
"Cici!!"
Suara teriakan kedua orang tua gadis itu menggema di pagi hari. Bagaimana tidak, saat mereka membuka pintu kamar putrinya tersebut, mereka langsung disuguhkan dengan pemandangan yang sangat mengejutkan dimana putri mereka sedang tertidur lelap dalam satu selimut bersama seorang pria. Belum lagi pakaian yang berhamburan di lantai. Sebagai orang dewasa, mereka tentu paham apa yang sudah terjadi di dalam kamar ini.
Tadinya mereka datang untuk membangunkan Cici karena seseorang menelepon mereka dan mengatakan bahwa ada barang miliknya yang semalam tertinggal di kamar Cici karena menumpang istirahat, namun yang mereka dapati adalah hal yang sangat-sangat mengecewakan.
"Cici bangun!!" Kembali sang ibu berteriak dengan wajah memerah dan matanya berkaca-kaca.
Sementara itu, suaminya terlihat sedang menahan ledakan emosinya melihat putrinya tidur bersama dengan seorang pria di dalam kamar, sedangkan pria itu bukanlah suaminya.
"Nanti Ma, udah nggak sekolah juga," gumam Cici tanpa membuka matanya.
Tanpa menunggu lama, bu Vina langsung menarik selimut dan melihat tubuh polos dua anak remaja tersebut serta sisa-sisa percintaan juga noda merah yang diyakini adalah darah perawan Cici.
Pak Wahyu menarik paksa tubuh Keenan yang sedang terlelap. Tak ada kesempatan bagi Keenan untuk mengumpulkan kesadarannya karena satu bogem mentah sudah mendarat di pipinya.
Keenan tersungkur, ia yang baru saja bangun tidur dan mendapatkan pukulan tentu saja tidak bisa melawan dan juga ia masih merasa aneh karena tiba-tiba saja ia dipukuli oleh seseorang. Awalnya ia sempat merasa ini adalah sebuah mimpi, namun begitu melihat sekelilingnya adalah kamar yang asing baginya juga mendapati dirinya yang sedang tidak mengenakan apapun pada tubuhnya, ia langsung teringat bahwa semalam ia sedang merencanakan sebuah misi besar.
"Berani sekali kau meniduri putriku! Apakah kau ingin aku bunuh?" teriak Pak Wahyu, ia kemudian menarik kembali tangan Keenan kemudian dengan membabi buta ia menendang perut dan juga ************ Keenan.
Cici sudah menangis di pojok tempat tidurnya, ia baru menyadari jika semalam ia lah yang menjadi pelaku utama pada rencana mereka tersebut. Melihat Keenan, Cici merasa bahwa semalam ia sudah ditiduri olehnya, apalagi jejak-jejak percintaan mereka serta kiss mark yang ditinggalkan di tubuhnya sudah menjadi barang bukti bahwa ia sudah melewati malam pertamanya bersama dengan Keenan.
Ini bagaimana bisa terjadi? Harusnya Aluna yang ada di sini, bukan gue! teriak Cici namun hanya bisa dalam hati.
"Dasar anak tidak tahu di untung! Kami membesarkanmu dengan penuh kasih sayang dan juga menyekolahkanmu dengan baik, serta akan mengirimmu pergi melanjutkan studi ke luar negeri. Tetapi ini yang kau lakukan pada kami, bahkan sisa-sisa perayaan ulang tahunmu semalam masih ada di bawah, akan tetapi kau sudah memberikan kami hadiah yang benar-benar tidak bisa dilupakan seumur hidup!" teriak Bu Vina emosi.
Cici meraih selimut dan membungkus tubuhnya, ia menangis tersedu-sedu kemudian ia mendekati ibunya namun tubuhnya terasa begitu sakit karena semalaman penuh ia dan Keenan menghabiskan malam bercinta.
"Ma maafin Cici, semua ini di luar kehendak Cici. Cici juga nggak tahu kenapa bisa ada di kamar ini bareng Keenan," mohon Cici kepada mamanya sambil terus menarik tangan wanita itu namun dengan kasarnya Bu Vina menepis tangan Cici.
"Siapa lelaki ini? Kekasihmu?" tanya Bu Vina dengan begitu dingin.
__ADS_1
Sementara itu, saat ini Keenan sedang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya karena Pak Wahyu tidak berhenti menghajarnya. Pak Wahyu melemparkan pakaian Keenan ke hadapannya dan dengan cepat Keenan mengenakan pakaian tersebut walaupun ia harus meringis karena lebam-lebam yang ada di tubuhnya.
"Hubungi orang tuamu, kami akan menikahkan kalian. Enak saja sudah berzina lalu tidak bertanggung jawab," ucap pak Wahyu tak ingin dibantah.
Mendengar dirinya yang akan dinikahkan dengan Cici membuat Keenan frustrasi. Ia tidak mencintai gadis ini dan juga ia tidak tahu mengapa bisa Cici orang yang ia tiduri semalam, seharusnya itu adalah Aluna. Dan Keenan tentu tidak akan mau sampai kapanpun menikah dengan Cici, apalagi jika hal ini sampai ke telinga kedua orang tuanya, bukan tidak mungkin ia akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih berat daripada pukulan dan tendangan dari ayah Cici.
"Maaf Om, tapi orang tua saya tidak berada di sini, mereka tinggal di luar negeri. Dan jika kita menghubungi mereka, mungkin saja saat ini mereka sedang tidur karena perbedaan waktu," ucap Keenan memberi alasan, ia tentu tidak ingin masalah ini sampai ke telinga orang tuanya.
"Tidak bisa! Dan kau tidak akan bisa pergi ke mana-mana sampai kedua orang tuamu tahu tentang masalah ini," ucap Pak Wahyu bersikeras.
Keenan terdiam, ia harus memikirkan cara bagaimana ia bisa keluar dari rumah ini. Satu-satunya keluarga yang ia punya di negara ini hanyalah Leon, namun ia berpikir apakah mungkin ia akan meminta tolong kepada Leon? Pamannya itu pasti akan langsung mengiyakan jika mereka akan dinikahkan, mengingat bagaimana sosok Cakrawala Shan.
"Tapi Pa, Cici nggak mau nikah sama dia. Cici masih mau lanjut kuliah di Korea dan yang paling penting Cici nggak cinta sama dia. Dan Cici nggak pernah ada niat untuk tidur dengan dia. Tolong percaya pada si Cici Pa," teriak Cici histeris, ia bahkan sampai pingsan karena tak sanggup mendengar fakta bahwa ia akan dinikahkan dengan Keenan.
Bu Vina yang tadinya bersikap dingin kepada putri satu-satunya itu pun langsung bergegas mendekati putrinya. Bu Vina berusaha membuatnya tersadar. Begitu pula dengan Pak Wahyu yang tadinya sedang menjaga Keenan, ia langsung tergerak hatinya begitu melihat putrinya jatuh pingsan.
"Tinggalkan nomor telepon orang tuamu atau kau akan habis di tanganku," ancam pak Wahyu sebelum ia menelpon dokter.
"Jangan pikir kau bisa keluar dari rumah ini, tidak akan!" ucap pak Wahyu mengancam.
Keenan tersenyum seringai. "Anda ingin membebaskan saya atau Anda memilih usaha dan juga keluarga anda hancur? Semua keputusan dari tangan Anda dan satu lagi ... saya tidak mencintai putri Anda dan kejadian semalam merupakan sebuah kesalahan dan yang pasti saya tidak akan bertanggung jawab untuk ini. Percayalah, jika kabar ini sampai ke telinga orang tua saya, maka Anda yang akan hancur nantinya!" ujar Keenan memberi ancaman kemudian ia berjalan meninggalkan Pak Wahyu yang sedang terdiam.
Frey menerima laporan pagi ini dari bodyguard-nya yang ia minta untuk mengawasi kejadian Keenan dan juga Cici. Ia tersenyum puas, bukan berarti ia bersenang-senang di atas penderitaan orang lain karena sikap Keenan yang tidak gentleman itu pasti akan merugikan pihak perempuan yaitu Cici. Namun mau bagaimana lagi, apa yang mereka tanam itulah yang akan mereka tuai.
"Kalian salah jika mencari musuh. Gue udah sering peringati kalian untuk tidak mengusik pada kehidupan gue, tapi ternyata kalian kebal dan tidak ingin hidup kalian baik-baik saja tanpa mengacaukan hubunganku dan Aluna. Sekarang terimalah, apa yang kalian rencanakan kembali kepada kalian," gumam Frey.
....
Sesuai janji temu yang sudah disepakati bersama, Alvaro duduk di ruang VVIP sebuah restoran sambil menunggu rekan bisnisnya datang. Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka dan nampaklah seorang pria sambil menggandeng tangan seorang anak remaja kira-kira seusia Naufal.
"Halo Alvaro Genta Prayoga, senang bertemu lagi denganmu," ucapnya menyapa seraya mengulurkan tangannya yang disambut langsung oleh Alvaro.
__ADS_1
"Halo juga tuan Gavriel Mazeen. Bagaimana kabarmu? Apakah ini Gea?" balas Alvaro kemudian ia melirik ke arah gadis remaja yang sedang bersama dengan Gavriel.
"Ya tentu saja, siapa lagi. Dia Gea, putriku satu-satunya, penerusku dan kau tahu dia bahkan menuruni semua sifatku termasuk kegilaan dalam dunia hitam. Aku sampai takut dibuatnya," curhatnya Gavriel kemudian ia segera mengajak Alvaro untuk duduk.
Keduanya pun langsung terlibat dalam pembahasan tentang penyelidikan Alvaro cs terhadap Brandon dan Bastian. Gavriel yang melihat data diri tersebut langsung tersenyum mengejek.
"Dua orang ini yang kau maksud?" tanya Gavriel dengan sebelah sudut alisnya terangkat.
Alvaro mengangguk, ia sedikit bingung dengan sikap Gavriel setelah melihat data diri dua orang yang menurutnya sangat berbahaya baginya dan keluarga serta teman-temannya.
"Jika dua pria ini adalah orang yang kau maksud, maka anggaplah saat ini juga masalahmu telah selesai. Ini bukan karena aku sombong ya, bukan juga sok jago, tetapi memang dua pria ini adalah incaranku karena mereka sudah berani mengusik kelompokku.
"Kau tenang saja, bukan melalui tanganmu tetapi melalui tangan kami. Mereka ini melupakan mafia juga akan tetapi tidak begitu nampak dan mencoba untuk menerobos masuk pada kelompokku tetapi selalu gagal. Jadi anggaplah masalahmu selesai," ucap Gavriel sambil mengangguk-anggukkan kepalanya namun bisa Alvaro lihat wajahnya begitu menegang.
Alvaro yakin ada sesuatu yang terjadi antara Gavriel dan juga Bastian ataupun Brandon, hingga wajah pria itu terlihat tegang. Dan juga tangan yang terkepal erat itu menunjukkan ketidaksukaan juga kegeramannya kepada dua pria yang menjadi masalah dalam keluarganya itu.
"Aku selalu membawa putriku ini kemanapun dan aku mengajarkannya menjadi seorang gadis yang tangguh, bukan karena dia adalah anak seorang mufia. Akan tetapi karena Bastian pernah menculik putriku dan hampir saja menjadikannya sebagai salah satu korban untuk diambil organ tubuhnya. Untung saja pada saat itu kami datang tepat waktu, jika tidak kami pasti akan kehilangan putriku ini. Dan sejak itu aku semakin mendendam padanya dan bersumpah dengan tanganku ini, aku akan menghabisinya."
Lebih lanjut Gavriel menceritakan tentang kisah dimana Gea diculik oleh Bastian tanpa tahu itu adalah anaknya, karena ia memang sangat menutupi identitas putrinya tersebut dan membiarkan Gea bermain dengan anak-anak panti asuhan dan juga anak-anak dari kalangan menengah bahkan ke bawah.
Kejadian tersebut terjadi beberapa bulan yang lalu, Gavriel tidak bisa langsung mengeksekusi dua orang itu karena ia begitu fokus mengurus putrinya. Apalagi saat itu Gea menderita trauma sehingga pikiran Gavriel lebih tertuju pada putrinya dibandingkan membalas. Dan beberapa waktu belakangan ini ia sudah mulai melancarkan serangan untuk membuat dua pria itu merasa tertekan.
Gavriel tidak ingin langsung menyerang dan membunuh mereka, akan tetapi memberikan trauma yang mendalam hingga mereka sendiri yang menginginkan kematiannya.
Mendengar kisah Gavriel tersebut Alvaro merasa yakin bahwa sebentar lagi mereka akan terbebas dari Brandon dan juga Bastian.
"Oh ya, anakmu ini sangat cantik. Aku berniat menjodohkannya dengan anakku jika bisa," seloroh Alvaro karena dari tadi ia juga memperhatikan wajah Gea yang terlihat begitu cantik dan sangat manis. Ia terbayang akan Naufal yang sebenarnya ia tahu menyukai Ziya akan tetapi sepertinya gadis itu tidak bisa membalas perasaan Naufal.
"Tentu saja, bisa diatur. Aku percaya keturunan Prayoga tidak akan mengecewakan," sambut Gavriel dengan gelak tawa.
Kedua pria dewasa itu sibuk membahas Gea dan Naufal tanpa tahu jika gadis yang tengah mereka bicarakan ini tengah menatap tak suka pada keduanya.
__ADS_1
Dijodohkan? Enak saja! Pria seperti apa sih yang hendak dijodohkan denganku? Apa dia tampan? Apa dia hebat seperti Daddy? Jika tidak, aku pasti akan menjadikannya bulan-bulanan. Berani mencoba?