GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Bolehkah Aku?


__ADS_3

Mencari seseorang di kota ini bukanlah hal yang sulit untuk Alvaro Genta Prayoga. Ia dengan cepat mendapatkan alamat hotel tempat Miranda menginap. Tadinya Alvaro mengira Miranda akan pulang ke rumah ayahnya namun jika ia pikir-pikir, Miranda tidak mungkin pulang ke rumah itu dimana ada ibu tirinya yang sangat tidak Miranda sukai.


Dan disinilah dirinya, di depan kamar Miranda. Dengan penampilannya yang keren dan juga tak ketinggalan sebuket bunga ditangannya. Wajah tampan itu nampak begitu berseri, tidak terlihat tanda-tanda penyesalan setelah tadi sudah berhasil menghancurkan hidup seorang gadis.


Alvaro mengetuk pintu kamar. Cukup lama ia menunggu hingga pintu terbuka dengan Miranda yang masih menggunakan jubah mandinya. Rambutnya terbungkus handuk yang menandakan ia baru saja keramas.


"Surprise!!!"


Miranda yang kaget dengan kedatangan Alvaro pun semakin terkejut.


"Vario!! Kamu disini?" tanya Miranda yang baru tersadar dari keterkejutannya.


"Menurutmu? Dimana cintaku berada maka aku akan berada disana," jawab Alvaro.


Miranda tersenyum lebar kemudian ia segera memeluk Alvaro. "I Miss you so much, honey."


"I Miss you more," balas Alvaro.


Miranda mengurai pelukannya kemudian ia mengajak Alvaro untuk masuk ke dalam kamarnya. 


"Sayang aku ganti baju dulu, tunggu ya," ucap Miranda namun tangannya langsung ditarik oleh Alvaro.


"Seperti ini saja, kau terlihat sangat cantik dan seksi. Apalagi jika tidak menggunakan pakaian. Aku rasa kau akan terlihat jauh –"


Pukkk ….


Miranda melemparkan bantal kecil ke wajah Alvaro kemudian ia tertawa.


"Dasar mesum!" 


"Aku memang selalu mesum saat denganmu sayang. Bagaimana kalau malam ini kau kuhukum karena sudah meninggalkanku," ucap Alvaro dengan seringainya.


Miranda terkekeh. Ia sudah hapal betul dengan kelakuan Alvaro.


"Aku ini baru sampai dan sangat lelah. Masa kau mau menghukumku. Dasar raja tega!" cibir Miranda namun yang ada justru Alvaro langsung menarik tangannya hingga ia jatuh terduduk di pangkuan Alvaro.


"Dan kau ratu tega karena sudah meninggalkanku," balas Alvaro yang langsung mencium bibir Miranda dan ciuman itu langsung berubah menjadi ciuman panas. Keduanya sangat berhasrat karena kerinduan yang sudah lama terpendam kini sudah tersalurkan.


"Jangan pernah pergi dariku, Randa," ucap Alvaro setelah menyudahi ciumannya.


"Kau tahu aku tidak berniat meninggalkanmu. Aku hanya ingin menggapai kesuksesanku dan membuktikan kepada Daddy kalau aku bukan anak manja. Biar istrinya itu tahu kalau aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dari Daddy. Dan aku juga melakukan ini untukmu, agar nanti aku tidak dipandang sebelah mata ketika bersanding dengan keturunan Prayoga," ucap Miranda antara kesal juga sedih.


Alvaro langsung mendekapnya, ia tidak tega melihat Miranda bersedih.


"Kau memang gadisku. Aku sangat mencintai dan menginginkanmu. Bolehkah aku?" tanya Alvaro dengan suara seraknya, ia menahan hasratnya yang sedari tadi karena Miranda duduk di pangkuannya.


"Dasar! Aku sudah mandi dan aku lelah," tolak Miranda dengan wajah bersemu merah.


"Lihatlah, ucapan dan bahasa tubuhmu tidak sejalan," ejek Alvaro yang membuat Miranda semakin malu.


"Kau! Dasar pemaksa!" pekik Miranda.

__ADS_1


"Aku tidak."


Entah siapa yang memulai tapi kini Alvaro sudah berada di atas tubuh Miranda. Keduanya masih berpakaian lengkap dan saat ini tengah berciuman panas dengan tangan Alvaro yang tidak bisa diam. Ia terus menjelajahi seluruh inci dari tubuh Miranda.


"Apakah kau siap memberikannya padaku malam ini?" tanya Alvaro. Ia menyudahi ciumannya dan memilih untuk bertanya pada Miranda. 


Selama ini mereka berpacaran hanya saling memuaskan tanpa melakukan penyatuan. Alvaro tidak ingin menyentuh Miranda sampai Miranda sah menjadi istrinya. Ia tidak ingin momen malam pertamanya dilakukan sebelum waktunya. 


Miranda sempat terdiam kemudian ia mengangguk pasti. Ia juga menginginkannya dari Alvaro. Selama ini ia dan Alvaro tidak melakukan lebih dan malam ini ia merasakan jika Alvaro sudah tidak bisa menahan hasrat lagi padanya.


Matilah aku jika malam ini Alvaro sampai memintanya ….


Alvaro yang melihat raut wajah ketakutan dari Miranda mendadak teringat Nurul.


Aina? Bagaimana kabarnya?


Mengingat wajah Nurul langsung membuat nafsu Alvaro hilang. Namun ia tidak ingin membuat Miranda kecewa ataupun curiga.


"Hei … kenapa wajahmu itu terlihat sangat ketakutan. Aku tadi cuma bercanda. Aku tidak akan melanggar prinsipku sendiri," kekeh Alvaro yang membuat Miranda bernapas lega.


Alvaro langsung berbaring di samping Miranda. Ia meminta Miranda berbaring membelakanginya dan ia memeluk kekasihnya itu dari belakang sambil menciumi punggungnya.


"Apakah kau akan kembali lagi kesana?" tanya Alvaro.


"Tentu saja. Aku disini hanya untuk satu Minggu. Ada urusan pekerjaan dan …."


"Dan apa?" serga Alvaro.


"Kenapa kau sangat manis sekali. Aku semakin mencintaimu," ucap Alvaro dengan hati yang berbunga-bunga.


"Aku juga. Maafkan aku tidak mengabarimu selama ini. Tapi aku tetap mencaritahu tentangmu. Bukannya kau juga tahu kalau papimu menentang hubungan kita. Aku tidak ingin karena diriku kau bertengkar dengan orang tuamu dan meninggalkan kuliahmu. Sekarang kau sudah wisuda dan aku rasa aku akan menyelesaikan pekerjaanku disana dan akan mendampingimu disini," ucap Miranda yang masih ingat saat mereka ditentang habis-habisan oleh Genta Prayoga.


"Teruslah disisiku," bisik Alvaro.


...******...


Subuh menjelang dan suasana panti sudah mulai ramai karena anak-anak sudah bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Nurul dibangunkan oleh Bu Uswa dan meminta Nurul untuk mandi besar sebelum melaksanakan sholat. Nurul sempat terpuruk dengan itu namun melihat ketulusan di senyum Bu Uswa, Nurul pun mengesampingkan segala kesakitan yang ia rasakan.


Anak-anak sedikit bingung karena mereka diminta untuk sarapan setelah sholat subuh dan mobil travel sudah menunggu mereka.


"Bukannya kita berangkat jam tiga sore ya Bu?" tanya Pian.


"Iya, Bu. Bukannya kak Nurul wisuda dulu ya?" timpal Nila.


Nurul yang mendengarnya langsung terbatuk. Dengan cepat Bu Uswa memberikannya air minum.


"Kak Nurul nggak jadi wisuda. Dua bulan lagi, nanti kita akan datang untuk wisuda kak Nurul. Kita berangkat subuh karena nggak mau kena macet," jawab Bu Uswa.


Nurul menatap haru pada bu Uswa.


"Oh gitu … ayo kita makan agar kita bisa cepat berangkat," ujar Pian yang diangguki oleh seluruh saudara pantinya.

__ADS_1


Bu Uswa dan Nurul tersenyum kecil melihat kepatuhan mereka.


Aku salah jika menganggap diriku ini hanya sendirian dan tidak diinginkan. Melihat adik-adikku, aku tersadar bahwa masih ada yang lebih berharga dalam hidupku yang akan selalu menghormati dan menyayangi diriku ini.


Sebelum berangkat, Nurul menghubungi Flora. Ia berpamitan dan mengatakan akan mengganti nomor ponselnya. Jika ia sudah sampai maka akan segera menghubungi Flora.


"Gue bakalan rindu berat sama lu, Nur," ucap Flora dengan suara lirih. Ia sebisa mungkin tidak menangis karena ia sedang didandani untuk acara wisuda.


"Gue juga pasti bakalan rindu sama lu. Lu jangan bilang sama Alvaro kalau gue pindah. Gue nggak mau nantinya dia nyari gue," ucap Nurul berusaha menutupi kejadiannya bersama Alvaro.


Kalaupun dia nyari gue. Gue rasa enggak deh!


"Tentu saja nggak bakalan gue kasih tahu," sungut Flora. 


Gue nggak bakalan bilang karena gue nggak mau dia nyari lu dan gue nggak mau lu menderita karena dia. Lu tenang aja Nurul.


Flora hanya bisa membatin setelah panggilannya berakhir.


Harusnya hari ini kita bisa wisuda bareng. Lu udah bantuin gue selama ini dan bantuin gue skripsi. Gue jadi malas mau wisuda tanpa lu, Nur.


Mobil yang ditumpangi Nurul kini mulai bergerak menjauhi panti. Ada rasa sedih dihari Nurul karena ia sempat berharap Alvaro akan datang dan mencegahnya. Paling tidak pria itu mengabari dan meminta maaf. Namun sayang, itu hanya angan belaka.


Mungkin ini sudah jalannya. Gue harus melupakan Alvaro dan dengan pergi menjauh, gue bakalan lupa dan bakalan bisa menata hidup gue yang baru. Semua pesakitan ini akan berakhir dan gue harap gue bisa menemukan kebahagiaan di tempat yang baru.


Nurul tersenyum kemudian ia mematikan ponselnya. Ia mengeluarkan simcard lalu membuangnya di jendela mobil.


Selamat tinggal Alvaro Genta Prayoga. Aku sangat mencintaimu dan juga sangat membencimu. Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi sekalipun dalam mimpi.


Nurul memejamkan matanya. Ia ingin beristirahat karena perjalanan akan ditempuh selama enam jam.


Alvaro, jika suatu saat nanti kita bertemu maka berpura-puralah tidak mengenalku. Aku terlalu sakit jika harus menerima kenyataan jika kita pernah saling mengenal. 


Nurul terlelap namun baru sekita dua jam ia tidur, Bu Uswa sudah membangunkannya.


"Apa kita sudah sampai, Bu? Kenapa cepat sekali?" tanya Nurul sambil mengucek matanya. Sesekali ia menguap. 


Bu Uswa tidak menjawab dan justru malah turun menuntun anak-anak lainnya.


Nurul pun ikut turun dan terkejut begitu melihat keadaan sekitar.


"Lho Bu, kok kita di pelabuhan?" tanya Nurul bingung.


"Kita memang harusnya datang kemari. Kita akan menempuh perjalanan laut. Ayo cepat, sebentar lagi kapalnya akan berangkat," ujar Bu Uswa.


"Bukannya kita akan pergi ke kota –"


"Ibu sudah memutuskan untuk kita pergi ke pulau seberang. Ibu punya tempat disana dan pasti aman untuk kita. Semuanya sudah dipersiapkan disana," jawab Bu Uswa.


"Tapi kita kemana Bu?" 


"Nanti juga kau akan tahu sendiri."

__ADS_1


__ADS_2