
Alvaro dan Nurul beserta Aluna sampai di kediaman Emrick, seluruh mata kini menetap ke arah keduanya di mana Alvaro menggenggam tangan Nurul sedangkan sebelah tangannya menggendong Aluna.
Ezio dan Ben berdecak begitu melihat wajah Nurul, benar-benar cantik pilihan Alvaro ini. Sedangkan Genta dan Yani mata mereka tertuju pada bocah yang ada di gendongan Alvaro. Benar-benar persis seperti wajah Alvaro dan benar-benar persis seperti wajah Yani ketika masih bocah dulu.
Ditatap seperti itu oleh seluruh keluarga membuat Nurul menundukkan kepalanya, ia langsung melepaskan tangannya dari genggaman Alvaro namun sayang sekali Alvaro justru mengeratkan pegangan tersebut. Ia menarik Nurul untuk segera masuk dan ikut bergabung bersama mereka.
"Halo semua, apa sudah selesai? Sudah beres? Sudah yes? Sudah oke?" cecar Alvaro dengan tidak sabaran.
"Lamaran ditolak!" jawab Danish langsung menohok Alvaro.
Mereka semua kini menahan tawa melihat wajah kaget Alvaro. Biarkan saja pria tengil ini merasakan balasan dari calon kakak iparnya karena sudah membawa Nurul pergi tanpa se-izin mereka dan memberikan tugas lamaran ini kepada orang tuanya, sedangkan Alvaro sendiri tidak berada di sini dan malah justru bersenang-senang di luar sana.
Alvaro menatap kedua orang tua Nurul dengan tatapan menghiba. Deen dan Dianti buru-buru mengalihkan pandangan mereka agar tidak bertemu dengan tatapan Alvaro yang begitu menggemaskan. Mereka sudah setuju untuk mengerjai Alvaro, mereka bersama-sama untuk membuat pria itu merasa tertindas.
"Pi, kok bisa ditolak sih?" tanya Alvaro dengan wajah memelas.
"Ditolak ya ditolak, habisnya kamu membawa lari anak orang padahal harusnya kamu duduk di sini untuk membahas rencana lamaran kamu, bukannya membawa kabur Nurul seperti itu. Perbuatan kamu itu sudah membuat nilai minus di depan orang tua Nurul, makanya kamu ditolak. Berhentilah mengajar karena Nurul akan segera menikah dengan pria lain dan itu bukan kamu!" Ucap Genta dengan sarkas sedangkan Alvaro langsung membelalakkan matanya kemudian dengan cepat ia menggenggam tangan Nurul dan hendak membawanya pergi dari sini.
"Restu nggak restu bodo amat lah! Ayo Aina kita kabur dari sini, biar kita kawin lari aja," ajak Alvaro yang langsung mendapat tatapan horor dari semua yang ada di ruangan tersebut.
Danish langsung sigap, ia berdiri dan langsung menahan Alvaro. Ia sudah tidak segan lagi di hadapan keluarga besar Alvaro karena sekarang oa sudah mendapat izin untuk membalaskan sakit hatinya kepada Alvaro yang sudah membuat adiknya tersakiti. Genta dan Yani membebaskan Danish jika ingin memberi pelajaran kepada Alvaro untuk yang kesekian kalinya mengingat mereka begitu merasa bersalah kepada keluarga Deen Emrick.
Alvaro yang melihat Danish menatapnya lekat, tak mau kalah, ia harus berjuang. Ia sudah sampai sejauh ini bahkan sudah sampai membawa seluruh keluarganya untuk datang ke kediaman Emrick namun hanya mendapatkan penolakan, dia tidak akan terima.
"Udah gue bilang, tiga bulan lagi lu, nggak denger tiga bulan lagi. Tunggu gue nikah sama si Clarinta, baru lu bisa datang lagi untuk melamar, mungkin saja udah diterima, dan jangan buat hal yang bikin kami menilai ini negatif kepadamu," sungut Danish, ia memang harus nge-gas kalau bicara dengan calon adik iparnya ini.
Alvaro terduluk lemas, rupanya ia tidak sedang dikerjai saat ini. Tadinya ia mengira kedua orang tuanya hanya ingin mengerjainya seperti biasa, tetapi memang benar kalau lamarannya itu ditolak dan harus kembali menunggu tiga bulan lagi.
Alvaro menatap menghiba kepada Nurul, sedangkan yang ditetapkan langsung membuang muka.
__ADS_1
Setelah Alvaro tidak berkutik, kedua orang tuanya langsung mengambil Aluna dari pangkuan Alvaro. Mereka w sudah tidak sabar untuk menggendong cucu mereka. Dengan mata berkaca-kaca keduanya memeluk Aluna. Keduanya memperkenalkan sebagai kakek dan nenek Aluna, mereka tidak henti-hentinya menciumi wajah cantik bocah tersebut.
Melihat keharmonisan tersebut, Safira yang duduk bersebelahan dengan Ikram langsung menggenggam tangan putranya itu. Ikram menatap manik mata ibunya, ia bisa melihat sang ibu sedang berharap agar dirinya segera menikah dan memberikan cucu untuk mereka. Sangat mudah dibaca.
"Sabar ya ibuku sayang, Ikram lagi proses pendekatan sama calon istri. Ikram udah lamaran kok dan sebentar lagi bakalan nikah, nanti kalau udah nikah, udah resmi baru Ikram akan mengenalkannya pada ibu dan ayah," bisik Ikram memberi penghiburan kepada ibunya.
Mendadak Safira ingin menangis, bagaimana bisa putranya melakukan hal yang sama seperti yang ayahnya lakukan dulu terhadapnya. Ia teringat kembali ketika dulu Ben memaksa untuk menikahinya, dan langsung menikahinya kala itu. Dan ketika mereka sudah resmi menikah barulah Ben membawanya pulang ke rumah dan mengenalkan pada kedua orang tuanya. Untung saja kedua orang tuanya menerima Safira dengan baik, apalagi mereka tahu bahwa Safira adalah keturunan asli keluarga Griffin. Mereka tahu tentang cerita Safira yang teraniaya, tertindas dan tersisihkan. Semua bisnis keluarga Griffin dipegang oleh Ruri Griffin.
"Mas, kenapa anakmu begitu mirip sekali denganmu? Entah itu wajahnya, sifatnya atau perilakunya. Kenapa semua dia meniru padamu? Aku rasanya ingin menangis, bagaimana bisa Ikram akan menikah sebelum mengenalkannya pada kita? Dia Benar-benar mengikuti dirimu dan aku membencimu Mas?" bisik lirih Safira kepada Ben yang kini meringis karena istrinya turut marah padanya akibat kelakuan Ikram.
Oh apakah ini yang dinamakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?
Ben menggaruk kepalanya tidak gatal, ia saja pusing dengan kelakuan Ikram, bagaimana dengan istrinya. Untung saja mereka bertiga berbicara secara berbisik bisikan, jika tidak maka mereka akan jadi bahan tertawaan di hadapan seluruh sahabat-sahabat mereka.
Ikram sendiri tidak peduli dengan tanggapan kedua orang tuanya, ia sudah bertekad untuk melamar Tara setelah pulang dari kota ini. Ia sudah tidak ingin menunggu lagi, ia ingin segera menjadikan Tara sebagai istrinya karena ia sudah terbebas dari masa lalunya sebab Farah sudah menikah dan tidak masalah baginya jika harus turun ranjang bersama Tara karena menurutnya Tara adalah gadis yang paling pantas untuk mendampinginya.
.
.
Para sahabat Deen Emrick berpamitan pulang ketika sore hari, mereka semua mengantarnya ke bandara, dimana Alvaro yang begitu posesif terhadap Nurul ia tidak ingin meninggalkan wanita itu karena ia masih digantung selama tiga bulan. Ia khawatir, bisa saja Axelle akan menikungnya kapanpun itu.
Alvaro tidak menyangka dirinya yang begitu merindukan Aina-nya dan membawanya pergi untuk memiliki quality time bersama ternyata menjadikan nilai minus untuknya di mata keluarga Deen Emrick. Jika saja ia tahu begini jadinya maka ia tidak akan melakukannya.
"Ayang, gue nggak mau tahu pokoknya lu janji untuk nggak menerima Daniyal sebagai calon suami. Terus, selama gue pergi tolong jaga hati lu buat gue sekali lagi ya, enak gue mohon ya Ayang ya," bujuk Alvaro ketika mereka sudah berada di bandara.
Ikram dan Nandi merasa ingin muntah mendengar ucapan Alvaro tersebut, sempat-sempatnya Alvaro membucin dan bertingkah bego seperti ini di hadapan seluruh keluarga. Tidak tahu malu, cibir keduanya.
Perpisahan pun terjadi, sebenarnya Genta dan Yuni ingin sekali meminjam Aluna untuk dibawa ke Jakarta. Mereka belum puas menikmati waktu bersama cucu mereka, namun mengingat Nurul dan Aluna yang tidak bisa dipisahkan, mereka mengurungkan niatnya. Nanti saja ketika Alvaro dan Nurul sudah menikah, mereka pasti akan puas-puas bermain bersama cucu mereka ini .
__ADS_1
Mereka bahkan hanya sempat bertemu dengan Reyhanβcucu mereka anak dari Aleesha untuk beberapa saat sebelum kembali lagi ke Jakarta.
Saat mereka semua pergi, keluarga Emrick minus Danish itu pun kembali ke rumah. Danish tidak ikut mengantar karena ia memiliki pekerjaan penting dan ia sudah kembali bekerja setelah pembicaraan mereka tadi berakhir.
Di perjalanan, ponsel Nurul berdering. Ia melihat ID pemanggil tidak lain tidak bukan adalah si pria arogan dan pemarah Daniyal Axelle Farezta.
"Halo Axelle ada apa?" tanya Nurul.
Semua mata yang ada di mobil ini tertuju pada Nurul yang baru saja menerima panggilan telepon dari Axelle.
"Bisa kita bertemu? Ada yang ingin aku bahas denganmu," tanya Axelle yang sedang membaca dokumen di ruang kerjanya.
"Bagaimana ya? Ini sudah sore, aku tidak enak pada kedua orang tuaku," jawab Nurul sambil melirik kedua orang tuanya bergantian.
"Hanya sebentar saja. Nanti malam ya, aku akan menjemputmu setelah makan malam dan aku akan meminta izin kepada kedua orang tuamu. Aku tahu jika Alvaro sekeluarga sudah pulang, aku ingin bicara penting Nurul. Boleh ya?" bujuk Axelle.
"Ya sudah, boleh. Nanti aku kabari lagi ya."
"Terima kasih."
Kita akan bertemu Nurul, kita akan bertemu. Aku harap kau bersedia pergi bersamaku nanti malam.
...................
Hai semua, terima kasih sudah membaca ππ
Mampir juga ya ke karyaku yang judulnya CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
terima kasih πππ
__ADS_1