
Nurul melanjutkan langkahnya, saat ia hendak berbelok ke ruang makan, matanya bertatapan dengan seorang pria yang juga hendak masuk ke kamar tamu.
"Lho, Ikram?" pekik halus Nurul. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan pria di masa lalunya yang menjadi saksi kepahitan hidupnya ini.
Bukan hanya Nurul yang terkejut, Ikram justru jauh lebih terkejut karena melihat Nurul di rumah ini.
"Nurul, lu disini? Kok bisa?" tanya Ikram seraya berjalan mendekati Nurul. Wanita yang masih pendek dan masih imut ini tidak berubah sedikit pun.
Ditatap seperti itu oleh Ikram membuat Nurul keki. Melihat Ikram sama saja dengan kembali mengingat masa lalunya bersama Alvaro. Mengingat Alvaro kembali membuatnya terluka dalam rindu.
"Halo Ikram, emm sebenarnya gue tinggal di rumah ini. Pemilik rumah ini ternyata orang tua kandung gue," cerita Nurul diakhiri kekehan kecil.
Ikram tambah terkejut lagi, rupanya gadis yang mereka buat taruhan ini adalah anak dari sahabat ayahnya. Oh ... oh ... apa kabar jika sampai Ben Elard tahu putri sahabatnya ini mereka jadikan permainan. Bisa habis mereka di tangan iblis itu, membayangkannya saja sudah membuat Ikram bergidik ngeri.
Alvaro yang senyam-senyum sendiri.
Alvaro yang pagi tadi menguping katanya tentang masa depan.
Alvaro yang ia dapati sedang menangis di balik pintu.
Dan Alvaro yang mengetahui nama lengkap Danish.
Jika Ikram satukan lagi kepingan-kepingan puzzle tersebut, dapat Ikram simpulkan bahwa memang Alvaro sudah tahu jika rumah ini adalah rumah Aina-nya.
"Tunggu dulu, lu udah pernah ketemu sama Alvaro belum?" tanya Ikram.
Mendengar nama Alvaro membuat senyum tipis tersungging di bibir Nurul. Ia mengangguk, "Kemarin gue dari Jakarta dan ketemu sama dia nggak sengaja. Kok lu mendadak bahas Alvaro?" tanya Nurul dengan suara lembutnya.
"Kemarin?"
__ADS_1
Nurul mengangguk.
"Dan apa lu tahu kalau semalam Alvaro nginap di rumah ini? Dia tidur bareng gue di kamar tamu, lu tahu?" cecar Ikram.
Mata Nurul membulat, mendengarnya saja langsung membuat Nurul syok bukan main. Alvaro di rumah ini dan menginap? Tidak pernah ada dalam pikiran Nurul sama sekali.
Out of the box.
Berbagai asumsi muncul di benak Nurul tentang Alvaro. Rasanya tidak mungkin karena kemarin Alvaro di Jakarta dan tidak mungkin juga ia mengikuti Nurul karena kata Ikram semalam mereka menginap di sini dan ia sendiri baru sampai tadi subuh.
Nurul menggeleng, "Gu-gue nggak tahu," cicitnya.
Kalau Alvaro tahu gue disini, berarti sebentar lagi dia mungkin bakalan datang lagi. Tapi mungkin saja dia ikut Ikram doang ke rumah ini. Oh ya, kenapa mereka bisa di rumah ini? Bahkan sampai nginap?
"Lu kok bisa disini?" tanya Nurul memastikan.
"Oh, bokap gue itu sahabatan sama bokap lu. Kemarin beliau telepon bokap dan bilang ada masalah dan seseorang nyari masalah sama keluarga gue dan bodohnya justru menyewa firma hukum dari bokap lu. Kakak lu, Danish Ganendra Emrick kakak lu, 'kan?"
Nurul mengangguk sebagai jawaban. "Tapi kok bisa bareng Alvaro?" tanya Nurul mengeluarkan pertanyaan pamungkasnya.
Ikram tersenyum menggoda Nurul, ia tahu pertanyaan ini pasti akan keluar dari mulut Nurul. "Kenapa muter-muter dari tadi hemm, kenapa nggak langsung ke intinya aja. Lu tinggal nanya, 'Alvaronya dimana? Gue kangen' gue bakalan jawab kok," ledek Ikram yang membuat Nurul memalingkan wajahnya.
Ikram tertawa melihat Nurul yang bersikap malu-malu, ia bahkan lupa jika dulu Alvaro pernah mengatakan jika Nurul sudah menikah. Yang ia lihat dari cara Nurul berekspresi, mata itu masih memancarkan binar yang sama seperti beberapa tahun yang lalu saat ia jatuh cinta pada Alvaro. Ikram yakin Nurul masih memiliki cinta untuk Alvaro dan keduanya masih saling mencintai satu sama lain.
"Alvaro udah balik, mungkin sebentar dia bakalan datang lagi," ucap Ikram, "Gue ke kamar dulu," imbuhnya.
Gawat! Gue belum siap ketemu Alvaro lagi dan gue nggak mau dia tahu kalau ini rumah gue. Lebih baik gue bawa Aluna ke panti saja. Ya, gue ke panti saja!
.
.
"Ya ampun kak, gue itu jauh-jauh dari Jakarta cuma lu panggil buat bantu lu di kegiatan amal? Oh kakak keterlaluan!" gerutu Alvaro saat sibuk membantu mengangkat ini itu yang diperintahkan sang kakak.
"Nggak usah ngomel! Kapan lagi kakak nyuruh-nyuruh CEO nomor dua di negara ini. Buruan, kita harus segera sampai ke panti asuhan Sitti Khadijah, mereka pasti sudah menunggu!"
__ADS_1
Eh? Nama pantinya kayak kenal. Tapi dimana?