
Pagi kembali menjelang, rutinitas sekolah kembali berjalan seperti biasa. Aluna baru saja hendak mengetuk pintu di depan kamarnya langsung menahan tangannya di udara karena teringat pemilik kamar sudah tidak lagi berada di dalam. Ia tersenyum miris lalu menghela napas perlahan. Sambil menyemangati dirinya sendiri, Aluna berjalan menuruni anak tangga dimana keluarganya sudah menunggu untuk sarapan.
Aluna melihat disana sudah lengkap dimana ada kedua orang tuanya, kakek dan neneknya lalu ada juga Naufal yang terlihat sangat serius menghabiskan sarapannya. Mata indah dengan bulu mata lentik itu melirik ke arah kursi yang kosong dimana biasanya sang pujaan hati duduk.
Sudahlah Aluna, lupain Frey. Kalau jodoh juga nggak kemana. Kayak bunda sama papi, mereka bahkan udah terpisah bertahun-tahun dan akhirnya bersatu lagi. Kalau emang takdir gue itu si Frey, ya pasti bakalan jadi milik gue. Tapi kalau bukan? Huhuu ... gue bisa nangis kejer dipojokan.
Tak ingin membuat keluarganya curiga, gadis cantik itu langsung memasang senyuman manisnya dan menyapa semua yang ada di meja makan. Ia segera mengambil posisi dan mengambil sarapannya.
Alvaro dan Nurul saling melirik penuh makna setelah mereka menatap anaknya itu dengan iba. Jelas saja mereka tahu Aluna begitu terluka karena Frey tidak lagi bersamanya akan tetapi semua juga demi mereka dan masa depan mereka. Frey memang harus dibiasakan belajar mengelola bisnisnya agar nanti mereka bisa hidup mapan walau kenyataannya mereka pun tak kekuarangan satupun untuk membiayai keduanya.
"Hari ini Luna berangkat sama siapa ke sekolah?" tanya Aluna begitu ia selesai makan.
"Tentu saja berangkatnya bareng gue."
Semua mata kini tertuju pada sosok cowok tampan yang sudah memakai seragam sekolahnya yang berjalan ke ruang makan.
"Frey!" lirih Aluna.
Cowok tampan itu langsung berjalan ke arah Nurul, wanita yang sangat ia sayangi lalu mengecup punggung tangannya bergantian dengan Alvaro dan juga kakek dan neneknya.
Nurul menyuruh Frey untuk makan akan tetapi ia mengatakan bahwa ia sudah sarapan di rumahnya. Ia segera mengajak Aluna untuk berangkat sekolah.
Tidak ingin membuat keluarganya merasa curiga pada hubungannya dengan Frey yang tidak baik-baik saja, Aluna pun menurut saja pergi bersama Frey.
Rindu, tentu saja. Tapi ia masih kesal dan sangat kesal pada Frey yang seolah membuatnya menjadi perempuan rendahan dengan selalu menerima ciuman darinya dan juga seolah menjadi penyembah cinta Frey selama ini. Ia harus menunjukkan pada Frey jika ia tidak seperti itu lagi. Aluna akan belajar melepaskan perasaannya yang hanya menyiksanya sendiri.
Nanti gue hubungi uncle Axelle, gue mau belajar sama dia gimana caranya melepas perasaan. Dia pasti tahu dan bisa bantu gue.
Tanpa kata Aluna masuk ke dalam mobil Frey, diikuti oleh Frey yang hanya sekilas melirik Aluna lalu mulai mengemudikan mobilnya. Sepanjang perjalanan keduanya tidak berbicara sepatah katapun. Keheningan memenuhi mobil tersebut padahal biasanya Aluna selalu saja berceloteh ini itu.
__ADS_1
Sial! Gue nggak suka dia diam kayak gitu. Tapi untuk sementara gue harus biarin ini semua kayak gini dulu. Gue harus cari tahu kepastiannya. Gue nggak mau salah ambil langkah. Selama ini gue besar di keluarga Prayoga dan gue yakin omongan grandpa nggak mungkin benar. Keluarga Prayoga itu adalah keluarga terbaik yang pernah gue kenal. Grandpa pasti salah!
Sudah cukup jauh dari kediaman keluarga Prayoga, Aluna melirik jam tangannya dan ia tahu masih ada waktu setengah jam lagi untuk bel masuk. Ia mendadak meminta Frey untuk berhenti.
"Kenapa Na?" tanya Frey kaget dan seketika ia mengerem mendadak.
Aluna melepas seatbelt kemudian ia membuka pintu dan keluar dari mobil Frey. Tak mau ketinggalan, Frey pun keluar dari mobil dan menghampiri Aluna.
"Ada apa?" tanya Frey.
"Gue sudah bilang semalam sama lu untuk jangan menampakkan wajah lu sama gue dan jangan bertegur sapa sama gue. Lu lupa atau lu sengaja datang dan mancing gue lagi terus gue klepek-klepek sama lu dan abis itu lu banting gue dengan hinaan lu itu? Pergi nggak lu dari sini. Gue nggak mau bareng lu!" teriak Aluna.
Frey terdiam namun ia menatap tajam pada Aluna. Biasanya Aluna akan ciut dengan tatapan tersebut namun kali ini Aluna justru membalas tatapan Frey tak kalah tajamnya.
"Luna, ayo masuk mobil dan jangan drama lagi. Gue nggak mau kalau lu sampai kenapa-napa karena gue ba--"
Frey mengepalkan tangannya, ia ingin menyeret Aluna masuk akan tetapi ia tahu jika ia memaksa maka Aluna akan semakin berkeras hati dan kepala. Gadis itu pasti memberontak. Frey memilih untuk menuruti saja keinginan Aluna dan ia juga harus memperbaiki moodnya sekarang.
"Oke, jangan salahin gue kalau lu sampai kenapa-napa!" ucap Frey kemudian ia berlari kecil ke arah mobil dan langsung masuk ke dalamnya lalu ia pergi meninggalkan Aluna sendiri.
Gadis cantik itu tersenyum miring, ia menatap nanar mobil Frey yang sudah semakin jauh dari jarak pandangnya. Ia sadar betul jika Frey selama ini hanya berusaha menjaganya karena takut pada papi mereka. Dan kali ini Frey membuktikannya lagi.
Sekali lagi lu buktiin ke gue kalau lu emang nggak ada perasaan apapun ke gue. Disini cuma gue yang berharap dan lu ... mungkin lu emang adalah ketidakmungkinan yang selalu gue semogakan. Nyesek banget.
Aluna berjalan menyusuri jalan dengan langkah gontai. Sesekali ia melirik jam tangannya, ia ingin memesan transportasi online akan tetapi entah mengapa ia lebih ingin menghabiskan waktu dengan berjalan kaki. Dari perhitungannya, lima belas menit berjalan maka ia akan sampai di sekolah.
Saat Aluna sedang menikmati kebisingan kendaraan, seseorang yang menaiki motor berhenti di sampingnya. Aluna sedikit tersentak, ia cemas karena mengira orang ini adalah penjahat. Namun begitu ia membuka helmnya, Aluna langsung menaikkan sebelah sudut alisnya.
"Lu!" pekik Aluna sambil menatap datar pada cowok yang kini duduk di motornya sambil tersenyum menatap Aluna.
__ADS_1
"Hai, kita bertemu lagi 'kan? Kalau tiga kali kita bertemu secara kebetulan begini, itu artinya kita berjodoh," ucapnya kemudian tersenyum tampan.
Dan sayangnya pertemuan kita kali ini emang udah gue sengaja.
"Mending lu pergi deh, jangan ganggu gue. Kenal juga enggak. Jangan sok akrab," sentak Aluna, moodnya sedang buruk dan ia malas meladeni siapapun termasuk barisan cowok tampan.
"Ya udah kita kenalan. Gue Leonardo Shan. Lu cukup panggil gue Leon," ucapnya sembari mengulurkan tangannya.
Aluna menatap uluran tangan tersebut, ia kemudian membalasnya namun tidak menyebutkan namanya. Sesekali Aluna melirik pria ini dan entah mengapa intuisinya mengatakan bahwa cowok ini tidak sesederhana yang terlihat.
"Lu mau bareng gue nggak? Sekolah lu di SMA Labschool 'kan?"
Aluna terkejut, bagaimana bisa cowok ini tahu tentang dirinya. Akan tetapi mau heran pun ia tidak bisa karena ia sadar jika gadis cantik akan terkenal dimana-mana. Itulah yang Alvaro tanamkan pada diri Aluna dan juga Naufal.
"Nggak deh. Kita baru kenal dan gue nggak gampang akrab sama orang asing. Lu mending pergi aja deh," ucap Aluna menolak, selain suka mempermainkan hati para pria, ia juga akan tetap meninggikan dirinya dengan tidak sembarang dekat dengan pria lain yang baru ia kenal.
Tujuannya satu, agar cowok-cowok penasaran dengannya dan tentu saja akan mencaritahu tentangnya lalu mereka akan melakukan pendekatan dan Aluna akan menjadikannya sasaran taruhan bersama Cici lalu setelah ia menang maka ia akan menghilang tanpa kabar.
Trik yang menarik. Tapi gue masih penasaran apa yang bikin Keenan sampai patah hati berat sama dia selain dia itu cantik badai.
Aluna meninggalkan Leon yang sedang termenung di atas motornya, namun beberapa saat kemudian ia terkejut karena melihat Leon sudah berjalan di dekatnya. Tak peduli dengan sikap Leon karena Aluna sudah terbiasa dengan sikap manis para pria yang tertarik dengannya, ia membiarkan saja dan tidak menjawab apapun atau bertanya apapun pada Leon.
Bahkan saat mereka sampai di sekolah pun mereka sama sekali tidak berbicara, oh lebih tepatnya Leon begitu banyak bicara sedangkan Aluna hanya kadang berdehem dan mengangguk untuk menanggapi setiap ucapan Leon.
Lumayan sulit juga buat di taklukkan. Tapi bukan mustahil 'kan? Hari ini pemanasan doang, hari berikutnya lu bakalan masuk dalam perangkap gue. Tunggu aja.
Dari sudut yang berbeda, seseorang sedang mengepalkan tangannya karena melihat siswa tampan dan tidak pernah ia lihat sedang berjalan bersama siswi yang tentu saja ia sukai.
Luna, lu itu hanya milik gue.
__ADS_1