GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
103


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Danish yang cenderung meledek itu membuat Nurul menancapkan garpu dengan keras ke rotinya di piring. Semua atensi kini beralih padanya.


"Sudah sejauh mana ya?" Nurul berpose seolah sedang berpikir. Alvaro sendiri sedang menanti dengan harap-harap cemas jawaban dari Nurul.


Garpu yang tertancap di roti itu Nurul tarik kembali kemudian ia arahkan ke wajah Danish, "Apa perlu garpu ini aku tancapin ke kepala kakak biar kakak nggak pura-pura bodoh, nggak pura-pura amnesia dengan tipuan kakak dan kerja sama kakak dengan si arogan Axelle itu. Bisa-bisanya kakak nipu aku, nyuruh aku datang on time sedangkan dia datang telat dan nggak minta maaf. Aku udah berbaik hati lho mau bantuin kakak menangani kasus musuh bebuyutanku itu, demi kakak lho. Tapi ternyata kalian nipu aku!" ucap Nurul bersungut-sungut.


Pak Deen yang melihat Nurul begitu kesal langsung menengahi. Ia baru tahu kalau Axelle dan Nurul berkerja sama menangani kasus tapi ia sama sekali tidak tahu ada kasus baru yang diajukan oleh Axelle yang kini ditangani oleh Nurul.


"Tunggu dulu, sebenarnya apa hubunganmu dengan Axelle, Nak? Kalian berpacaran atau bekerja sama? Tapi setahu papa, Axelle tidak sedang membutuhkan pengacara karena nggak ada berkas masuk atau dia juga nggak ada menghubungi papa untuk membahasnya," tanya pak Deen.


Nurul mendengus, ia melempar tatapan tajam pada Danish sebelum menjawab pertanyaan papanya.


"Papa nanya apa hubungan aku sama Axelle? Jawabannya itu adalah ke-ka-sih kon-trak!" jawab Nurul dengan penuh penekanan.


Jika Alvaro, Ikram, Bu Dianti dan pak Deen tersentak kaget bahkan sampai tersedak, berbeda dengan Danish yang justru tergelak. Sedangkan Nurul justru kini kehilangan selera makannya.


What? Kekasih kontrak? Jadi mereka nggak ada hubungan apa-apa? Aman dong gue. Tapi kok yang gue lihat Axelle totalitas banget sama Nurul. Dan yang gue lihat Axelle emang cinta sama Nurul. Nggak jadi aman dong kalau gitu.


Mendengar jawaban Nurul itu membuat Alvaro resah. Ia memang senang saat tahu kalau ternyata Nurul dan Axelle hanya sebatas kekasih kontrak. Tapi ia juga tahu kalau Axelle tidak sesederhana itu, pria itu menginginkan Nurul.


"Apa? Kekasih kontrak? Tapi bagaimana bisa? Yang papa lihat Axelle itu memang cinta sama kamu," pekik pak Deen. Ia tak habis pikir bagaimana bisa anaknya itu menjalin hubungan kontrak namun yang terlihat di depan mata justru begitu natural seolah keduanya memang adalah sepasang kekasih.


Nurul menghela napas, "Tuh, papa tanya aja sama sutradaranya! Kesal aku!" ucap Nurul sambil melirik tajam ke arah Danish.


Danish cengengesan sambil garuk-garuk kepala. Ditatap horor seperti itu oleh sang papa membuat nyalinya menjadi ciut.


"Ekhmm …." Danish hanya menjawab dengan deheman, ia bingung harus mulai darimana.

__ADS_1


"Jadi Pa, sebenarnya Axelle itu sedang berusaha melarikan diri dari perjodohan yang dibuat orang tuanya. Dia minta bantuan ke aku, buat bujuk Nurul jadi kekasih kontraknya. Nah, kenapa dia milih Nurul, ya itu karena mereka tiap ketemu kerjanya berantem mulu. Nggak pernah ada manis-manisnya. Axelle beranggapan bahwa Nurul ini bisa membantunya, apalagi Nurul selalu mampu menjawab ucapan pedasnya, ia yakin Nurul bisa mengatasi para wanita yang datang mendekatinya. Ya memang, aku bohongi dia dengan bilang Axelle sedang dalam masalah pertambangan dan membutuhkan pengacara. Singkat cerita mereka bertemu dan Axelle bilang ke Nurul kalau aku dan dia sudah tanda tangan kontrak kerja ya … ya itu kekasih kontrak.


"Awalnya Nurul menolak. Tapi setelah aku bilang kalau ada denda penalti, dia langsung setuju. Padahal–"


"Padahal nggak ada kontrak kerja dan nggak ada penalti. Kalian memang pandai berakting!" potong Nurul.


Danish terkekeh, ia tahu. Tentang Nurul dan Axelle, ia tahu karena Axelle selalu terbuka padanya. Ia bahkan tahu kalau Axelle mencintai adiknya ini dan sayangnya cinta itu belum terbalas. Salahkah Danish melakukan semua ini? Dia hanya sayang dan ingin memberikan yang terbaik untuk adiknya.


"Danish Ganendra Emrick! Bagaimana bisa kau melakukan itu pada adikmu sendiri?!" pekik Bu Dianti, ia tidak habis pikir bagaimana bisa Danish menjadikan Nurul sebagai kekasih kontrak Axelle.


Mendengar suara menggelegar mamanya, Danish yang tadinya ketawa-ketiwi mendadak kicep. Ia bisa melihat kedua orang tuanya ini sedang dalam mode serius. Ini bukan saatnya bercanda, apalagi tatapan tajam dari papanya langsung membuat nyali Danish ciut.


Alvaro mendengarkan dengan tegang, bisa ia simpulkan bahwa Danish mendukung hubungan antara Nurul dan Axelle. Jujur saja ia merasa sakit, beberapa kali tersedak makanan mendengar perdebatan Danish dan Nurul, untung saja tidak ada yang memperhatikannya kecuali Ikram. Mendadak Alvaro berkecil hati, ia merasa akan sulit mendapatkan hati Keluarga Emrick walaupun ia tahu kedua orang tua Nurul tidak setuju anaknya menjalin hubungan dengan Axelle.


"Maaf Ma, Pa. Aku hanya membantu Axelle untuk mendapatkan Nurul. Aku juga mau agar adikku ini bisa keluar dari kesedihannya, aku mau dia menatap lebih luas lagi. Dunia nggak berhenti hanya karena dia sudah membuatmu hancur. Masa depannya masih panjang, jangan sia-siakan hanya dengan menangisi dia yang nggak pantas untuk ditangisi. Memangnya salah jika aku mau adikku move on? Nggak ada salahnya dengan Axelle, toh dia cinta berat sama Nurul. Apa yang nggak aku tahu tentang Axelle, semua dia ceritakan termasuk Nurul yang mau membuka hati untuknya. Bukankah begitu Dek? Kata Axelle dia juga akan datang melamar kamu hari ini. Iya 'kan?"


Bukan lagi hanya terdesak, Alvaro bahkan terbatuk-batuk mendengar kalimat akhir yang diucapkan Danish. Wajahnya bahkan sampai memerah dan Ikram dengan buru-buru mengambilkannya air minum.


"Kamu baik-baik saja Nak?" tanya pak Deen, ia tahu–sangat tahu kenapa bisa lelaki ini terbatuk begitu mendengar ucapan Danish.


Alvaro mengangguk pelan, "Maaf, saya terburu-buru taid makannya," kilah Alvaro, netranya memandang ke arah Nurul dengan tatapan yang sulit di artikan.


Nurul menunduk, tak sanggup menatap balik netra yang selalu membuatnya jatuh cinta itu.


"Jadi, apakah yang dikatakan kakakmu itu benar, Nurul? Apa benar Axelle akan datang melamarmu?" tanya pak Deen, ia harus mengalihkan perhatian dari Alvaro, jujur ia kasihan pada anak itu tapi tidak mungkin ia tunjukkan.


Nurul menggeleng, "Mana mungkin Pa. Dia pasti bercanda," jawab Nurul dengan suara lirih. Ia tidak sanggup mengangkat kepalanya, tidak sanggup melihat Alvaro.

__ADS_1


Ro, bahkan lu sampai batuk-batuk gitu. Muka lu memerah, maafin gue Ro.


"Tentu saja itu benar Pa. Axelle sendiri yang bilang kalau dia sudah memberitahu Nurul jika hari ini dia akan datang melamar," ujar Danish.


"Kapan dia ngomongnya?" tanya Nurul dengan suara lirih.


Danish berdecak, "Tadi subuh, jam tiga subuh kalian teleponan dan dia bilang ke kamu kalau hari ini dia bakalan datang. Sorry, kakak nggak nguping ya. Siapa yang mau nguping orang pacaran jam segitu. Dia sendiri yang telepon kakak tadi, katanya mau datang dan udah bilang ke kamu juga," jawab Danish.


Wajah Alvaro menegang. Beribu tanda tanya memenuhi pikirannya. Apakah–mengapa–dan bagaimana terus beredar di pikirannya bagaikan planet yang beredar untuk mengitari matahari.


Mereka teleponan jam tiga subuh? Nggak mungkin mereka melakukan itu jika hubungan mereka tidak serius. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa Aina melakukan itu padahal beberapa jam sebelumnya kami sudah bersama. Apakah benar Aina sudah jatuh cinta pada Daniyal? Lalu bagaimana dengan gue? Kenapa rasanya gue pingin pingsan dengar semua ini. Aina … apa gue nggak ada tempat lagi di hidup lu? Apa gue udah begitu terlambat sampai lu akhirnya mau percayain hati lu ke orang lain? Kenapa lu bikin gue terbang tinggi terus lu hempas ke bumi? Ini lu lagi balas dendam ke gue? Lu mau balas perbuatan gue dulu Aina? Jika benar maka selamat, lu berhasil. Lu hebat karena saat ini gue emang udah hancur. Selamat Aina.


"Kak, aku nggak teleponan ya sama dia. Dia aja yang ganggu tidur orang. Lagian aku nggak mungkin nikah sama dia, aku nggak cinta!" sentak Nurul.


"Jangan katakan kalau kamu masih mengharapkan pria brengsek itu Nurul Aina Emrick?!" Danish balas menyentak Nurul.


Mendengar suara lantang Danish, Alvaro langsung tersentak. Kali ini pasti yang dimaksud adalah dirinya.


Ya, gue emang pria brengsek.


Nurul menundukkan kepalanya sedangkan Alvaro membuang muka. Ia bisa lihat Danish begitu membenci dirinya walau saat ini Danish tidak tahu pria yang ia maksud itu ada di depannya.


"Memangnya kenapa Kak? Aku memang sudah mencobanya tapi hati aku nggak bisaz Kak. Salahin saja hati yang nggak bisa move on ini. Maaf mengatakannya tapi aku memang masih cinta dia, Kak. Mama dan Papa pun tahu kalau aku masih cinta dia" ungkap Nurul, untuk apa juga ia berbohong sedangkan ia sudah terbuka pada orang tuanya tentang apa yang ia rasakan.


Aina ... lu memang benar masih cinta gue? Lu ... lu belain gue Aina? Makasih sayang, gue nggak bakalan biarin lu berjuang sendirian. Ada gue!


Danish berdecih, "Kakak nggak maksud ngatur kamu ya dek, kakak hanya nggak mau kamu terus memikirkan dia. Lupakan, lupakan cintamu itu. Dia nggak seharusnya kamu cintai sampai sedalam dan sebodoh ini. Jika pun dia akhirnya datang padamu, jangan harap kakak akan menerimanya di rumah ini! Dia itu terlalu pengecut! Dia pecundang! Jika memang dia tahu dia salah dan dia mencintaimu harusnya sejak lama dia berdiri di rumah ini dan mengakui semuanya. Bukan malah hilang entah kemana. Jika saja dia ada di depanku maka akan kubuat dia sekarat. Nggak akan mati tapi yang jelas dia akan kubuat menginap di ruang ICU. Lihat saja nanti."

__ADS_1


Dengan menggebu-gebu dan dengan meledak-ledak Danish mengatakannya. Ia memang sangat kesal dan tidak suka dengan tipe lelaki yang hanya mencari kepuasan semata pada wanita tanpa mau bertanggung jawab. Apalagi saat tahu adiknya ini korban kejahilan pria itu yang hanya menjadikan Nurul bahan taruhan, Danish tidak terima. Ia harus membalas perbuatan pria itu untuk adiknya.


Alvaro berdiri dari kursinya, "Jika memang dengan membuat pria itu sekarat untuk bisa menerimanya, maka lakukanlah. Aku siap menerima semua itu asalkan Aina bersamaku!"


__ADS_2