
"Permisi Pak, apakah Aluna ada?" tanya Cici yang sudah berdiri di depan gerbang kediaman keluarga Prayoga, di sampingnya ada Leon yang mengikuti.
"Eh neng Cici, mohon maaf neng, sekeluarga nggak lagi di rumah. Mereka lagi di rumah besan tuan Genta, di rumah keluarga nyonya Nurul," jawab pak Supri.
Cici dan Leon saling berpandangan, keduanya merasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Aluna dan Frey. Namun Cici sendiri merasa lega karena ketidakhadiran Aluna dan Frey di sekolah bukan karena ada hal buruk yang terjadi dengan mereka.
Cici pun menanyakan berapa lama mereka akan tinggal disana dan pak Supri menjelaskan bahkan kemungkinan besok atau lusa mereka akan kembali.
Leon pun mengajak Cici untuk pulang, tidak ada gunanya mereka tetap disini karena yang hendak mereka temui sedang tidak berada di rumah. Mereka harus menunggu besok atau lusa jika ingin bertemu.
Dari dalam mobil yang sedang berhenti tak jauh dari kediaman keluarga Prayoga, seseorang sedang mengamati gerak-gerik Elon dan Cici.
"Cici dan Leon? Mereka ada apa ya datang ke rumah Aluna? Tadi katanya nggak mau, eh kenapa justru udah disini duluan? Mana datangnya bareng Leon lagi. Heran!"
Melihat Cici dan Leon yang sudah pergi dengan kendaraan mereka masing-masing, Riani pun langsung meminta sopirnya untuk kembali ke rumah dan tak lupa ia mengirim pesan pada seseorang.
Sebenanrya Aluna dan Frey tidak pergi kemana-mana. Mereka berada di dalam rumah, dan demi mencegah agar tidak ada teman mereka yang datang yang tidak lain tidak bukan adalah Cici, Riani dan Leon, maka Frey meminta Pak Supri untuk mengatakan hal demikian jika ada diantara mereka yang datang.
Frey hanya tidak ingin diganggu karena semalam ini tidak tidur dengan baik karena melakukan hal baik. Aluna sendiri saat ini masih tidur siang karena ulah Frey semalam dan subuh tadi membuat porsi tidur Aluna terganggu. Sedangkan Frey hanya tertidur selama dua jam karena ia harus mengurus dan mengecek pekerjaannya walau ia tidak pergi ke kafe atau restoran.
__ADS_1
Sebenarnya ada rasa ingin lagi dan lagi di hati Frey untuk menyentuh Aluna karena teringat akan rasanya yang membuat Frey ketagihan. Hanya saja ia tidak mungkin melakukannya sebab Aluna pasti sudah sangat kelelahan.
"Ternyata memang benar setelah sekali merasakannya maka akan selalu ingin dan ingin lagi untuk mengulang. Dan bahkan hanya membayangkan dan memikirkannya saja gue udah kembali tegang! Sial! mendadak gue jadi cowok mesum kayak papi Alvaro. Apakah gue udah ketularan kemesuman papi? Ihh ... jangan sampai! Tapi emang rasanya bikin nagih sih, hehe."
Frey melirik Aluna yang masih tertidur lelap, ada rasa bangga di hatinya ketika ia menemukan bercak darah tanda Aluna kehilangan keperawanannya semalam. Walau mereka melakukannya karena Aluna sedang dalam pengaruh obat ....
"Eh tunggu dulu ... sialan!" umpat Frey ketika teringat akan kejadian semalam dimana ia menemukan Leon membawa Aluna ke sebuah kamar. Rasanya Frey ingin lagi mendatangi Leon dan memastikan pria itu kehilangan senjata miliknya.
Sedangkan di rumahnya, Leon baru saja sampai dan ia menemukan Keenan di dalam kamarnya yang sudah pulang sekolah tetapi masih belum mengganti seragamnya.
Leon memang membutuhkan Keenan hari ini karena ada banyak tanya yang harus ia sampaikan kepada sepupunya itu. Melihat Leon yang sudah pulang, Keenan langsung menatapnya dan tersenyum miris.
"Lu itu sebenanrya niat bantuin gue atau enggak sih? Kenapa gue perhatiin lu justru sedang mendekatkan diri lu sama Aluna? Lu main hati sama dia? Iya?!"
"Lu kok ngomong gitu sih?" tanya Leon hati-hati. Ia mendekati Keenan yang sedang duduk di sofa.
Keenan mendengus, ia menatap sengit ke arah Leon. "Lu pikir gue nggak lihat waktu lu bawa Aluna ke kamar hotel. Gila ya lu! Lu nyuruh gue buat nyusul bokap terus lu sendiri bawa Aluna ke kamar hotel. Kalau nggak ada Frey mungkin lu udah nikmatin sendiri tuh si Aluna!"
Tudingan Keenan hanya menyisakan wajah mengkerut Leon. Ia benar-benar tidak paham dengan maksud ucapan Keenan tersebut sedangkan Keenan justru tersenyum ironi melihat Leon yang bersikap biasa-biasa saja.
__ADS_1
Leon duduk di meja belajarnya sambil memantapkan Keenan yang kesal padanya. Ia sungguh tidak tahu tentang kejadian semalam dan ia menceritakan apa yang ia alami tadi pagi kepada Keenan hingga saudaranya itu merasa heran juga.
Keenan pun menceritakan jika semalam ia ingin menyusul ayahnya tetapi karena ayahnya sedang sibuk melayani kolega yang diundang di acara tersebut membuat Keenan berinisiatif untuk kembali bergabung bersama Aluna. Tetapi justru yang ia lihat adalah Leon yang membawa Aluna masuk ke dalam lift lalu ia juga melihat Frey masuk ke lift yang lainnya.
Karena Keenan tidak tahu Leon akan pergi ke lantai berapa, ia menanti di tempat pesta bersama teman-temannya dengan perasaan tak tenang dan tak berapa lama kemudian Frey datang dengan menggendong Aluna yang pingsan sedangkan Naufal bersama beberapa pria berseragam bodyguard lansung masuk ke dalam lift dan entah apa yang mereka lakukan.
"Lu serius? Kok gue nggak bisa ingat apapun ya? Terus kenapa gue nyuruh lu buat ngejar paman Tian? Ada masalah apa?" cecar Leon yang merasa marah pada dirinya sendiri karena mendadak amnesia.
Keenan mendengus, ia kesal karena Leon mendadak amnesia padahal semalam masih baik-baik saja.
Keenan kembali menceritakan bahwa ayahnya mengatakan bahwa Frey dan Aluna bukanlah saudara melainkan mereka bertunangan sejak kecil. Hanya saja sampai detik ini tidak ada penjelasan lebih lanjut karena tadi pagi sekali kedua orang tua Keenan sudah kembali ke luar negeri.
Leon mengepalkan tangannya, ada hal penting yang ia lewatkan dan lupakan. Ia juga yakin amnesianya ini didalangi oleh Frey.
"Jika benar begitu, pantas saja selama ini Frey selalu memukuli setiap orang yang menyukai Aluna. Ternyata ini alasannya," ucap Keenan
Leon terdiam dan ia berpikir keras. Mencoba menyatukan kepingan puzzle dari kedekatan antara Aluna dan Frey. Frey yang mengatakan jika dirinya memiliki tunangan sejak kecil, Frey yang mengatakan bahwa ia dan Aluna adalah sepasang kekasih dan Frey yang berciuman dengan Aluna di dalam mobil.
Jika dipikir-pikir lagi, semua itu memang masuk akal. Tetapi bagaimana bisa mereka tinggal bersama jika bukan saudara. Hati kecil Leon menolak kenyataan tersebut.
__ADS_1
Ia akan meminta Cici untuk mencaritahu lebih banyak lagi karena cuma Cici yang bisa masuk ke dalam rumah itu tanpa ancaman apapun dari Frey. Untuk saat ini sebelum mendapat kepastian dari paman Tian maka hanya Cici yang bisa diandalkan olehnya.
"Tapi sekarang gue mau nanya dan lu harus jawab pertanyaan gue dengan sejujur-jujurnya. Lu ada hati sama Aluna? Lu udah main hati sama dia?"