GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Perasaan Aneh


__ADS_3

Nurul tergagap, ia tidak tahu harus berkata apa. Wanita ini, baru pertama kali ia temui akan tetapi ucapannya membuat Nurul takut dan sedih di waktu yang bersamaan. Sorot matanya begitu lembut tapi entah mengapa justru Nurul takut menatapnya.


"Apa benar begitu?"


Pertanyaannya yang seolah menginterogasi Nurul membuat wanita yang baru sadar dirinya sedang hamil ini pun menggeleng lalu mengangguk.


"Aku tadinya tidak ingin menjadi seperti ini. Tetapi ketika melihat makhluk kecil yang sedang menggeliat di dalam perutku entah mengapa perasaanku menghangat."


Nurul tak sungkan menceritakan apa yang ada dalam hatinya. Ia merasa nyaman berbagi cerita dengan wanita yang baru ia temui ini. Bahkan ia dengan begitu terbuka menceritakan asal muasal kenapa dan bagaimana dirinya bisa hamil.


Wanita itu mengusap bahu Nurul, ia nampak sedih dan juga kesal. Namun tak ada kata yang terucap, ia membiarkan Nurul mencurahkan seluruh isi hatinya agar calon ibu ini merasa lega.


"Sudah sejauh ini kita bercerita tapi kita belum kenalan," ucap Nurul yang tersadar jika ia belum mengetahui siapa wanita ini.


Kenapa gue bisa ngomong selancar ini sama orang asing dan malah membeberkan semua masalah yang gue alami?


Wanita itu tertawa dan tawanya membuat Nurul menerbitkan senyuman.


"Panggil saja aku ibu Dianti. Kalau kamu sendiri, siapa namamu gadis manis?"


"Nurul Aina, panggil Nurul saja Bu."


Setelah perkenalan, obrolan mereka berlanjut. Bu Dianti kali ini bercerita tentang pengalamannya selama hamil dan Nurul ia minta untuk belajar tentang kehamilan karena mengingat dirinya adalah singel mommy, yang artinya ia akan mengurus kehamilan serta kelahirannya seorang diri.


Nurul mendengarkan dengan baik dan tak sekalipun menyela pembicaraan. Ia begitu tertarik dengan cara Bu Dianti menjelaskan padanya.


"Nah, sekarang apalagi yang menjadi beban pikiranmu?" tanya Bu Dianti, meskipun tak mengatakannya nyatanya ia tahu jika Nurul menyimpan beban.


Nurul menghela napasnya dalam-dalam, "Aku memikirkan tentang hal kedepannya, Bu. Jujur saja aku khawatir tentang stigma masyarakat terhadap aku dan keluargaku. Ini menjadi beban terberatku. Rasanya aku ingin lari saja agar keluargaku tidak terkena imbasnya, tapi itu bukan cara menyelesaikan masalah. Belum lagi apa yang akan orang-orang bilang di tempat kerjaku," jawab Nurul terus terang.


Ia kembali menambahkan jika dirinya tidak takut menghadapi cemoohan dari siapapun bahkan hinaan dan makian akan ia tampung tetapi ia tidak sanggup jika hal ini berdampak pada keluarganya. Mereka tidak seharusnya menanggung dosa Nurul.


"Kau bekerjalah padaku," ucap Bu Dianti.


Nurul tersentak, kemudian ia menatap lekat pada kedua mata teduh Bu Dianti.


"Aku memiliki usaha sendiri. Aku memiliki butik dan jika kau mau kau bisa bekerja denganku. Aku menjamin tidak akan ada yang melakukan hal buruk padamu di tempatku. Kebetulan asistenku baru mengundurkan diri karena suaminya dipindahtugaskan di luar kota. Kau bisa mulai bekerja padaku jika kau mau," lanjut Bu Dianti.

__ADS_1


Mata Nurul berkaca-kaca, ia tidak percaya jika bala bantuan datang padanya disaat ia memang sedang berada di jalan buntu. Nurul langsung menghambur memeluk Bu Dianti, ia begitu senang dan rasanya sangat menyenangkan ketika memeluk wanita paruh baya yang terlihat masih begitu cantik walaupun mengenakan pakaian pasien rumah sakit.


Mengapa aku merasa begitu dekat dengannya? Apa karena mata gadis ini begitu mirip dengan Danissa putriku?


Bu Dianti mendadak merasa gugup ketika hendak menyentuh punggung Nurul untuk sekadar mengusapnya. Nurul yang merasa telah lancang memeluk seseorang langsung melepas pelukannya dan segera meminta maaf.


Bu Dianti sempat melamun dan itu membuat Nurul salah tingkah dan mengira jika Bu Dianti marah padanya. Sekali lagi Nurul meminta maaf dan barulah Bu Dianti tersadar dari lamunannya.


"Tak apa Danissa," lirihnya.


Nurul mengerutkan dahinya, ia masih bisa mendengar jika Bu Dianti mengucapkan nama seseorang.


Baru saja Nurul hendak bertanya, suara seorang pria membuat keduanya terkejut.


"Ya ampun mama! Aku udah nyari sana-sini dan ternyata mama ada disini? Kenapa begitu nakal hingga kabur dari kamar, hem?"


Suara itu sedikit familiar di telinga Nurul, ia hendak berbalik untuk melihat namun tangannya digenggam oleh Bu Dianti.


Pria itu mendekat dan kini sudah berada di depan mereka. Ia bertolak pinggang dan menggeleng serta berdecak. Sedangkan tersangka utama justru terlihat polos seolah tidak sedang membuat masalah.


Nurul yang melihat tingkah menggemaskan Bu Dianti tak bisa membendung senyumannya. Ia merasa akan selalu tersenyum jika bekerja dengan Bu Dianti nantinya.


Nurul juga sama kagetnya, ia tidak menyangka akan bertemu dengan pria ini lagi.


"Danish Ganendra Emrick?"


Danish berdecak, ia sedikit terkekeh ketika Nurul menyebutkan nama lengkapnya.


Bu Dianti yang melihat jika anak dan gadis yang baru ia temui ini saling mengenal pun mulai penasaran. Ia memperhatikan ketika Danish dan Nurul terlibat percakapan dimana Danish mempertanyakan kenapa Nurul tidak menghubunginya padahal ia sudah menunggu selama ini.


Nurul tidak tahu saja jika pria ini setiap saat menanti kabar darinya. Semenjak pertemuan di kapal dan melihat Nurul yang selalu bersedih sendiri itu menimbulkan perasaan lain di hati Danish, ia begitu ingin membawa Nurul ke dekatkan dan ia merasa dirinya perlu untuk memberikan perlindungan pada gadis ini.


Nurul meminta maaf dan menjelaskan jika dirinya tidak bermaksud seperti itu, ia juga menjelaskan jika dirinya tidak ingin nantinya akan ada kesalahpahaman karena ia bebas masuk kerja tanpa ijazah hanya karena pengaruh orang dalam.


"Harusnya nggak usah mikirin itu. Urusan ijazah kita bisa mengambilnya nanti. Kau mulai saja bekerja di kantorku besok," ujarnya.


Bukan Nurul yang kaget melainkan Bu Dianti. Ia mengajukan protes karena ia yang lebih dulu merekrut Nurul menjadi asistennya.

__ADS_1


"Nggak bisa gitu dong. Mama baru saja memberikan Nurul pekerjaan jadi kamu nggak boleh ambil dia dan bawa dia bekerja di kantormu. Kau cari saja karyawan lain, jangan punya mama," protesnya dengan wajah dibuat semenakutkan mungkin agar Danish tidak berani membantah tetapi justru yang terlihat wajah Bu Dianti begitu menggemaskan.


"Ayolah Ma, dia itu sarjana hukum. Bukan designer," keluh Danish.


Tanpa berkata-kata, Bu Dianti langsung menarik Nurul untuk pergi menuju ke ruang rawatnya. Ia kesal pada Danish dan memilih pergi. Danish yang ditinggal sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang mama.


"Ma, apa mama bahagia bersama Nurul? Apa mama nyaman dengannya? Danish melihat mama begitu ceria saat bersama gadis itu. Jika memang mama menyukainya maka aku nggak akan menghalangi mama untuk membawanya bekerja. Asalkan mama bahagia, Danish akan melakukan apapun," lirihnya dengan mata berkaca-kaca melihat mamanya yang begitu posesif menggandeng Nurul.


"Kau benar, boy. Sebenarnya sejak tadi papa sudah memperhatikan mereka. Gadis itu sangat tulus dan terbuka pada mamamu. Jadi dia yang kau bilang membuat perasaanmu aneh tapi jantungmu normal-normal saja?"


Hampir saja Danish terkena serangan jantung jika tidak sadar jika itu adalah papanya.


Danish mengangguk pelan membenarkan ucapan papanya, "Aku memang merasa lain Pa. Tapi aku bukan jatuh cinta padanya. Hanya perasaan ingin melindungi saja, aku peduli padanya. Melihatnya menangis di kapal waktu itu membuat hatiku hancur Pa. Aku nggak tahu ini perasaan jenis apa, tapi yang aku tahu aku nggak berdebar seperti saat jatuh cinta pada Clarinta," ungkap Danish.


Deen Emrick mengerutkan keningnya, ia jadi bingung sendiri mendengar jawaban Danish. Namun ia tidak memaksakan putranya itu untuk berterus terang karena ia tidak ingin Danish mengalami patah hati lagi setelah ditinggal oleh Clarinta.


Deen mengajak Danish untuk menyusul, ia merasa tidak enak pada Nurul yang harus menemani istrinya sedangkan ada kemungkinan gadis itu memiliki urusan lain di luar. Tiba-tiba saja timbul di pikiran Deen untuk menjadikan Nurul menantunya, ia merasa istrinya begitu cocok dengan Nurul dan untuk membuat istrinya bahagia, mengapa tidak.


Lagi pula, Danish begitu peduli pada gadis itu. Tidak menutup kemungkinan pula jika sebenarnya Danish jatuh cinta padanya hanya belum menyadari saja.


Kedua pria berbeda generasi itu berjalan sambil melamun, masing-masing memikirkan Dianti dan Nurul namun dalam hal berbeda-beda.


Sesampainya di ruangan tersebut, mereka tersenyum melihat Nurul yang sedang menyuapi Bu Dianti. Danish dan Deen ingat betul jika tadi Dianti menolak makan dan malah kabur. Kini di hadapan mereka melalui sentuhan Nurul, istri sekaligus seorang ibu itu nampak sangat penurut. Berbeda jika keduanya yang mengurus, mamanya itu akan banyak tingkah dan banyak maunya bahkan sampai hal nyeleneh sekalipun.


"Ma, apa mama nggak mikir kalau Nurul ini punya kerjaan lain? Kenapa menahannya disini? Kasihan, nanti pekerjaannya terganggu," tegur Deen.


Dianti bahkan seperti orang tuli dan Deen mendadak berubah menjadi makhluk tak kasat mata di mata Dianti.


Ck ...


Nurul yang berada ditengah-tengah keluarga yang baru ia temui hari ini itu merasa canggung. Ia bahkan tak enak hati pada Danish karena pria itu yang merupakan anak kandung tapi justru dia diabaikan. Sedangkan Nurul, yang notabennya adalah orang baru kenal justru Bu Dianti hanya tertuju padanya saja.


"Apa mama berniat menjadikannya menantu kita?" tanya Deen sarkas.


"Mungkin saja, Pa. Usul yang luar biasa," celetuk Bu Dianti.


"Apa?!"

__ADS_1


"What?!"


__ADS_2