
Nurul menatap Axelle yang begitu bersikeras untuk bisa bersamanya. Nurul tahu dia sempat membuat Axelle berharap, tapi ia juga tidak pernah memberikan Axelle jawaban atas pertanyaannya selama ini. Nurul bingung entah harus bersikap seperti apa pada pria ini. Hatinya menolak keras karena ia menyadari sebesar apapun ia berusaha maka ia akan kembali lagi jatuh dan jatuh hanya pada Alvaro saja. Meskipun ribuan Axelle yang datang padanya, hatinya hanya akan memilih pria brengsek yaitu Alvaro. Seburuk apapun Alvaro, cinta Nurul hanya untuknya saja.
Melihat situasi dimana Danish memberikan waktu untuk keduanya bersaing, Alvaro yang begitu posesif pada Nurul dan Nurul yang jelas terlihat cukup tertekan, Deen Emrick langsung bersiap mengambil alih keadaan. Ia tidak suka putrinya dalam keadaan seperti ini, dilema dan terpojokkan.
"Axelle, om boleh bertanya?"
Suara Deen mengalihkan perhatian mereka semua, terutama Alvaro dan Axelle yang sedang bersitegang.
"Iya Om, silahkan," jawab Axelle yang kini fokus menatap Deen.
"Apakah kamu sudah menceritakan tentang Nurul terhadap keluargamu? Maaf ya Axelle, om hanya takut saja jika seandainya Nurul memilih kamu dan kemudian suatu saat nanti keluarga kamu tahu Nurul memiliki anak dan mereka tidak menerimanya, maka anak om ini tentu akan kembali patah hati. Om tidak mau melihat dia kembali bersedih. Kamu paham 'kan maksud ucapan om ini?"
Mendengar ucapan Deen membuat Axelle kesulitan menelan salivanya. Pertanyaan Deen Emrick ini tentu saja sudah memiliki jawaban, jawaban yang tidak akan mungkin Axelle katakan pada mereka semua.
Deen tahu saat ini Axelle sedang tegang menghadapai pertanyaannya. Ia bisa menebak sesuatu telah terjadi dan ia sangat mengenal Axelle, pria ini tidak mungkin terlihat tegang jika pertanyaan itu tidak memiliki jawaban yang menyakitkan.
"Nah, lu jawab nih pertanyaan kakek dari anak-anak gue. Kalau gue sih mami papi udah yes kalau gue sama Nurul. Dari zaman gue kuliah juga mereka udah setuju, gimana sama lu? Dapat restu nggak? Jangan bikin bidadari gue patah hati ya. Eh tapi nggak bakalan karena ada gue," celetuk Alvaro yang ikut masuk kedalam percakapan Axelle dan Deen.
Nurul memijat pelipisnya, sakit sekali rasanya kepala Nurul setiap kali Alvaro mengeluarkan suaranya. Dan herannya bagaimana bisa Nurul jatuh cinta sedalam ini pada pria seperti Alvaro.
Aku pasti sudah gila karena jatuh cinta pada pria gila sepertinya.
"Please deh Ro, lu diam aja kenapa sih? Omongan lu bikin gue pingin nelan lu hidup-hidup. Lagian jadi laki kok lu narsis banget. Lambe lu tuh, jaga dikit Napa. Malu-maluin tahu nggak!" ujar Ikram kesal, ingin sekali ia melakban mulut Alvaro.
Alvaro mendelik ke arah Ikram, "Ya suka-suka gue dong. Mulut-mulut gue. Narsis juga nggak masalah, 'kan gue ganteng. Emang lu, ganteng tapi jomblo. Udah ya, yang jomblo diam aja," ucap Alvaro sambil tersenyum mengejek kepada Ikram.
__ADS_1
Danish berdecih, Axelle hanya menatap datar pada Alvaro. Deen Emrick, pria itu diam-diam terus saja memperhatikan gaya tengil Alvaro dan semakin lama ia semakin menyimak pribadi Alvaro, ia bisa tenang melepas Nurul pada pria masa lalunya ini.
Jangan tanyakan seperti apa raut wajah Nurul saat ini, ia seperti ingin menenggelamkan Alvaro di dasar samudera. Ia terus saja merutuki dirinya yang bisa jatuh cinta pada pria ajaib seperti Alvaro.
"Gue nggak jomblo ya, gue udah punya calonnya sejak lama cuma lu 'kan tahu dia nggak tinggal di Indonesia. Gimana sih lu!" sungut Ikram.
Alvaro hanya mengangkat kedua bahunya, malas berdebat padahal ia yang lebih dulu memicu perdebatan.
Celetukan-celetukan Alvaro sedikit banyak mampu mencairkan suasana. Axelle sedikit bersyukur karena perhatian mereka teralihkan darinya. Dalam hati Axelle memuji sikap Alvaro dan ia tahu sikap Alvaro seperti inilah yang membuat Nurul terus terjebak dalam jerat cinta Alvaro Genta Prayoga. Sisi yang tidak dimiliki olehnya, hanya ada pada Alvaro saja.
Baru saja bernapas lega, kembali Deen Emrick menatap Axelle yang sedang melamun dalam keadaan ramai seperti ini. Deen bisa menebak jika pertanyaannya tadi membuat Axelle terpojokkan.
"Bagaimana Axelle?" tanya Deen yang kembali menyeret Axelle ke bumi setelah beberapa saat ia sempat terbang ke angkasa.
Axelle menghela napas, lalu ia berdehem pelan. "Aku belum mengatakan hal ini pada keluargaku, Om. Tapi aku akan segera mengatakannya pada mereka. Aku yakin mereka tidak akan menolak Nurul terlepas dari Nurul yang sudah memiliki satu anak. Mereka tidak akan keberatan karena selalu mendukung apapun keputusanku. Aku yakin mereka pasti akan menerima Nurul," jawab Axelle berusaha meyakinkan Deen Emrick namun ia tidak tahu saja jika ekspresi saat ia menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang ia berikan begitu berlawanan.
Tapi tentang Nurul, Deen sangat ragu melepas putrinya itu ke keluarga Farezta yang nol skandal. Apa jadinya bila media atau orang-orang dari kalangan atas tahu tentang calon istri Axelle, mereka pasti akan menguliti kehidupan Nurul dan bukan tidak mungkin skandal Nurul dan Alvaro pada saat itu akan mencuat ke permukaan. Aib Nurul nantinya akan jadi konsumsi publik dan Deen tentu tidak mau hal itu sampai terjadi.
"Sebaiknya kau bicarakan dulu dengan seluruh keluargamu tentang siapa Nurul. Saya tidak bisa terima jika anak saya sampai sakit hati. Dan kamu Danish, kamu yang paling berkontribusi dalam hubungan Nurul dan Axelle. Apa kamu siap melihat adikmu terluka lagi jika saja keluarga Axelle menolaknya dengan keadaannya yang seperti ini?"
Mendapat pertanyaan yang seolah sebuah serangan mematikan dari papanya membuat Danish terdiam. Apa yang dikatakan oleh papanya tidak ada yang salah dan kini Danish mencoba bertanya pada dirinya sendiri. Setelah beberapa saat, Danish menggeleng lemah.
"Lu xel-" Danish menatap ke arah Axelle- "Kalau sampai adik gue sakit hati dan patah hati karena lu, gue orang pertama yang bakalan bikin lu masuk ICU. Gue nggak peduli lu sahabat gue, kalau lu sampai nyakitin adik gue, minimal lu bakalan ngerasain apa yang tadi dirasain oleh Alvaro.
Axelle mengangguk lemah, ia bukannya takut pada Danish melainkan takut pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Apa aku terlalu egois hingga memaksakan cinta yang jelas nyata ditentang oleh seluruh keluarga? Apa aku ini begitu naif sehingga aku berpikir kalau Nurul bakalan milih aku dengan matanya yang jelas-jelas memancarkan cinta untuk Alvaro? Aku takut, takut pada diriku sendiri saat ini. Aku takut sikap egois dan langkah yang aku ambil kedepannya justru membawa Nurul dalam masalah. Aku juga nggak mau bikin dia sakit hati dan patah hati lagi. Apa aku harus mengalah? Apa harus merelakan? Tapi aku masih berharap Nurul mau dan aku bakalan berjuang buat dia juga buat keluargaku.
Axelle termenung. Ia bingung dan sangat pusing memikirkan solusi terbaik untuk ia, Nurul dan keluarganya. Ditambah lagi keluarga Nurul yang pasti akan sakit hati bila tahu kenyataan yang sebenarnya.
Saat semua sedang sibuk dengan pemikirannya masing-masing, Aluna dan bu Dianti turun dari lantai dua. Aluna langsung berhambur memeluk Alvaro, ia sedih melihat wajah bapak-belur sang ayah. Gadis kecil itu sempat menangis di kamarnya karena teringat bagaimana tadi Danish menerjang Alvaro.
"Papi udah mau balik?"
Pertanyaan dari Aluna kecil itu membuat semua yang ada di sana tercengang kecuali Nurul, Axelle dan Ikram.
Wajah para Emrick itu membeku saat mendengar Aluna memanggil Alvaro dengan sebutan papi. Aluna bahkan kini duduk di pangkuan Alvaro sambil membelai wajahnya.
"Pi, wajah papi milip sama wajah Aluna. Kok bisa?"
Alvaro menatap Aluna dengan tatapan kosong, entah ia harus marah atau tertawa pada anaknya ini kerena pertanyaannya barusan.
"Papi akan pulang sebentar lagi," jawab Alvaro, ia memeluk Aluna dengan posesif hingga mengujani puncak kepala Aina dengan ciumannya. "Anak papi sangat cantik. Baik-baik ya disini, nanti papi bakalan jemput kalian dan kita akan tinggal bersama. Oh iya, tolong jagain bunda ya, jangan sampai ada kucing garong yang sayang gangguin bunda," ucap Alvaro yang ketika mengatakan kucing garong ia justru menatap Axelle.
Axelle mendengus, ia membuang muka dan malas menatap Alvaro.
"Papi, boleh nggak sebelum pulang kita jalan-jalan dulu sama bunda?"
Pertanyaan Aluna langsung membuat hati Alvaro bersorak-sorai, jantungnya meletup-letup bagai tengah berdisko. "Boleh dong. Ikram, kayaknya lu balik duluan deh. Gue biar nyusul. Gue mau nemenin anak gue jalan-jalan," ucap Alvaro.
Ikram mendengus, "Bilang aja lu mau nemenin mamahnya bukan anak lu itu. Dasar manipulatif!" cibir Ikram dan Alvaro tidak peduli.
__ADS_1
"Holleeee … yuk bunda kita jalan-jalan. Oh iya ajak om Axelle juga, Aluna mau gandengan sama om Axelle. Dia ganteng dan Aluna suka."
Ck, anak gue broo! Udah kayak titisan gue banget. Tapi ya nggak harus ngajak Axelle juga dong sayang.